Penjahit Luar Biasa
Darah Ksatria - Bab 31
Oleh Gu Long
“Tadi aku sudah bilang kubawa, tentu ada di sini.”
Darah Ksatria - Bab 31
Oleh Gu Long
“Tadi aku sudah bilang kubawa, tentu ada di sini.”
Darah Ksatria - Bab 30
Oleh Gu Long
Ma Ji-liong akhirnya sadar. Kegaduhan sudah sirap, alam semesta seperti dilingkupi keheningan yang membeku. Kini Ji-liong rebah di atas ranjang besar itu, ranjang satu-satunya yang ada di rumah itu. Sejak beberapa bulan yang lalu, baru pertama kali ini ia rebah di atas ranjang.
Pisau Terbang Li (30)
Kabut menyelimuti keheningan malam. Di dahan hanya terlihat satu dua lembar daun. Kolam teratai pun penuh dengan daun-daun kering yang gugur. Rumput di jalan setapak sudah menjadi coklat. Dulu, bunga-bunga berwarna merah, pohon-pohon penuh dengan daunnya yang hijau lebat, harum bunga plum semerbak ke seluruh paviliun. Tapi kini semua telah tiada. Di [...]
Hina Kelana Bab 030
Oleh Jin Yong
Setelah melemparkan semua mangkuk piring ke dalam jurang, saat itu Lenghou Tiong telah angkat sepotong batu dan hendak dilemparkan pula. Tapi demi mendengar ucapan Liok Tay-yu itu, mendadak ia menghela napas panjang sambil membuang batu itu. Ia pegang kedua tangan Tay-yu dan berkata, “Maaf, Laksute, perasaanku sendiri yang merasa kesal [...]
Oleh Jin Yong
“Aku she Coe, namaku Kioe Tin.” Si nona memperkenalkan dirinya. “Dan kau?”
Pisau Terbang Li (29)
Tangan si kurus menggebrak meja dan tubuhnya melayang ke udara. Angin dingin berkelebat dan sebuah pecut berwarna hitam mengkilat telah tergenggam di tangannya.
Darah Ksatria - Bab 29
Oleh Gu Long
Meja perjamuan tidak kelihatan. Bahwasanya tiada meja perjamuan di luar rumah. Tanah kosong yang semula becek itu kini ditaburi batu-batu hitam mengkilap. Di tengah taburan batu hitam bulat mengkilap itu hanya ada sebuah dipan kecil yang terbuat dari kayu cendana berbentuk persegi, terukir indah seluas satu meter persegi.
Hina Kelana Bab 029
Oleh Jin Yong
Dengan gusar ia lantas menggunakan pedang Thay-san-pay yang dijemputnya tadi dan membacok sekuatnya pada barisan huruf itu. “Trang”, terdengar suara nyaring dengan percikan lelatu api. Sebuah huruf ukiran itu sampai terpapas sebagian. Dari bacokan itu pula segera dapat diketahui bahwa batu dinding itu keras luar biasa, untuk mengukir tulisan di [...]
Hina Kelana Bab 028
Oleh Jin Yong
“Juga tidak seluruhnya dia menurut padaku,” ujar Leng-sian. “Misalnya kemarin aku suruh dia mengawani aku pergi menangkap ayam hutan, tapi dia menolak. Katanya dia masih harus berlatih lebih giat kedua jurus ’Pek-hong-koan-jit’ dan ’Thian-jwan-to-kwa’ yang masih belum masak terlatih.”
Oleh Jin Yong
Kedua ular itu saling mendekati dan mengeluarkan lidah mereka, yang bertopi emas menjilat punggung ular yang bertopi perak, sedang yang bertopi perakpun menjilat punggung yang bertopi emas. Sambil menunjukkan sikap saling mencintai itu. Perlahan-lahan mereka saling mendekati lingkaran. Buru-buru Boe Kie memasang kedua bumbung bambu di lubang lingkaran dan dengan tongkat bambu, ia [...]