Archive for August, 2009

Pedang Tetesan Air Mata - 11

Tarian Maut
Oleh Gu Long
Kota Lok-yang masih terasa dingin membeku, bunga salju masih berguguran amat deras.

Pedang Tetesan Air Mata - 10

Delapan Puluh Delapan Pahlawan
Oleh Gu Long
Fajar telah menyingsing di kota Tiang-an.

Di Tengah Perebutan Bengcu yang Kacau

Hina Kelana Bab 110
Oleh Jin Yong
Mendengar cerita yang tidak masuk di akal itu, Lenghou Tiong menjadi geli dan terheran-heran. Katanya, “Masakah bisa terjadi begitu? Wah, Thayhwesio ini benar-benar lucu dan aneh.”

Pedang Tetesan Air Mata - 09

Belum Terlambat
Oleh Gu Long
Fajar baru menyingsing.

Penutup

Pisau Terbang Li (89)
Li Xun Huan terdiam beberapa saat. Lalu ia mendesah dan berkata perlahan, “Ketika seseorang menang, ia selalu merasa sangat kelelahan dan kesepian.”

Antara Guru Dogol dan Murid Istimewa

Hina Kelana Bab 109
Oleh Jin Yong
“Dahulu itu kan terpaksa, apalagi lantaran itu telah timbul banyak omongan-omongan iseng,” kata Ing-ing. “Tadi Ayah mengatakan aku… aku hanya memikirkan kau dan tidak mau ayah lagi, kalau sekarang aku benar ikut pergi bersama kau tentu Ayah tambah marah. Setelah mengalami penderitaan-penderitaan selama belasan tahun agaknya watak Ayah rada-rada berubah [...]

Pedang Tetesan Air Mata - 08

Tiap-wu
Oleh Gu Long
Empat ekor burung merpati pos terbang dari Lok-yang menuju ke langit nan biru.

Kemenangan dan Kekalahan

Pisau Terbang Li (88)
Kaki Ah Fei tertekuk saat ia tersungkur dan tubuhnya mulai mengejang. Baru ia sadar bahwa mereka tidak punya jalan keluar yang lain lagi. Perasaan itu membuatnya menjadi setengah linglung.

Yim Ngo-heng Menjadi Kaucu Lagi

Hina Kelana Bab 108
Oleh Jin Yong
“Yim-kaucu,” kata Tonghong Put-pay pula, “segala macam kebaikanmu padaku selamanya takkan kulupakan. Tadinya aku cuma seorang hiangcu, termasuk bawahan Tong-toako, tapi engkau menaruh perhatian padaku dan berulang-ulang memberi kenaikan pangkat padaku, sampai-sampai pusaka kita seperti Kui-hoa-po-tian juga kau wariskan padaku dan menunjuk diriku sebagai penggantimu kelak. Semua budi kebaikan ini [...]

Pedang Tetesan Air Mata - 07

Kesetiaan Kawan
Oleh Gu Long
Coa Tiong duduk di atas sebuah bangku yang terbuat dari empat batang kayu dengan selembar kain terpal, memandang orang-orang yang berlalu-lalang di tengah jalan, wajahnya tampak suram dan selalu murung, setiap orang dapat melihat bahwa sikapnya hari ini kurang begitu baik.