Archive for September, 2009

Yim Ngo-heng Mati, Pertikaian pun Berhenti

Hina Kelana Bab 141
Oleh Jin Yong
Ketika para anggota Tiau-yang-sin-kau mendengar ucapan sang kaucu mendadak berhenti setengah-setengah, suaranya juga kedengaran serak, semua orang menjadi kaget dan sama mendongak, maka terlihatlah kulit muka sang kaucu berkerut-kerut, tampaknya sangat kesakitan, menyusul tubuh sang kaucu menggeliat terus roboh terjungkal.

Lenghou Tiong Tetap Menolak Masuk Mo-kau

Hina Kelana Bab 140
Oleh Jin Yong
Tidak lama kemudian, terdengarlah suara bentakan dan makian, dua-tiga tianglo tampak memimpin anak buahnya menggiring beberapa puluh anak murid Ko-san, Hoa-san, Heng-san, dan Thay-san-pay naik ke atas situ.

Jiwa Kesatria Hing-san-pay yang Tak Tertaklukkan

Hina Kelana Bab 139
Oleh Jin Yong
Habis berkata, segera ia gandeng tangan Lenghou Tiong dan diajak menuju ke suatu panggung batu yang menjulang tinggi di atas puncak itu. Di sebelah timur panggung batu itu terdapat lima tiang batu yang berjajar dalam bentuk seperti telapak tangan, tinggi seluruhnya beberapa puluh meter tingginya, pada jari tengah yang paling [...]

Kepandaian Dian Pek-kong yang Khas Endus Bau Wanita

Hina Kelana Bab 138
Oleh Jin Yong
“Tidak boleh juga, tidak apa-apa, di dalam jala ikan ada duniaku sendiri. Biarlah aku tidur nyenyak di sini. Seorang laki-laki sejati sanggup mengkeret dan dapat menonjol, kalau mengkeret masuk jala, bila menonjol akan keluar jala. Apa artinya bagiku soal-soal begini, aku Lenghou….” baru Lenghou Tiong mau mengoceh lagi sekilas dilihatnya [...]

Binasanya Gak Put-kun

Hina Kelana Bab 137
Oleh Jin Yong
Khawatir kalau Lim Peng-ci melakukan serangan kalap lagi, segera Lenghou Tiong menendang sekali di pinggangnya dan menutuk hiat-to bagian itu, kemudian barulah ia menggeledahi badan orang mati untuk mencari batu api. Berturut-turut tiga orang telah digerayanginya, tapi semuanya bersaku kosong. Tiba-tiba teringat olehnya, kontan ia memaki, “Keparat, orang buta sudah [...]

Matinya Co Leng-tan dan Lim Peng-ci

Hina Kelana Bab 136
Oleh Jin Yong
Menyusul pula beberapa orang berteriak, “He, itu suara Co Leng-tan! Ya, dia Co Leng-tan!”

Pergulatan Antara Mati dan Hidup di Dalam Gua

Hina Kelana Bab 135
Oleh Jin Yong
Waktu Lenghou Tiong berpaling, dilihatnya seorang tua berbaju kuning sedang melotot kepada seorang laki-laki jangkung pertengahan umur, bahkan sambil mengacungkan ujung pedangnya ke dada si jangkung.

Menyusuri Jejak Musuh

Hina Kelana Bab 134
Oleh Jin Yong
“Kutanya dia pula mengapa tidak mau bertemu dengan suaminya, dia bilang suaminya adalah manusia paling tidak berperasaan di dunia ini, orang yang paling doyan perempuan, biarpun bertemu kembali juga tiada gunanya.”

Ketololan Tho-kok-lak-sian dan Kedogolan Put-kay Hwesio

Hina Kelana Bab 133
Oleh Jin Yong
Betapa pun licik dan licin Yu Siok, tidak urung mukanya menjadi pucat seperti mayat, dengan suara gemetar ia menjawab, “Ter… terima kasih, aku tidak… tidak ingin membacanya!”

Antara Mati dan Hidup

Hina Kelana Bab 132
Oleh Jin Yong
Tiba-tiba terdengar di bawah Sian-kong-si itu ada suara orang bicara, cuma jaraknya jauh maka tak jelas terdengar. Selang sejenak, terdengar ada orang mendekati kuil itu.