<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Silat</title>
	<atom:link href="http://ceritasilat.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ceritasilat.info</link>
	<description>Ragam Cerita Silat</description>
	<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 03:13:17 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pendekar Baja (14)</title>
		<link>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-14/</link>
		<comments>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-14/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 03:13:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendekar Baja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.info/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gu Long
Menyaksikan pertarungan ini, Jit-jit jadi ngeri dan khawatir, batinnya, &#8220;Siapa bilang kungfu Lian Thian-hun sudah susut? Jika lwekangnya sekarang cuma tiga bagian daripada kemampuannya dulu, bukankah sekali pukulannya bisa menewaskan seorang kosen&#8230;Mungkin Kim Bu-bong percaya omongan orang dan salah tafsir, kalau satu lawan saja tak mampu dikalahkan dia, belum lagi empat orang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Gu Long</strong></p>
<p>Menyaksikan pertarungan ini, Jit-jit jadi ngeri dan khawatir, batinnya, &#8220;Siapa bilang kungfu Lian Thian-hun sudah susut? Jika lwekangnya sekarang cuma tiga bagian daripada kemampuannya dulu, bukankah sekali pukulannya bisa menewaskan seorang kosen&#8230;Mungkin Kim Bu-bong percaya omongan orang dan salah tafsir, kalau satu lawan saja tak mampu dikalahkan dia, belum lagi empat orang yang menunggu giliran.&#8221;<br />
<span id="more-816"></span><br />
Maklum, watak Cu Jit-jit memang agak ekstrem, maka sering dia melakukan perbuatan tak dapat dilakukan orang lain, apa itu adat istiadat, apa itu peraturan, dia tidak peduli. Jika dia baik dengan seorang, maka dia harap orang itu akan menang, tentang benar atau salah, baik atau jahat sama sekali tidak dipikirnya.</p>
<p>Demikian pula sekarang, tentu saja dia harap Kim Bu-bong dapat memukul mampus Lian Thian-hun, soal Lian Thian-hun orang baik atau jahat, hakikatnya tak terpikir olehnya.</p>
<p>Tapi Kim Bu-bong justru terdesak di bawah angin, keruan Jit-jit gelisah.</p>
<p>Dia tidak tahu bahwa lwekang Lian Thian-hun sudah jauh berkurang, kekuatannya sekarang paling-paling hanya tiga bagian saja dari kepandaiannya waktu puncaknya dulu. Dasar Lian Thian-hun berwatak berangasan, sekali bergebrak, dia keluarkan seluruh sisa tenaganya itu tanpa pikirkan keselamatan sendiri.</p>
<p>Betapa luas dan pengalaman tempur Kim Bu-bong, sejak mula dia sudah melihat titik kelemahan lawan, maka dia tidak mau adu jiwa, tujuannya hanya menguras tenaga lawan.</p>
<p>Beberapa jurus lagi, serangan Lian Thian-hun mulai kendur. Keringat sudah membasahi jidatnya. Sebaliknya serangan Kim Bu-bong semakin kuat, lambat laun dia mulai berada di atas angin.</p>
<p>Mendadak kedua kepalan Lian Thian-hun menghantam sekaligus, jurus ini dinamakan Ciak-boh-thian-king (Batu Pecah Langit Terkejut), dengan dahsyat menghantam dada Kim Bu-bong.</p>
<p>Pada saat itulah Li Tiang-ceng berkata perlahan, &#8220;Inilah jurus ketiga delapan.&#8221;</p>
<p>Leng Toa mengangguk, seluruh perhatian tercurah ke tengah kalangan pertempuran. Tertampak Kim Bu-bong menyurut mundur miring, agaknya dia tidak mau melawan kekerasan serangan Lian Thian-hun, meski kaki melangkah mundur, tapi dia masih menyimpan tenaga susulan untuk menanti pukulan Lian Thian-hun selanjutnya.</p>
<p>Tak terduga Lian Thian-hun juga mundur selangkah dan berdiri tegak di tengah, bentaknya, &#8220;Berhenti!&#8221;</p>
<p>Bentakan menggelegar ini membuat kuping Cu Jit-jit mendengung, untuk sekian lama dia tak bisa mendengar suara apa pun.</p>
<p>Kim Bu-bong langsung mengalami akibatnya, terasa seperti ada arus hawa yang memukul dadanya, tanpa kuasa tubuhnya tergeliat, tapi sedapatnya ia bertahan pada posisinya dan siap serang lagi.</p>
<p>Pada saat itulah sesosok bayangan kurus meluncur tiba dan menyelinap di tengah mereka berdua.</p>
<p>Kiranya bentakan Lian Thian-hun tadi adalah salah satu ilmu simpanannya yang lihai, yaitu Ci-te-tui (Palu Bawah Lidah) yang kuat tapi tak berbentuk.</p>
<p>Lian Thian-hun bergelar Khi-tun-to-gu (Bila Marah Menelan Jagat), ini menunjukkan khikangnya teramat hebat, waktu kekuatannya masih utuh dulu sekali dia menghardik dengan Ci-te-tui lawan bisa tergetar putus urat sarafnya dan menjadi linglung.</p>
<p>Sayang sekali khikangnya sekarang tidak sekuat dulu, maka Kim Bu-bong hanya terkejut tak tidak terpengaruh oleh gertakannya.</p>
<p>Lian Thian-hun juga tahu kekuatan Ci-te-tui sekarang jauh lebih lemah dibanding dulu, namun wataknya tidak mau kalah, bila terdesak dan keadaan cukup gawat tanpa sadar dia lantas melancarkan ilmu ini.</p>
<p>Li Tiang-ceng adalah saudara angkatnya sejak muda, sudah diduganya Lian Thian-hun pasti akan melancarkan ilmunya ini. Maka begitu dia menggertak dengan Ci-te-tui, segera Leng Toa menyelinap masuk arena.</p>
<p>Lian Thian-hun membentak gusar, &#8220;Minggir, siapa suruh kau turut campur?&#8221;</p>
<p>Leng Toa tersenyum, katanya, &#8220;Sudah kau suruh orang berhenti, tentunya aku boleh turun tangan.&#8221;</p>
<p>Lian Thian-hun melengak, lekas Li Tiang-ceng menyeretnya ke pinggir.</p>
<p>Kim Put-hoan tertawa lebar, katanya, &#8220;Haha, lucu, sungguh lucu.&#8221;</p>
<p>Thian-hoat Taysu juga berkata, &#8220;Biar ku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa Taysu tergesa-gesa? Keparat itu takkan bisa lolos, kenapa Taysu tidak lihat dulu bagaimana kungfu Leng-keh-sam-hengte (Tiga Saudara dari Keluarga Leng) hebat dan yang jarang dipamerkan di depan umum?&#8221; demikian bujuk Kim Put-hoan.</p>
<p>Sejenak Thian-hoat Taysu termenung dan urung melangkah maju.</p>
<p>Kiranya kedudukan ketiga saudara keluarga Leng di dunia persilatan agak aneh, mereka adalah kaum budak di Jin-gi-ceng, namun kungfu mereka termasuk tokoh kelas tinggi.</p>
<p>Mereka tidak mengejar nama, tidak mencari keuntungan pribadi, juga tak pernah berkecimpung di Kangouw atau ikut campur urusan orang lain, kecuali ada orang mengancam Jin-gi-ceng, mereka tidak sembarangan turun tangan.</p>
<p>Tapi bila mereka sudah turun tangan, lawan mereka jarang ada yang bisa pulang dengan selamat, maka jarang ada kaum persilatan yang tahu asal usul kungfu mereka.</p>
<p>Riwayat hidup mereka merupakan teka-teki pula, mereka tidak pernah menyinggung atau membicarakan perihal pribadi mereka dengan orang lain, umpama ada orang tanya juga mereka tak mau menjawab, kepada siapa pun sukar mencari tahu seluk-beluk mereka.</p>
<p>Kungfu yang misterius, riwayat hidup yang terahasia, ditambah tabiat mereka yang aneh sehingga ketiga bersaudara ini dipandang sebagai tokoh aneh dunia Kangouw.</p>
<p>Sekarang sampai Lian Thian-hun juga ingin menyaksikan saudara tertua keluarga Leng ini memiliki kejutan apa dalam ilmu silatnya.</p>
<p>Sementara Leng Toa sedang terbatuk-batuk tak berhenti-henti, maka Cu Jit-jit lantas bertanya, &#8220;Kau sedang sakit, apa masih sanggup bergebrak?&#8221;</p>
<p>Leng Toa angkat kepala dan tertawa padanya, katanya, &#8220;Terima kasih atas perhatianmu.&#8221;</p>
<p>Habis bicara dia batuk lagi lebih gencar.</p>
<p>Jit-jit menghela napas, katanya, &#8220;Masih banyak orang di sini, kenapa kau yang disuruh maju? Kim&#8230;Kim-toako, biarlah dia mundur saja, gantikan orang lain.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong hanya tertawa dingin tanpa bicara.</p>
<p>Kim Put-hoan justru menanggapinya dengan sinis, &#8220;Nona Cu, kau khawatir dia sakit dan tak sanggup berkelahi? Hehehe, nanti bila dia bikin kau menjadi janda, baru kau tahu betapa lihainya.&#8221;</p>
<p>Beringas muka Jit-jit, hampir dia mengumbar adatnya lagi.</p>
<p>Dasar usil, Kim Put-hoan bermaksud meledek lagi, mendadak Leng Toa membentak gusar, &#8220;Tutup mulutmu.&#8221;</p>
<p>Kim Put-hoan melenggong, &#8220;Kau suruh aku tutup mulut?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kau harus tutup mulut,&#8221; seru Leng Toa.</p>
<p>&#8220;Apa&#8230;apakah kau tak bisa membedakan siapa musuh dan siapa kawan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku lebih senang punya musuh seperti dia daripada punya teman seperti tampangmu,&#8221; jawab Leng Toa. Perkataannya itu berarti &#8220;teman yang hina dina jauh lebih menakutkan daripada musuh yang jujur&#8221;.</p>
<p>Mau tak mau Kim Put-hoan merasa malu, dia menoleh ke arah Li Tiang-ceng, maksudnya seperti ingin bilang, &#8220;Kacungmu bersikap kurang ajar padaku, kenapa kau tidak menegurnya.&#8221;</p>
<p>Ternyata Li Tiang-ceng diam saja tanpa memberi reaksi, seakan-akan dia tidak mendengar atau memang sengaja tidak peduli akan percakapan Kim Put-hoan dengan Leng Toa.</p>
<p>Waktu Kim Put-hoan berpaling lagi, tampak mata Leng Toa setajam pisau tengah menatapnya dengan gusar, lekas ia ganti sikap, katanya dengan cengar-cengir, &#8220;Agaknya tepukan pantat keliru kutepuk pada paha kuda. Baiklah, aku takkan bicara lagi, silakan Leng-heng turun tangan.&#8221;</p>
<p>Leng Toa mendengus, sikapnya merasa jijik dan menghina, lalu dia berpaling ke arah Kim Bu-bong, katanya, &#8220;Silakan!&#8221;</p>
<p>Cu Jit-jit tidak bersuara lagi, dia menduga Leng Toa yang berpenyakitan ini pasti punya bekal kungfu yang tinggi, kalau tidak Kim Put-hoan yang suka menindas yang lemah dan takut kepada yang kuat ini tidak nanti bersikap begitu takut kepadanya. Dengan mata terbelalak dia menunggu pertempuran yang akan berlangsung.</p>
<p>Tapi Kim Bu-bong dan Leng Toa ternyata belum bergebrak. Kedua orang berdiri berhadapan, tidak ambil posisi, tidak pasang kuda-kuda, namun keduanya sama tahu tidak boleh sembarangan menyerang, kalau bergerak secara gegabah mungkin akan mengalami akibat yang fatal.</p>
<p>Maklum, bagi penyerang yang ingin mendahului pasti menggunakan serangan keji dan dahsyat, padahal permainan silat di dunia ini bila mengutamakan serangan pasti ada peluang pada pertahanannya.</p>
<p>Bilamana serangan pertama gagal, lawan pasti balas mengincar titik lemahnya dan melancarkan serangan balasan maut.</p>
<p>Sebab itulah sejak Leng Toa bilang &#8220;silakan&#8221; tubuh kedua orang tiada yang bergerak, mata pun tak berkedip.</p>
<p>Li Tiang-ceng, Kim Put-hoan, Thian-hoat Taysu adalah jago kosen, sudah tentu mereka tahu kenapa sejauh ini kedua orang diam saja tak mau menyerang lebih dulu. Suasana tegang mencekam, semua orang menahan napas, tak berani berisik, khawatir membuyarkan konsentrasi kedua jago yang siap saling labrak itu.</p>
<p>Akhirnya Cu Jit-jit juga merasakan keadaan kedua jago yang berhadapan itu, mati-hidup mereka hanya bergantung pada sekejap saja, maka dengan tajam dia mengawasi kedua orang yang tegak seperti patung, suasana tegang ini jauh lebih menakutkan daripada pertempuran yang pernah disaksikannya.</p>
<p>Angin dingin mengembus kencang, namun mereka tidak merasa dingin lagi.</p>
<p>Entah berapa lama sudah lalu.</p>
<p>Leng Toa merasakan tenaganya seperti sedang terkuras keluar, padahal dia belum menggerakkan seujung jari pun, tapi energi yang terbuang dalam ketegangan justru lebih besar dibanding tatkala bertempur sengit.</p>
<p>Keringat terasa mengalir di jidatnya, meleleh dan membasahi pipi, seperti ulat-ulat kecil yang merambat di mukanya, gatal dan geli.</p>
<p>Tapi dia bertahan dengan mengertak gigi. Sebab dia tahu pertempuran ini akan menentukan mati-hidup mereka, juga merupakan ujian tinggi-rendah kungfu mereka, yang lebih penting lagi juga menguji keteguhan ketahanan mereka berdua. Dia insaf meski dirinya sekarang menderita, lawan pun pasti dalam keadaan serupa.</p>
<p>Entah berapa lama telah berlalu pula.</p>
<p>Bukan saja Leng Toa dan Kim Bu-bong mengeluh dalam hati, Li Tiang-ceng, Thian-hoat Taysu yang menonton di pinggir juga kehilangan sabar, keringat juga membasahi jidat mereka, seolah-olah mereka sendiri baru mengalami pertempuran sengit.</p>
<p>Diam-diam Kim Put-hoan menarik lengan baju Li Tiang-ceng. Mereka saling pandang sekejap, lalu mundur jauh ke sana.</p>
<p>Kim Put-hoan berkata dengan berbisik, &#8220;Li-heng, menurut pendapatmu, siapa bakal menang dalam pertempuran ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira kedua orang ini setanding dan sama kuat,&#8221; jawab Li Tiang-ceng setelah berpikir sejenak.</p>
<p>&#8220;Ya, mereka terhitung tokoh top dunia Kangouw, tujuh jago kosen bu-lim seperti kami ini bila dibandingkan mereka sungguh harus merasa malu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dalam segalanya Leng Toa tidak lebih asor daripada Kim Bu-bong, tapi ketahanan fisiknya&#8230;penyakit tebesenya terakhir ini semakin parah karena terlalu banyak minum arak, kalau keadaan tegang begini berlangsung lebih lama, tenaga Leng Toa pasti tak kuat bertahan, bukan mustahil akibatnya fatal baginya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, lalu bagaimana baiknya,&#8221; ujar Kim Put-hoan. &#8220;Padahal kutahu betapa tekun orang ini menggembleng diri, sukar mencari orang kedua yang bisa menandingi dia. Apalagi biasanya dia tidak suka campur dengan orang perempuan, bicara tentang ketahanan tenaganya, selama aku berkecimpung di dunia Kangouw belum pernah kulihat orang yang lebih unggul daripada dia. Dahulu pernah dia bertempur melawan belasan orang secara bergilir, setelah belasan babak, ternyata wajahnya tetap tak berubah dan tenaga tak berkurang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau betul demikian, tanpa bertempur pun jelas aku juga bukan tandingannya, mungkin&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin Thian-hoat Taysu juga bukan tandingannya, begitu?&#8221; tanya Kim Put-hoan.</p>
<p>Li Tiang-ceng diam saja.</p>
<p>&#8220;Jadi kita berlima tiada seorang pun yang kuat melawannya, apakah kita manda saja dipukul roboh satu per satu olehnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu tidak, kecuali&#8230;kecuali&#8230;&#8221; Li Tiang-ceng tak berani meneruskan.</p>
<p>&#8220;Kecuali bagaimana?&#8221; tanya Kim Put-hoan.</p>
<p>&#8220;Kecuali kau turun tangan bersamaku.&#8221;</p>
<p>Tujuan Kim Put-hoan ajak orang bicara memang ingin memaksa pernyataannya ini, segera dia bertepuk tangan, serunya, &#8220;Ya, memang harus demikian, menghadapi iblis jahat ini tak perlu kita mematuhi aturan Kangouw segala, daripada kita berkorban, biarlah kita turun tangan bersama saja.&#8221;</p>
<p>Waktu Li Tiang-ceng memandang ke sana, dalam beberapa kejap percakapannya dengan Kim Put-hoan ini, dilihatnya keadaan Leng Toa semakin payah, jelas dia tidak kuat bertahan lebih lama, sebaliknya sorot mata Kim Bu-bong makin mencorong.</p>
<p>&#8220;Bagaimana&#8230;&#8221; Kim Put-hoan mendesak.</p>
<p>Li Tiang-ceng mengertak gigi, katanya dengan suara tertahan, &#8220;Baiklah.&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara Kim Put-hoan menyeringai, katanya, &#8220;Kalau begitu, Kim Bu-bong harus menyerahkan jiwanya.&#8221;</p>
<p>Di tengah gelak tertawanya, beberapa bintik sinar dingin melesat ke sana langsung menyerang dada Kim Bu-bong, serangan cepat lagi ganas, jelas dia sudah siapkan senjata rahasianya sejak tadi.</p>
<p>Kim Bu-bong sedang tumplak seluruh perhatiannya, sedikit pun tidak boleh lena, kini mendadak diserang, dia dapat berkelit, jelas dia pasti celaka.</p>
<p>Cu Jit-jit menjerit, mau menolong pun terlambat.</p>
<p>Di luar dugaan Kim Bu-bong ternyata mampu menghindar, sekali berjumpalitan, belasan bintik kemilau itu meluncur lewat di bawah kakinya.</p>
<p>Di tengah udara Kim Bu-bong berputar dan turun di samping Cu Jit-jit, ia membentak bengis, &#8220;Kim Put-hoan, sudah kuduga kau akan membokong diriku, maka sejak tadi memang sudah kuperhatikan gerak-gerikmu. Hm, kau ingin mencelakai aku, belajarlah sepuluh tahun lagi.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu hadirin kaget mendengar pertanyaannya. Kim Put-hoan membentak gusar, &#8220;Ayo maju semua, ganyang saja kedua orang ini!&#8221;</p>
<p>Meski suaranya lantang, namun dia tidak berani turun tangan lebih dulu.</p>
<p>Thian-hoat Taysu melirik ke arah Li Tiang-ceng, terlihat Li Tiang-ceng mengangguk, tanpa bicara lagi dari kiri-kanan lantas menubruk maju, dalam sekejap mereka sudah menyerang tiga jurus.</p>
<p>Begitu Kim Put-hoan turun tangan, Leng Toa malah mundur beberapa langkah, hanya Lian Thian-hun masih berdiri di tempatnya sambil menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu.</p>
<p>Sambil menarik Cu Jit-jit, Kim Bu-bong menangkis ke kiri dan menghindar ke kanan, beruntun dia layani tiga jurus serangan lawan, mendadak dia menjengek, &#8220;Li Tiang-ceng, coba kau lihat keadaan Lian Thian-hun.&#8221;</p>
<p>Kim Put-hoan membentak, &#8220;Jangan tertipu!&#8221;</p>
<p>Sebetulnya Li Tiang-ceng juga berpikir demikian, namun perhatiannya teramat besar atas keselamatan saudara angkatnya ini, akhirnya dia tak tahan dan menoleh. Seketika dia kaget dan berubah air mukanya.</p>
<p>Ternyata Lian Thian-hun sedang menunduk dengan memejamkan mata, wajahnya pucat pasi, mulut mengeluarkan buih, kelihatan amat mengerikan.</p>
<p>Kaget dan gusar Li Tiang-ceng, bentaknya, &#8220;Kau&#8230;kau apakah dia?&#8221;</p>
<p>Kaki tangan Kim Bu-bong tidak berhenti, berbareng juga menjengek, &#8220;Waktu bergebrak denganku tadi dia sudah terkena obat biusku yang beracun, tanpa obat penawar perguruanku, dalam dua jam racun akan bekerja dan jiwa pun melayang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bangsat, apa&#8230;apa kehendakmu?&#8221; bentak Li Tiang-ceng khawatir.</p>
<p>&#8220;Dengan jiwanya kuminta ganti jiwa orang lain,&#8221; seru Kim Bu-bong.</p>
<p>Kim Put-hoan memaki, &#8220;Kau kira kami akan melepaskan kau? Hehe, jangan mimpi!&#8221;</p>
<p>Kembali dia serang tiga kali dengan lebih keji, sungguh dia ingin sekali hantam mampuskan Kim Bu-bong.</p>
<p>Sambil tertawa ejek Kim Bu-bong menghindarkan serangan lawan, jengeknya, &#8220;Hm, kau mimpi?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dalam sekejap kami dapat membekuk dirimu, memangnya takkan kau serahkan obat penawarnya?&#8221; kata Kim Put-hoan.</p>
<p>&#8220;Ya, memang demikian,&#8221; seru Li Tiang-ceng, kembali dia terjun ke arena, serangannya tambah gencar dan ganas, dalam keadaan begini, demi menolong jiwa Lian Thian-hun, terpaksa Leng Toa ikut mengeroyok.</p>
<p>Diam-diam Cu Jit-jit cemas, pikirnya, &#8220;Dengan demikian bisa celaka dia.&#8221;</p>
<p>Siapa tahu mendadak Kim Bu-bong bergelak tertawa latah malah.</p>
<p>&#8220;Kau tertawa apa? Masih bisa kau tertawa?&#8221; damprat Kim Put-hoan.</p>
<p>&#8220;Coba kau lihat apakah ini?&#8221; seru Kim Bu-bong, mendadak tangan terayun, selarik bintik hitam menyambar dari tangannya.</p>
<p>Orang banyak menyangka dia balas menyerang dengan am-gi atau senjata rahasia, ternyata delapan bintik hitam itu bukan menyerang lawan, tapi sebaliknya menyerang dirinya sendiri.</p>
<p>Tertampak dia membuka mulut dan menyedot, sekaligus delapan bintik hitam itu tersedot ke dalam mulutnya.</p>
<p>Sudah tentu semua orang terbelalak heran, beramai mereka tanya, &#8220;Apakah itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Inilah obat penawarnya,&#8221; sahut Kim Bu-bong, agaknya dia belum telan bintik hitam itu ke dalam perut melainkan hanya dikumur di mulut saja, maka suara bicaranya tidak begitu jelas, tapi semua orang tahu dan maklum akan maksudnya.</p>
<p>&#8220;Obat penawar,&#8221; terkesiap Li Tiang-ceng. &#8220;Hendak&#8230;hendak kau telan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kalian menyerang lagi, obat penawar akan segera kutelan, obat penawar ini tinggal beberapa biji saja di dunia ini, jika kutelan seluruhnya&#8230;Hehehe, umpama dewa juga jangan harap akan dapat menyelamatkan jiwa Lian Thian-hun.&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara, Li Tiang-ceng dan Leng Toa serentak mengendurkan serangan, lalu berhenti dan mundur. Thian-hoat Taysu ikut berhenti, jika Kim Put-hoan tidak berhenti, seorang diri mana dia mampu melawan Kim Bu-bong.</p>
<p>Dengan mata jelalatan Kim Put-hoan berkata, &#8220;Kim Bu-bong, terus terang kuberi tahu kepadamu, bila ingin kau tuntut kami membebaskan dirimu, lalu akan kau serahkan obat penawarnya, jangan harap kami akan menerima tuntutanmu. Tapi kalau kau tinggalkan obat penawarnya baru kami akan membebaskanmu, namun belum tentu kau mau, betul tidak? Lalu apa maksudmu sebenarnya? Lekas katakan saja!&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong masih pegang lengan Cu Jit-jit, katanya dengan tertawa dingin, &#8220;Mau datang boleh datang, ingin pergi pun tiada yang dapat menahanku, kenapa perlu kau lepaskanku pergi segala?&#8221;</p>
<p>Ucapan Kim Bu-bong ini kembali di luar dugaan.</p>
<p>&#8220;Lalu kehendakmu?&#8221; tanya Kim Put-hoan.</p>
<p>&#8220;Kalian harus membebaskan dia,&#8221; kata Kim Bu-bong.</p>
<p>&#8220;Dia?&#8230;nona ini?&#8221; Li Tiang-ceng menegas.</p>
<p>&#8220;Ya, bebaskan Nona Cu ini,&#8221; kata Kim Bu-bong. &#8220;Dia tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini, asalkan bebaskan dia, sesudah dia pergi jauh, segera kuberikan obat penawar.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Li Tiang-ceng menghela napas lega, namun di mulut ia berkata, &#8220;Tapi&#8230;tapi cara bagaimana dapat kupercayaimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Percaya atau tidak terserah padamu,&#8221; jengek Kim Bu-bong.</p>
<p>Li Tiang-ceng termenung sejenak, katanya kemudian, &#8220;Baiklah.&#8221;</p>
<p>Ia pandang Thian-hoat Taysu, padri itu mengangguk perlahan. Sebaliknya Kim Put-hoan merasa penasaran, namun dilihatnya Leng Toa dan Li Tiang-ceng sama melotot padanya, biarpun ia menyatakan tidak setuju juga tidak ada gunanya.</p>
<p>Terpaksa ia pun mengangguk, bahkan tertawa dan berseru, &#8220;Aha, kiranya permintaanmu hanya pembebasan Nona Cu, haha, bagus sekali. Padahal tanpa kau minta juga takkan kami ganggu dia.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong mendengus dan melepaskan pegangannya, katanya kepada Cu Jit-jit, &#8220;Lekas kau pergi saja.&#8221;</p>
<p>Merah basah mata Jit-jit, ucapnya dengan menunduk, &#8220;Jadi benar kau suruh kupergi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika tidak pergi, engkau berbalik akan menambah bebanku,&#8221; kata Kim Bu-bong dengan dingin, meski sikap dan ucapannya dingin, tapi dadanya berombak, jelas ia pun dirangsang emosi.</p>
<p>Dalam keadaan demikian, bila gadis lain tentu akan menangis dan banyak tingkah, namun sekali ini Cu Jit-jit justru bertindak kebalikannya, walaupun hati terharu dan berterima kasih, tapi ia tahu tiada gunanya bicara lagi.</p>
<p>Segera ia mengentak kaki dan berseru, &#8220;Baik, kupergi! Jika engkau hidup tentu akan kutemukan kau lagi, bila engkau mati akan kutuntut balas bagimu.&#8221;</p>
<p>Dengan menahan perasaannya segera ia berlari pergi dengan cepat.</p>
<p>Sampai lama sesudah bayangan punggung si nona menghilang di kejauhan Kim Bu-bong masih berdiri termangu tanpa bergerak.</p>
<p>Mendadak Kim Put-hoan mengejek, &#8220;Ai, kasihan, nona ini ternyata tidak tahu budi atas kebaikan Kim-lotoa kami, sekali bilang pergi segera pergi tanpa menoleh&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Binatang! Cuhh!&#8221; semprot Kim Bu-bong, sekaligus delapan bintik hitam menyambar ke sana.</p>
<p>Kim Put-hoan sedang mengoceh dengan gembira dan tidak berjaga-jaga, keruan bintik hitam itu semua hinggap di mukanya.</p>
<p>Wajahnya memang buruk serupa siluman, ditambah lagi hiasan bintik-bintik hitam ini, keruan tampangnya tambah lucu dan menakutkan, juga memuakkan.</p>
<p>Karena muka sakit pedas, Kim Put-hoan menjadi gusar, selagi tangannya hendak mengusap muka, baru tangan terangkat segera dipegang oleh Leng Toa.</p>
<p>&#8220;Hm, yang menempel di mukamu itu adalah obat penawar penyelamat jiwa Lian-samya, jika berani sembarangan kau usap, segera kubinasakan kau,&#8221; jengek Leng Toa.</p>
<p>Baru sekarang Kim Put-hoan ingat yang disemburkan Kim Bu-bong itu adalah obat penawar yang terkulum di mulutnya tadi, terpaksa ia berdiri diam saja dan membiarkan Leng Toa membersihkan obat penawar itu sebiji demi sebiji. Ludah Kim Bu-bong yang menghiasi muka Kim Put-hoan itu akhirnya kering.</p>
<p>Kim Bu-bong lantas menengadah dan bersuit nyaring, serunya, &#8220;Nah, obat penawar sudah kalian dapatkan, bila mau turun tangan, ayolah mulai!&#8221;</p>
<p>Belum lenyap suaranya, serentak dua sosok bayangan lantas menerjang maju.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dalam pada itu tanpa menoleh Cu Jit-jit terus berlari ke depan, sampai sekian jauhnya, air mata tak tertahankan lagi dan bercucuran, semakin dipikir makin berduka, akhirnya ia menangis tergerung-gerung.</p>
<p>Entah menangis berapa lama lagi, tiba-tiba diketahui dirinya berada di bawah sebatang pohon kering, entah kapan dia berhenti di situ juga tidak dirasakannya.</p>
<p>Hari masih siang, namun cuaca remang-remang seakan-akan petang.</p>
<p>Ia mengusap air matanya dan tidak menangis lagi, ia mengingatkan dirinya sendiri, &#8220;Jangan menangis lagi, Cu Jit-jit! Kim Bu-bong takkan mati, untuk apa kau tangisi? Mungkin&#8230;mungkin saat ini Kim Bu-bong sudah kabur.&#8221;</p>
<p>Tapi segera ia mengomeli diri sendiri, &#8220;Omong kosong, siapa bilang Kim Bu-bong tak bisa mati? Siapa bilang Kim Bu-bong akan kabur? Keempat orang itu pasti bukan tandingannya jika satu lawan satu, tapi&#8230;tapi satu lawan empat, betapa pun sulit&#8230;Namun dia dapat lari&#8230;Ah, juga tidak betul, dia terkepung empat orang, umpama mau lari juga sukar&#8230;&#8221;</p>
<p>Begitulah sebentar dia menggerundel, sebentar mengomel, lain saat menghibur lagi diri sendiri, akhirnya ia berbangkit, ia mengertak gigi, setelah membedakan arah, segera ia berangkat ke depan.</p>
<p>Sembari berjalan ia bergumam pula, &#8220;Kepergianku ini bukan untuk mencari Sim Long, dia bersikap kasar padaku, mati pun aku tidak mau mencari dia, aku akan cari Thio Sam atau Li Si dan orang lain, siapa pun dapat kumintai bantuan untuk menolong Kim Bu-bong.&#8221;</p>
<p>Padahal ia tahu apa yang dikatakannya itu tidak dapat dipercaya, namun dia tetap omong begitu. Kebanyakan anak perempuan di dunia ini memang ada satu kelebihan daripada kaum lelaki, yaitu suka dusta pada dirinya sendiri.</p>
<p>Begitulah sembari berjalan sambil berpikir, tanpa terasa Jit-jit sampai lagi di kota kecil tempat mereka makan pagi itu, rumah makan kecil itu kelihatan di depan.</p>
<p>Entah mengapa, tanpa terasa ia masuk lagi ke rumah makan itu. Dia memang lelah, pikiran kusut, ia perlu mencari suatu tempat istirahat untuk menenangkan pikiran.</p>
<p>Pelayan masih mengenali si nona, cepat ia mendekat dan menyapa, &#8220;Nona ingin makan apa, tuan tadi tidak ikut datang lagi? Apakah segera menyusul? Biarkan hamba menyiapkan dua pasang sumpit, boleh?&#8221;</p>
<p>Mendadak Jit-jit menggebrak meja dan membentak, &#8220;Jangan cerewet!&#8221;</p>
<p>Keruan pelayan itu berjingkat kaget dan melongo.</p>
<p>&#8220;Sediakan Ang-sio-hi-sit dan pauhi, ham masak madu, tim tapak beruang dan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, mana&#8230;mana ada santapan kelas tinggi itu di tempat kecil ini?&#8221; ucap si pelayan dengan kelabakan.</p>
<p>&#8220;Habis apa yang tersedia di sini?&#8221; teriak Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Paling-paling cuma nasi dan mi saja, kalau mi ada beberapa macam, pangsit mi, ti-te-mi, mi babat, loh-mi, dan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Baikan, bawakan satu porsi pangsit mi,&#8221; kata Jit-jit, ditambahkan pula, &#8220;Cepat!&#8221;</p>
<p>Pelayan mengiakan, diam-diam ia menggerutu, minta ini dan itu, akhirnya pangsit mi juga mau.</p>
<p>Dengan cepat juga pangsit mi lantas diantarkan. Namun pangsit mi yang mengepul panas ini akhirnya menjadi dingin dan tetap tidak disentuh oleh sumpit Cu Jit-jit. Maklum, kalau pikiran lagi kusut, biarpun disediakan hidangan yang paling enak juga sukar ditelannya.</p>
<p>Pada saat itulah mendadak ada orang berteriak-teriak di luar, &#8220;Tolong&#8230;Tolong&#8230;&#8221;</p>
<p>Segera seorang berlari masuk dengan wajah berlumuran darah, dari dandanan dan perawakannya jelas bukan sebangsa orang Kangouw.</p>
<p>Jit-jit hanya memandangnya sekejap saja dan malas untuk melihatnya lagi. Tapi pelayan dan tetamu lain sama terkejut dan beramai-ramai mengerumuni orang itu sambil bertanya, &#8220;He, terjadi apa, Juragan Ong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa yang menganiaya Juragan Ong kita, biar kuadu jiwa dengan dia!&#8221; teriak lagi seorang.</p>
<p>Kiranya yang mengalami pukulan ini adalah pemilik rumah makan ini.</p>
<p>&#8220;Tadi aku mengobrol iseng bersama Li gemuk di tempat penjualan daging babi sana,&#8221; demikian tutur Juragan Ong, &#8220;kukatakan menjelang tengah hari tadi tempat kita ini kedatangan dua tetamu aneh, yang perempuan cantik molek, yang lelaki buruk rupa dan lebih mirip setan, kubilang pasangan itu seperti setangkai bunga menghiasi seonggok kotoran kerbau. Li gemuk tertawa, aku juga tertawa, siapa tahu pada saat itu juga mendadak menerjang tiba seorang lelaki liar dan menghajar diriku, aku&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis penuturannya, tiba-tiba dilihatnya nona cantik yang dibicarakannya itu sudah berdiri di depannya dengan wajah bersungut.</p>
<p>Keruan Juragan Ong jadi melongo dan tidak dapat bicara lagi.</p>
<p>Jit-jit lantas mendekati mereka, sekali tangannya menyiah, beberapa orang lantas tertolak sempoyongan ke kanan dan ke kiri, semuanya terkejut dan melongo.</p>
<p>&#8220;Ayo, teruskan!&#8221; kata Jit-jit sambil memandang Juragan Ong dengan dingin.</p>
<p>&#8220;Ya, aku&#8230;aku akan berce&#8230;bercerita lagi&#8230;&#8221; Juragan Ong gelagapan.</p>
<p>&#8220;Tadi kau bilang siapa mirip setan?&#8221; segera Jit-jit menjambret leher baju orang.</p>
<p>Dengan keringat memenuhi dahinya Juragan Ong menjawab, &#8220;O, ku&#8230;kubilang diriku sendiri&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana bentuk orang yang menghajar dirimu tadi?&#8221; tanya Jit-jit pula.</p>
<p>&#8220;Alis tebal, mata besar dan&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis penuturan Juragan Ong, sekali tolak Jit-jit membuat orang terlempar ke atas meja sana, lalu dia melayang pergi, tertampak di kedua tepi jalan berkerumun orang yang ingin melihat keramaian.</p>
<p>Dilihatnya di kejauhan sana sedang berjalan seorang lelaki dengan sebelah tangan membawa buli-buli arak.</p>
<p>Kejut dan girang Jit-jit, teriaknya, &#8220;Hai, Him Miau-ji&#8230;Si Kucing!&#8230;&#8221;</p>
<p>Cepat orang itu berpaling, tertampak jelas alisnya yang tebal dengan matanya yang besar, dada bajunya terbuka, siapa lagi dia kalau bukan Si Kucing.</p>
<p>Si Kucing juga terkejut dan bergirang dapat bertemu dengan Cu Jit-jit, dengan langkah lebar ia menyongsong kedatangan nona itu, kedua orang saling mencengkeram bahu masing-masing serupa dua orang yang sudah berpisah selama berpuluh tahun.</p>
<p>Mereka tidak menghiraukan orang berlalu-lalang. Air mata Jit-jit hampir saja bercucuran pula, bertemu dengan Him Miau-ji di sini, sungguh serupa bertemu dengan seorang yang paling berdekatan dengan dia. Ia pegang bahu Si Kucing dengan erat dan berkata padanya dengan suara rada gemetar, &#8220;Sungguh baik sekali&#8230;baik sekali dapat bertemu denganmu di sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, bagus sekali kita dapat bertemu di sini,&#8221; Si Kucing juga memegang pundak si nona dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230;tapi mengapa kau datang ke sini?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Men&#8230;mencari dirimu,&#8221; jawab Si Kucing. &#8220;Dan kau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku pun datang ke sini mencarimu,&#8221; jawab nona.</p>
<p>Dan kedua orang lantas tertawa bersama, &#8220;Ayo, harus kita rayakan dengan minum arak!&#8221;</p>
<p>Tertawa mereka sangat gembira, sambil berpegangan tangan mereka masuk lagi ke rumah makan tadi. Karena gembiranya, kedua orang sudah melupakan adat istiadat yang membatasi pergaulan antara lelaki dan perempuan.</p>
<p>Sebaliknya orang lain sama menganggap seperti bertemu dengan malaikat elmaut, semua orang sama menyingkir jauh, Juragan Ong itu juga entah lari ke mana.</p>
<p>Si Kucing dan Jit-jit juga tidak ambil pusing, mereka duduk di rumah makan itu, tidak ada yang melayani mereka, segera mereka minum arak yang dibawa Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Tak tersangka engkau masih memikirkan diriku dan mau datang ke sini mencariku,&#8221; ujar Jit-jit dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Kupikirkan dirimu?&#8230;Oya, hampir gila saking cemasku, kucari sepanjang jalan dan tidak tahu apakah dapat menemukan dirimu atau tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku pun gelisah dan entah dapat menemukan dirimu atau tidak, kudengar ada orang dihajar di sini, dari keterangannya segera dapat kuduga yang menghajarnya pasti kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha! Kudengar keparat itu bicara tidak sopan, dapat kuterka yang dibicarakannya pastilah dirimu, aku tidak tahan, biarpun setan alas juga akan kuberi hajaran setimpal.&#8221;</p>
<p>Dan keduanya lantas bergelak tertawa pula, akhirnya suara tertawa mereka mulai mereda.</p>
<p>Jit-jit tidak tahan, ucapnya, &#8220;Entah Si&#8230;&#8221; ia mengertak gigi, kata &#8220;Sim Long&#8221; ditelannya kembali mentah-mentah.</p>
<p>Tapi Him Miau-ji sudah dapat menduga apa yang ingin diucapkan si nona, tanyanya, &#8220;Kau ingin tanya Sim Long bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa tanya dia? Setan yang tanya dia,&#8221; jawab Jit-jit.</p>
<p>Si Kucing menghela napas, katanya, &#8220;Tidak lama kau pergi, Sim Long juga pergi. Kutahu dia hendak mencari dirimu, siapa tahu meski sudah kutunggu sampai sekian lama belum juga kelihatan bayangannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang busuk begitu, untuk apa kau tunggu dia,&#8221; ujar Jit-jit dengan gemas.</p>
<p>&#8220;Aku tidak menunggu dia, tapi menunggumu,&#8221; kata Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Betul?!&#8221; Jit-jit menegas sambil berkedip-kedip.</p>
<p>&#8220;Tentu saja betul,&#8221; jawab Si Kucing. &#8220;Gelisah kutunggu kedatanganmu, sedangkan Ong Ling-hoa tiada hentinya bertanya padaku tentang kungfu Sim Long, perguruan, dan asal usulnya, dia tanya juga cara bagaimana kukenal Sim Long.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebal kau kenal dia,&#8221; gerutu Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Meski Ong Ling-hoa bertanya macam-macam, tapi aku malas menggubrisnya, dia tetap berada di situ, tidak enak bagiku untuk meninggalkan dia, untung pada saat itulah datang bintang penolong&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;O, apakah Sim&#8230;siapa dia?&#8221;</p>
<p>Si Kucing tampak menyesal dan berkata pula, &#8220;Pendatang itu bukan Sim Long.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku kan tidak tanya apakah dia, setan yang mau tanya dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tanya dia juga pantas,&#8221; ujar Si Kucing dengan tertawa, &#8220;Buat apa&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ssst,&#8221; perlahan Jit-jit memberi tanda, &#8220;selanjutnya takkan kusinggung dia lagi. Sungguh! Percayalah padaku, seterusnya aku cuma memerhatikan orang yang baik padaku.&#8221;</p>
<p>Si Kucing memegang tangan Jit-jit dan memandangnya dengan terkesima, sampai lama belum lagi bicara.</p>
<p>Jit-jit mengikik, katanya, &#8220;Hei, siapa pendatang itu, lekas ceritakan.&#8221;</p>
<p>Si Kucing menenangkan pikiran, lalu bertutur, &#8220;Orang itu bermuka buruk, dari caranya berjalan kelihatan tidak lemah ginkangnya, tapi dia justru berdandan sebagai seorang saudagar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau kenal dia?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Sama sekali tidak kukenal dia,&#8221; Si Kucing menggeleng. &#8220;Begitu datang, dia lantas kasak-kusuk membisiki Ong Ling-hoa, seketika air muka Ong Ling-hoa berubah dan buru-buru mohon diri padaku, lalu pergi bersama orang itu dengan tergesa-gesa dan rada gugup juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang dibicarakan orang itu, apakah kau dengar?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Seorang lelaki sejati mana dapat kucuri dengar pembicaraan orang lain,&#8221; ujar Si Kucing. Tiba-tiba ia tertawa dan menyambung pula, &#8220;Padahal aku memang ingin mendengarkan, cuma sayang tidak sepatah kata pun terdengar.&#8221;</p>
<p>Jit-jit tertawa, &#8220;Ai, di sinilah letak cirimu yang menarik, engkau tidak munafik&#8230;&#8221; mendadak ia berkerut kening dan termenung sejenak, lalu menyambung, &#8220;kelakuan Ong Ling-hoa selalu misterius, apa yang diucapkannya juga selalu sukar dipercaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang itu memang misterius,&#8221; ujar Si Kucing. &#8220;Dahulu tidak begitu kurasakan, tapi setelah lebih sering berhubungan dengan dia, semakin kurasakan tindak tanduknya yang sukar diduga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Setiap orang yang suka main kasak-kusuk selalu begitu, bukankah Sim&#8230;Sim Long juga begitu?&#8221; mendadak muka Jit-jit menjadi merah, ia menunduk dan menambahkan, &#8220;Aku tidak lagi memikirkan dia, aku cuma menggunakan dia sebagai perumpamaan saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, aku&#8230;aku setuju,&#8221; kata Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Hubungan kalian dengan Sim Long belum lama dan tidak terasakan apa-apa,&#8221; ujar Jit-jit. &#8220;Bagiku, kemisteriusan tindak tanduknya kurasakan lebih aneh daripada Ong Ling-hoa.&#8221;</p>
<p>Si Kucing berpikir sejenak, katanya kemudian dengan gegetun, &#8220;Ya, memang betul juga. Tindak tanduknya sungguh sukar diraba, misalnya sekali ini dia mengadu kecerdasan dengan Ong Ling-hoa&#8230;Ai, kedua orang memang mempunyai caranya sendiri, kini kedua orang kelihatannya bersatu padu, kutahu banyak rahasia yang disembunyikan oleh mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa bilang tidak,&#8221; tukas Jit-jit. &#8220;Semula kusangka Sim Long telah sama sekali memercayai Ong Ling-hoa, siapa tahu sikapnya itu cuma sengaja diperlihatkan kepada orang lain saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu, bukankah selain Ong Ling-hoa, kita juga dikelabui olehnya,&#8221; ujar Si Kucing. &#8220;Sungguh aku tidak mengerti, sesungguhnya siapa dia, apa pula maksud tujuan perbuatannya itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan cuma kau saja yang tidak mengerti, aku pun tidak paham,&#8221; ujar Jit-jit. &#8220;Segala sesuatu mengenai orang ini seolah-olah tertutup seluruhnya di dalam sebuah rumah, pintu rumah ini tidak dibukanya untuk siapa pun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah kau tahu apa sebabnya?&#8221; tanya Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Setan yang tahu,&#8221; jawab Jit-jit. Ia berkedip-kedip, lalu menyambung lagi, &#8220;Sungguh aku tidak paham, mengapa di dunia ada manusia seperti dia, seperti tidak percaya kepada siapa pun. Alangkah baiknya bila manusia di dunia ini suka terus terang dan terbuka seperti engkau dan aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi jika serupa engkau dan aku, dunia mungkin juga akan selalu kacau,&#8221; ujar Si Kucing dengan tertawa.</p>
<p>Mendadak ia berhenti tertawa dan berucap dengan murung, &#8220;Suka berterus terang adalah sifat terpuji, tapi ada sementara orang menanggung susah di dalam hati, pada bahunya terdapat beban yang berat, cara bagaimana akan kau suruh dia bicara terus terang?&#8221;</p>
<p>Jit-jit termenung-menung, katanya kemudian, &#8220;Engkau sangat baik, masih bicara baginya&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak ia merasa orang yang berduduk di depannya, lelaki yang berbau liar, ternyata jauh lebih menyenangkan daripada lelaki mana pun.</p>
<p>Walaupun beberapa saat sebelum ini dia merasa sikap dingin Kim Bu-bong, keteguhan dan ketenangannya, sifat pendiam dan suka memahami perasaan orang itu adalah watak yang disukainya. Tapi sekarang dirasakan pula watak Him Miau-ji yang suka terus terang, simpatik, agak liar dan sukar ditundukkan inilah adalah sifat khas kaum lelaki.</p>
<p>Dia termangu dan berpikir pula, &#8220;Jika ada seorang lagi yang dapat menggantikan kedudukan Sim Long dalam hatiku, maka orang itu ialah Si Kucing ini. Jika dia sedemikian mencintaiku, untuk apa kupikirkan lagi Sim Long?&#8221;</p>
<p>Waktu ia menengadah, dilihatnya Si Kucing juga sedang melamun, entah apa yang dipikirnya. Alisnya yang tebal tampak agak terkejut sehingga menambah murung wajahnya yang cerah itu, serupa anak liar yang lelah bermain telah diseret pulang oleh sang ibu.</p>
<p>Tiba-tiba timbul semacam perasaan kasih lembut seorang ibu, rasa hangat meliputi sekujur badannya, perlahan ia tanya, &#8220;Apa yang kau pikirkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memikirkan dirimu,&#8221; jawab Si Kucing.</p>
<p>Jit-jit tertawa manis, perlahan ia membelai rambut Si Kucing dan tangan yang lain memegang telapak tangannya, ucapnya dengan lembut, &#8220;Aku berada di sampingmu, untuk apa kau pikirkan diriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kupikir, apa yang kau lakukan seharian ini? Apakah kesepian?&#8221; lalu dia pandang Jit-jit lekat-lekat, si nona juga menatapnya.</p>
<p>&#8220;Aku&#8230;aku tidak kesepian, kan ada seorang menemaniku&#8230;&#8221; belum lanjut ucapannya, mendadak Jit-jit melonjak bangun dan berseru, &#8220;Wah, celaka!&#8221;</p>
<p>Dalam keadaan mesra begitu mendadak dia melonjak, tentu saja Si Kucing terkejut, heran dan juga rada kecewa. &#8220;Ada apa?&#8221; tanyanya.</p>
<p>&#8220;Sehari suntuk Kim Bu-bong terus mendampingiku,&#8221; tutur Jit-jit. &#8220;Tapi sekarang dia terkepung oleh Kim Put-hoan dan begundalnya, kita harus lekas pergi menolongnya.&#8221;</p>
<p>Namun Si Kucing tetap berduduk tanpa bergerak.</p>
<p>&#8220;Hei, kau dengar tidak? Lekaslah berangkat!&#8221; omel si nona.</p>
<p>&#8220;Ah, kiranya dia selalu mendampingimu, pantas kau pikirkan dia meski berada bersamaku. Baiklah, anggap aku salah taksir,&#8221; kecut suara Si Kucing, bernada cemburu.</p>
<p>Padahal gadis manakah di dunia ini yang tidak suka lelaki cemburu baginya?</p>
<p>Seketika omelan Jit-jit berubah menjadi tersenyum lembut, ia membelai lagi rambut Si Kucing dan berucap, &#8220;Ai, anak bodoh, justru lantaran kelewat gembira bertemu denganmu, makanya kulupakan urusan lain. Tapi&#8230;tapi dia sedang menghadapi kesulitan, adalah pantas kalau kita menolongnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul kau gembira melihatku?&#8221; tanya Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Betul, tentu saja betul,&#8221; sahut Jit-jit.</p>
<p>Mendadak Si Kucing melompat bangun sambil berseru, &#8220;Ayo, berangkat!&#8221;</p>
<p>Segera ia tertarik Jit-jit dan diajak lari keluar.</p>
<p>Jit-jit menggeleng kepala dan tertawa, &#8220;Sungguh seperti anak kecil&#8230;&#8221;</p>
<p>Begitulah dengan bergandengan tangan keduanya terus berlari cepat ke depan menurut petunjuk Jit-jit.</p>
<p>Dataran bersalju itu jarang dijelajahi manusia, bekas tapak kaki Cu Jit-jit dan Kim Bu-bong tadi masih tertinggal di atas tanah bersalju. Bekas kaki Kim Bu-bong lebih cetek, sedangkan bekas kaki Cu Jit-jit lebih dalam.</p>
<p>Setiba di tempat sepi mendadak bertambah lagi bekas kaki ketiga, itulah bekas kaki Kim Put-hoan yang mengintil di belakang mereka waktu itu.</p>
<p>Setelah sekian lama berlari mengikuti arah bekas kaki itu, mendadak Si Kucing berhenti dan berkata, &#8220;Ah, tidak betul.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang tidak betul?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Bekas kaki ini jelas cuma berputar-putar di sini, mungkin kalian&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, sebab&#8230;&#8221; dengan ringkas Jit-jit lantas menceritakan pengalamannya tadi. Tentu saja Him Miau-ji terheran-heran, sembari bicara mereka terus maju ke depan.</p>
<p>Tiba-tiba tertampak bekas kaki di atas tanah salju itu kacau-balau.</p>
<p>&#8220;Nah, di sinilah,&#8221; kata Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Di sini kalian dicegat!&#8221; tanya Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Betul, tapi&#8230;tapi sekarang mereka sudah pergi, jangan-jangan Kim Bu-bong telah&#8230;telah tertawan oleh mereka&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Si Kucing berseru kaget, &#8220;Hei, lihat itu!&#8221;</p>
<p>Waktu Jit-jit memandang ke sana, seketika air mukanya berubah, dilihatnya di atas tanah salju dengan bekas kaki yang semrawut itu terdapat pula darah segar.</p>
<p>Darah sudah meresap ke dalam salju dan buyar sehingga warnanya sudah hambar, ditambah lagi sudah terinjak-injak, kalau tidak diperiksa dengan teliti memang sulit ketahuan.</p>
<p>Cepat mereka memburu ke sana, Si Kucing mencomot segumpal salju berdarah dan diciumnya, seketika alisnya yang tebal bekernyit, ucapnya dengan suara berat, &#8220;Betul, memang darah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika&#8230;jika demikian, jangan-jangan dia mengalami sesuatu&#8230;&#8221; suara Jit-jit rada gembira.</p>
<p>Si Kucing tidak bicara lagi, ia berjongkok memeriksa bekas kaki di tanah. Cara memeriksanya sangat cermat dan teliti, Jit-jit tidak berani mengganggunya, selang sekian lama, ia tidak tahan dan coba bertanya, &#8220;Hai, adakah sesuatu yang kau temukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bekas kaki ini sekilas pandang seperti sama, tapi bila diperiksa dengan cermat, terlihat banyak perbedaan di antaranya,&#8221; kata Si Kucing.</p>
<p>Meski merasa khawatir dan sedih, timbul juga rasa ingin tahu Cu Jit-jit, ia pun berjongkok dan coba memeriksanya, tapi sampai sekian lama ia pandang tetap tidak menemukan sesuatu yang aneh.</p>
<p>Semakin tidak menemukan apa-apa, semakin tertarik dia dan ingin tahu sesungguhnya ada apa, karena tetap tidak melihat sesuatu yang mencurigakan, akhirnya ia bertanya, &#8220;Tampaknya tidak ada perbedaan apa-apa, apakah betul kau temukan sesuatu yang aneh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masa tidak kau lihat?&#8221; ucap Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Seperti&#8230;seperti&#8230;&#8221; betapa pun Jit-jit tidak mau mengaku bodoh, ia berharap Si Kucing akan menjelaskan.</p>
<p>Siapa tahu Si Kucing hanya memandangnya dengan tersenyum tanpa bersuara.</p>
<p>Terpaksa Jit-jit berdiri dan mengentak kaki, &#8220;Ya, aku mengaku kalah, aku tidak menemukan sesuatu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hendaknya kau periksa lebih teliti, soalnya belum kau kuasai cara memeriksa sesuatu benda&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ya, kau pintar, kau hebat, lekas katakan saja,&#8221; si nona ngambek.</p>
<p>Si Kucing lantas menunjuk sebuah bekas kaki, katanya, &#8220;Coba lihat, bekas kaki ini paling besar, dapat dibayangkan perawakan orang ini pasti sangat tegap, dan di antara beberapa orang itu yang berperawakan paling tegap ialah&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, inilah bekas kaki Lian Thian-hun,&#8221; tukas Jit-jit.</p>
<p>Lalu Si Kucing menunjuk bekas kaki yang lain, &#8220;Bentuk bekas kaki ini tidak sama dengan yang lain, sebab sepatu yang dipakai orang ini adalah sepatu anyaman rami dengan daun telinga banyak, biasanya orang yang bersepatu jenis ini adalah kaum hwesio&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, itulah Thian-hoat Taysu,&#8221; seru Jit-jit pula.</p>
<p>Segera ia juga menuding salah sebuah bekas kaki dan berucap, &#8220;Ini bekas sepatu rumput, pada musim dingin pakai sepatu begini, hanya kaum pengemis saja&#8230;Aha, Kim Put-hoan, inilah bekas kakimu.&#8221;</p>
<p>Dengan gemas ia lantas menginjak-injak bekas kaki itu.</p>
<p>Si Kucing tertawa, &#8220;Diberi tahu satu lantas paham tiga, selain menarik, kau pun sangat pintar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi masih ada bekas kaki yang lain yang tidak kuketahui,&#8221; ujar Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Ketiga bekas kaki yang lain ini tampaknya tiada sesuatu yang istimewa dan memang sukar dibedakan, tapi&#8230;coba kau lihat ini, tentu dapat kau bedakan lagi.&#8221;</p>
<p>Yang ditunjuk adalah dua buah bekas kaki yang lebih dalam dan jelas, dua pasang bekas kaki berjarak agak jauh, lekukan yang cukup dalam itu seperti diukir dengan pisau.</p>
<p>Jit-jit berkeplok dan berseru, &#8220;Aha, betul, inilah bekas kaki Kim Bu-bong dan Leng Toa waktu keduanya bertanding. Waktu itu mereka berdiri saling melotot tanpa bergerak, kelihatan tegang dan mengerahkan tenaga, dengan sendirinya bekas kaki mereka sangat dalam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan Leng Toa kalah, jelas bekas kaki yang paling dalam ini adalah bekas kakinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, betul,&#8221; seru Jit-jit.</p>
<p>Padahal ia tahu biarpun dapat mengenali bekas kaki setiap orang juga tidak ada gunanya, tapi dapat memahami sesuatu, betapa pun ia merasa girang.</p>
<p>Dia suka bilang orang lain seperti anak kecil padahal ia sendiri yang benar-benar serupa anak kecil.</p>
<p>&#8220;Ada lagi satu hal,&#8221; tutur Si Kucing pula, &#8220;sepanjang tahun Leng Toa tidak keluar rumah, sebab itulah bekas kakinya terdapat garis sol sepatunya, sebaliknya selama ini Kim Bu-bong berkelana kian-kemari, sol sepatunya tentu sudah halus.&#8221;</p>
<p>Gembira dan kagum Jit-jit serunya, &#8220;Betul, tepat&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Setelah bekas kaki masing-masing sudah dikenali, sisanya jelas adalah bekas kaki Li Tiang-ceng, sebab bekas kakimu terlebih gampang dikenali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, kau kucing cilik ini tambah lama tambah cerdas,&#8221; ujar Jit-jit dengan tertawa dan perlahan mencubit pipi Si Kucing sekali.</p>
<p>Betapa mesranya ucapan &#8220;Si Kucing cilik&#8221;, dan betapa membuat sukma Si Kucing hampir terbang ke awang-awang karena cubitan si nona. Ia tertawa senang dan berkata pula, &#8220;Padahal caraku meneliti sesuatu benda kubelajar dari Sim Long, dia&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Jit-jit melengos dan berseru, &#8220;Kembali kau singgung dia? Untuk apa kau sebut dia? Bila mendengar namanya kepalaku lantas sakit.&#8221;</p>
<p>Yang benar bukan kepalanya yang sakit, tapi hatinya. Ia merasa sudah melupakan Sim Long, bilamana mendengar namanya, hatinya lantas seperti ditusuk jarum.</p>
<p>Melihat si nona menjadi uring-uringan, Si Kucing jadi melenggong, katanya kemudian, &#8220;Baiklah, jika engkau tidak suka mendengar namanya, selanjutnya takkan&#8230;takkan kusebut lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, lalu bagaimana setelah bekas kaki ini semua dapat dibedakan?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>Si Kucing menunjuk bekas kaki Kim Bu-bong dan berkata, &#8220;Coba kau lihat, bekas kaki ini terhitung paling cetek di antara bekas kaki yang lain, ini menandakan ginkang Kim Bu-bong paling tinggi di antara beberapa orang ini. Tapi akhirnya, lantaran kehabisan tenaga, jelas dia telah bertempur mati-matian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu apa lagi?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Di antara bekas kaki yang memperlihatkan waktu mereka berangkat ini ternyata tidak terdapat bekas kaki Kim Bu-bong&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, jangan-jangan dia tertawan dan digotong pergi,&#8221; seru Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Bisa jadi,&#8221; ujar Si Kucing dengan sedih.</p>
<p>Jit-jit menjadi gelisah, &#8220;Wah, lantas bagaimana baiknya? Bilamana dia tertawan oleh musuh, sungguh celaka dia.&#8221;</p>
<p>Si Kucing termenung sejenak, katanya kemudian, &#8220;Dari bekas tapak kaki waktu pergi ini tertampak lebih dalam daripada waktu datangnya, jelas tenaga mereka juga habis terkuras, lebih-lebih Lian Thian-hun dan Leng Toa&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi biasanya Kim Put-hoan yang licik itu tidak mau membuang tenaga dan bergebrak dengan orang, mengapa bekas telapak kakinya juga sedalam ini?&#8221; ujar Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Kukira dia yang memanggul pergi Kim Bu-bong, bobot dua orang tentu akan meninggalkan bekas kaki yang dalam,&#8221; kata Si Kucing.</p>
<p>Seketika Jit-jit berjingkrak dan menginjak-injak bekas kaki Kim Put-hoan sambil mencaci maki, &#8220;Bangsat, binatang! Apabila kalian berani&#8230;berani menyiksa dia, pada suatu hari kelak pasti akan kucincang kalian.&#8221;</p>
<p>Him Miau-ji memandangnya dengan berduka, entah berduka bagi si nona atau bagi dirinya sendiri. Maklum, bila melihat orang yang dicintainya cemas bagi pemuda lain, betapa perasaannya sukarlah dilukiskan.</p>
<p>Mendadak Jit-jit menarik tangan Si Kucing dan berkata dengan gemetar, &#8220;Kumohon dengan sangat sudilah kau bantuku menolong dia.&#8221;</p>
<p>Si Kucing menunduk, &#8220;Aku&#8230;aku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Satu-satunya sanak keluargaku di dunia ini hanya engkau, masakah engkau sampai hati&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Si Kucing mengentak kaki dan berteriak, &#8220;Baik, berangkat!&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Padahal Si Kucing cukup tahu biarpun dirinya mampu menyusul mereka, untuk merampas Kim Bu-bong dari tangan Thian-hoat Taysu, Li Tiang-ceng dan lain-lain itu jelas sangat sukar.</p>
<p>Namun lelaki manakah di dunia yang mampu menolak permohonan gadis yang dicintainya dengan menangis, apalagi Him Miau-ji adalah pemuda yang simpatik.</p>
<p>Maka ia tidak mau omong lagi, terpaksa harus mengadu jiwa bilamana perlu.</p>
<p>Begitulah mereka terus mengejar mengikuti jejak yang terlihat di atas salju. Karena perasaan tertekan, sepanjang jalan sama tidak bicara. Tapi ketika tangan Jit-jit menyentuh tangan Si Kucing, tangan kedua orang lantas saling genggam lagi dengan erat.</p>
<p>Dari jejak yang mereka ikuti itu arahnya ternyata bukan menuju ke Lokyang melainkan sampai di kaki sebuah gunung, sebenarnya tidak tinggi gunung ini, tapi dipandang dari bawah rasanya tetap sangat tinggi.</p>
<p>Berdiri di kaki gunung, Si Kucing seperti termangu-mangu pula.</p>
<p>&#8220;Ayolah naik ke atas, untuk apa melamun?&#8221; kata Jit-jit.</p>
<p>Meski maksudnya mengomel, namun nadanya tatap mesra dan lembut. Mustahil dia tidak tahu betapa perasaan Si Kucing kepadanya.</p>
<p>&#8220;Aku lagi heran,&#8221; demikian tutur Si Kucing dengan perlahan, &#8220;sesudah mereka menawan Kim Bu-bong untuk diperiksa dan ditanyai, seharusnya mereka pulang ke Jin-gi-ceng, tapi mengapa mereka menuju ke sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan-jangan mereka hendak&#8230;hendak membunuhnya di atas gunung,&#8221; kata Jit-jit dengan khawatir.</p>
<p>&#8220;Jika mereka mau membunuhnya, kenapa mesti dibawanya ke atas gunung? Di mana pun mereka dapat turun tangan. Kukira di balik persoalan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, di mana pun mereka dapat membunuh Kim Bu-bong dan tidak perlu membawanya ke atas gunung&#8230;Ai, sungguh aku tidak mengerti.&#8221;</p>
<p>Padahal Him Miau-ji sendiri juga bingung.</p>
<p>Dan karena kedua orang sama-sama tidak paham, terpaksa mereka mendaki gunung untuk melihat kejadian selanjutnya.</p>
<p>Namun jalan pegunungan berliku-liku, di antara batu padas dan tetumbuhan penuh ditimbuni salju. Ada juga tanah yang teraling oleh tebing sehingga tidak teruruk bunga salju, sebab itulah cara mereka mengikuti jejak menjadi tidak semudah tadi.</p>
<p>Begitulah mereka terus mendaki ke atas, sebentar berjalan, sebentar berhenti, memeriksa sini dan melihat sana. Setiba di suatu tempat datar, di sana ada sebuah gardu kecil. Gardu yang biasa digunakan istirahat, juga dapat menjadi gardu pemandangan.</p>
<p>Namun jejak yang mereka ikuti sampai di sini mendadak putus, lenyap tanpa bekas lagi. Meski mereka coba periksa lagi sekitar situ tetap tidak menemukan bekas kaki apa pun.</p>
<p>&#8220;Aneh&#8230;sungguh aneh,&#8221; ucap Si Kucing dengan kening bekernyit.</p>
<p>&#8220;Ya, memang aneh, masakah setiba di sini orang-orang ini bisa terbang ke langit secara mendadak?&#8221; tukas Jit-jit.</p>
<p>Sejenak kemudian, mendadak ia berkeplok berteriak girang, &#8220;Aha, kiranya demikian!&#8221;</p>
<p>&#8220;Demikian bagaimana?&#8221; tanya Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Keadaan demikian sudah pernah kualami satu kali,&#8221; tutur Jit-jit. &#8220;Yaitu ketika aku bersama Sim&#8230;bersama Thi Hoat-ho dan lain-lain menyelidiki makam kuno itu, di sana juga ada sebaris bekas kaki yang menghilang secara mendadak di tengah jalan. Tatkala itu pun mereka menyatakan rasa heran apakah mungkin orang-orang itu mendadak terbang ke langit?&#8221;</p>
<p>&#8220;Akhirnya bagaimana?&#8221; tanya Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Kemudian baru kuketahui, setiba di sana, mereka lantas mundur kembali ke arah semula dengan menginjak bekas tapak kaki sendiri, dengan demikian orang akan sukar menemukan jejak mereka, bahkan akan curiga dan terheran-heran.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aha, memang betul akal bagus.&#8221; seru Si Kucing, segera ia coba menyurut mundur mengikuti tapak kaki yang terlihat, tapi baru dua langkah, segera ia berkerut kening dan berucap pula, &#8220;Tapi sekali ini&#8230;sekali ini mungkin tidak demikian halnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebab apa? Mengapa sekali ini tidak bisa sama?&#8221;</p>
<p>&#8220;Urusan makam kuno itu memang tidak terlalu banyak yang kita ketahui, tapi dapat dibayangkan pasti juga perbuatan yang misterius dan mencurigakan, dengan sendirinya harus diatur sedemikian rupa sehingga membuat orang sangsi dan takut. Sebaliknya tokoh-tokoh seperti Thian-hoat Taysu dan lain-lain&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya orang-orang ini pasti orang baik?&#8221; ujar Jit-jit dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Orang-orang ini baik atau busuk tidak perlu kita urus dulu,&#8221; ujar Si Kucing, &#8220;yang jelas mereka adalah tokoh ternama dan dikenal, biarpun main sembunyi tetap takkan terhindar dari tanggung jawab. Apalagi sama sekali mereka tidak tahu bakal dikuntit orang, terlebih lagi, dengan kepandaian mereka, biarpun dikuntit orang juga mereka tidak perlu main sembunyi.&#8221;</p>
<p>Jit-jit termenung sejenak, &#8220;Ya, uraianmu juga masuk di akal, tapi jika menurut pendapatmu, lantas apa yang terjadi ini? Memangnya mereka benar-benar bisa terbang ke langit secara mendadak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal ini memang&#8230;memang sukar dimengerti,&#8221; kata Si Kucing dengan menyesal.</p>
<p>&#8220;Jika aku tidak mengerti dan kau pun tidak mengerti, lalu&#8230;lalu bagaimana baiknya? Masa harus kita tunggu di sini sampai mereka jatuh kembali dari atas langit?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira&#8230;kukira kita tetap mendaki ke atas saja untuk melihatnya, bisa jadi&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri dari atas gunung. Suara serak seorang berteriak, &#8220;Tolong&#8230;tolong!&#8230;&#8221;</p>
<p>Jit-jit dan Si Kucing terkejut, kedua orang saling pandang sekejap, serentak mereka bergerak dan melayang ke arah datangnya suara itu secepat terbang.</p>
<p>Jeritan minta tolong itu berkumandang dari atas tebing yang curam sana. Setiba di sana suara itu sudah sangat lemah, orang yang berteriak tolong itu sudah kehabisan tenaga, namun tanpa berhenti tetap merintih dan berteriak, &#8220;Tol&#8230;tolong&#8230;Aku akan terjerumus ke jurang, tolong!&#8221;</p>
<p>Waktu mereka memandang ke arah suara sana, betul juga terlihat di tepi jurang ada dua tangan memegangi tepian, ruas jarinya sampai berubah menjadi hijau, jelas sudah tidak sanggup bertahan lagi.</p>
<p>Jit-jit menghela napas, ucapnya, &#8220;Untung jiwa orang ini belum ditakdirkan mati sehingga tidak terjerumus, kebetulan juga kita naik ke sini&#8230;&#8221;</p>
<p>Segera ia berseru, &#8220;Jangan khawatir&#8230;Tahan dulu sekuatnya, segera kami akan menolong dirimu!&#8221;</p>
<p>Selagi dia hendak menerjang ke sana, mendadak Him Miau-ji menarik tangannya dan berkata dengan kening bekernyit, &#8220;Nanti dulu, kukira hal ini agak&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Jiwa orang sangat penting, menolong orang seperti menolong kebakaran, masa perlu tunggu apa lagi?&#8221; ujar Jit-jit dengan tidak sabar.</p>
<p>Dalam pada itu suara rintih minta tolong orang itu bertambah cemas dan semakin lemah.</p>
<p>&#8220;Kulihat urusan ini rada-rada&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Rada-rada apa?&#8221; sela Jit-jit. &#8220;Apa pun juga orang harus diselamatkan lebih dulu. Jika menunggu lagi, mungkin orang akan terjerumus ke bawah. Jika begitu, bagaimana perasaan hati nuranimu?&#8221;</p>
<p>Si Kucing mau omong lagi, tapi segera dia didorong oleh Cu Jit-jit. Terpaksa ia mengangguk dan berkata, &#8220;Baik, akan kutolong dia, kau tunggu saja di sini.&#8221;</p>
<p>Cepat ia melompat ke tepi tebing dan berjongkok untuk memegang kedua tangan orang itu.</p>
<p>&#8220;Tarik sekuatnya&#8230;lekas!&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum lanjut ucapan Jit-jit, mendadak terlihat kedua tangan yang semula bertahan pada tepi tebing itu meraih ke atas, tahu-tahu pergelangan tangan Him Miau-ji tercengkeram malah. Nyata yang digunakannya adalah kim-na-jiu-hoat atau ilmu menangkap dan menawan yang mahalihai.</p>
<p>Karena tidak terduga-duga, Si Kucing tidak mampu mengelak, sekali terpegang pun sukar terlepas lagi, seketika ia merasa lengan sendiri kaku kesemutan, tenaga pun lenyap.</p>
<p>Selagi Jit-jit tercengang, terdengarlah Si Kucing menjerit, orangnya terus terlempar ke dalam jurang.</p>
<p>Perubahan ini sungguh terlalu mendadak, Jit-jit merasa seperti disambar geledek, seketika ia melongo di tempat.</p>
<p>Terdengar suara jeritan Si Kucing berkumandang menggema angkasa, sebaliknya dari bawah tebing itu lantas terdengar pula suara orang tertawa terkekeh-kekeh, sesosok bayangan orang lantas melayang ke atas.</p>
<p>Hari sudah mulai gelap, dalam keadaan remang-remang hanya terlihat orang ini memakai baju yang longgar, memakai topi dengan pelindung telinga, inilah dandanan kaum saudagar waktu menempuh perjalanan dalam musim dingin.</p>
<p>Sedapatnya Jit-jit menenangkan diri, bentaknya gusar, &#8220;Bangsat kau, bayar kembali jiwa Si Kucing!&#8221;</p>
<p>Sembari membentak ia terus menerjang ke sana.</p>
<p>Orang itu tidak mengelak, juga tidak menghindar, ia sambut serudukan Jit-jit dengan tertawa, &#8220;Anak baik, kau berani bergebrak denganku?&#8221;</p>
<p>Suaranya halus dan welas asih. Namun suara lembut ini segera menyerupai cambuk yang menghajar tubuh Cu Jit-jit, begitu mendengar suara ini, seketika ia merandek dan berdiri terpaku.</p>
<p>Angin mendesir, hawa terasa dingin. Namun wajah Cu Jit-jit penuh butiran keringat, tubuhnya tidak bergerak, namun tangan dan kakinya gemetar.</p>
<p>&#8220;Hehe, anak baik, mendingan masih kau kenal diriku,&#8221; ucap orang itu dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Kau&#8230;kau&#8230;&#8221; Jit-jit tidak sanggup bersuara lebih lanjut, kerongkongannya seperti terkancing, lidah pun kaku.</p>
<p>&#8220;Betul, aku inilah bibimu sayang,&#8221; kata orang itu. &#8220;Hawa sangat dingin, kupakai baju longgar ini, bisa jadi bentukku banyak berubah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau&#8230;kau&#8230;&#8221; Jit-jit tetap gelagapan.</p>
<p>&#8220;Ai, bibi selalu baik padamu, memberi baju, menyuapi kau makan, tapi masih juga kau kabur, sungguh tidak punya perasaan,&#8221; omel orang itu dengan suara lembut sembari mendekati Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Oo&#8230;mohon&#8230;mohon jangan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, setelah kau pergi, kau tahu betapa sedihku, betapa kurindukan dirimu. Syukurlah sekarang dapat bertemu pula, lekas kemari, biar bibi cium sayang&#8230;&#8221;</p>
<p>Jit-jit berteriak ketakutan, &#8220;Kau&#8230;kau&#8230;enyah&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, masa pantas kau suruh bibi enyah,&#8221; ujar orang itu dengan tertawa. &#8220;Justru bibi hendak membawamu pergi, akan kuberi lagi baju yang apik, menyuapimu makanan yang enak&#8230;&#8221; bicara sampai di sini ia sudah berada di depan Cu Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Jangan&#8230;jangan mendekat lagi, akan kupukul kau&#8230;&#8221;teriak Jit-jit dengan suara parau, ia angkat sebelah tangan terus menghantam.</p>
<p>Tapi mungkin saking takutnya sehingga pukulannya itu sama sekali tidak bertenaga, dengan perlahan orang itu dapat menangkap tangan Jit-jit sambil berkata, &#8220;Jangan bandel, anak baik, turutlah perkataan bibi&#8230;&#8221;</p>
<p>Hanya sekian kata saja yang dapat didengar Cu Jit-jit, mendadak kepala terasa pusing, tubuh menjadi lemas dan tidak tahu apa-apa lagi.</p>
<p>Angin pegunungan meniup dengan kencang, tidak lama kemudian Jit-jit siuman kembali. Begitu dia membuka mata, segera dirasakannya tubuhnya berada dalam pelukan &#8220;iblis&#8221; itu, sungguh kagetnya luar biasa, rasanya lebih menakutkan daripada mati.</p>
<p>Meski teraling oleh dua lapis baju, tapi Jit-jit merasa tubuhnya seperti dililit oleh badan ular yang dingin dan licin.</p>
<p>&#8220;Lepas&#8230;lepaskan aku&#8230;&#8221; teriaknya parau.</p>
<p>&#8220;Ai, sayang, masa kutega melepaskan dirimu?&#8221; ujar orang itu dengan tertawa.</p>
<p>Jit-jit bermaksud meronta, tapi dirasakan tubuh sendiri lemas lunglai tanpa bisa berkutik.</p>
<p>Pengalaman yang dulu mestinya sudah dianggapnya sebagai impian buruk dan tidak berani lagi dibayangkannya. Tapi sekarang dia ternyata terjeblos lagi ke dalam impian buruk yang sama.</p>
<p>Perasaannya sekarang tidak dapat lagi dilukiskan dengan kata-kata seperti gemetar, takut dan sebagainya, boleh dikatakan sukar untuk dilukiskan.</p>
<p>Dia tidak dapat melawan, tidak mampu meronta, hanya air mata saja yang bercucuran.</p>
<p>Terpaksa ia memohon belas kasihan dengan suara gemetar, &#8220;Kumohon su&#8230;sudilah engkau membebaskan diriku. Aku tidak ada permusuhan apa pun denganmu, mengapa engkau membikin susah padaku? Kenapa&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, kupelukmu sehangat ini, masakah kau bilang kubikin susah padamu?&#8221; kata orang itu dengan tertawa. &#8220;Jika cara begini kau anggap membikin susah, baiklah, boleh kau peluk saja diriku biar kau yang membikin susah padaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika&#8230;jika tidak mau kau lepaskan diri, lebih baik kau bunuh diriku saja, menjadi setan pun aku akan berterima kasih padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, jangan bercanda, bila kubunuhmu, masa kau berterima kasih padaku malah? Omong kosong!&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul&#8230;sungguh&#8230;&#8221;</p>
<p>Orang itu tidak menanggapi ucapan Cu Jit-jit lagi, ia bawa si nona ke tepi jurang sana dan memandang ke bawah, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, &#8220;Hah, kucingmu yang jinak itu sungguh hebat juga, sampai sekarang dia masih bertahan pada sesuatu sehingga tidak sampai terjerumus ke bawah.&#8221;</p>
<p>&#8220;He, apakah betul dia belum mati?&#8221; seru Jit-jit dengan girang.</p>
<p>&#8220;Ehm, dia belum mati,&#8221; orang itu mengangguk. &#8220;Tampaknya dia berusaha hendak merambat ke atas, cuma sayang, betapa pun dia takkan mencapai atas sini&#8230;Apakah kau mau melihatnya?&#8221;</p>
<p>Sejauh itu Jit-jit tidak berani membuka mata untuk memandang &#8220;iblis&#8221; ini, sekarang mendadak dirasakan orang mengangkat tubuhnya ke depan. Dengan gemetar ia coba membuka mata, tertampak awan mengambang di bawah, jurang itu sangat dalam dan tidak kelihatan dasarnya, tidak jauh di bawah tebing yang curam itu benarlah ada sesosok bayangan orang sedang meronta dan bergerak-gerak.</p>
<p>Hanya memandang sekejap saja kepala Jit-jit lantas pusing, cepat ia memejamkan mata pula dan berseru, &#8220;O, mohon sudilah engkau men&#8230;menolongnya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Menolongnya? Kenapa harus kutolong dia?&#8221; ujar orang itu.</p>
<p>&#8220;Tadi dia bermaksud&#8230;bermaksud menolongmu, akibatnya dia terjerumus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahahaha!&#8221; orang itu bergelak tertawa. &#8220;Kubuntuti kalian sepanjang jalan sehingga tiba di sini, lalu kugunakan akal bagus ini untuk menamatkan riwayat hidupnya. Memangnya kau kira tadi aku benar-benar lagi minta tolong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ka&#8230;kau iblis&#8230;binatang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, aku memang iblis,&#8221; kata orang itu dengan tertawa. &#8220;Mengapa tadi tidak kau pikirkan, di tempat seperti ini masakah bisa terjadi orang berteriak minta tolong? Mengapa tadi perlu kau tolong diriku? Bukankah kau sendiri yang membikin celaka dia?&#8221;</p>
<p>Jit-jit jadi teringat pada keadaan tadi, memang berulang Him Miau-ji hendak menyatakan pendapatnya, tapi dicegahnya, bahkan dipaksanya agar memberi pertolongan kepada orang ini, akibatnya sekarang Si Kucing sendiri yang terancam maut. Hati Jit-jit menjadi pedih, teriaknya mendadak, &#8220;Him Miau-ji&#8230;Si Kucing&#8230;Akulah yang membikin susah padamu&#8230;akulah yang membikin celaka dirimu&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekonyong-konyong dari bawah berkumandang suara Si Kucing, &#8220;Jit-jit&#8230;Cu Jit-jit&#8230;Engkau berada di mana? Baik-baikkah engkau?!&#8221;</p>
<p>Suara itu penuh rasa cemas dan putus asa, tapi juga penuh rasa perhatian, namun yang diperhatikan dan dicemaskan bukan Si Kucing sendiri melainkan bagi Cu Jit-jit.</p>
<p>Bahwa seorang sedang bergulat di tepi garis antara mati-hidup bagi diri sendiri, tapi masih juga memerhatikan keselamatan orang lain, betapa besar jiwa dan betapa luhur budinya ini sungguh tidak ada bandingannya.</p>
<p>Hati Cu Jit-jit serasa dirobek-robek, hancur luluh. Teriaknya dengan serak, &#8220;Aku berada di sini, Kucing&#8230;Di atas sini&#8230;&#8221;</p>
<p>Ia meronta mati-matian, tanpa menghiraukan akibatnya ia ingin terjun ke bawah, dalam benaknya sekarang cuma ada satu pikiran, suatu pikiran yang murni, yaitu terjun ke bawah dan mati bersama Him Miau-ji.</p>
<p>Dalam keadaan demikian urusan lain tidak terpikir lagi olehnya, sudah terlupakan seluruhnya.</p>
<p>Namun tangan si iblis serupa tanggam kuatnya merangkulnya, mana Jit-jit mampu melepaskan diri, apalagi terjun ke bawah.</p>
<p>&#8220;Lepas&#8230;lepaskan diriku!&#8221; teriak Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Ai, mestikaku sayang, mana boleh kulepaskan, dengan susah payah baru kudapatkan kembali dirimu, mana boleh membiarkan kau mati begitu saja. Selanjutnya jangan lagi kau pikirkan soal mati segala.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, Allah, masakah ingin mati pun tidak boleh?&#8221; ratap Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Mati memang soal yang aneh,&#8221; kata orang itu. &#8220;Ada sementara orang ingin mati, tapi sangat sulit. Sebaliknya ada lagi setengah orang lain justru teramat mudah bilamana ingin mati&#8230;&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, mendadak ia mendepak sepotong batu padas sehingga batu itu mencelat ke bawah jurang.</p>
<p>Dengan membawa suara gemuruh batu itu terguling ke bawah, menyusul lantas terdengar pula jeritan ngeri seorang berkumandang dari bawah tebing, suara ngeri menggetar sukma.</p>
<p>Jit-jit juga menjerit kaget, tapi jeritannya lantas terhenti mendadak serupa lehernya mendadak dicekik orang, sebab jeritan ngeri di bawah jurang juga mendadak terputus.</p>
<p>Keadaan lantas berubah sunyi seperti kuburan, angin pun seolah-olah berhenti mendesir secara mendadak, suasana kelam&#8230;Jagat raya ini seakan-akan beku di tengah kesunyian ini, semuanya membeku di tengah adegan yang mengerikan dan menyesakkan napas.</p>
<p>Namun yang terbayang oleh Cu Jit-jit rasanya seperti adegan yang penuh berlumuran darah, dia seperti melihat Si Kucing terjatuh oleh batu padas tadi, lalu lelaki yang penuh gairah hidup dan gagah perkasa itu dalam sekejap itu hancur lebur di bawah jurang.</p>
<p>Saraf sekujur badan Cu Jit-jit seakan-akan kaku juga dalam sekejap itu. Entah berselang berapa lama baru dapat dirasakan &#8220;iblis&#8221; yang memondongnya itu sedang menggeser ke depan. Soal ke mana tujuannya dan sudah berada di mana hampir tidak diketahuinya, juga tidak ingin tahu.</p>
<p>Maklum, baginya sudah tidak ada bedanya hendak dibawa ke mana, dia sudah jatuh dalam cengkeraman iblis, jalan ke mana pun tetap menuju ke neraka.</p>
<p>Akan tetapi neraka yang dituju ini ternyata berada di puncak gunung. Orang itu membawanya menuju ke atas gunung.</p>
<p>Jalan pegunungan berliku-liku, terkadang hampir sukar dilalui, namun cara berjalan si iblis ini sedemikian enteng dan santai, tampaknya hafal betul terhadap jalan pegunungan yang melingkar-lingkar ini.</p>
<p>Memangnya menembus ke manakah jalan ini?</p>
<p>Di atas gunung yang terpencil terdapat hutan cemara yang lebat, dipandang dari hutan yang ditaburi salju itu samar-samar kelihatan di kejauhan sana ada dinding dan wuwungan rumah yang tinggi.</p>
<p>&#8220;Berhenti!&#8221; mendadak Jit-jit berteriak.</p>
<p>&#8220;Berhenti? Mau apa?&#8221; orang itu menegas dengan heran, disangkanya mungkin si nona mendadak kebelet kencing.</p>
<p>&#8220;Berhenti dulu, ingin kutanya padamu,&#8221; kata Jit-jit pula.</p>
<p>Orang itu tambah heran, &#8220;Ingin tanya apa?&#8221;</p>
<p>Dilihatnya wajah Jit-jit yang pucat itu mendadak bersemu merah bergairah, sorot matanya yang putus asa itu tiba-tiba juga berubah bersemangat, senang dan berdaya hidup.</p>
<p>Hal ini serupa seorang yang hampir terbenam di lautan ketika mendadak berhasil meraih sepotong kayu sehingga menemukan jalan hidup kembali. Tapi apa yang berhasil diraih Cu Jit-jit? Jangan-jangan teringat sesuatu olehnya?</p>
<p>Terdengar nona itu berteriak pula, &#8220;Kusuruh berhenti harus cepat berhenti, bila kutanya padamu harus lekas kau jawab, tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, mestikaku sayang, bilakah engkau jadi galak begini dan main perintah padaku?&#8221; ujar orang itu dengan tertawa geli. &#8220;Eh, sesungguhnya pikiran aneh apa yang timbul dalam benakmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, memangnya kau sangka aku tidak tahu siapa dirimu?&#8221; jengek Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Mau apa kalau tahu?&#8221; tanya orang itu.</p>
<p>&#8220;Engkau ini antek Koay-lok-ong, she Suto, tugasmu khusus mencarikan perempuan cantik bagi Koay-lok-ong, sekarang juga hendak kau bawa diriku kepadanya untuk&#8230;untuk dijadikan&#8230;dijadikan selirnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, lantas bagaimana?&#8221; orang itu tertawa.</p>
<p>&#8220;Maka bila sekarang tidak kau tunduk kepada perintahku, nanti setelah kujadi selirnya, tentu akan kucari daya upaya untuk menawan hatinya, bilamana aku telah menjadi selir kesayangannya, akan ku&#8230;&#8221;</p>
<p>Kata itu diucapkan dengan menggunakan tenaga yang besar, walaupun begitu kedengarannya tetap tergegap.</p>
<p>Ia berhenti dan ganti panas, lalu berkata pula dengan lagak sungguh-sungguh, &#8220;Nah, bila kujadi selir kesayangannya nanti apa yang kuminta pasti akan diturutinya, tatkala mana umpama kuminta dia membunuhmu pasti juga akan dilaksanakannya.&#8221;</p>
<p>Orang itu jadi melengak.</p>
<p>Dengan tertawa Jit-jit lantas menyambung, &#8220;Sudah tentu kau tahu apa yang kukatakan ini bukan gertakan belaka. Berani bicara pasti berani kulakukan. Maka harus kau pikirkan dulu, jika kau takut&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha, memang betul, aku sangat takut!&#8221; seru orang itu.</p>
<p>&#8220;Jika takut, sekarang harus kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak orang itu bergelak tertawa. &#8220;Hahaha, mestikaku sayang, boleh juga jalan pikiranmu ini, sungguh engkau seorang nona yang pintar. Mari sayang, akan kucium dikau&#8230;&#8221;</p>
<p>Benar juga, mendadak ia menunduk dan Jit-jit di&#8221;ngok&#8221; dengan bernafsu.</p>
<p>Seketika muka Jit-jit pucat lagi, teriaknya gemetar, &#8220;Masa&#8230;masa engkau tidak takut?&#8221;</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.info">Cerita Silat</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-14/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Baja (13)</title>
		<link>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-13/</link>
		<comments>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-13/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 03:08:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendekar Baja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.info/?p=814</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gu Long
Jit-jit menukas, &#8220;Kedua mata setannya memang jauh lebih lihai dari mata orang lain,&#8221; lalu ia melototi Sim Long, katanya dengan gemas, &#8220;Coba katakan, setelah tahu ada keganjilan itu, kenapa tidak kau beri tahukan padaku, bagaimanapun terbongkarnya rahasia ini kan juga lantaran diriku.&#8221;

Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Karena kutahu betapa berangasan watakmu, tidak tahan sabar, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Gu Long</strong></p>
<p>Jit-jit menukas, &#8220;Kedua mata setannya memang jauh lebih lihai dari mata orang lain,&#8221; lalu ia melototi Sim Long, katanya dengan gemas, &#8220;Coba katakan, setelah tahu ada keganjilan itu, kenapa tidak kau beri tahukan padaku, bagaimanapun terbongkarnya rahasia ini kan juga lantaran diriku.&#8221;<br />
<span id="more-814"></span><br />
Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Karena kutahu betapa berangasan watakmu, tidak tahan sabar, bila waktu itu kumat kebandelanmu, bisa jadi seluruh rencanaku akan berantakan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, kau pandai&#8230;kau sabar, kau&#8230;kau punya rencana setan apa?&#8221; Jit-jit mengomel panjang-pendek.</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, ujarnya, &#8220;Waktu itu Sim-heng diam-diam saja, maka aku juga tidak tahu rahasiaku telah diketahui olehnya, tapi setelah malam tiba&#8230;.&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa dia mengawasi Si Kucing dan Jit-jit, lalu melanjutkan, &#8220;Waktu bayangan Nona berkelebat di luar jendela kami segera melihatnya, tapi hanya Si Kucing saja yang mengejar keluar, semula aku juga ingin mengejar, tapi Sim-heng menahanku,&#8221; lalu dia bergelak tertawa. &#8220;Hahaha, maka malam itu juga timbul niatku untuk mencekok Sim-heng hingga mabuk, takaran minum arakku di Kota Lokyang belum pernah menemukan tandingan.&#8221;</p>
<p>Jit-jit mencibir, katanya, &#8220;Caramu membual juga pasti belum ada tandingan.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa berlagak tidak mendengar, katanya lagi, &#8220;Siapa tahu, ingin kucekoki Sim-heng, ia pun ingin mencekokiku kami terus saling tenggak, entah berapa cawan sudah kami habiskan, Sim-heng belum mabuk, aku malah merasa pening kepala.&#8221;</p>
<p>&#8220;Setan arak cilik berhadapan dengan setan arak besar, sudah tentu yang kecil akan kewalahan,&#8221; demikian Jit-jit berolok.</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, &#8220;Aku mendekap meja dan terlena sekejap, waktu aku tersentak sadar bayangan Sim-heng sudah tidak kelihatan, kutahu mengejar juga takkan tersusul terpaksa aku mendahului lari ke taman ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sim Long,&#8221; sela Jit-jit, &#8220;bicaralah terus terang, waktu itu kau ke mana?&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa menyela, &#8220;Sim-heng memburu ke toko lilin ini di luar tahu siapa pun, seluruh pegawai toko dia tutuk hiat-tonya, di taman belakang sana dia menemukan mulut lorong bawah tanah ini.&#8221;</p>
<p>Mendadak Cu Jit-jit berteriak, &#8220;He, bukankah di mulut lorong itu dijaga seorang raksasa, Sim Long, masa kau&#8230;kau mampu melawannya?&#8221;</p>
<p>Meski lahirnya dia memaki Sim Long, tapi batinnya sangat memerhatikan keselamatan anak muda itu.</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Raksasa itu memang memiliki tenaga luar biasa, begitu aku masuk lorong lantas berhadapan dengan dia, untung lorong itu sempit, gerak-gerik orang itu lambat dan tidak leluasa, untung lagi dia bisu-tuli, tidak mampu berteriak minta tolong, kalau tidak, tentu sukar menerobos penjagaannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau&#8230;kau membunuhnya?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>Sim Long menggeleng. &#8220;Aku hanya menutuk hiat-tonya&#8230;.Ai, kalau diceritakan memang cukup mengejutkan, seluruhnya kututuk dua belas hiat-to di tubuhnya baru dia roboh tersungkur.&#8221;</p>
<p>Jit-jit menghela napas lega, katanya, &#8220;Hm, lebih baik kau mati diremas olehnya daripada hidup mendustai orang.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa berkata, &#8220;Kecuali penjaga raksasa itu, sepanjang lorong banyak dipasang alat jebakan, orang biasa jangan harap bisa bergerak leluasa di dalam lorong itu.&#8221;</p>
<p>Setelah menghela napas, ia menambahkan, &#8220;Tapi Sim-heng bukan saja dapat lolos dari perangkap, tiga puluh enam penjaga di dalam lorong itu ada dua puluh satu yang tertutuk roboh oleh Sim-heng, lima belas orang yang lain ternyata tidak melihat kehadiran Sim-heng di lorong itu, segala alat perangkap itu dianggap seperti permainan anak kecil saja oleh Sim-heng.&#8221;</p>
<p>&#8220;He, Sim Long,&#8221; seru Jit-jit tak sabar, &#8220;bagaimana sesudah kau keluar dari lorong bawah tanah itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang banyak perangkap keji dalam lorong itu, setiap langkah menghadapi bahaya, beruntung aku selamat keluar dari lorong itu, namun jejakku ternyata sudah ketahuan Ong-lohujin.&#8221;</p>
<p>Tanpa terasa Jit-jit menjerit kaget, &#8220;Apa yang dia lakukan terhadapmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Agaknya beliau sudah memperhitungkan bahwa aku pasti akan datang, maka dia duduk di mulut lorong menungguku, tentu saja aku pun kaget dan mengira bakal terjadi pertempuran sengit.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi baku hantam tidak? Dan siapa yang menang?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Tak tahunya beliau malah bersikap ramah dan tiada maksud bergebrak denganku, dengan tersenyum dia menyambut dan mempersilakan aku duduk. Betapa cerdik pandai beliau, besar wibawa dan gayanya yang anggun, sungguh jarang kulihat selama hidupku.&#8221;</p>
<p>Jit-jit mendengus sambil melirik Ong Ling-hoa, syukur tidak tercetus kata makiannya, namun sorot matanya sudah cukup berbicara.</p>
<p>Ong Ling-hoa lantas bercerita, &#8220;Malam itu aku langsung pulang kemari dan kujelaskan persoalannya kepada ibunda, kubicarakan juga tentang Sim-heng&#8230;.Ibu amat tertarik pada Sim-heng, beruntun dia tanya bentuk, asal-usul dan perguruan Sim-heng, mendadak ibu turun dari loteng dan duduk di mulut lorong, semula aku heran, mendadak Sim-heng muncul dari dalam lorong&#8230;.Ai, betapa tepat analisis ibu terhadap segala persoalan, sungguh jarang ada bandingannya.&#8221;</p>
<p>Kembali Jit-jit mendengus, katanya kepada Sim Long, &#8220;Apa saja yang dia bicarakan padamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Beliau menjelaskan seluk-beluk persoalan ini, baru kutahu rencana kerjanya itu adalah untuk menghadapi Koay-lok-ong. Walau kaki Koay-lok-ong kini belum masuk Tionggoan, namun orang ini sudah dipandang sebagai bibit bencana oleh kaum persilatan umumnya, jika usahanya berhasil, maka huru-hara dan bencana bakal menimpa kaum persilatan, kaum persilatan kita tak bisa lagi hidup tenteram,&#8221; setelah menghela napas Sim Long meneruskan, &#8220;Sesudah mendengar penjelasannya, kecuali mohon maaf akan kecerobohanku yang main terobos, malah kuminta beliau melanjutkan mengatur siasat menghadapi persoalan ini, meski aku tak berguna, sedikit banyak juga akan membantu&#8230;.&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa Ong Ling-hoa menyambung, &#8220;Karena itulah mulai sekarang Sim-heng adalah kawan seperjuanganku, kesalahan paham sebelum ini siapa pun jangan mengungkapnya lagi.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Sim Long tertawa pula, katanya, &#8220;Tapi sebelum penjelasan beliau itu telah terjadi satu peristiwa lucu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Peristiwa lucu apa?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Yaitu kalian berdua&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa kami berdua?&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa. &#8220;Waktu Nona dan Si Kucing masih berada di luar, jejak kalian sudah ketahuan, semula ibu hendak berpura-pura tak tahu, akan dibiarkan kalian berjalan-jalan sesukamu, tapi Sim-heng ingin memberi kejutan kepada kalian agar kalian mundur teratur, maka ketika di bawah jendela&#8230;.&#8221;</p>
<p>Teringat pada suara yang mereka dengar di bawah jendela, seketika merah muka Jit-jit, teriaknya, &#8220;Sudahlah, jangan diteruskan&#8230;.&#8221; lalu dia menerjang ke depan Sim Long, teriaknya dengan suara serak, &#8220;Jawab pertanyaanku, dalam hal apa aku berbuat salah padamu, ken&#8230;kenapa kau bersikap begitu kepadaku, kenapa tidak kau biarkan aku kemari, tapi mengapa menakuti aku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Soalnya urusan belum jelas,&#8221; jawab Sim Long dengan menyesal. &#8220;Kukhawatir kedatanganmu akan membuat onar dan membikin gusar Ong-lohujin, kau pun bisa menggagalkan rencana kerja. Kedua&#8230;.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini dia melirik Ong Ling-hoa sekejap, lalu bungkam dengan tertawa.</p>
<p>Maka Ong Ling-hoa berkata, &#8220;Kedua, waktu itu belum jelas persoalannya, lawan atau kawan tidak jelas, Sim-heng khawatir kau menempuh bahaya, sedangkan dia tidak leluasa memberi penjelasan kepadamu di hadapan ibu dan aku, maka terpaksa dia menggunakan caranya itu, membuatmu kaget dan mundur teratur&#8230;betul tidak Sim-heng?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, begitulah,&#8221; sahut Sim Long.</p>
<p>&#8220;Dari sini dapat disimpulkan bahwa Sim-heng bermaksud baik&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksud baik apa, persetan&#8230;.Yang jelas dia sengaja hendak mempermainkan aku, supaya aku ketakutan dan mendapat malu, dan dia sendiri senang, demikian juga kau,&#8221; mendadak dia membalik ke arah Si Kucing, &#8220;Kau kucing mampus, kucing busuk, kucing malas, kucing keparat&#8230;.Ayo jawab, bukankah kau tahu akan semua urusan itu?&#8221;</p>
<p>Si Kucing menyengir, katanya tergegap, &#8220;Aku&#8230;aku&#8230;.&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa Ong Ling-hoa melanjutkan, &#8220;Lewat tengah hari tadi, hal ini memang sudah kami jelaskan kepada Si Kucing&#8230;.&#8221;</p>
<p>Jit-jit menuding Si Kucing, dampratnya, &#8220;Nah, betul tidak? Mereka kan sudah memberitahukan kepadamu lebih dulu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Rasanya memang demikian,&#8221; sahut Si Kucing dengan bersungut.</p>
<p>Beringas Jit-jit, &#8220;Jadi kalian saling mencekok arak tadi hanya untuk permainan belaka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Arak itu memang enak&#8230;huk, huk&#8230;.&#8221; Si Kucing terbatuk.</p>
<p>&#8220;Hm, jangan pura-pura batuk. Jawab lagi, kau pura-pura mabuk dan membuat onar, semua itu juga disengaja bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kepalaku memang rada pening, tapi&#8230;tapi tidak mabuk betul.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa kau dustai aku sehingga aku malu, jawab, kenapa? Kenapa?&#8221; selangkah demi selangkah Jit-jit mendekati Si Kucing.</p>
<p>Selangkah demi selangkah Si Kucing menyurut mundur.</p>
<p>Selesai Jit-jit bicara, Si Kucing sudah mundur mepet dinding, mendadak dia melompat dan bersembunyi di belakang Sim Long, serunya sambil menyengir, &#8220;Sim-heng, lekas kau beri penjelasan.&#8221;</p>
<p>Mendelik Cu Jit-jit, semprotnya, &#8220;Penjelasan apa? Untuk apa penjelasan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dalam hal ini Si Kucing tidak boleh disalahkan,&#8221; ujar Sim Long.</p>
<p>&#8220;Bukan salahnya, lalu salah siapa?&#8221; seru Jit-jit.</p>
<p>Sim Long termenung sejenak, katanya, &#8220;Apakah kau perhatikan sehari ini ada seorang tidak pernah kelihatan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa kalau tidak kelihatan, aku tidak&#8230;.He, iya, Kim Bu-bong telah hilang, ke mana dia? Mungkinkah dia&#8230;dia&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana mungkin kami bertindak padanya,&#8221; tukas Sim Long, &#8220;sejak pagi dia sudah menghilang, kapan dia pergi dan ke mana, kami juga tidak tahu.&#8221;</p>
<p>Jit-jit tertegun sekian lamanya, tiba-tiba dia membanting kaki seraya berteriak, &#8220;Dia pergi atau tidak apa hubungannya dengan kalian menipu diriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukhawatir dia mendadak pulang, atau secara diam-diam mengawasi gerak-gerik kita, maka tak leluasa kujelaskan rahasia persoalan ini&#8230;.Ai, walau dia seorang lelaki gagah, betapa pun dia adalah anak buah Koay-lok-ong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tidak menjelaskan rahasia ini kepadaku, kenapa kau jelaskan kepada kucing mampus itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Si Kucing pasti takkan membocorkan rahasia ini, sebaliknya kau&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku kenapa? Memangnya aku perempuan cerewet, perempuan bawel?&#8221;</p>
<p>&#8220;Walau kau tidak bawel, tapi kau tak bisa menyimpan rahasia, jika Kim Bu-bong mengintip gerak-gerik kita secara diam-diam, umpama kau tidak membocorkan rahasia ini, dari tindak tandukmu pasti akan kentara.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bebal, watakku memang tulus lurus, tidak tahan sabar lagi, tidak selicin kalian yang pandai mengatur muslihat, tapi&#8230;.&#8221; suara Jit-jit menjadi serak, matanya merah, setelah kucek-kucek mata dia melanjutkan, &#8220;Tapi umpama kalian tidak menjelaskan rahasia ini kepadaku, apakah pantas kalian mempermainkan aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Soalnya&#8230;.&#8221; mendadak Sim Long berpaling ke arah Si Kucing.</p>
<p>Si Kucing tertawa, katanya, &#8220;Soalnya&#8230;hatiku lagi riang setelah minum arak, aku ingin bercanda dengan kau, sebetulnya tak ada maksud jahat apa pun, buat apa kau marah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hati riang setelah minum arak? Buat apa marah? Kau&#8230;tahukah kau betapa hatiku gelisah dan khawatir akan keselamatanmu? Tahukah kau dengan mempertaruhkan jiwa aku menerjang masuk kemari demi menolong dirimu?&#8221;</p>
<p>Si Kucing melenggong, tanpa terasa ia menunduk, sungguh ia menyesal, terharu dan terima kasih, dan entah bagaimana lagi perasaannya.</p>
<p>Jit-jit berkata pula, &#8220;Aku tahu kalian adalah orang-orang pintar, kalian bersekongkol untuk mempermainkan aku si pandir ini, tapi pernahkah kalian pikirkan untuk apa dan siapa perbuatan si pandir ini, memangnya demi diriku sendiri?&#8221;</p>
<p>Sim Long dan Ong Ling-hoa saling pandang dan tak mampu bersuara.</p>
<p>Jit-jit tertawa dingin, katanya pula, &#8220;Kalian orang-orang pandai ini, kalian kira perbuatan demikian tidak menjadi soal, paling-paling hanya menggoda dan bercanda saja denganku, toh aku tidak akan mati atau cedera, bila kejadian sudah lalu, semuanya tertawa dan selesai, dari sini terbukti lagi betapa cerdik pandai kalian.&#8221;</p>
<p>Dengan mengertak gigi dan menahan air mata Jit-jit meneruskan dengan suara tersendat, &#8220;Tapi kalian tidak pernah berpikir, betapa kalian telah melukai hatiku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebetulnya ini&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tutup mulutmu,&#8221; bentak Jit-jit menghentikan ucapan Sim Long, &#8220;Tak ingin kudengar obrolanmu, selanjutnya aku tak mau lagi percaya pada kalian, aku&#8230;aku&#8230;tak mau lagi melihat tampang kalian.&#8221;</p>
<p>Ia menyurut mundur, suaranya tambah serak, &#8220;Sekarang, aku akan pergi dan takkan kembali selamanya, jika di antara kalian berani mengejar atau merintangiku, biar aku segera mati di hadapan.&#8221;</p>
<p>Belum habis bicaranya mendadak dia putar tubuh terus lari tanpa menoleh seperti kesetanan.</p>
<p>Si Kucing berteriak, &#8220;Nona Cu, tunggu!&#8221;</p>
<p>Dia melompat maju hendak mengejar, namun Sim Long keburu menahannya.</p>
<p>Keruan Si Kucing gugup, serunya, &#8220;Kau&#8230;kau tega membiarkan dia pergi?&#8221;</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Memangnya mau apa kalau tidak membiarkan dia pergi? Wataknya berangasan, siapa bisa merintanginya? Apalagi, biasanya dia berani bilang berani berbuat, kalau kau mengejarnya keluar, mungkin dia betul-betul bunuh diri di depanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230;dengan wataknya itu, seorang diri bukankah bakal menimbulkan bencana?&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, &#8220;Untuk ini jangan kau khawatir, dia tidak akan pergi jauh dari sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak jauh? Kenapa?&#8221; tanya Si Kucing heran.</p>
<p>&#8220;Karena masih banyak persoalan yang mengganjal hatinya, sebelum ditanyakan sampai jelas, mungkin dia tidak bisa nyenyak tidur, tadi karena emosi dia lupa mengajukan pertanyaan, tapi bila pikirannya tenang, pasti dia akan balik ke sini untuk mengajukan pertanyaan lagi,&#8221; Ong Ling-hoa menimbrung dengan tertawa. &#8220;Betapa mendalam pengertian Sim-heng terhadap Nona Cu, kuyakin apa yang diucapkan Sim-heng pasti tidak salah.&#8221;</p>
<p>Terpaksa Si Kucing mengangguk, &#8220;Tidak salah, ya, semoga tidak salah!&#8221;</p>
<p>Dengan nanar dia menatap keluar pintu, dengan harapan semoga Cu Jit-jit lekas kembali.</p>
<p>Malam makin larut, salju mulai turun pula dengan lebat.</p>
<p>Cu Jit-jit terus berlari dengan cepat, entah berapa lama dia berlari, tahu-tahu di depan ada tembok tinggi, ternyata tanpa sadar dia berlari ke arah tembok kota. Padahal pintu kota belum dibuka. Lekas Jit-jit menghentikan langkah, tak kuat dia mengendalikan tubuhnya lagi, dia jatuh terduduk dan tidak mau bangun lagi, ia bersandar di kaki tembok kota dan menangis.</p>
<p>Entah berapa lama dia menangis, suaranya mencolok di tengah malam gelap hingga terdengar sampai jauh, untung penjaga pintu kota sudah terkapar mabuk, kalau tidak tentu akan memburu kemari memeriksanya.</p>
<p>Tapi biarpun ada orang datang, Jit-jit tidak juga peduli. Segala urusan seperti tak mau diurus lagi, ia hanya memikirkan rasa penasaran hatinya, ingin melampiaskan perasaannya dengan menangis.</p>
<p>Jit-jit sudah biasa manja dan disanjung puji di rumah, kini setelah banyak mengalami pukulan lahir batin, baru diketahui betapa kejamnya dunia ini. Memang inilah dunianya yang kuat makan yang lemah, orang yang jujur dan baik hati memang ditakdirkan harus menderita dan menjadi korban.</p>
<p>Angin malam yang dingin dengan cepat menenteramkan gejolak hatinya. Mendadak teringat olehnya banyak persoalan yang belum sempat dia pikirkan.</p>
<p>Setelah berbicara panjang lebar dengan Sim Long, lalu ke manakah Ong-lohujin? Kenapa tadi tidak muncul menemuinya? Apa sebabnya? Thi Hoat-ho berada di loteng itu, lalu di mana Can Ing-siong dan Pui Jian-li serta yang lain? Apa betul mereka juga sudah dibebaskan? Kalau sudah dibebaskan, kenapa tidak kelihatan bayangan mereka?&#8221;</p>
<p>Dan lagi, kalau Ong-lohujin pernah pergi ke makam kuno itu, apakah hilangnya Hwe-hay-ji (Si Anak Merah) ada sangkut pautnya dengan dia? Jika betul ada sangkut pautnya, ke mana dia membawa bocah itu?</p>
<p>Persoalan ini ingin diketahuinya, terutama nasib adiknya, Si Anak Merah itu, tak pernah dia melupakan keselamatan adik kandungnya itu. Walau tadi sudah timbul rasa kecewa dan putus asa akan segala persoalan yang dihadapinya, tapi sekarang dia baru sadar sementara persoalan tak mungkin diabaikan begitu saja. Cepat dia berdiri dan putar badan hendak lari ke arah datangnya tadi. Tapi setelah berdiri dia lantas tertegun, terbayang senyuman sinis Sim Long yang mencemooh dirinya, seolah-olah mengiang perkataan Sim Long yang menyindir, &#8220;Kutahu akhirnya kau pasti kembali&#8230;.&#8221;</p>
<p>Saat itu Jit-jit sangat benci pada Sim Long, sambil membanting kaki dia mendesis dengan geram, &#8220;Aku justru tak mau berbuat seperti apa yang diduganya, aku tak mau kembali ke sana&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tapi bagaimana kalau dia tidak kembali? Malam makin larut, hujan dan dingin pula, mau ke mana dia? Bagaimana mungkin ia menyelidiki semua persoalan yang ingin diketahuinya itu? Tak tahan dia menjatuhkan diri pula di atas salju, air mata bercucuran lagi.</p>
<p>Mendadak sebuah tangan yang dingin memegang pundak Jit-jit.</p>
<p>Keruan nona itu berjingkat kaget sambil putar badan, teriaknya, &#8220;Siapa?&#8221;</p>
<p>Di tengah remang malam, di antara bunga salju yang bertebaran, tertampak berdiri sesosok bayangan orang, rambut panjang terurai semrawut, mukanya dingin kaku, hanya jubahnya saja yang melambai tertiup angin.</p>
<p>Melihat bayangan ini, Jit-jit menjerit tertahan, &#8220;Kim Bu-bong, kiranya kau!&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong berdiri kaku seperti mayat dan tidak menjawab, pertanyaan Jit-jit memang tidak perlu dijawab.</p>
<p>Rasa kaget dan heran menyelimuti sanubari Cu Jit-jit, tak tahan dia bertanya pula, &#8220;Bukankah kau sudah pergi? Kenapa kembali lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Di tengah malam gelap dan sepi, kudengar isak tangis yang menusuk telinga, maka aku datang kemari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau&#8230;ke mana kau pergi semalam?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menggeleng, tidak menjawab.</p>
<p>Jit-jit tahu bila orang tidak mau menjawab, siapa pun tak dapat memaksanya menjawab maka ia pun tak banyak bicara lagi.</p>
<p>Kim Bu-bong berdiri kaku tak bergerak dan menunduk mengawasinya.</p>
<p>Lekas Jit-jit menunduk juga.</p>
<p>Agak lama kemudian baru Kim Bu-bong bertanya, &#8220;Apa yang kau tangisi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak apa-apa,&#8221; sahut Jit-jit sambil menggeleng.</p>
<p>&#8220;Pasti ada urusan yang menyedihkan hatimu,&#8221; kata Bu-bong, meski suaranya kaku dingin, namun nadanya sedikit banyak mengandung rasa simpatik, manusia seperti Kim Bu-bong dapat melontarkan pertanyaan seperti ini, sungguh jarang terjadi.</p>
<p>Ternyata pertanyaannya justru menyentuh rasa sedih Cu Jit-jit, tak tahan lagi dia mendekap muka dan terisak pula.</p>
<p>Lama Kim Bu-bong mengawasinya, mendadak dia menghela napas, &#8220;O, anak perempuan yang kasihan&#8230;.&#8221;</p>
<p>Serentak Jit-jit berbalik, teriaknya, &#8220;Siapa kasihan? Dalam hal apa aku harus dikasihani? Justru kau yang kasihan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Makin kau tak mengaku, makin besar kasihanku kepadamu.&#8221;</p>
<p>Jit-jit jadi melenggong, tapi mendadak dia terkial-kial, &#8220;Hahaha, dalam hal apa aku kasihan&#8230;aku punya duit, aku cantik, aku masih muda, aku pandai menulis, pintar kungfu, yang bilang aku kasihan pasti orang gila.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lahirnya kau kelihatan gembira dan bahagia, padahal dalam hatimu menderita, lahirnya kau memiliki segala apa yang kau inginkan, namun kau tidak dapat memperoleh apa yang kau harap.&#8221;</p>
<p>Kembali Jit-jit melenggong, lalu menggeleng kepala, teriaknya, &#8220;Tidak, salah, seribu kali salah.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong mengawasinya lekat-lekat, &#8220;Lahirnya kau keras, padahal hatimu lembut, lahirnya kau bersikap kasar dan galak kepada orang, padahal kau seorang nona baik hati terhadap siapa pun. Hanya sayang&#8230;jarang ada manusia di dunia ini yang bisa menyelami jiwamu, dan kau&#8230;anak perempuan yang kasihan, kau justru suka melakukan hal-hal yang membuang tenaga dan hasilnya bertolak belakang.&#8221;</p>
<p>Dengan tercengang Cu Jit-jit mengawasinya, tanpa terasa dia terkesima. Sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa masih ada orang yang bersimpati kepadanya dan mau menyelami perasaannya&#8230;.Akan tetapi orang yang bisa menyelami jiwa dan simpati kepadanya ini justru manusia yang dingin kaku ini.</p>
<p>Sungguh tak terpikir olehnya setelah Sim Long, Si Kucing, dan lain-lain bersikap kejam padanya, sekarang laki-laki yang kaku dingin dan pendiam ini justru memberi kehangatan kepadanya. Waktu dia angkat kepala, terasa orang aneh yang dingin jelek ini sebetulnya tidak sejelek seperti apa yang pernah dipikirnya, di balik tampang yang busuk orang ini memiliki hati yang mulia dan bajik.</p>
<p>Terasa sorot matanya yang tajam ternyata mengandung pengertian yang mendalam terhadap sesama umat manusia. Dalam sedetik ini terasa oleh Jit-jit hanya orang yang berdiri di depannya inilah lelaki sejati satu-satunya yang pernah dilihatnya.</p>
<p>Entah kenapa darahnya lantas bergolak, mendadak ia menubruk dan memeluk pundak Kim Bu-bong yang keras bagai baja, katanya dengan serak, &#8220;Orang lain tiada yang memahami penderitaanku, hanya engkau saja yang bisa menyelami jiwaku.&#8221;</p>
<p>Memang beginilah watak Cu Jit-jit, ingin berbuat apa segera dilakukannya, keruan perbuatannya membuat Kim Bu-bong melongo kaget. Terasa air mata Jit-jit menetes juga meresap ke dalam bajunya yang tipis.</p>
<p>Lama dan lama sekali baru Kim Bu-bong menarik napas, katanya, &#8220;Selama hidupku sebetulnya tidak ingin diriku dipahami orang lain, aku senang karena tiada orang mau mengerti akan keadaanku, tapi sekarang&#8230;ai, seorang anak perempuan memang mendambakan pengertian orang lain.&#8221;</p>
<p>Perlahan Jit-jit melepaskan pelukan dan mundur, dengan nanar dia mengawasinya, air mata masih berlinang, tapi mendadak dia tertawa, &#8220;Dulu memang tiada orang memahami diriku, tapi sejak kini, ada engkau yang dekat di dampingku, walau tiada orang lain mau memahami diriku, namun aku cukup puas karena engkau mau mengerti akan diriku.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong melengos, tak berani beradu pandang dengan si nona, gumamnya, &#8220;Apa betul kau bisa menyelami diriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya pasti dapat,&#8221; lalu ditariknya tangan Kim Bu-bong dan diajak lari ke pintu kota, meski pintu kota masih tertutup, tapi di bawah pintu mereka bisa berteduh dari hamburan bunga salju. Dia tarik tangan Kim Bu-bong dan diajak berduduk bersandar pintu, katanya, &#8220;Sejak kini aku kan memahami dirimu sepenuhnya, aku ingin tahu seluk-belukmu, sekarang juga ingin tahu riwayat hidupmu masa lalu&#8230;sudikah engkau menceritakan perihal dirimu kepadaku?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menatap jauh ke sana, menghela napas sambil gelang kepala.</p>
<p>&#8220;Katakan, ceritakanlah! Kalau tidak kau ceritakan aku akan marah lho.&#8221;</p>
<p>Mendadak sorot mata Kim Bu-bong gemerdep setajam ujung golok, berkilau menakutkan.</p>
<p>Tapi Jit-jit tidak kenal takut, juga tidak kenal menyingkir, ia malah mendesak, &#8220;Katakanlah, katakanlah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, kau ingin tahu?&#8221; Kim Bu-bong menegas.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu betul, kalau tidak buat apa kutanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Selama hidupku, yang paling kubenci adalah perempuan, setiap kali bertemu dengan gadis cantik, tanpa menghiraukan segala akibatnya aku terus membelejeti pakaiannya dan memerkosanya. Semakin mereka takut padaku, makin besar hasratku ingin memerkosa dia, sejak berumur lima belas sampai sekarang entah sudah berapa banyak gadis yang telah kuperkosa.&#8221;</p>
<p>Tanpa terasa menggigil tubuh Cu Jit-jit, seketika dia mengkeret mundur.</p>
<p>Kim Bu-bong menyeringai, katanya pula, &#8220;Walau biasanya aku bersikap alim, pendiam, tapi di tengah malam dingin begini, tiada orang lain di sekitar sini, bila bertemu dengan seorang perempuan maka aku akan menerkamnya dan mempermainkannya sampai puas&#8230;.&#8221;</p>
<p>Ngeri Jit-jit, dengan menggigil takut kembali dia menyurut mundur. Tapi di belakangnya ada tembok, mundur juga tidak bisa lagi.</p>
<p>Tambah menakutkan Kim Bu-bong menyeringai, katanya, &#8220;Bukankah kau sendiri yang ingin tahu kisah hidupku? Kenapa setelah kuceritakan kau jadi takut?&#8230;.Apa sekarang kau ingin lari? Haha&#8230;hahaha&#8230;.&#8221; mendadak dia mendongak dan terbahak-bahak.</p>
<p>Mendadak Cu Jit-jit membusungkan dada sambil mendesak maju, teriaknya, &#8220;Kenapa aku takut? Kenapa aku perlu lari?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong tertegun malah, dia berhenti tertawa, tanyanya, &#8220;Kau tidak takut?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarpun dulu kau pernah berbuat jahat seperti apa yang kau ceritakan, hal itu disebabkan perempuan itu takut melihat tampangmu, mereka hanya melihat luar saja, mereka tidak melihat di balik tampangmu yang jelek ada sebuah hati yang bajik, mereka takut dan menyingkir bila melihat kau, tentu saja kau tersinggung dan menderita lahir batinmu, maka timbul keinginanmu menuntut balas, ini tidak dapat menyalahkan dirimu, kalau orang lain tidak adil terhadap dirimu, kenapa engkau tidak boleh memperlakukan jelek kepada mereka? Kenapa engkau tidak boleh menuntut balas?&#8221;</p>
<p>Ia tersenyum, lalu menyambung, &#8220;Apalagi, jika sekarang engkau bercerita demikian padaku jelas semua itu tidak betul terjadi dan lebih-lebih takkan kau lakukan terhadapku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari mana kau tahu takkan kulakukan?&#8221; tanya Kim Bu-bong.</p>
<p>Berkedip mata Jit-jit, katanya dengan tertawa, &#8220;Umpama betul kau pernah melakukan kejahatan, aku pun tak perlu takut, kalau tidak percaya, boleh kau coba diriku.&#8221;</p>
<p>Bukan cuma membusung dada saja, ia terus mendesak maju. Kim Bu-bong berbalik berjingkat kaget dan mundur selangkah, dengan melongo dia menatapnya dan entah bagaimana perasaannya.</p>
<p>Jit-jit berkeplok, katanya dengan tertawa, &#8220;Engkau hanya hendak menggertak saja, betul tidak? Siapa tahu tak berhasil kau gertak malah berbalik kena kugertak, apakah tidak lucu?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menyengir, katanya, &#8220;Memang aku hanya menggertakmu&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tak mau mengisahkan pengalaman hidupmu, niscaya kau pernah mengalami suatu peristiwa yang membuat hatimu terluka dan sedih, maka selanjutnya aku takkan tanya kepadamu lagi,&#8221; ditariknya tangan Kim Bu-bong, katanya lebih lanjut, &#8220;Tapi engkau harus menjelaskan kepadaku, kenapa semalam kau pergi tanpa pamit&#8230;.Sebetulnya ke mana kau pergi secara diam-diam?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pergi tanpa pamit?&#8221; Kim Bu-bong balas bertanya.</p>
<p>&#8220;Ya, kan kabur semalam, kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Semalam Sim Long menyuruh aku melakukan sesuatu tugas, apakah dia tidak memberitahukan kepadamu?&#8221;</p>
<p>Kini giliran Jit-jit yang melenggong. Sesaat kemudian baru dia bertanya, &#8220;Jadi Sim Long yang menyuruhmu pergi&#8230;.Tugas apa yang harus kau lakukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mengejar dan menyelidiki jejak serombongan orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa dia sendiri tidak pergi? Kenapa engkau yang diberi tugas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Waktu itu dia sendiri tidak sempat, tugas ini pun cocok bagiku, hubunganku dengan dia seperti saudara kandung, kalau dia minta bantuanku, sudah tentu dengan senang hati kulakukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hm, dengan senang hati apa, sungguh penurut kau ini, kenapa setiap orang harus turut perintahnya sungguh aku tidak mengerti.&#8221;</p>
<p>Lalu diraihnya secomot salju dan dibantingnya dengan gemas.</p>
<p>Kim Bu-bong mengawasinya lekat-lekat dengan mengulum senyum. Jit-jit mengentak kaki, katanya, &#8220;Buat apa kau mengawasi aku, lekas ceritakan, apa yang harus kau laksanakan? Urusan apa yang harus kau selidiki? Apa kau pun ingin mengelabui diriku?&#8221;</p>
<p>Lama Kim Bu-bong bimbang, katanya kemudian, &#8220;Apakah sudah kau lupakan perjanjian Sim Long dengan majikan Jin-gi-ceng?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, ya, batas waktu yang dijanjikan sudah tiba&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Batas waktunya adalah kemarin malam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi mewakili dia menepati janjinya itu? Tapi&#8230;dari mana kau tahu seluk-beluk persoalannya? Bagaimana kau memberi pertanggungan jawab kepada majikan Jin-gi-ceng?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang mewakili dia menepati janji bukan aku, aku hanya ditugaskan mengawasi orang yang mewakili dia itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tak mengerti apa yang kau katakan, lalu siapakah yang ditugaskan mewakili dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Can Ing-siong, Pui Jian-li, dan lain-lain&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, mereka. Ya, benar, bila mereka pergi ke Jin-gi-ceng, segala persoalan akan beres, Sim Long hadir atau tidak memang tidak menjadi soal,&#8221; mendadak dia tanya pula, &#8220;Tapi kalau mereka sudah mewakili Sim Long, kenapa harus diawasi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa sebabnya aku tidak tahu, dia hanya menyuruh aku mengawasi jejak mereka, bila urusan sudah jelas segera balik memberitahukan kepadanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi kalian sudah berjanji sebelumnya,&#8221; hal ini kembali dia dikelabui oleh Sim Long, keruan bukan main mendongkol hatinya, namun kali ini dia dapat menahan emosinya.</p>
<p>&#8220;Ya, betul,&#8221; sahut Kim Bu-bong mengangguk.</p>
<p>&#8220;Kapan dia berjanji bertemu dengan kau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang.&#8221;</p>
<p>Jit-jit celingukan sambil menggigit bibir, katanya, &#8220;Di mana kalian akan bertemu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Di sini,&#8221; sahut Kim Bu-bong.</p>
<p>Jawaban yang sama diucapkan dua suara sekaligus, keruan Jit-jit berjingkat seraya menoleh, tertampak seorang tersenyum simpul di belakangnya, senyum yang gagah dan menarik, siapa lagi kalau bukan Sim Long.</p>
<p>Kejut, gugup, marah, dan girang meliputi hati Cu Jit-jit, serunya sambil mengentak kaki, &#8220;Engkau setan alas, kau&#8230;kapan kau datang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Begitu Kim-heng mengedip aku lantas datang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kebetulan kau datang, ingin kutanya, setiap persoalan kenapa selalu kau sembunyikan kepadaku, apa maksudmu menyuruh dia mengikuti jejak Can Ing-siong dan lain-lain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Amat panjang ceritanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Panjang juga harus kau jelaskan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Setelah aku bertemu dengan Ong-hujin, setelah berbincang semalaman maka dia membebaskan Can Ing-siong, Thi Hoat-ho, Pui Jian-li, dan lain-lain, di samping khawatir Can Ing-siong dan Pui Jian-li masih dendam kepadamu, apalagi janjiku kepada pihak Jin-gi-ceng juga sudah mendesak, maka kuminta Can, Pui dan segera menuju ke Jin-gi-ceng, seluk-beluk persoalan ini biar mereka jelaskan kepada pihak Jin-gi-ceng&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, aku maklum, tapi kenapa masih harus kau awasi gerak-gerik mereka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena sejak mula aku yakin kejadian ini agak ganjil, ada sesuatu yang belum bisa kupecahkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang agak ganjil, aku pun tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Syukurlah kalau kau tahu, tak perlu kujelaskan.&#8221;</p>
<p>Jit-jit melengak, &#8220;Tidak, aku justru ingin kau katakan.&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, &#8220;Coba pikir, kalau Ong-hujin punya iktikad baik terhadap Can Ing-siong dan lain-lain, kenapa perlu menunggu setelah bertemu dengan aku baru dia membebaskan mereka?&#8221;</p>
<p>Berkilat mata Cu Jit-jit, katanya, &#8220;Ya, kenapa begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setelah kejadian tentu dapat kau terka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau kira aku bodoh, baik, biar kujelaskan, dalam urusan ini dia pasti ada intrik tertentu, karena rahasianya sudah kau bongkar, terpaksa dia pura-pura baik hati dan membebaskan orang-orang itu&#8230;.&#8221;</p>
<p>Sim Long mengangguk, pujinya, &#8220;Anak pintar, memang betul demikian. Tapi setelah dia membebaskan Can Ing-siong dan dia bilang ada urusan harus pergi ke Ui-san, lalu buru-buru dia berangkat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maka kau khawatir di tengah jalan dia mencegat dan membunuh Can Ing-siong dan rombongannya, apalagi resminya kau sudah berdiri di pihaknya, kalau Kim&#8230;Kim-heng berada di sana juga kurang leluasa maka diam-diam kau suruh dia pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau memang tambah pintar,&#8221; ucap Sim Long. &#8220;Sebenarnya aku tak bermaksud mengelabui dirimu, tapi di hadapan Ong Ling-hoa, mana mungkin aku menjelaskan kepadamu&#8230;.Ai, syukur kau bertemu dengan Kim-heng di sini, kalau tidak&#8230;.&#8221;</p>
<p>Bercahaya mata Cu Jit-jit, katanya, &#8220;Kalau tidak kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau tidak tentu akan membuatku khawatir,&#8221; ujar Sim Long.</p>
<p>Sesaat Jit-jit terkesima, &#8220;Kau khawatirkan diriku? Hanya setan percaya&#8230;.&#8221; belum habis bicara, dekik di pipinya sudah kelihatan, tak tahan dia tertawa senang, rasa sedih, risau, jengkel, seketika lenyap sama sekali setelah mendengar pernyataan Sim Long itu.</p>
<p>Mengawasi sikap mesra kedua muda-mudi ini, maka Kim Bu-bong kembali kaku dingin, ia berdehem, lalu berkata dengan suara tertahan, &#8220;Sepanjang jalan rombongan Can Ing-siong tidak mengalami apa-apa hingga tiba di Jin-gi-ceng, kusaksikan sendiri mereka masuk ke perkampungan itu baru kembali ke sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aneh kalau begitu&#8230;.&#8221; ujar Sim Long sambil termenung, tiba-tiba ia tertawa riang, katanya, &#8220;Terima kasih Kim-heng&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rasanya tak perlu kau bilang terima kasih kepadaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, terlalu berlebihan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bahwa Ong-hujin tidak bertindak sesuatu terhadap Can Ing-siong dan rombongannya, lalu bagaimana tindakanmu selanjutnya?&#8221;</p>
<p>Sejenak Sim Long berpikir, lalu balas bertanya, &#8220;Bagaimana pula langkah Kim-heng?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong mendongak sambil menghela napas, katanya, &#8220;Perjanjian dengan Jin-gi-ceng sudah selesai, keselamatan Can Ing-siong dan lain-lain juga tak kurang sesuatu apa, urusan ini boleh dikatakan sudah selesai, aku&#8230;aku akan pulang saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pulang?&#8221; Sim Long menegas.</p>
<p>&#8220;Betul. Meski Ca Giok-koan jahat dan buas, tapi budi kebaikannya terhadapku amat besar, selama hayat masih dikandung badan aku takkan mengingkari dia&#8230;.&#8221; tiba-tiba Kim Bu-bong menatap Sim Long, katanya perlahan, &#8220;Entah Sim-heng sudi kiranya membebaskanku pulang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang telah menghargaiku sebagai pahlawan, sebagai pahlawan akan pula kubalas kebaikan orang&#8230;terhadap Ca Giok-koan boleh dikatakan Kim-heng sudah menunaikan kewajiban dengan baik, kenapa aku harus menjadi manusia rendah dan merintangi keberangkatanmu?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menarik napas panjang, gumamnya, &#8220;Orang menghargaiku sebagai pahlawan, sebagai pahlawan aku balas kebaikan orang, tapi&#8230;.&#8221; waktu dia angkat kepalanya lagi, sekian saat dia menatap Sim Long lekat-lekat, lalu katanya dengan beringas, &#8220;Selanjutnya bila kita bertemu lagi, kau adalah musuhku, saat mana aku tak peduli lagi siapa kau dan akan kurenggut jiwamu, hari ini kau bebaskan aku, kelak jangan kau menyesal.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa pedih, katanya, &#8220;Setiap orang punya cita-citanya sendiri, siapa pun tak dapat memaksanya, kelak meski kau adalah musuhku, tapi dapat bergebrak dengan musuh seperti dirimu, sungguh menyenangkan juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah kalau begitu,&#8221; perlahan Kim Bu-bong mengangguk. Lama mereka berdiri berhadapan dan saling pandang. Mendadak keduanya bersuara bersama, &#8220;Selamat berpisah&#8230;.&#8221;</p>
<p>Mereka bersuara bersama dan tutup mulut bersama pula, sama mengulum senyum getir, sementara itu Jit-jit tak kuat menahan air matanya. Darah seperti bergolak dalam rongga dadanya, dia mengentak kaki, serunya, &#8220;Mau pergi lekas pergi, buat apa banyak omong. Tak tersangka kaum laki-laki kalian juga suka bertele-tele begini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; ujar Kim Bu-bong, &#8220;sudah saatnya harus berangkat, kehidupan Kangouw serbabahaya, orang-orang jahat selalu berada di sekelilingmu, hendaknya Sim-heng&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kim-heng jangan khawatir,&#8221; tukas Sim Long, &#8220;kubisa menjaga diriku, malah Kim-heng sendiri&#8230;.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong mendongak sambil tertawa panjang, &#8220;Darah mengalir bagi sahabat sejati, biar mati juga tidak menjadi soal&#8230;.&#8221; sambil mengulapkan tangan segera dia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.</p>
<p>Dengan berlinang air mata Cu Jit-jit mengawasi bayangan orang semakin jauh dan hampir menghilang di tengah hamburan bunga salju, mendadak dia berteriak keras, &#8220;Tunggu&#8230;berhenti!&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong berhenti di kejauhan, tapi tidak menoleh, tanyanya dingin, &#8220;Kau mau omong apa lagi?&#8221;</p>
<p>Jit-jit menggigit bibir, katanya sambil memandang Sim Long sekejap, &#8220;Aku&#8230;aku ingin ikut kau.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong seperti terpantek di tanah tanpa bergerak, juga tidak menoleh dan tak bersuara pula, agaknya dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.</p>
<p>Alis Sim Long terangkat, wajahnya menampilkan rasa kejut dan heran.</p>
<p>Jit-jit tidak memandangnya lagi, teriaknya, &#8220;Hanya engkau seorang di dunia ini yang simpati dan memahami diriku, hanya kaulah satu-satunya lelaki sejati di dunia ini, kalau aku tidak ikut kau, ikut siapa?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong seperti ingin menoleh, tapi lantas bergelak tawa sambil menengadah, cepat ia melangkah pula ke depan, sukar meraba makna gelak tertawanya itu.</p>
<p>&#8220;Nanti dulu, tunggu aku&#8230;.&#8221; sambil berteriak Cu Jit-jit lantas memburu dengan kencang.</p>
<p>Sim Long bermaksud menariknya, tapi pikirannya tergerak, dia urungkan niatnya, ia mengawasi bayangan punggung Cu Jit-jit yang makin menjauh, timbul senyuman pada ujung mulutnya.</p>
<p>Setelah puluhan langkah Jit-jit coba melirik ke belakang, Sim Long yang kejam dan tega hati ini ternyata tidak menyusulnya, waktu dia menatap ke depan pula, bayangan Kim Bu-bong juga sudah tidak kelihatan.</p>
<p>Bunga salju beterbangan menyampuk mukanya, seluas mata memandang yang terlihat hanya kabut putih, hatinya sedih, dongkol, dan kecewa. Tak tahan dia menangis lagi. Sambil menangis dia berlari terus ke depan, air mati menghalangi pandangannya hingga dia tidak bisa membedakan arah namun masih terus lari seperti dikejar setan.</p>
<p>Hakikatnya dia tidak tahu ke mana dirinya harus pergi, umpama bisa menentukan arah juga tiada gunanya?</p>
<p>Tetesan air matanya hampir membeku menjadi butiran es. Dengan lengan baju dia menyeka air mata, gumamnya, &#8220;Baiklah, Sim Long, kau tidak menarikku, bila aku mampus, apakah kau tidak akan menyesal, tapi&#8230;kenapa aku tidak mati saja&#8230;.&#8221;</p>
<p>Waktu dia mengusap air mata pula, mendadak dia menubruk seseorang.</p>
<p>Saking keras dia berlari hingga tubuhnya terpental balik dua-tiga langkah baru dapat berdiri tegak, selagi dia hendak memaki, begitu dia angkat kepala, orang yang berdiri di depannya ternyata Kim Bu-bong adanya, lelaki yang kaku dingin seperti batu ini.</p>
<p>Dalam keadaan seperti Cu Jit-jit sekarang, mendadak melihat Kim Bu-bong lagi, ia seperti bertemu dengan sanak kandung yang terdekat, entah duka, entah girang, segera dia menjerit terus menubruk ke dalam pelukan Kim Bu-bong dan merangkulnya kencang-kencang.</p>
<p>Kepala dan pundak Kim Bu-bong sudah dilapisi salju, demikian pula kulit mukanya seperti dilumasi es, namun kedua matanya terasa menyala hangat.</p>
<p>Lama sekali baru Kim Bu-bong menghela napas, katanya, &#8220;Kau benar-benar menyusul&#8230;buat apa kau menyusulku?&#8221;</p>
<p>Jit-jit membenamkan kepalanya di dada orang, sambil menangis campur tertawa katanya, &#8220;Aku memang ingin ikut kau&#8230;.Selanjutnya kau tidak akan kesepian, apakah&#8230;apakah kau tidak senang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Selamanya kau ikut aku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehm, ikut kau selamanya dan takkan berpisah, umpama kau mengusirku, aku pun takkan pergi&#8230;.Tapi engkau takkan mengusirku bukan?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong tertawa getir, &#8220;Ai, anak yang kasihan&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak, tidak kasihan, aku tidak mau dikasihani. Ada engkau di sampingku, kenapa aku harus dikasihani? Selanjutnya kularang kau mengatakan kasihan.&#8221;</p>
<p>Namun mulut Kim Bu-bong masih bergumam, &#8220;Kasihan anak ini&#8230;.&#8221;</p>
<p>Jit-jit merengek sambil membenamkan kepalanya. &#8220;Nah, kau bilang lagi, coba katakan, dalam hal apa aku perlu dikasihani?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hanya untuk membuat jengkel Sim Long kau ikut padaku? Buat apa&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan karena Sim Long, dengan sukarela kuikut kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bila Sim Long menyusulmu dan mengajakmu pulang, bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Peduli apa dengan dia? Takkan kugubris.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa betul?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, seribu kali betul!&#8221;</p>
<p>Untuk sejenak Kim Bu-bong diam saja, mendadak dia berkata, &#8220;Coba lihat, Sim Long menyusul kemari!&#8221;</p>
<p>Tergetar tubuh Cu Jit-jit, teriaknya girang, &#8220;Di mana?&#8221;</p>
<p>Segera dia melompat mundur membalik badan, salju masih beterbangan, mana ada bayangan Sim Long, bayangan setan pun tidak ada.</p>
<p>Waktu dia berpaling, dia melihat Kim Bu-bong menampilkan senyum seorang yang sudah kenyang mengenyam perikehidupan, senyum pengertian, namun juga senyum yang rada mengejek, kontan merah muka Cu Jit-jit, namun dia berusaha menutupi rasa malunya, katanya, &#8220;Dia datang juga aku tidak peduli, aku&#8230;aku&#8230;.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong geleng kepala, katanya, &#8220;Nak, isi hatimu mana bisa mengelabui aku, lekas kau pulang ke sana saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak mau, mati pun aku tidak mau pulang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana boleh kau ikut aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kau melarang aku ikut, biar aku mati di depanmu.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menyengir, sesaat kemudian baru berkata dengan perlahan, &#8220;Ikut aku juga bolehlah, cepat atau lambat Sim Long pasti juga akan menyusul kemari, bahwa dia membiarkan Nona Cu ikut aku, mungkin juga untuk memudahkan mengikuti jejakku&#8230;.Meski tidak secara gamblang dia paksa aku untuk membawanya mencari Ca Giok-koan, hal ini berarti dia sudah baik terhadapku, jika dia menguntitku secara diam-diam juga pantas, mana boleh aku menyalahkan dia.&#8221;</p>
<p>Dia bicara sendiri seperti sedang menganalisis bagi dirinya sendiri, tapi juga seperti memberi penjelasan bagi Sim Long, padahal suaranya lirih, kecuali dia sendiri tak terdengar siapa pun.</p>
<p>&#8220;Apa katamu?&#8221; tanya Cu Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Aku bilang&#8230;kalau kau mau ikut aku, ayolah berangkat!&#8221;</p>
<p>Setengah hari itu kedua orang menempuh perjalanan secara cepat, menjelang tengah hari mereka sudah tiba di Say-kok.</p>
<p>Say-kok adalah sebuah kota kecil di sebelah barat Kota Sin-an, walau kota kecil, tapi cukup ramai, ke timur menuju Lokyang, ke utara harus menyeberang sungai besar, tidak sedikit kaum pedagang yang seberang-menyeberang di kota ini, maka kehidupan penduduk kota kecil ini cukup makmur.</p>
<p>Sepanjang jalan Jit-jit memegangi tangan Kim Bu-bong, masuk kota pun tidak dilepaskan, dia tidak peduli bagaimana pandangan orang lain terhadapnya.</p>
<p>Dengan sendirinya orang-orang di jalan sama heran, kagum dan pesona akan kecantikannya, tapi bila mereka melihat wajah Kim Bu-bong, seketika mereka melengos.</p>
<p>Jit-jit berkata perlahan, &#8220;Coba lihat, semua orang takut kepadamu, betapa senang dan bangga hatiku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa kau senang dan bangga?&#8221; tanya Kim Bu-bong.</p>
<p>&#8220;Kuharap orang takut kepadaku, tapi mereka justru tidak takut, kini aku ikut bersamamu, seperti kucing ikut harimau, akan dapat membonceng supaya orang sama takut padaku, betapa hatiku tidak senang, cuma&#8230;cuma perutku mulai lapar, ingin berlagak juga tidak bisa.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong tertawa, &#8220;Apa sekarang juga kau mau makan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bukan anak perempuan yang suka murung, hanya menghadapi sedikit persoalan lantas tak nafsu makan minum&#8230;.Segala persoalan dengan cepat dapat kulupakan, maka aku bisa makan seperti biasa. Makanya kakakku kelima pernah bilang, kelak aku bisa jadi gendut.&#8221;</p>
<p>Kembali Kim Bu-bong tertawa, katanya, &#8220;Memangnya kenapa kalau gendut? Mari kita makan sepuasnya.&#8221;</p>
<p>Entah kenapa, orang aneh yang biasanya dingin kaku, kini seperti bergairah.</p>
<p>Sepanjang jalan raya mereka tidak menemukan restoran, mendadak Kim Bu-bong seperti teringat sesuatu, dia bertanya, &#8220;Apakah kakakmu itu yang terkenal dipanggil Cu-gokongcu di kalangan Kangouw?&#8221;</p>
<p>Jit-jit menghela napas, &#8220;Betul, engkohku kelima itu memang makhluk aneh, kejayaan keluargaku seperti tertumplak seluruhnya di atas tubuhnya, ke mana saja dia pergi, selalu dia mendapat sambutan hangat, dia memang pandai bergaul, aku sendiri heran kenapa bisa begitu?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong berkata, &#8220;Sudah lama kudengar nama Cu-gokongcu yang harum, semua bilang dia seorang pemuda cakap yang jarang ada bandingannya, sayang sampai sekarang aku belum pernah melihatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangankan kau tak bisa bertemu dengan dia, kami beberapa saudara sendiri juga sukar melihatnya, dua-tiga tahun baru bertemu satu kali. Hidupnya memang seperti arwah gentayangan. Hah, sudah sampai.&#8221;</p>
<p>Yang dimaksudkan sampai adalah mereka sudah berada di depan sebuah warung nasi. Lima buah meja kecil yang cukup bersih, bau arak dan bau masakan seperti menyongsong kedatangan mereka, sayang lima meja sudah penuh diduduki orang.</p>
<p>&#8220;Ramai betul pengunjung warung makan ini,&#8221; kata Kim Bu-bong.</p>
<p>&#8220;Rumah makan yang banyak dikunjungi orang, hidangannya tentu lumayan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayang tidak ada tempat kosong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak jadi soal, ikut aku saja,&#8221; ujar Jit-jit. Kim Bu-bong ditariknya masuk mendekati sebuah meja di pojok sana, dua orang pedagang sedang makan dengan lahap di meja ini, mendadak mereka angkat kepala, melihat muka Kim Bu-bong, seketika mereka bergidik, cepat mereka menunduk kepala, nafsu makan pun segera lenyap.</p>
<p>Jit-jit tetap pegang tangan Kim Bu-bong, berdiri diam tak bergerak, kedua orang itu memegangi sumpit dengan gemetar, bergegas mereka berbangkit terus membayar rekening.</p>
<p>Maka Cu Jit-jit dan Kim Bu-bong lantas menduduki meja itu.</p>
<p>Kim Bu-bong geleng kepala, katanya, &#8220;Kau memang pandai mencari akal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini namanya main gertak.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong bergelak tertawa, namun setengah jalan mendadak dia berhenti tertawa.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau berhenti tertawa,&#8221; tanya Jit-jit, &#8220;aku senang melihat cara tertawamu.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong diam sejenak, lalu katanya, &#8220;Setengah hari ini aku sudah tertawa lebih banyak daripada tertawaku beberapa tahun yang lampau.&#8221;</p>
<p>Jit-jit mengawasinya hingga lama dan tak bicara, entah hatinya merasa kecut, manis, atau getir? Dia tidak tahu. Untung hidangan sudah disuguhkan, maka Jit-jit makan minum dengan lahap.</p>
<p>Kim Bu-bong justru sebaliknya, sukar menelan hidangan di depannya, Jit-jit menyumpit makanan ke dalam mangkuknya. Orang-orang di sekitarnya tidak berani menoleh ke arah mereka, tapi tak sedikit yang melirik secara diam-diam.</p>
<p>Maklum kedua orang ini teramat aneh, lelaki jelek, yang perempuan cantik, kelihatannya mesra, tapi juga seperti tak kenal-mengenal sebelumnya, entah pernah hubungan apa antara kedua orang ini, sungguh sukar menebaknya.</p>
<p>Jit-jit tidak peduli tingkah laku orang-orang di sekitarnya, katanya tertawa, &#8220;Sepotong daging ini harus kau makan, perut kosong mana boleh minum arak&#8230;perutmu bisa terbakar lho.&#8221;</p>
<p>Ia menyumpit sepotong daging dan diangsurkan pula ke mangkuk Kim Bu-bong. Tapi mendadak tubuhnya bergetar, daging yang tersumpit jatuh kecemplung ke mangkuk kuah di depannya, ia terbelalak ke arah jendela dengan wajah pucat.</p>
<p>&#8220;Ada apa?&#8221; tanya Kim Bu-bong kaget.</p>
<p>Dengan sumpit Jit-jit menuding jendela di belakang Kim Bu-bong, katanya, &#8220;Oo&#8230;.&#8221; suaranya bukan saja gemetar, lidahnya juga kelu, sumpit pun beradu karena tubuhnya menggigil.</p>
<p>Berubah air muka Kim Bu-bong, lekas dia berpaling, namun jendela kosong tak ada apa-apa, keruan dia heran, tanyanya, &#8220;Kau melihat apa?&#8221;</p>
<p>Sahut Jit-jit gemetar, &#8220;Ada&#8230;ada orang di luar jendela.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana ada orang, mungkin pandanganmu kabur?&#8221;</p>
<p>&#8220;Barusan ada, begitu kau berpaling lantas lenyap.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iblis&#8230;iblis laknat itulah, iblis yang membikin aku lumpuh dan bisu itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa kau melihat dengan jelas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku melihat dengan jelas sekali, selama hidupku takkan kulupakan wajahnya.&#8221;</p>
<p>Berubah kelam air muka Kim Bu-bong, kedua alisnya bertaut, ia tunduk kepala berpikir tanpa bicara.</p>
<p>&#8220;Apa kau mau mengejarnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biar kukejar sekarang juga takkan tersusul.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu&#8230;lalu bagaimana baiknya? Begitu melihat dia, aku tiada selera makan lagi, tidur pun tak bisa nyenyak, seolah-olah dia selalu mengintil di belakangku dan mau mencelakai aku, bila kupejamkan mata lantas terbayang dia lagi menyeringai kepadaku&#8230;.&#8221; mendadak dia letakkan sumpit terus mendekap muka dan hampir menangis.</p>
<p>Kim Bu-bong berpikir sejenak, mendadak dia berbangkit, sepotong uang perak dilemparkannya di meja, tangan Jit-jit ditariknya sambil mendesis, &#8220;Mari ikut aku!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ke&#8230;ke mana?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>Hijau kelam muka Kim Bu-bong, tanpa menjawab dia tarik Cu Jit-jit terus melangkah keluar, ia celingukan sekejap menentukan arah terus berlari keluar kota menuju ke tempat yang sepi.</p>
<p>Heran dan takut Jit-jit, nyalinya sudah pecah bila terbayang kepada iblis itu, padahal biasanya tiada yang ditakutinya di dunia ini, tapi terhadap &#8220;iblis&#8221; yang satu ini dia justru ketakutan setengah mati.</p>
<p>Makin jauh Kim Bu-bong melangkah ke tempat yang sepi, padahal saat itu cahaya mentari sudah menembus gumpalan mega, namun Jit-jit masih menggigil kedinginan.</p>
<p>Tanpa terasa kedua tangannya memeluk pundak Kim Bu-bong dan tubuhnya pun menggelendot di bahunya. Dipandang dari belakang seolah-olah seorang lelaki kekar berjalan berpelukan dengan seorang gadis, seperti sepasang kekasih yang lagi bermesraan, siapa yang melihatnya pasti iri, tapi bila orang mendahului dan memandang dari depan, yang perempuan cantik bak bidadari, berpelukan dengan lelaki jelek yang mengerikan, siapa pun akan geleng kepala.</p>
<p>Walau pundaknya diganduli, langkah Kim Bu-bong tetap cepat dan gesit.</p>
<p>Tak tahan Jit-jit bertanya, &#8220;Tempat apa di sebelah depan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak tahu.&#8221;</p>
<p>Gusar Jit-jit, serunya, &#8220;Habis untuk apa kau&#8230;kau&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang kulakukan segera kau akan tahu,&#8221; ujar Kim Bu-bong, mendadak dia merendahkan suaranya, &#8220;Nah, itu dia datang.&#8221;</p>
<p>Berdiri bulu kuduk Cu Jit-jit, ia menahan napas dan pasang kuping, memang di belakang didengarnya ada suara desir pakaian melambai, gerakan orang di belakang amat cepat, namun Kim Bu-bong tidak menghentikan langkahnya juga tidak menoleh.</p>
<p>Dengan sendirinya Jit-jit juga tidak berani menoleh, namun dalam hati dia bertanya-tanya, &#8220;Siapakah yang datang? Jangan-jangan dia?&#8221;</p>
<p>Didengarnya lambaian pakaian orang itu sudah berada di belakang mereka, gerakannya lantas diperlambat, dalam jarak yang sama terus mengikuti langkah mereka, tidak menyusul ke depan dan juga tidak ketinggalan.</p>
<p>Rasa seram menjalari punggung Jit-jit, sungguh ia ingin menoleh untuk melihatnya, tapi dapat ditahan perasaannya ini, rangkulannya bertambah erat.</p>
<p>Bila Kim Bu-bong mempercepat langkahnya, orang di belakang ikut cepat, bila Kim Bu-bong lambat orang itu pun memperlambat langkahnya.</p>
<p>Kini Jit-jit yakin orang di belakang ini pasti iblis laknat itu, baru sekarang dia sadar Kim Bu-bong sengaja menuju ke tempat yang sepi, tujuannya juga untuk memancing dia. Tapi sukar dia menebak kenapa Kim Bu-bong berbuat demikian, apa tujuannya? Jika ingin membunuhnya, sekarang sudah boleh turun tangan, kalau tidak ingin melenyapkan dia, pantasnya sekarang sudah bertindak pula.</p>
<p>Makin lama langkah Kim Bu-bong makin cepat, akhirnya hanya berputar kayun di dataran bersalju ini, orang itu ternyata mengintil terus ikut berputar.</p>
<p>Cu Jit-jit tidak tahan dan ingin mengajukan pertanyaan namun sebelum dia bersuara, kupingnya lantas menangkap suara Kim Bu-bong yang bicara dengan ilmu gelombang suara, &#8220;Kungfu orang ini tidak lemah, tapi tenaga dalamnya kurang kuat, sekarang sengaja kukuras tenaganya, bila lwekang sudah lemah dan kehabisan tenaga baru akan kupancing dia turun tangan, kuyakin dapat mencabut nyawanya.&#8221;</p>
<p>Kejut dan girang hati rasanya ingin dia peluk leher Kim Bu-bong serta mencium pipinya sekali sebagai tanda rasa senang, haru dan kagumnya.</p>
<p>Mendadak Kim Bu-bong mendongak sambil bergelak tertawa, serunya, &#8220;Haha, bagus&#8230;bagus!&#8221;</p>
<p>Orang itu juga tertawa serak dan berseru, &#8220;Haha, bagus&#8230;bagus!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kutahu kau pasti datang!&#8221; ucap Kim Bu-bong.</p>
<p>&#8220;Kutahu kau pasti datang!&#8221; orang itu menirukan bicaranya.</p>
<p>&#8220;Setelah datang, kenapa kau tidak bicara?&#8221; tanya Kim Bu-bong.</p>
<p>Orang itu juga bertanya, &#8220;Setelah datang, kenapa kau tidak bicara?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong gusar, dampratnya, &#8220;Apa sengaja kau permainkan aku? Meski kita pernah seperguruan, namun hubungan kita sudah putus, tahukah kau kenapa kupancing kau ke sini? Sebab akan kucabut nyawamu!&#8221;</p>
<p>Orang itu seperti bersuara kaget, tapi segera menirukan pula, &#8220;Apa sengaja kau permainkan aku? Meski&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa kau?&#8221; mendadak Kim Bu-bong menghardik sambil seret Jit-jit dan membalik badan.</p>
<p>Orang itu sedang lari, hampir saja ia menubruk mereka, syukur satu kaki di depan mereka dia berhasil mengerem langkahnya. Wajahnya yang jelek dan kotor itu tepat berhenti di depan mata</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-13/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Baja (12)</title>
		<link>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-12/</link>
		<comments>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-12/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 03:05:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendekar Baja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.info/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gu Long
Lama Jit-jit menatapnya dengan mendelik, mendadak dia putar tubuh, sekali loncat ia hinggap di atas pagar tembok dan langsung melompat ke dalam.

Sudah tentu si Kucing terperanjat, segera dia ikut melompat dan melayang, ke balik tembok.
Siapa tahu, baru saja dia hinggap di tanah, segera dilihatnya Cu Jit-jit berdiri di kaki tembok sambil mengawasinya dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Gu Long</strong></p>
<p>Lama Jit-jit menatapnya dengan mendelik, mendadak dia putar tubuh, sekali loncat ia hinggap di atas pagar tembok dan langsung melompat ke dalam.<br />
<span id="more-812"></span><br />
Sudah tentu si Kucing terperanjat, segera dia ikut melompat dan melayang, ke balik tembok.</p>
<p>Siapa tahu, baru saja dia hinggap di tanah, segera dilihatnya Cu Jit-jit berdiri di kaki tembok sambil mengawasinya dengan tertawa ejek, katanya, &#8220;Kutahu kau pasti tidak tega membiarkan aku masuk sendirian.&#8221;</p>
<p>Dongkol, gemas juga geli si Kucing, katanya sambil menggeleng, &#8220;Baiklah, aku betul-betul takluk padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau sudah takluk padaku, maka kau harus patuh pada perintahku.&#8221;</p>
<p>Mendadak si Kucing berkata serius, &#8220;Bila tempat ini betul tempat yang kau maksud, maka jelas di sinilah sarang naga dan gua harimau, di sekeliling kita pasti terpasang berbagai perangkap.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, betul,&#8221; sahut Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Karena itulah penyelidikanmu kali ini harus dilakukan dengan hati-hati, sedikit pun tidak boleh salah langkah, sedikit lena mungkin takkan bisa keluar dari sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tahu &#8230;ikuti aku,&#8221; sembari bicara Jit-jit lantas melayang ke depan.</p>
<p>Sebelum tengah malam tempat ini biasanya masih riuh ramai, gelak tertawa dan cekikikan genit, namun sekarang sunyi senyap, sinar lampu pun tidak kelihatan.</p>
<p>Di bawah pantulan salju Cu Jit-jit berusaha membedakan arah, namun dalam keadaan remang-remang sukar baginya memastikan apakah dia pernah datang ke sini.</p>
<p>Si Kucing menyusul di belakangnya, katanya, &#8220;Hati-hati, jangan meninggalkan bekas kaki di permukaan salju.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan khawatir, aku tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa pun untuk jadi maling jelas kau bukan tandinganku, biar aku yang menunjukkan jalan saja,&#8221; tanpa menunggu jawaban Cu Jit-jit si Kucing lantas mendahului melayang ke depan.</p>
<p>Satu di depan yang lain di belakang, mereka merunduk ke taman belakang, sepanjang jalan bukan saja tidak terdengar suara orang, juga tidak menemukan rintangan atau perangkap.</p>
<p>Kesunyian yang agak ganjil, membuat orang tegang dan khawatir. Cu Jit-jit merasakan jantung berdebar cepat dan keras.</p>
<p>Mendadak kakinya menyentuh sesuatu yang lunak, saking tegang dan kaget hampir saja Jit-jit menjerit. Untung si Kucing keburu mendekap mulutnya, desisnya, &#8220;Ssst, ada apa?&#8221;</p>
<p>Jit-jit tergegap, lidah terasa kelu, dia hanya menuding ke sana.</p>
<p>Waktu si Kucing memandang ke arah yang ditunjuk, tertampak di bawah pohon kering meringkuk dua orang berbaju hitam tanpa bergerak, entah masih hidup atau sudah mati. Keruan berubah air muka mereka, keduanya menyurut mundur setindak. Kedua orang yang rebah di atas salju itu tetap tidak bergerak.</p>
<p>&#8220;Mungkin &#8230;mungkin sudah mati?&#8221; ucap Jit-jit gemetar.</p>
<p>Si Kucing menunggu beberapa kejap pula, lalu mendekat dan berjongkok membalik tubuh salah seorang berbaju hitam itu, kedua orang ini kelihatan melotot, mulut terbuka lebar, mukanya berlepotan salju, kulit daging sudah kaku dan pucat karena kedinginan, namun hidungnya masih bernapas lemah, dadanya pun masih hangat. Kedua orang ini jelas belum mati.</p>
<p>Setelah memeriksa sekian lamanya, akhirnya si Kucing berkata, &#8220;Kedua orang ini tertutuk hiat-tonya.&#8221;</p>
<p>Mengepal tinju Jit-jit, katanya tegang, &#8220;Dilihat dari dandanan kedua orang ini, jelas tukang pukul atau penjaga pekarangan ini, mereka penjaga di sini&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, pasti demikian,&#8221; kata si Kucing.</p>
<p>&#8220;Tapi &#8230;siapakah yang menutuk hiat-to kedua orang ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tanya, padaku, aku tanya siapa?&#8221;</p>
<p>Jit-jit gelisah, katanya, &#8220;Masa tak dapat kau buka hiat-to mereka dan tanyai mereka?&#8221;</p>
<p>Si Kucing menggeleng kepala, &#8220;Bukan saja lwekang penutuk itu amat tinggi, cara yang digunakan juga khas, kecuali ajaran perguruannya, siapa pun takkan mampu memusnahkan tutukan hiat-to mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu &#8230;siapakah gerangan penutuk itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Melihat gelagatnya, ada seorang kosen secara diam-diam telah datang lebih dahulu, jejak kita bukan mustahil sudah di bawah pengawasannya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu bagaimana baiknya?&#8221;</p>
<p>Si Kucing berdiri, &#8220;Mari kita pulang saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pulang? Setelah datang kau bilang harus pulang? Umpama benar ada orang mendahului kita, tapi dia menutuk hiat-to kedua budak ini, jelas dia berada di pihak kita, bukankah berarti kita mendapat bantuannya, maka jangan pulang, apa pun kejadian ini harus diselidiki sampai jelas.&#8221;</p>
<p>Si Kucing berpikir sejenak, memang beralasan si nona, dia lantas berkata dengan menghela napas, &#8220;Baiklah, terserah.&#8221;</p>
<p>Maka kedua orang ini merunduk maju lebih lanjut, langkah mereka lebih hati-hati. Mendadak tampak di hutan bambu tak jauh di sana ada sinar lampu.</p>
<p>&#8220;Tidak masuk sarang harimau mana bisa menangkap anak harimau, mari kita ke sana,&#8221; ucap Jit-jit.</p>
<p>Urusan sudah telanjur, si Kucing tak bisa menolak, maka dia iringi Cu Jit-jit menerobos ke dalam hutan bambu.</p>
<p>Di dalam hutan bambu terdapat tiga atau lima petak rumah mungil, sinar lampu menyorot keluar dari jendela. Cahayanya remang-remang, terasa mengandung kegaiban.</p>
<p>Si Kucing jadi tertarik, dengan tabah dia menyelinap ke bawah jendela, mereka mendekam tak bergerak di bawah jendela dengan menahan napas dan pasang kuping.</p>
<p>Sesaat kemudian terdengar suara rintihan seorang perempuan. Si Kucing dan Cu Jit-jit saling pandang sekejap dan merasa tegang.</p>
<p>Diam-diam Jit-jit membatin, &#8220;Jangan-jangan ada Pek-hun-bok-li yang berbuat salah dan sedang menjalani hukuman?&#8221;</p>
<p>Tapi anehnya, setelah mendengarkan sekian lama, bukan saja suara rintihan itu tidak seperti orang kesakitan, malah agak &#8230;agak &#8230;entah agak apa Cu Jit-jit sendiri tak bisa menerangkan.</p>
<p>Menyusul terdengar dengus napas seorang lelaki.</p>
<p>Kontan air muka si Kucing berubah, berubah aneh dan lucu, segera dia tarik lengan baju Cu Jit-jit, maksudnya mengajaknya pergi.</p>
<p>Tapi Jit-jit sedang keheranan dan ketarik oleh suara keluhan itu, mana dia mau pergi.</p>
<p>Didengarnya suara laki-laki itu berkata di tengah sengal napasnya yang berat, &#8220;Bagaimana &#8230;nikmat?&#8230;&#8221;</p>
<p>Suara genit seorang perempuan menjawab setengah merintih, &#8220;O, sayang &#8230;aku &#8230;aku tidak tahan &#8230;tidak tahan lagi&#8230;&#8221;</p>
<p>Betapa pun hijaunya, akhirnya Jit-jit tahu juga apa yang tengah berlangsung di dalam kamar, seketika merah mukanya, diam-diam dia berludah.</p>
<p>Si Kucing juga serbakikuk, keduanya melenggong dan tak bergerak, hingga tanpa sadar sesosok bayangan berkelebat lewat di atas kepala mereka. Cepat mereka pun berdiri dan lari ke luar hutan.</p>
<p>Setelah jauh, Jit-jit berkata dengan mendongkol, &#8220;Tidak tahu malu &#8230;menyebalkan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari sini dapat disimpulkan bahwa di tempat ini tak terjadi sesuatu yang ganjil, kalau tidak masakah di dalam ada laki-laki iseng yang bermain dengan pelacur.&#8221;</p>
<p>Dengan wajah merah Jit-jit berkata, &#8220;Dari mana kau tahu laki-laki itu iseng, bukan mustahil dia &#8230;dia adalah temannya?&#8221;</p>
<p>Diam-diam si Kucing tertawa geli, batinnya, &#8220;Keluhan nikmat perempuan itu memang disengaja untuk menyenangkan setiap lelaki iseng, orang seperti diriku mana bisa dikelabui?&#8221;</p>
<p>Sudah tentu hal ini tidak dijelaskannya. Waktu dia angkat kepala dan menoleh, tiba-tiba dia bertanya kaget, &#8220;He, apa yang berada di atas kepalamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada apa&#8230;&#8221; sahut Cu Jit-jit, waktu dia angkat kepala, ia pun menjerit kaget, &#8220;Hei, apa yang berada di atas kepalamu?&#8221;</p>
<p>Berbareng mereka meraba kepala, dari atas kepala mereka masing-masing menjamah sebuah mahkota yang dirangkai dari ranting kayu kering, di atas mahkota ranting kayu itu masing-masing terselip secarik kertas. Mereka tarik kertas itu, di bawah keremangan mereka melihat tulisan di atas kertas itu berbunyi: &#8220;Ratu Tolol&#8221;, sedangkan kertas si Kucing tertulis: &#8220;Raja Goblok&#8221;.</p>
<p>Siapakah yang menaruh mahkota ranting kering di atas kepala mereka? Kapan ditaruhnya? Ternyata si Kucing dan Cu Jit-jit tidak tahu dan tidak menyadari sama sekali.</p>
<p>Keruan tidak kepalang kaget mereka, namun setelah membaca tulisan itu di samping mendongkol mereka pun geregetan, Jit-jit menggerutu, &#8220;Kentut, kentut anjing busuk. Huh, ratu &#8230;apa, kalau dapat kutangkap bajingan itu, awas, akan kubeset kulitnya.&#8221;</p>
<p>Si Kucing tertawa getir katanya, &#8220;Orang menaruh ranting di atas kepalamu saja tidak kau ketahui, cara bagaimana mampu kau tangkap dia, bayangan saja tak dapat melihatnya.&#8221;</p>
<p>Betapa tinggi kungfu orang, ginkangnya yang lihai dan gerak-geriknya yang cekatan dan tangkas, ngeri Jit-jit membayangkannya, bila yang ditaruh di atas kepala mereka bukan ranting kayu tapi senjata rahasia beracun yang bisa membuat luka kepala mereka, lalu apa jadinya, keruan ia berkeringat dingin.</p>
<p>Si Kucing bergumam, &#8220;Pasti orang itulah yang menutuk hiat-to kedua orang berbaju hitam tadi, tapi &#8230;siapakah dia sebenarnya? Tokoh mana dalam dunia ini yang berkepandaian setinggi ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Peduli siapa dia,&#8221; ucap Jit-jit, &#8220;lebih baik kita&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita pulang saja,&#8221; tukas si Kucing.</p>
<p>&#8220;Pulang, pulang, kau hanya tahu pulang saja,&#8221; omel Jit-jit mendongkol.</p>
<p>Si Kucing menghela napas, katanya, &#8220;Orang itu jelas tak bermaksud jahat terhadap kita, kalau mau, dengan mudah dia dapat mencabut jiwamu, tapi perbuatannya ini jelas cuma ingin memperingatkan, supaya kita tidak terlalu lama berada di sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa &#8230;kenapa&#8230;&#8221;</p>
<p>Si Kucing memandang sekitarnya, lalu katanya, &#8220;Dalam kegelapan di sekitar kita ini pasti banyak alat perangkap yang tak kelihatan, khawatir kita terjebak, maka orang itu menganjurkan kita pulang saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau dia suruh kau pulang, kau lantas pulang? Kau begitu patuh kepadanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betapa pun orang bermaksud baik&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku justru tak mau terima kebaikannya, aku justru ingin tahu lebih jelas,&#8221; belum habis bicara segera orangnya melompat ke depan.</p>
<p>Si Kucing sudah kenyang berkelana di dunia Kangouw, pengalaman luas, banyak tipu akalnya, gesit, dan cekatan, siapa saja yang bermusuhan dengan dia pasti pusing tujuh keliling, tapi menghadapi Cu Jit-jit, justru dia sendiri yang kewalahan.</p>
<p>Cu Jit-jit sudah berlari ke depan, terpaksa dia mengikut di belakangnya. Dengan kebat-kebit, mereka maju lagi beberapa puluh tombak jauhnya.</p>
<p>Sekonyong-konyong berkumandanglah bunyi keleningan, meski ringan suaranya, tapi di tengah malam gelap dan sunyi, suaranya sungguh mengejutkan.</p>
<p>Menyusul tampak cahaya api menyala di sebelah depan.</p>
<p>Betapa besar nyali Cu Jit-jit kaget juga dia dan menghentikan langkah, terdengar suara bentakan keras di sana, &#8220;Siapa itu?&#8230;Berhenti!&#8230;Tangkap maling!&#8221;</p>
<p>Berubah air muka si Kucing, &#8220;Wah, celaka &#8230;lekas mundur&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum lenyap suaranya, tampak sesosok bayangan orang melesat keluar dari arah cahaya api sana, gerakannya secepat kilat dan menubruk ke arah Cu Jit-jit dan si Kucing bersembunyi.</p>
<p>Gerak-geriknya sungguh amat cepat, walau melesat dari depan, tapi Jit-jit dan si Kucing hanya melihat bayangannya saja, hakikatnya sukar melihat raut wajah dan bentuk perawakan orang. Tatkala melesat lewat di samping tubuh mereka, bayangan itu membentak lirih, &#8220;Ikuti aku!&#8221;</p>
<p>Sementara itu tampak bayangan orang banyak disertai langkah ramai sama memburu ke arah Cu Jit-jit dan si Kucing, bentakan dan teriakan bertambah keras.</p>
<p>Dalam keadaan terdesak begini, terpaksa Jit-jit putar tubuh dan melompat keluar, untung jalan mundur mereka belum tercegat, dengan cepat mereka melayang keluar pagar tembok.</p>
<p>Setiba mereka di luar pagar tembok, bayangan misterius tadi tidak kelihatan lagi.</p>
<p>Jit-jit mengentak kaki, omelnya, &#8220;Maling mampus, bangsat goblok, dia sendiri lebih setimpal dianugerahi julukan raja goblok, jejaknya yang konangan orang, kita ikut susah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira dia sengaja berbuat demikian,&#8221; ujar si Kucing setelah berpikir.</p>
<p>&#8220;Maksudmu dia sengaja memperlihatkan jejaknya? Memangnya dia sudah gila?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah berulang kali dia memberi peringatan, namun kita tetap bandel, terpaksa jejaknya sengaja diperlihatkan supaya kita pun mau tidak mau ikut kabur&#8230;&#8221;</p>
<p>Jit-jit melenggong, katanya kemudian dengan gemas, &#8220;Apa sangkut paut urusan kita dengan dia? Kenapa dia mempermainkan kita?&#8221;</p>
<p>Mulut bicara, kaki tidak berhenti, cepat sekali sudah melewati dua jalan raya.</p>
<p>Pada saat itulah mendadak Jit-jit berhenti.</p>
<p>&#8220;Kau mau apa pula?&#8221; tanya si Kucing.</p>
<p>&#8220;Aku ingin kembali ke sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;He, apa kau sudah gila?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa bilang aku gila, aku sangat sadar, setelah gagal menangkap maling, mereka tentu tidur lagi, kenapa aku tidak boleh kembali ke sana?&#8221;</p>
<p>Si Kucing menghela napas, katanya, &#8220;O, nonaku yang manis, memangnya tak kau pikir, setelah kejadian ini penjagaan tentu diperketat, kalau kau kembali ke sana, pasti masuk perangkap mereka.&#8221;</p>
<p>Jit-jit mengertak gigi, desisnya, &#8220;Mungkin betul ucapanmu, namun aku tambah yakin tempat itu adalah sarang iblis, kalau aku tidak memeriksanya pula ke sana, mana hatiku bisa tenteram?&#8221;</p>
<p>&#8220;Berdasarkan apa kau begitu yakin?&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba jawab, kalau sarang pelacur biasa mana mungkin dijaga sekian banyak orang? Apalagi berulang kali orang itu memberi peringatan kepada kita, pasti dia tahu dalam taman itu banyak dipasang jebakan. Nah, coba jawab lagi, sarang pelacur biasa mana mungkin terdapat jebakan dan perangkap?&#8221;</p>
<p>Lama si Kucing terdiam, akhirnya menghela napas, katanya, &#8220;Aku selalu kalah berdebat dengan kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau mengaku kalah, ayolah ikut aku pula.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku ikut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul?&#8221; seru Jit-jit girang.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu betul, tapi bukan malam ini, sekarang kita pulang dulu, besok kita rancang dulu langkah kita, betapa pun sarang pelacur ini harus diselidiki sampai jelas.&#8221;</p>
<p>Jit-jit bimbang sejenak, tanyanya, &#8220;Apakah omonganmu dapat dipercaya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setiap patah kataku laksana paku yang menancap di dinding, satu paku satu mata.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, kali ini aku terima saranmu, besok kita lanjutkan penyelidikan ini.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Setiba mereka di rumah keluarga Auyang, penghuni rumah besar itu sudah tidur semua, agaknya tiada orang tahu apa yang dilakukan kedua orang ini setengah malaman ini, segera mereka kembali ke kamar masing-masing.</p>
<p>Di musim dingin, malam pendek siang panjang, Jit-jit hanya tidur sebentar di atas ranjang, waktu dia membuka mata mentari sudah memancarkan cahayanya ke dalam kamar.</p>
<p>Cukup lama dia duduk termenung di atas ranjang, makin dipikir terasa makin mencurigakan, mendadak dia menyingkap selimut terus berpakaian langsung dia pergi ke kamar Sim Long.</p>
<p>Pintu kamar masih tertutup rapat, segera ia hendak menggedor, tapi urung, sejenak ia berpikir, lalu berputar ke arah jendela dan pasang kuping mendengarkan, didengarnya Sim Long masih mendengkur dengan teratur, jelas tidurnya sangat nyenyak.</p>
<p>Mendadak di belakangnya seorang menyapa perlahan, &#8220;Selamat pagi, Nona!&#8221;</p>
<p>Cepat Jit-jit membalik, yang berdiri di belakangnya dengan meluruskan tangan ternyata Pek Fifi.</p>
<p>Secara diam-diam dia berdiri di luar jendela kamar orang lelaki dan mencuri dengar, kini kepergok, keruan ia malu. Seketika dia menarik muka, baru saja dia hendak mengumbar adat, mendadak pikirannya berubah, dengan tertawa dia berkata perlahan, &#8220;Kau pun pagi, apa semalam enak tidurmu?&#8221;</p>
<p>Dua hari ini setiap melihat tampang Pek Fifi selalu dia jengkel, kini sikapnya mendadak berubah ramah, sudah tentu Pek Fifi merasa di luar dugaan, ia jadi kebat-kebit malah, sahutnya dengan hormat, &#8220;Terima kasih atas perhatian Nona, aku &#8230;aku tidur dengan nyenyak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Angkat kepalamu, biar kulihat mukamu.&#8221;</p>
<p>Fifi mengiakan dan perlahan angkat kepalanya.</p>
<p>Hujan salju sudah berhenti, mentari yang baru menyingsing memancarkan cahaya keemasan menyinari wajah Pek Fifi.</p>
<p>Jit-jit menghela napas, ujarnya, &#8220;Memang cantik, melihatmu aku pun ketarik, apalagi kaum lelaki hidung belang itu, sudah tentu tergila-gila&#8230;&#8221;</p>
<p>Fifi kira rasa cemburu orang mulai angot lagi, maka dengan gugup dia berkata, &#8220;Mana hamba berani dibandingkan dengan Nona&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak usah sungkan, tapi &#8230;jangan kau bohongi aku.&#8221;</p>
<p>Fifi berjingkat kaget, katanya, &#8220;Mana berani hamba bohongi Nona.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa betul kau tidak bohong? Baik, jawab pertanyaanku, kau bilang semalam tidur nyenyak, kenapa kedua matamu tampak merah bengul?&#8221;</p>
<p>Wajah Fifi yang semula pucat seketika merah, katanya dengan tergegap, &#8220;Aku &#8230;hamba&#8230;&#8221;</p>
<p>Khawatir dimaki Cu Jit-jit, saking takutnya sampai tak mampu bicara.</p>
<p>Jit-jit malah tertawa, katanya, &#8220;Kalau semalam kau tidak tidur, aku ingin tanya padamu, kamarmu di sebelah kamar Sim-siangkong, apa kau tahu semalam Sim-siangkong keluar dari kamarnya tidak?&#8221;</p>
<p>Lega hati Fifi, katanya, &#8220;Semalam Sim-siangkong pulang ke kamar dengan mabuk, begitu rebah di ranjang lantas tidur pulas, dari kamar hamba pun mendengar suara dengkurannya.&#8221;</p>
<p>Sesaat Jit-jit menimbang-nimbang, lalu berkerut alis dan bergumam, &#8220;Kalau demikian, mungkin bukan dia&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan dia siapa?&#8221; tiba-tiba seorang bertanya dengan tertawa. Entah kapan Sim Long sudah membuka pintu dan melangkah keluar.</p>
<p>Merah muka Jit-jit, katanya, &#8220;O, tidak &#8230;tidak apa-apa.&#8221;</p>
<p>Sikapnya di hadapan Sim Long serupa Pek Fifi di hadapannya tadi, muka merah dan menunduk kepala, tergegap tak mampu bicara.</p>
<p>Sambil menunduk diam-diam Fifi mengundurkan diri.</p>
<p>Sim Long menatap Jit-jit, cahaya mentari yang keemasan menyinari wajah Cu Jit-jit, wajahnya kelihatan cantik, siapa pun melihatnya pasti merasa sayang.</p>
<p>Mendadak Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Wajahmu bak bunga mekar, lebih cantik dari&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa maksudmu?&#8221; tukas Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Sudah tentu kau, masa orang lain.&#8221;</p>
<p>Muka merah Jit-jit, belum pernah dia dengar Sim Long memuji kecantikannya, entah kejut entah senang, dia menunduk dan berkata, &#8220;Apakah kau bicara setulus hatimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu setulus hati&#8230;Angin pagi dingin di luar, marilah duduk di dalam kamar.&#8221;</p>
<p>Tanpa diminta lagi Jit-jit mendahului melangkah masuk dan duduk di dalam kamar, terasa Sim Long masih terus mengawasi dirinya dengan saksama.</p>
<p>Ia menjadi rikuh, duduk tak tenang, berdiri juga tak enak, akhirnya dia mengomel dengan tertahan, &#8220;Apa yang kau pandang? Bukankah aku serupa, beratus kali telah kau pandangku, dipandang lagi juga takkan tumbuh sekuntum bunga di mukaku.&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Aku sedang berpikir, perempuan secantik kau bila mengenakan mahkota di atas kepala pasti mirip seorang ratu.&#8221;</p>
<p>Terkesiap hati Jit-jit, &#8220;Ratu &#8230;ratu apa?&#8221;</p>
<p>Sim Long bergelak tertawa, &#8220;Sudah tentu ratu kecantikan. Memangnya ada ratu lain.&#8221;</p>
<p>Tak tahan Jit-jit, ia mengawasi orang dengan saksama.</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Udara dingin bumi beku, keluar malam gampang masuk angin, bila nanti malam kau ingin keluar, lebih baik mengenakan baju kapas&#8230;&#8221;</p>
<p>Jit-jit berjingkrak, serunya, &#8220;Siapa bilang nanti malam aku mau keluar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa bilang kau mau keluar, aku hanya bilang umpama kau ingin keluar,&#8221; mendadak Sim Long menoleh, lalu menyambung dengan tertawa, &#8220;Him-heng, kenapa berdiri di luar jendela, silakan masuk?!&#8221;</p>
<p>Si Kucing berdehem, lalu melangkah masuk perlahan dan menyapa, &#8220;Pagi benar Sim-heng bangun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebetulnya tidak pagi lagi, bagi orang yang malam hari suka keluyuran menjadi maling, semalam suntuk tidak tidur, tapi sekarang sudah bangun, dia baru dapat dikatakan bangun pagi-pagi betul tidak Him-heng?&#8221;</p>
<p>Si Kucing menyengir, sahutnya, &#8220;Ya &#8230;ya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Barusan kubilang ada seorang mirip ratu, kini kulihat tampang Him-heng, haha, cara Him-heng melangkah bagai harimau lapar, gagah perkasa, bila mengenakan mahkota juga, kau pasti mirip seorang raja.&#8221;</p>
<p>Melotot si Kucing mengawasi Sim Long, sampai sekian lama terkesima dan tak mampu bersuara.</p>
<p>Mendadak Sim Long berdiri, katanya, dengan tertawa, &#8220;Silakan kalian duduk di sini, aku akan keluar melihat-lihat dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Melihat &#8230;melihat apa?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Ingin kulihat apakah semalam ada maling datang mencuri barang, mungkin gagal mencuri malah kehilangan segenggam beras, kereta kuda yang ditumpangi juga tertinggal di luar.&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa segera dia berlari keluar.</p>
<p>Jit-jit dan si Kucing saling pandang dengan melenggong dan tak mampu bicara.</p>
<p>Sesaat kemudian si Kucing tak tahan, ia buka suara, &#8220;Semalam pasti dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, pasti dia,&#8221; ucap Jit-jit.</p>
<p>Si Kucing menghela napas, katanya, &#8220;Sepak terjangnya sungguh menakjubkan, gerak-geriknya laksana setan, tingkah kita ternyata tak mampu mengelabui dia&#8230;Ai, sungguh kungfu hebat.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Jit-jit tertawa, katanya, &#8220;Banyak terima kasih.&#8221;</p>
<p>Si Kucing heran, &#8220;Kau terima kasih apa?&#8221;</p>
<p>Manis tawa Jit-jit, katanya, &#8220;Kau memuji dia, berarti memujiku pula, mendengar pujianmu sungguh aku sangat senang, maka aku mengucapkan terima kasih, jika kau maki dia, pasti kuhajarmu.&#8221;</p>
<p>Si Kucing melongo sejenak, akhirnya menghela napas, katanya, &#8220;Semalam dia mempermalukan dirimu dan kau tidak marah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa bilang dia mempermainkan aku, maksud dia kan baik, ini &#8230;ini kan kau sendiri yang bilang demikian? Kan pantas kita berterima kasih kepadanya, kenapa mesti marah?&#8221;</p>
<p>Kembali si Kucing melenggong, katanya kemudian, &#8220;Tapi aku justru marah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau marah apa?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>Si Kucing tidak menjawab, mendadak ia berterus melangkah pergi.</p>
<p>Jit-jit tidak mencegah, hanya katanya keras, &#8220;Hanya marah saja apa gunanya? Kalau malam nanti kau dapat membebaskan diri dari pengawasannya baru terbukti kau punya kepandaian tinggi, laki-laki yang serbapintar pasti akan disukai gadis.&#8221;</p>
<p>Si Kucing sudah pergi dengan langkah lebar, mendadak dia kembali dengan langkah lebar pula, katanya, &#8220;Kau kira aku tak mampu membebaskan diri dari pengawasannya?&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa Jit-jit mengawasinya, katanya, &#8220;Apa kau mampu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mampu saja, boleh kau buktikan,&#8221; seru si Kucing keras. Setelah mengentak kaki, kembali dia melangkah pergi.</p>
<p>Mengawasi bayangan orang yang lenyap di luar pintu, Jit-jit tertawa senang, gumamnya, &#8220;Kau si Kucing ini pernah bilang selamanya tak pernah terpancing orang? Sekarang kenapa terpancing juga olehku?&#8230;Tampaknya laki-laki di dunia ini sama saja, tiada satu pun yang tahan dihasut oleh orang perempuan&#8230;Hanya &#8230;kecuali Sim Long saja&#8230;&#8221;</p>
<p>Terbayang akan watak Sim Long yang tidak kenal kompromi, tidak doyan halus maupun keras, sering berlagak bisu dan tuli lagi, sungguh ia gemas dan geregetan, rasanya ingin menggigitnya. Tapi &#8230;ia hanya menggigitnya perlahan, sebab khawatir menyakitkan dia.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dengan sendirinya Auyang Hi berusaha menahan tetamunya supaya tinggal lebih lama, Jit-jit juga tidak berniat pergi, maka kebetulan orang banyak lantas tinggal lebih lama di rumah Auyang Hi.</p>
<p>Malamnya diadakan pula perjamuan besar. Setelah minum tiga cawan, si Kucing mendadak berkata, &#8220;Eh, tiba-tiba teringat olehku suatu persoalan menarik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Soal apa?&#8221; tanya Auyang Hi.</p>
<p>&#8220;Bila kita berempat bertanding minum arak entah siapa yang akan ambruk lebih dulu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah&#8230;&#8221; Auyang Hi jadi bingung, ia menoleh ke arah Sim Long, lalu memandang Ong Ling-hoa pula.</p>
<p>Sim Long diam saja, Ong Ling-hoa juga tidak memberi tanggapan.</p>
<p>Setiap orang yang gemar minum pasti tidak mau mengaku takaran minumnya sedikit dan akan mabuk lebih dulu.</p>
<p>Auyang Hi bergelak tertawa, katanya, &#8220;Persoalanmu memang menarik, namun sukar mendapatkan jawabannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa sukar,&#8221; ujar si Kucing, &#8220;asal Auyang-heng mau sediakan arak, hari ini juga kita bisa menentukan kalah-menang.&#8221;</p>
<p>Belum habis orang bicara Auyang Hi lantas berkeplok, serunya, &#8220;Bagus!&#8230;Ayo keluarkan empat guci arak!&#8221;</p>
<p>Cepat sekali empat guci arak yang diminta sudah diusung keluar.</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, katanya, &#8220;Begini saja, satu orang satu guci, siapa pun tak dirugikan.&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, &#8220;Jika habis satu guci dan belum mabuk, lalu bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bila empat guci belum mabuk, keluarkan lagi delapan guci,&#8221; kata Ong Ling-hoa.</p>
<p>&#8220;Kalau belum juga mabuk?&#8221; tanya Sim Long.</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, &#8220;Jika masih juga belum ada yang mabuk, apa salahnya kita teruskan adu minum sampai tiga hari?&#8221;</p>
<p>Si Kucing tepuk tangan, serunya dengan bergelak tertawa, &#8220;Haha, bagus! Tapi, masih ada&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih ada apa?&#8221; tanya Auyang Hi.</p>
<p>&#8220;Cepat atau lambatnya cara minum juga harus diatur&#8230;&#8221; ujar si Kucing.</p>
<p>&#8220;Betapa cepat kau kucing ini dapat minum kami pasti akan mengiringimu sama cepatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik&#8230;&#8221; seru si Kucing girang, segera diangkatnya satu guci dengan kepala mendongak, arak terus dituang ke dalam perut, sekaligus dia habiskan setengah guci.</p>
<p>Ketika mendengar si Kucing ribut urusan minum arak, Jit-jit lantas tahu maksud si Kucing hendak mencekok mabuk ketiga orang ini, bila Sim Long juga mabuk, maka dia takkan bisa menguntit gerak-gerik mereka malam ini. Dalam hati dia tertawa geli dan bersorak akan akal si Kucing. Maka dia hanya menonton saja di samping tanpa memberi komentar.</p>
<p>Empat orang ini memang jago minum, hanya sekejap saja isi empat guci sudah terminum habis, segera Auyang Hi tepuk tangan dan menyuruh keluarkan empat guci arak lagi.</p>
<p>Ketika empat guci ini habis diminum dan minta tambah empat guci, keadaan keempat orang ini sudah mulai tak genah, mulai sinting, cara bicara juga ngelantur.</p>
<p>Jit-jit sangat tertarik, ia ingin menyaksikan siapa di antara keempat orang ini yang mabuk dan ambruk lebih dulu. Tapi setelah berpikir pula, ia jadi tidak tertarik lagi. Pikirnya, &#8220;Takaran minum keempat orang ini agaknya seimbang, jika si Kucing tak mampu mencekoki Sim Long hingga mabuk, malah dia sendiri yang mabuk lebih dulu, lalu bagaimana baiknya?&#8221;</p>
<p>Mendadak terlihat Sim Long berdiri dan berseru lantang, &#8220;Kucing tetap kucing, habis tiga guci arak jatuh melingkar seperti kerbau.&#8221;</p>
<p>Mendadak ia roboh perlahan dan tak bangun lagi.</p>
<p>&#8220;Haha, ambruk satu&#8230;&#8221; teriak si Kucing dengan tertawa.</p>
<p>Ong Ling-hoa mengedip mata, katanya, &#8220;Jangan-jangan dia pura-pura mabuk.&#8221;</p>
<p>Meski ingin mencekoki Sim Long sampai mabuk, tapi melihat keadaannya benar-benar mabuk, Jit-jit menjadi gugup pula, dengan penuh perhatian dia berjongkok memapah Sim Long, katanya, &#8220;Dia tidak pura-pura, tapi betul-betul mabuk, kalau tidak masa dia mengoceh tak keruan.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, &#8220;Tak nyana orang lain ambruk lebih dulu, bagus, bagus! Biarlah kuminum lagi tiga cawan.&#8221;</p>
<p>Lalu dia habiskan tiga cawan arak, namun sebelum cawan ditaruh di atas meja, orangnya mendadak tak kelihatan, kiranya dia telah merosot ke bawah meja dan tak mampu bangun lagi.</p>
<p>Si Kucing tertawa, cawan didorongnya serta berbangkit, tapi sebelum sirap suara tertawanya, ia pun ambruk telentang.</p>
<p>Auyang Hi bergelak, serunya, &#8220;Bagus &#8230;bagus! Bicara soal kungfu memang berbeda satu dengan yang lain, tapi soal kekuatan arak akulah yang paling jempol&#8230;&#8221;</p>
<p>Ia pegang cawan dengan langkah sempoyongan dan keluar pintu. Sesaat kemudian terdengar cangkir jatuh berantakan menyusul &#8220;bluk&#8221; yang keras, lalu suara Auyang Hi tak terdengar lagi.</p>
<p>Dengan terkesima Jit-jit mengawasi mereka satu per satu, namun sesaat kemudian mendadak si Kucing melompat bangun, katanya sambil mengawasi Cu Jit-jit, &#8220;Nah, bagaimana, bukankah sekarang aku dapat melepaskan diri dari mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, anggaplah kau memang lihai, tapi &#8230;tapi tak pantas kau mencekokinya sampai begini,&#8221; apa pun Jit-jit tetap membela Sim Long.</p>
<p>Si Kucing melenggong sejenak, katanya dengan menghela napas, &#8220;O, perempuan &#8230;sudah kubela dia, dia malah membela orang lain&#8230;&#8221;</p>
<p>Jit-jit angkat Sim Long ke atas ranjang dan menyelimutinya, habis itu baru dia ikut si Kucing melesat keluar pekarangan. Kedua orang sama memikirkan persoalannya sendiri, maka tiada yang buka suara.</p>
<p>Setiba di luar tembok rumah itu baru Jit-jit menoleh dan berkata, &#8220;Malam ini Sim Long tidak akan memberi petunjuk dan perlindungan lagi, maka kita harus lebih hati-hati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmk!&#8221; si Kucing hanya mendengus saja.</p>
<p>Jit-jit tertawa, &#8220;Kau minum arak sebanyak itu dan tidak mabuk, jangan-jangan kau mabuk minum cuka (cemburu).&#8221;</p>
<p>Dengan enteng mereka melompati tembok, keadaan gelap gulita sekelilingnya sepi seperti tiada penjagaan, ronda malam juga tidak kelihatan. Mereka maju terus tanpa rintangan.</p>
<p>Entah berapa lama mereka sudah memasuki pekarangan besar ini, waktu diteliti agaknya mereka sudah berada di taman belakang, pemandangan sekelilingnya memang mirip seperti &#8220;sarang iblis&#8221; yang pernah dilihat Cu Jit-jit dulu.</p>
<p>Hutan cemara, hutan bambu, gardu pemandangan, loteng bersusun, gunung-gunungan dan empang&#8230;</p>
<p>Jalan kecil berkerikil sudah bertabur salju, empang teratai yang sudah membeku. Makin pandang makin mirip, namun makin dipandang hatinya juga semakin tegang, meski di musim dingin telapak tangan dan jidatnya ternyata berkeringat.</p>
<p>Mendadak si Kucing bergelak tertawa, &#8220;Haha, arak bagus, arak bagus, lagi sepoci&#8230;&#8221;</p>
<p>Saking kaget jantung Cu Jit-jit seperti mau melompat keluar dari rongga dadanya, cepat dia membalik dan menarik si Kucing terus diajak menggelinding ke tempat gelap.</p>
<p>Ditunggu sesaat lamanya, keadaan tetap sunyi senyap, gelak tawa si Kucing ternyata tidak mengejutkan penjaga atau ronda malam di taman ini.</p>
<p>Jit-jit merasa lega, ia tarik lengan baju si Kucing dan mengomel, &#8220;Sudah gila kau?&#8221;</p>
<p>Si Kucing menyengir, &#8220;Sudah gila, ya sudah gila, lebih baik minum arak&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Celaka, kau &#8230;kau mabuk?&#8221;</p>
<p>Mendadak si Kucing menarik muka, &#8220;Siapa mabuk, aku hanya ingin coba apakah di sini ada orang atau tidak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Caramu mencoba ini apakah tidak akan membikin jiwa melayang?&#8221; omel Jit-jit.</p>
<p>Mendadak si Kucing berkata keras pula, &#8220;Baiklah, jika kau minta jangan kucoba, aku pun tidak akan mencoba.&#8221;</p>
<p>Tubuh Jit-jit berkeringat dingin, lekas dia memberi tanda dan mendesis, &#8220;Sssst, jangan bicara.&#8221;</p>
<p>Mendadak si Kucing juga mendekap mulut dan berkata, &#8220;Sssst, jangan bicara.&#8221;</p>
<p>Khawatir dan gusar, serbasalah pula Jit-jit, ia tak tahu apa yang harus dilakukan lagi, sekarang baru dia tahu, tadi si Kucing memang pura-pura mabuk, tapi setelah badan kena angin malam, arak dalam perut berontak hingga betul-betul jadi mabuk. Kalau tadi betul-betul mabuk masih mending, di tempat seperti ini dia baru mabuk, keruan Jit-jit gugup setengah mati.</p>
<p>Tak terduga mendadak si Kucing berdiri, dengan hati-hati dia menuju ke sana, gerak-geriknya kelihatan lincah dan cekatan, Jit-jit tak berhasil menariknya, terpaksa dia ikuti saja langkah orang.</p>
<p>Setelah sekian jauhnya, langkah si Kucing betul-betul seringan kucing merunduk tikus, enteng tak mengeluarkan suara, lega hati Cu Jit-jit, pikirnya, &#8220;Semoga dia tidak mabuk, kalau tidak&#8230;&#8221;</p>
<p>Baru melamun, mendadak si Kucing berlari ke arah sepucuk pohon cemara, kaki tangan bekerja sekaligus, beruntun dia memukul dan menendang pohon itu sambil berteriak-teriak, &#8220;Bagus, kau bilang aku mabuk, kuhajar kau &#8230;kuhajar kau sampai mampus.&#8221;</p>
<p>Di samping kaget, dongkol juga Jit-jit, segera dia memburu maju dan menekan tubuh si Kucing pada batang pohon itu. &#8220;Plak-plok&#8221;, belasan kali dia gampar mukanya.</p>
<p>Si Kucing tidak meronta, juga tidak melawan, dia malah menyengir lucu.</p>
<p>Dengan gemas Jit-jit memaki, &#8220;Kucing goblok, kucing mabuk, akulah yang akan menghajarmu sampai mampus!&#8221;</p>
<p>Kucing meratap, &#8220;Nona yang baik, jangan menghajarku sampai mampus, cukup setengah mati saja.&#8221;</p>
<p>Walau gusar, Jit-jit merasa geli pula, namun saat itu dia sadar bahaya selalu mengelilinginya, yang menemani dirinya justru kucing mabuk, dia bisa tertawa.</p>
<p>Keadaan taman tetap sunyi senyap dan tak kelihatan orang mengejar.</p>
<p>Dengan menahan suara Jit-jit berkata dengan geregetan, &#8220;Kucing mabuk, dengarkan, sekali lagi kau bikin ribut, segera kututuk hiat-tomu dan kubuang ke semak-semak, biar badanmu dicincang orang, kau tahu tidak?&#8221;</p>
<p>Si Kucing manggut-manggut, &#8220;Ya, aku tahu, aku tahu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih berani kau bikin ribut?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, tidak berani lagi.&#8221;</p>
<p>Lega hati Jit-jit, katanya, &#8220;Baik, ikuti aku dan jangan berisik, berani bersuara sedikit saja segera kucabut nyawamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, ikuti kau perlahan, asal mengeluarkan suara, kau akan merenggut nyawaku.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Jit-jit membatin, &#8220;Walau dia mabuk, pikirannya ternyata masih jernih. Agaknya nasibku masih mujur, tadi dia ribut sekeras itu, ternyata tidak mengejutkan orang.&#8221;</p>
<p>Maka kedua orang lantas maju lebih lanjut.</p>
<p>Si Kucing sudah mabuk hingga mengoceh tak keruan, seorang lagi gadis yang hijau dan cetek pengalaman, betapa keras keributan yang dilakukan si Kucing tadi, umpama orang mati pun akan terkejut bangun. Apalagi orang di sini pasti tidak mati.</p>
<p>Tapi keadaan tetap sunyi, dalam hal ini pasti ada sebab musababnya, namun bukan saja Jit-jit tidak pikirkan hal ini, dia malah merasa senang dan menganggap dirinya bernasib mujur.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Dugaan Cu Jit-jit memang tidak salah, &#8220;sarang pelacur&#8221; ini memang betul adalah sarang iblis yang tempo hari pernah membuat dirinya ketakutan setengah mati itu. Maju beberapa langkah lagi lantas terlihat loteng kecil itu.</p>
<p>Walau keadaan sekelilingnya gelap gulita, namun sudah terbayang olehnya akan wajah si nyonya setengah baya yang cantik dan berdandan seperti permaisuri itu tengah berdiri di langkan dan melambaikan tangan kepadanya.</p>
<p>Rasa ngeri seketika menjalari benaknya, cepat dia tarik si Kucing terus menyelinap ke belakang sepucuk pohon.</p>
<p>&#8220;Ken&#8230;&#8221; baru si Kucing bersuara, mulutnya lantas didekap Cu Jit-jit. Tangan Jit-jit yang lain menuding loteng kecil itu, katanya, &#8220;Di &#8230;di sana itulah.&#8221;</p>
<p>Si Kucing bersuara dalam kerongkongan sambil manggut-manggut.</p>
<p>Jit-jit berbisik pula, &#8220;Setiba di sini, jangan bersuara apa pun, perempuan yang tinggal di atas loteng itu lebih menakutkan daripada setan, bila mengeluarkan suara dan didengar olehnya, jang &#8230;jangan harap bisa pulang, tahu tidak?&#8221;</p>
<p>Si Kucing manggut-manggut, selanjutnya bernapas pun dia tak berani terlalu keras.</p>
<p>Jit-jit segera lepaskan dekapan atas mulut orang, katanya perlahan, &#8220;Walau kita sudah temukan tempat ini, tapi aku tidak tahu bagaimana baiknya? Perlukah kita memeriksanya ke atas? Atau pulang dulu mengajak Sim Long kemari?&#8221;</p>
<p>Dengan berbisik si Kucing berkata, &#8220;Kita periksa lebih dulu.&#8221;</p>
<p>Jit-jit menghela napas, katanya, &#8220;Diperiksa dulu juga boleh, tapi tak dapat kau bayangkan betapa menakutkan perempuan di atas loteng itu, apalagi kau sedang mabuk&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak jadi soal,&#8221; kata si Kucing tegas. Belum lenyap suaranya dia lantas melompat jauh ke depan, meluncur secepat anak panah.</p>
<p>Jit-jit tak berhasil meraihnya, ingin berteriak tidak berani, saking khawatir berubah air mukanya, sebetulnya dia ingin menyusul, sayang kedua kaki terasa lemas.</p>
<p>Dilihatnya si Kucing berlari langsung ke arah loteng, di mana kakinya melayang, dia depak daun pintu bagian bawah, menerjang masuk dengan langkah tegap seperti masuk rumahnya sendiri.</p>
<p>Tendangan si Kucing itu rasanya seperti menendang hulu hati Cu Jit-jit, seketika kepala pusing, jantung pun serasa berhenti berdenyut. Dia ambruk di tanah, kaki-tangan terasa dingin dan basah keringat, ia bersuara perlahan, &#8220;Wah, celaka &#8230;habis&#8230;&#8221;</p>
<p>Dia yakin setelah si Kucing menerjang masuk ke sana, jiwanya pasti amblas dan takkan keluar lagi dengan hidup, sebetulnya timbul niatnya akan ikut menerjang masuk sebagai tanda setia kawannya, sayang, kakinya terasa lemas dan tak mampu berdiri.</p>
<p>Dia membatin sambil mengertak gigi, &#8220;Salahmu sendiri minum sebanyak itu hingga mabuk, kau &#8230;kau mampus juga pantas, buat apa aku kasihan&#8230;&#8221;</p>
<p>Walau demikian pikirannya, tapi entah kenapa, air mata lantas bercucuran.</p>
<p>Didengarnya si Kucing lagi mengamuk di dalam loteng, teriaknya, &#8220;Perempuan setan, iblis perempuan, ayo keluar, kalau berani ayolah berhantam dengan pendekar besar ini, coba kau yang mampus atau aku yang hidup, memangnya kau kira si Kucing takut padamu?&#8221;</p>
<p>Menyusul terdengar suara &#8220;blang-blung&#8221; yang ramai disertai caci maki si Kucing, agaknya telah terjadi baku hantam yang seru di dalam loteng.</p>
<p>Kalau betul terjadi pertarungan sengit, meski kepandaian si Kucing amat tinggi, apa pun dia bukan tandingan si perempuan setengah baya yang menghuni loteng kecil itu, apalagi saat itu si Kucing lagi mabuk.</p>
<p>Jit-jit tak tahan membendung air matanya, sambil menangis terisak dia berkata sendiri, &#8220;Peduli kau mabuk atau tidak, kalau bukan lantaran aku, tentu kau &#8230;kau tidak akan mabuk dan takkan berada di sini&#8230;Akulah yang membuatmu celaka &#8230;aku yang membuatmu celaka, tapi aku malah duduk saja di sini, tak menyertai kau mengadu jiwa &#8230;aku memang patut mampus &#8230;pantas mati&#8230;&#8221;</p>
<p>Tangan diangkatnya, mendadak dia gigit lengan sendiri, begitu jengkelnya hingga lengannya digigitnya sampai berdarah.</p>
<p>Sementara itu tak terdengar lagi suara si Kucing di dalam loteng. Suasana menjadi sepi, keadaan sunyi yang aneh dan mencekam lebih mengerikan dari kegaduhan, dengan khawatir Cu Jit-jit angkat kepalanya, air mata masih berkaca-kaca di pelupuk matanya, ia pandang ke sana dengan bingung.</p>
<p>Di tengah kesunyian yang mencekam perasaan ini, loteng kecil itu tetap menegak di tengah kegelapan, tiada suara, tak terlihat sinar lampu, apalagi bayangan manusia&#8230;</p>
<p>Di samping khawatir dia juga heran, batinnya, &#8220;Apakah yang terjadi&#8230;Mengapa jadi begini&#8230;Mungkinkah dia &#8230;dia menemui ajalnya? Tapi umpama dia gugur, sedikitnya terdengar jeritannya.&#8221;</p>
<p>Loteng kecil yang tak bernyawa itu dalam pandangan Jit-jit sekarang berubah seperti iblis jahat. Pintu yang terpentang oleh tendangan si Kucing tadi seperti mulut iblis raksasa yang ternganga menunggu mangsanya, seperti juga menantang dan mencemoohkan Cu Jit-jit, &#8220;Apa kau berani masuk?&#8221;</p>
<p>Bergidik Jit-jit. Tubuhnya memang sudah basah oleh salju, kini celananya juga basah dan kotor, namun dia seperti tidak menyadari, matanya tetap mengawasi bangunan loteng itu, persoalan lain seperti tak dipedulikan lagi. Daun pintu yang terpentang bergerak-gerak tertiup angin, seperti lagi mengejek Cu Jit-jit, juga seperti sedang menantang.</p>
<p>Dengan mengertak gigi Jit-jit meronta berdiri, diam-diam ia maki dirinya sendiri, &#8220;Kenapa aku jadi penakut, mati saja tak takut, apa yang harus kutakuti?&#8221;</p>
<p>Ia tidak menyadari &#8220;rasa takut&#8221; adalah titik lemah manusia, kelemahan yang sudah dibawa sejak lahir, kecuali orangnya mati, pingsan atau mati rasa, kalau normal, siapa pun pasti punya rasa takut.</p>
<p>Meski tak kuasa menghentikan rasa takutnya, namun akhirnya Jit-jit berdiri. Walau dia seorang gadis, tidak punya jiwa keperwiraan, namun wataknya suka menang dan keras kepala, dia juga memiliki hati yang bajik, dia sudah bersumpah demi kesejahteraan umat persilatan, dia harus membongkar rahasia ini, rahasia yang menakutkan ini.</p>
<p>Setindak demi setindak dia melangkah ke arah loteng. Pintu masih terbuka lebar. Tapi keadaan di dalam pintu lebih gelap daripada di luar, dengan ketajaman matanya tetap sukar melihat keadaan di dalam rumah.</p>
<p>Jantungnya seperti hendak melompat keluar, rasa takut makin menjadi. Tapi sambil mengertak gigi dia tetap melangkah masuk, tidak menoleh dan tidak berhenti.</p>
<p>Dari tempat dia jatuh terduduk tadi ke pintu loteng jaraknya tidak jauh, namun jarak sedekat ini terasa betapa jauh dan lama perjalanan ini.</p>
<p>Akhirnya dia berada di pintu, untuk sampai ke situ rasanya dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, kalau saat itu ada orang menerjang keluar dari balik pintu, sekali tonjok pasti dapat membunuhnya.</p>
<p>&#8220;Blang&#8221;, mendadak daun pintu tertutup. Hampir saja Jit-jit menjerit. Padahal angin yang bikin gara-gara.</p>
<p>Jit-jit menggigit bibir, tangan kiri meraba dada tangan kanan mendorong daun pintu Perlahan daun pintu terbuka, di dalam tiada orang, juga tak ada reaksi apa-apa.</p>
<p>Dengan menabahkan hati dia melangkah masuk. Meski masih ngeri, namun kaki-tangannya kini sudah penuh tenaga, sekujur badan bersiap siaga, setiap saat dia siap tempur menghadapi sergapan.</p>
<p>Namun setelah beranjak beberapa langkah, ternyata tiada kejadian apa pun yang dialaminya. Saking gelap kelima jari tangan sendiri pun tak terlihat, tiada suara apa pula, hening lelap, kecuali detak jantung sendiri.</p>
<p>Keadaan ini membuat Jit-jit jadi bingung dan heran, kesunyian yang ganjil ini malah membuatnya terkejut, sukar untuk dimengerti sebenarnya apa yang terjadi? Perangkap apa yang terpasang di loteng kecil ini? Muslihat apa pula yang direncanakan musuh? Ke manakah si Kucing? Mati atau hidup? Kenapa penghuni loteng ini tidak segera menyergap dirinya? Apa pula yang mereka tunggu?</p>
<p>Urusan sudah telanjur sejauh ini, terpaksa Jit-jit mengeraskan kepala dan melangkah maju lebih lanjut. Dia tahu setelah berada di dalam rumah ingin mundur juga kepalang tanggung, peduli ada perangkap atau muslihat apa, biarlah pasrah nasib.</p>
<p>Selangkah demi selangkah ia maju terus, telapak tangan sudah basah keringat dingin, keadaan sekarang boleh diibaratkan seorang buta menunggang kuda lamur dan tengah malam berada di tepi jurang.</p>
<p>Secara membabi buta dia terjang ke depan, setiap saat bukan mustahil dia akan jatuh ke dalam perangkap dan mengalami bahaya, kecuali nona bandel ini mungkin tak ada yang berani.</p>
<p>Tiba-tiba kakinya terasa menginjak sesuatu yang empuk, rasanya seperti kaki orang, waktu tubuhnya tersungkur ke depan, kembali ia membentur sesuatu yang lunak. Benda itu bukan saja basah juga lunak, terendus pula bau khas orang yang kasar, itulah bau arak dan bau keringat, bercampur dengan bau sepatu yang bacin.</p>
<p>Saking kaget Jit-jit melompat mundur, bentaknya, &#8220;Siapa?&#8221;</p>
<p>Keadaan tetap hening, tiada reaksi apa-apa, tapi mendadak berkumandang gelak tertawa orang.</p>
<p>Dengan suara serak Jit-jit berteriak, &#8220;Siapa kau sebenarnya? Kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara, sinar lampu mendadak menyala di empat penjuru hingga keadaan ruangan itu terang benderang.</p>
<p>Sudah sekian lama dalam kegelapan, mendadak melihat sinar lampu, tentu mata Jit-jit terasa silau, cepat ia pejamkan mata sambil menyurut mundur.</p>
<p>Mendadak punggungnya menumbuk benda lunak pula, seperti badan laki-laki, saking kaget dia menerjang maju lagi. Tak tersangka sepasang tangan segera menangkap pundaknya.</p>
<p>Dia ingin meronta, namun didengarnya seorang laki-laki bicara perlahan di sampingnya, &#8220;Berdiri yang tegak, jangan terjatuh.&#8221;</p>
<p>Suara yang sudah amat dikenalnya, seperti suara Sim Long. Saking kaget segera dia membuka mata.</p>
<p>Mendingan kalau dia tidak membuka mata, seketika dia terbelalak tertegun, mulut ternganga, sepatah kata pun tak mampu bicara.</p>
<p>Di bawah sinar lampu yang benderang, meja kursi di dalam rumah lengkap dan rapi, mana ada bekas orang bertarung sengit? Seorang berduduk menghadap pintu sambil tertawa lebar, siapa lagi kalau bukan Ong Ling-hoa.</p>
<p>Di tempat ini mendadak melihat Ong Ling-hoa, hal ini sudah cukup membuatnya kaget, ternyata seorang yang duduk di sebelah Ong Ling-hoa dengan tersenyum adalah Sim Long. Bahwa mendadak dia melihat Sim Long di sini masih bisa dimaklumi, tapi mimpi pun dia tidak percaya bahwa seorang lagi yang duduk santai di sebelah Sim Long ternyata bukan lain adalah si Kucing yang mabuk dan mengoceh tak keruan hingga membuatnya takut dan menangis tadi.</p>
<p>Melihat ketiga orang ini sekaligus berkumpul di sini, meski cukup mengejutkan, tapi yang lebih mengejutkan lagi setelah dia melihat seorang lain yang duduk di sebelah si Kucing.</p>
<p>Tulang pipi orang ini menonjol, sorot matanya tajam berkilat, mulutnya lebar, dia inilah Thi Hoat-ho yang sudah sekian lamanya hilang tak keruan parannya itu.</p>
<p>Keempat orang ini sekaligus berada di sini, padahal semula keempat orang ini adalah lawan dan bukan kawan, tapi sekarang mereka duduk bersama di sini, mengawasi dirinya dengan senyum geli, satu sama lain seperti tiada permusuhan.</p>
<p>Sebetulnya apa yang terjadi Jit-jit tidak habis mengerti.</p>
<p>Tiba-tiba keempat orang itu berdiri. Ong Ling-hoa bersuara lebih dulu sambil menjura, &#8220;Kagum, sungguh kagum, keberanian Nona Cu memang mengejutkan, sungguh jantannya kaum wanita, Cayhe betul-betul kagum lahir batin.&#8221;</p>
<p>Thi Hoat-ho juga menjura, katanya dengan tertawa, &#8220;Demi keselamatan kami, Nona tak segan menempuh bahaya dan berusaha membongkar peristiwa ini, entah betapa derita yang kau alami, sungguh Cayhe sangat berterima kasih, seumur hidup takkan kulupakan.&#8221;</p>
<p>Dengan tersenyum Sim Long juga berkata, &#8220;Setelah mengalami peristiwa ini, baik pengalaman maupun keberanianmu telah bertambah tidak sedikit, bila kau mengalami derita juga setimpal.&#8221;</p>
<p>Si Kucing juga tertawa, katanya, &#8220;Kalian bilang dia belum tentu berani menerobos kemari, tapi aku justru bilang dia pasti berani, aku&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Cu Jit-jit berjingkrak, bentaknya, &#8220;Tutup mulut, tutup mulut semua.&#8221; Dia menubruk ke depan Sim Long dan menjambret leher bajunya, teriaknya, &#8220;Sebetulnya apa yang terjadi? Lekas katakan, katakan! Aku hampir gila!&#8221;</p>
<p>Si Kucing maju mendekat dan membujuk, &#8220;Nona, bicaralah baik-baik, kenapa&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Plak&#8221;, belum habis dia bicara mendadak mukanya digampar oleh Jit-jit. Seketika si Kucing melenggong di tempatnya, tangan mendekap pipi yang pedas dan sakit, tak tahu apa yang harus diucapkan lagi.</p>
<p>Jit-jit menghadapinya sambil bertolak pinggang, serunya, &#8220;Bicara baik-baik, bicara kentut. Ayo jawab, bukankah kau mabuk, kenapa sekarang mendadak segar bugar, bukankah tadi kau pura-pura mabuk?&#8221;</p>
<p>Si Kucing menyengir, katanya, &#8220;Aku &#8230;aku&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Cu Jit-jit menjerit di dekat kuping orang, &#8220;Kau tipu aku, kenapa kau tipu aku?&#8221;</p>
<p>Hampir pecah genderang telinga si Kucing, dia melompat mundur, serunya tergegap, &#8220;Ini &#8230;ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Si Kucing biasanya pandai bicara, sekarang gelagapan, si Kucing sekarang hanya melirik Ong Ling-hoa dan mohon belas kasihan.</p>
<p>Ong Ling-hoa berdehem, katanya, &#8220;Urusan ini memang banyak liku-likunya, cuma&#8230;&#8221;</p>
<p>Sim Long menukas, &#8220;Cuma kami tiada bermaksud jahat terhadapmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak bermaksud jahat apa, masih berani kau bilang tak bermaksud jahat,&#8221; damprat Jit-jit. &#8220;Coba jawab pertanyaanku, kenapa dia menipuku? Kenapa kau pun menipu aku? Kalian laki-laki setan ini kenapa dusta padaku?&#8221;</p>
<p>Dia berteriak dengan suara setengah tersendat.</p>
<p>&#8220;Rahasia urusan ini mestinya hendak kami jelaskan kepadamu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Lantas kenapa tidak kalian jelaskan?&#8221; Jit-jit meraung.</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Kau bicara seperti ini, cara bagaimana kami dapat menjelaskan kepadamu.&#8221;</p>
<p>Jit-jit berjingkrak pula, serunya, &#8220;Seperti ini apa? Berani kau salahkan diriku, kalian menipuku, memangnya begitu masuk kemari aku harus berlutut dan minta maaf kepada kalian?&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, &#8220;Tapi Nona harus dengarkan dulu penjelasanku baru boleh marah lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, seharusnya begitu,&#8221; timbrung Sim Long, &#8220;Nah, duduklah, dengarkan penjelasan kami.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku justru tak mau duduk, kau mau apa?&#8221; bantah Jit-jit, dia mundur beberapa langkah dan menarik sebuah kursi, lalu duduk. Entah kenapa, setiap saran Sim Long, meski lahirnya dia membantah, tapi selalu diturutinya, perkataan Sim Long seperti mengandung tenaga gaib, terpaksa dia harus tunduk dan menurut.</p>
<p>Sim Long menghela napas lega, katanya, &#8220;Baiklah. Urusan ini amat panjang untuk diceritakan, silakan Ong-heng saja yang bicara dari permulaan.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa juga menghela napas lega, tuturnya, &#8220;Soal ini memang ruwet dan berliku-liku, aku sendiri bingung, entah harus mulai dari mana?&#8221;</p>
<p>Hampir saja Jit-jit berjingkrak pula, teriaknya, &#8220;Kalau tidak tahu mulai bicara dari mana, apa tak jadi bercerita?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, sudah tentu harus kuceritakan, tapi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi apa?&#8221; mendelik Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Karena tidak tahu caranya mulai bicara, maka lebih baik Nona saja yang mengajukan pertanyaan, apa saja boleh tanya dan pasti kujawab tanpa rahasia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, biar aku tanya,&#8221; ujar Jit-jit, namun dia lantas melenggong, kejadian yang dialami memang berbelit-belit dan sukar dimengerti, hakikatnya dia sendiri juga bingung soal apa yang perlu diungkap lebih dulu. Ia menunduk, lalu angkat kepala pula, benaknya bekerja, biji matanya berputar, mendadak dilihatnya di atas dinding depan tergantung sebuah lukisan raksasa.</p>
<p>Entah sebab apa, sorot matanya segera tertarik pada lukisan besar itu hingga gejolak perasaannya seketika terhenti.</p>
<p>Itulah sebuah lukisan cat air, melukiskan keadaan tengah malam.</p>
<p>Di bawah cahaya rembulan yang sunyi sebuah jalan kecil yang berliku-liku menjurus dari pojok kiri bawah terus menuju ke tengah lukisan dan lenyap di balik keremangan malam, seperti ingin melukiskan perasaan &#8220;tak tahu datang dari mana dan tak tahu pergi ke mana&#8221;.</p>
<p>Kedua tepi jalan kecil itu dipagari tebing curam, pepohonan tumbuh subur memenuhi lereng gunung, bagian bawah adalah tanah dan batu padas berwarna cokelat kelabu. Di belakang batu padas, sebelah kanan menjorok keluar pagar tembok warna merah, di atas tembok kelihatan payon rumah yang bentuknya seperti kuil kuno dan perkampungan misterius di pegunungan sunyi.</p>
<p>Di balik tebing kanan menongol setengah badan bayangan orang, rambutnya hitam panjang, bola matanya jeli bening, itulah lukisan seorang gadis rupawan, seperti sedang sembunyi, tapi juga seperti sedang mengintip.</p>
<p>Di bawah payon juga ada seorang perempuan, sama cantiknya, masih muda pula, tubuhnya setengah berputar, seperti hendak melangkah keluar, juga seperti mau masuk ke dalam.</p>
<p>Perempuan ketiga berdiri di jalan berliku itu, kepalanya miring hingga cuma sebagian wajahnya saja kelihatan, seperti ingin menoleh dengan lirikannya, seperti juga hendak menghindari tatapan perempuan di bawah payon itu.</p>
<p>Tiga perempuan dalam lukisan sama-sama cantik jelita, namun alis lentik mereka tampak terkerut seperti dirundung persoalan yang merisaukan hati mereka, seperti duka, tapi juga mirip dendam. Seperti lagi menghindar tapi juga seperti menantikan.</p>
<p>Apakah yang mereka nantikan? Kedatangan siapa yang mereka harapkan? Atau menantikan sesuatu yang bakal terjadi?</p>
<p>Meski sebuah lukisan mati, namun apa yang terlukis itu justru serupa hidup.</p>
<p>Tiga perempuan yang terlukis dalam gambar itu menampilkan watak masing-masing yang menonjol, setiap orang seperti siap melakukan sesuatu atau sedang melakukan sesuatu yang khas.</p>
<p>Orang yang melihat lukisan ini memang tak tahu apa yang hendak dilakukan ketiga perempuan itu, namun bila menatap lukisan ini sekian lamanya, dari relung hati akan timbul semacam perasaan ngeri, seolah-olah apa yang akan dilakukan mereka adalah peristiwa yang membuat orang bergidik.</p>
<p>Diterangi cahaya rembulan yang remang-remang sehingga lukisan itu bertambah gaib dan misterius, seperti ada sesuatu yang akan terjadi, namun belum terjadi.</p>
<p>Lukisan yang sederhana dengan goresan biasa, namun hidup dan indah, sekaligus menggambarkan berbagai makna dan perasaan yang berbeda-beda. Jelas membuktikan pelukis ini punya perasaan yang kuat yang tertuang ke dalam lukisannya ini, keadaan lukisan ini seolah-olah menggambarkan pengalaman hidupnya sendiri.</p>
<p>Hanya pengalaman nyata saja dapat melimpahkan perasaan yang kuat dan menonjol, dan perasaan yang paling kuat dalam hati manusia adalah cinta dan benci.</p>
<p>Tapi yang menarik perhatian Cu Jit-jit sekarang bukan perasaan cinta dan benci yang meliputi lukisan itu melainkan tokoh dalam lukisan. Kini dia sedang menatap perempuan yang berdiri di tengah jalan dalam lukisan itu, sorot matanya menampilkan rasa kaget dan takut.</p>
<p>Walau hanya kelihatan sebagian wajahnya, namun Jit-jit segera dapat mengenali perempuan dalam gambar itu bukan lain adalah perempuan setengah baya yang cantik tapi berhati keji di atas loteng itu.</p>
<p>Akhirnya Jit-jit berkata, &#8220;Baik, aku ingin tanya, siapakah orang ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Guruku&#8230;&#8221; jawab Ong Ling-hoa.</p>
<p>&#8220;Bohong,&#8221; bentak Jit-jit, &#8220;jelas kudengar kau panggil ibu padanya.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, katanya, &#8220;Karena guruku teramat sayang kepada anaknya, sejak kecil anaknya hilang tak keruan parannya, maka aku dipungut menjadi muridnya, beliau anggap aku sebagai putra sendiri, dengan sendirinya aku memanggilnya ibu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo,&#8221; Jit-jit bersuara dalam mulut, agaknya dia menerima penjelasan ini, tapi kejap lain dia bertanya pula dengan suara bengis, &#8220;Kalau begitu jadi kau mengakui aku pernah melihatnya di sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak salah,&#8221; sahut Ong Ling-hoa dengan tertawa sambil mengangguk.</p>
<p>&#8220;Jadi Can Ing-siong, Pui Jian-li, dan lain-lain juga betul digusur kemari dan disekap dalam penjara bawah tanah. Kau pun pernah mengurung aku dalam kamar di bawah loteng ini, kau bebaskan aku, dan aku pun betul-betul lari keluar dari toko peti mati itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, betul,&#8221; sahut Ong Ling-hoa tertawa.</p>
<p>Makin beringas sikap Jit-jit, pertanyaannya pun makin mendesak, namun semua diakui oleh Ong Ling-hoa, malah sikapnya tenang, wajahnya selalu mengulum senyum.</p>
<p>Tak tahan Jit-jit berjingkrak pula, serunya gusar, &#8220;Bagus! Sekarang kau baru mengaku terus terang, kenapa waktu itu kau mungkir, celakanya orang sama anggap aku ini membual, mengira aku ini orang gila.&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa Ong Ling-hoa menjelaskannya, &#8220;Soalnya waktu itu aku belum tahu Sim-heng kawan atau lawan? Sudah tentu aku menyangkal segala tuduhanmu, tapi sekarang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang kenapa, memangnya sekarang Sim Long sudah sehaluan dengan kau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sekarang kutahu, Sim Long dan Cayhe sehaluan menghadapi satu musuh yang sama, maka terhadap persoalan apa pun sekarang tidak perlu kututupi lagi.&#8221;</p>
<p>Bergetar badan Cu Jit-jit, saking kaget dia menjublek.</p>
<p>Dengan mata kepala sendiri Jit-jit saksikan Ong Ling-hoa bersama ibunya melakukan berbagai perbuatan aneh dan rahasia, setiap urusan pasti mencelakai jiwa orang, malah menyangkut keamanan kaum persilatan umumnya, sungguh dia tidak percaya Sim Long mau berdiri di pihak mereka, mimpi pun dia tidak percaya Sim Long yang berjiwa pendekar sudi melakukan hal demikian.</p>
<p>Maka dia lantas berteriak, &#8220;Sim Long, lekas katakan, betulkah apa yang dikatakan?&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, sahutnya perlahan, &#8220;Apa yang diuraikan Ong-heng memang betul.&#8221;</p>
<p>Jit-jit terkesiap pula, teriaknya serak, &#8220;Aku tidak percaya &#8230;aku tidak percaya!&#8221;</p>
<p>Segera dia memburu ke depan Sim Long, dengan air mata berlinang dia berkata, &#8220;Aku tak percaya kau sekomplotan dengan mereka, aku tak percaya kau ikut dalam komplotan mereka yang kotor dan jahat.&#8221;</p>
<p>Sim Long menggeleng kepala, katanya sambil menghela napas, &#8220;Kau keliru&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bluk&#8221;, Jit-jit jatuh terduduk di lantai, dengan mendongak dia mengawasi Sim Long, sorot matanya menunjukkan rasa kaget dan gusar, curiga, tapi juga berduka, ratapnya, &#8220;Masa &#8230;masa kau pun serendah itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau lebih keliru lagi,&#8221; ucap Sim Long.</p>
<p>Dengan tangan memukul lantai Jit-jit meratap terlebih keras, &#8220;Sebetulnya apakah yang terjadi? Apa yang terjadi? Aku tidak tahu &#8230;aku tidak paham &#8230;aku semakin bingung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Biar kujelaskan,&#8221; ucap Sim Long, &#8220;terhadap segala persoalan, jangan dinilai dari luarnya saja, padahal penilaianmu hanya dari luar persoalan ini, maka bukan saja tidak paham, kau pun salah paham.&#8221;</p>
<p>Rambut Jit-jit semrawut, wajahnya basah air mata, &#8220;Salah paham&#8230;&#8221; serunya sambil mendongak.</p>
<p>&#8220;Betul, salah paham,&#8221; sahut Sim Long, &#8220;Ong-kongcu juga bukan iblis jahat seperti apa yang kau bayangkan, demikian pula sepak terjang Ong-lohujin juga tidak seperti yang apa kalian sangka&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kejadian itu semua kusaksikan sendiri,&#8221; tukas Jit-jit sengit.</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Apa yang kau saksikan memang betul. Thi-tayhiap, Pui-tayhiap, dan Can-piauthau serta yang lain memang ditolong keluar dari makam kuno itu oleh Ong-lohujin. Sebelumnya beliau sudah menyusup ke dalam kuburan itu, pada waktu kau dan aku bermain petak dengan Kim Put-hoan dan Ji Yok-gi, sementara itu dia orang tua sudah menolong Can-piauthau dan lain-lain keluar dari situ dan menyuruh orang membawanya kemari, tujuannya boleh dikatakan baik dan tak bermaksud jahat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau tidak bermaksud jahat, kenapa tingkah lakunya serbamisterius, malah membius kesadaran mereka, lalu menyuruh gadis-gadis berbaju putih itu menggiringnya kemari? Jika betul dia berjiwa pendekar, setelah berhasil ditolong keluar, sepantasnya segera dibebaskan dan suruh mereka pulang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Soalnya Ong-lohujin tahu yang menjadi biang keladi intrik jahat ini adalah seorang iblis laknat yang amat kejam, baik kungfu maupun akal muslihatnya tak mampu dilawan oleh Can-piauthau dan lain-lain, bila waktu itu juga mereka dibebaskan, orang-orang itu bukan mustahil akan jatuh lagi ke tangan iblis laknat itu, betul tidak?&#8221;</p>
<p>Jit-jit mendengus tanpa menjawab.</p>
<p>Lebih lanjut Sim Long berkata, &#8220;Menolong orang harus sampai tuntas, terpaksa beliau menahan mereka sementara di sini, melindungi jiwa mereka, hanya di tempat ini saja mereka akan selamat dari gangguan tangan jahat musuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Umpama betul demikian, tidak pantas dia menggiring mereka ke sini seperti hewan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau dia pakai cara biasa mengantar mereka kemari, dalam jarak seratus li pasti konangan orang, jika iblis laknat itu mencegat di tengah jalan, bukankah usahanya akan sia-sia belaka?&#8221;</p>
<p>Lama Jit-jit mencerna penjelasan Sim Long, akhirnya dia mendengus lagi sebagai jawaban, namun masih uring-uringan.</p>
<p>&#8220;Apalagi keadaan waktu itu amat mendesak, hakikatnya Ong-lohujin tidak sempat memberi penjelasan seluk-beluk persoalan ini, umpama dijelaskan juga belum tentu mereka mau mendengar nasihatnya, demi keselamatan mereka di sepanjang perjalanan, juga untuk memburu waktu, terpaksa digunakan cara luar biasa dan menggiring mereka ke sini. Hal ini harus dimaklumi karena keadaan yang cukup gawat itu, lawan yang harus dihadapi juga luar biasa, maka beliau menggunakan cara yang luar biasa pula&#8230;Justru karena caranya yang luar biasa itulah sehingga menimbulkan salah paham.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi &#8230;tapi &#8230;aku ikut kemari, kenapa dia memperlakukan diriku begitu rupa?&#8221; omel Jit-jit.</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Waktu itu beliau tidak tahu siapa kau? Kan pantas kau dicurigai sebagai kaki tangan iblis laknat itu? Adalah logis kalau beliau bersikap demikian kepadamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi &#8230;tapi&#8230;&#8221; tapi bagaimana Cu Jit-jit tidak dapat menjelaskan. Walau dirasakan penjelasan Sim Long agak dipaksakan, namun kedengarannya juga masuk akal, hingga sukar menemukan lubang kelemahan penjelasannya itu.</p>
<p>Agak lama kemudian baru dia berkata pula, &#8220;Kau tahu sejelas ini, cara &#8230;cara bagaimana kau bisa tahu sejelas ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu Ong-heng yang menjelaskan persoalan ini kepadaku,&#8221; sahut Sim Long.</p>
<p>&#8220;Dia yang menjelaskan kepadamu? Mana mungkin dia memberitahukan kepadamu? Kenapa tidak dijelaskannya kepadaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, ini&#8230;&#8221; Sim Long jadi gelagapan.</p>
<p>Ong Ling-hoa segera menyambung, &#8220;Soalnya hingga malam kemarin baru terpaksa kuberi penjelasan kepada Sim-heng.&#8221;</p>
<p>&#8220;Malam kemarin?&#8221; teriak Jit-jit, &#8220;kenapa baru malam kemarin terpaksa kau jelaskan kepadanya?&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, &#8220;Karena banyak persoalan meski dapat kukelabui Nona, tapi tak bisa mengelabui Sim-heng, jadi daripada dikatakan kujelaskan kepada Sim-heng, lebih tepat adalah karena Sim-heng sendiri yang telah membongkar persoalannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak paham, aku tidak mengerti,&#8221; teriak Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Sejak Nona membawa Sim-heng ke toko peti mati itu, Sim-heng telah menemukan banyak kejadian ganjil, namun Nona sendiri malah tidak menyadarinya.&#8221;</p>
<p>Jit-jit menoleh ke arah Sim Long, katanya, &#8220;Keganjilan apa yang kau temukan, kenapa aku tidak melihatnya?&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Padahal kejadian itu amat mencolok, siapa pun asal sedikit memerhatikan pasti akan melihat keganjilannya, sayang saat itu hatimu gundah dan pikiran tidak tenang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya ada keganjilan apa? Lekas katakan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah kau lihat merek toko yang tergantung di atas pintu dan papan syair di kanan-kiri pintu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya aku buta, sudah tentu melihatnya, itulah papan merek yang dicat hitam yang sudah luntur, hurufnya berbunyi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tulisan apa tidak perlu dibaca.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dibaca atau tidak sama saja. Pendek kata, bukan saja aku melihat jelas, juga masih ingat betul, sudah kuperhatikan, papan merek itu tidak ada keganjilan apa-apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi apakah kau perhatikan papan syair panjang di kanan-kiri pintu itu? Papannya sudah lapuk, catnya juga sudah ngelotok, umurnya sedikitnya sudah hampir sepuluh tahun.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tokonya sudah tua, adalah jamak kalau papan mereknya juga sudah lapuk, apanya yang ganjil?&#8221;</p>
<p>&#8220;Anehnya, toko yang sudah tua, juga papan mereknya, demikian pula meja kursi dan alat perabot lain dalam toko juga serbalama, hanya meja kasir yang tinggi tertutup itulah kelihatan baru dipindah ke sana, bukan saja catnya belum kering, malah dibuat secara kasar, jika dibandingkan papan merek dan meja kursi dalam toko jelas amat mencolok perbedaannya.&#8221;</p>
<p>Jit-jit melengak, katanya, &#8220;Ya &#8230;hal ini tidak kuperhatikan, tapi&#8230;&#8221; ia merandek sejenak, lalu berteriak, &#8220;Tapi apa pula sangkut pautnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Di situlah letak persoalannya, kalau hari itu sudah kau lihat adanya meja kasir besar itu, kenapa meja kasir yang sekarang justru ditaruh di sana secara tergesa-gesa dan baru lagi?&#8221;</p>
<p>Jit-jit melenggong pula, katanya kemudian, &#8220;Iya &#8230;kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih ada, setiap toko peti mati mana pun, di dalam toko pasti ada bau khusus yang tidak ada di tempat lain, Ong-som-ki adalah toko tua, seharusnya bau khusus itu cukup tebal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, bau peti mati memang tidak enak rasanya, bau itu &#8230;bukan bau kayu melulu, tapi seram, bau apak seperti bau orang mati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu betul, tapi waktu aku berada di Ong-som-ki tempo hari, bau yang kurasakan tidak seperti bau orang mati, sebaliknya bau sejenis lilin wangi.&#8221;</p>
<p>Jit-jit menepuk paha, serunya, &#8220;Iya &#8230;dan kenapa begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih ada lagi, toko peti mana pun, yang selalu diperhatikan dan dihindari adalah api, sebab seluruh isi toko adalah bahan yang mudah terbakar.&#8221;</p>
<p>Jit-jit mendengarkan dengan terkesima, tanpa terasa ia hanya mengiakan saja.</p>
<p>&#8220;Tapi di toko Ong-som-ki hari itu, pekarangan di belakang yang membuat peti mati, kutemukan banyak permukaan dinding dan sudut tembok hitam hangus oleh asap api,&#8221; dengan tersenyum Sim Long meneruskan, &#8220;pada saat kalian tidak memerhatikan, perlahan aku meraba dinding, jari tanganku lantas hitam berminyak, dari sini terbukti bukan saja tempat itu sudah sering tersembur asap api, malah dalam beberapa hari ini juga masih disembur asap&#8230;&#8221;</p>
<p>Tak tahan Jit-jit bertanya, &#8220;Aku kurang paham penjelasanmu ini, coba uraikan terlebih jelas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tahu, untuk membuat hangus dinding putih diperlukan waktu yang cukup panjang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, waktu kecil pernah kucuri makanan dapur, dinding di dapur seluruhnya terbakar hangus, dinding dapur itu sedikitnya sudah puluhan tahun terkena asap.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, &#8220;Tapi waktu aku merabanya, hangus berminyak yang mengotori jari tanganku ternyata masih baru, ini membuktikan bahwa selama bertahun-tahun, tempat itu selalu disembur asap api&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, paham aku sekarang&#8230;&#8221; mendadak Jit-jit berkedip dan berkata pula, &#8220;Tapi aku juga tidak mengerti, apa pula sangkut pautnya dengan persoalan ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada dua hal penting menyangkut persoalan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang mampus, lekas katakan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertama, tempat pembuat peti mati pantasnya menyingkiri api dan asap, tapi dinding sekitar tempat pembuatan peti mati justru hangus oleh semburan asap, bukankah janggal?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, memang aneh &#8230;dan yang kedua?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kedua, setelah berani kupastikan tempat itu sering kena asap, namun tak kulihat di sana ada sepotong lilin pun, bukankah hal ini pun janggal?&#8221;</p>
<p>Jit-jit berpikir sekian lama, katanya, &#8220;Iya, kenapa begitu?&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, &#8220;Waktu itu dalam hatiku sudah mulai coba meraba hal ini, namun belum dapat dibuktikan, maka tak berani kupastikan, setelah keluar dari toko itu baru dapat kupastikan seluruhnya.&#8221;</p>
<p>Jit-jit heran, katanya, &#8220;Setelah keluar dari toko lantas kau yakin dugaanmu betul? Berdasar apa kau berani memastikan kebenaran dugaanmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kulihat sebelah toko peti mati itu adalah toko lilin dan hio serta pelengkap sembahyang.&#8221;</p>
<p>Jit-jit makin heran, &#8220;Toko lilin dibuka di sebelah toko peti mati, tiada bedanya pegadaian dibuka di sebelah rumah judi, kukira ini sangat umum, berdasarkan hal ini lantas kau yakin kebenaranmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku yakin beberapa hari yang lalu toko peti mati itu sebetulnya adalah toko lilin, toko lilin sebelah itu sebetulnya adalah toko peti mati, jadi dalam jangka waktu dua-tiga hari kedua toko itu telah saling tukar tempat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tukar tempat&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tukar tempat, di pekarangan belakang toko peti mati semula adalah tempat pembuatan lilin adalah logis kalau dindingnya menjadi hitam oleh hangus&#8230;&#8221; melihat Jit-jit masih bingung, maka Sim Long melanjutkan, &#8220;Karena mereka tukar tempat secara tergesa-gesa, segala benda apa pun yang bisa bergerak cepat dipindah, tapi meja kasir besar yang terpendam di lantai tak mungkin dipindah, maka toko peti mati itu harus membuat ruang kasir yang serupa dengan semula &#8230;meja kasir yang dibuat secara tergesa-gesa dengan sendirinya kasar dan jelek, betul tidak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, betul &#8230;betul!&#8221; dua kata &#8220;betul&#8221; yang diucap duluan sebenarnya masih dirundung rasa bingung, namun pada ucapan &#8220;betul&#8221; yang ketiga, mendadak Jit-jit melonjak bangun. Tampak wajahnya berseri girang dan haru, teriaknya, &#8220;Ya, aku tahu &#8230;aku paham&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, coba sekarang kau uraikan, apa saja yang kau ketahui?&#8221; tanya Sim Long.</p>
<p>&#8220;Toko peti mati yang semula ada lorong bawah tanah, namun toko lilin yang semula tidak ada, Ong Ling-hoa sudah memperhitungkan aku pasti akan kembali ke toko peti mati dan mencari lorong gelap itu, maka dia tukar tempat kedua toko itu, waktu aku datang lagi, sudah tentu tidak menemukan apa-apa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, akhirnya kau paham juga,&#8221; kata Sim Long.</p>
<p>&#8220;Bentuk bangunan deretan toko sepanjang jalan itu sama, jelas seluruhnya milik keluarga Ong Ling-hoa, kalau sang pemilik sendiri ingin pindah ke sana-sini, sudah tentu tinggal memberi perintah saja,&#8221; demikian kata Jit-jit pula.</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, &#8220;Tidak sederhana seperti apa yang kau kira, mereka juga bekerja berat.&#8221;</p>
<p>Jit-jit tidak menghiraukan ucapannya, katanya pula, &#8220;Kedua toko saling tukar tempat, penduduk sekitarnya dan para langganan sudah tentu merasa heran, tapi aku sendiri tidak paham seluk-beluk keadaan setempat, dengan sendirinya tidak memerhatikan hal-hal itu.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, &#8220;Justru di situlah kepintaran Ong-heng mengatur tipu dayanya, dia memperalat titik kelemahan sifat manusia, terhadap sesuatu yang mudah dan sering terlihat, biasanya orang tidak menaruh perhatian.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, katanya, &#8220;Akalku itu memang bagus, namun tak bisa mengelabui Sim-heng&#8230;Sungguh tak kuduga bahwa daya pengamatan Sim-heng teramat tajam, soal-soal sekecil itu pun tak lepas dari pengamatanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya hal-hal itu cukup mencolok mata, cuma orang lain tidak memerhatikan, kuyakin banyak rahasia di dunia ini sering terbongkar dari sesuatu yang terlihat jelas, karena itulah cara pengamatanku berbeda daripada orang lain.&#8221;</p>
<p>Si Kucing menghela napas, katanya, &#8220;Untuk berlatih daya pengamatan setajam Sim-heng, kurasa bukan pekerjaan yang mudah, padahal manusia sama mempunyai dua mata, kenapa Sim-heng bisa melihat dan menemukan kelemahan itu, sebaliknya kita tidak.&#8221; </p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.info">Cerita Silat</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-12/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Baja (11)</title>
		<link>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-11/</link>
		<comments>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-11/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 02:59:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendekar Baja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.info/?p=810</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gu Long
Mungkin sudah terlalu lama dia tidak bicara. Kini mendadak bisa bersuara, suaranya menjadi kurang jelas.

Ong Ling-hoa dan Sim Long sama terkejut, Sim Long berpaling dan bertanya, &#8220;Apa kau bilang, Nona?&#8221;
Sebetulnya Cu Jit-jit ingin bilang, &#8220;Lepaskan cawan arak, araknya beracun.&#8221;
Sungguh tak terpikir olehnya mendadak dirinya bisa bicara. Setelah sekian lama jadi orang bisu, kini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Gu Long</strong></p>
<p>Mungkin sudah terlalu lama dia tidak bicara. Kini mendadak bisa bersuara, suaranya menjadi kurang jelas.<br />
<span id="more-810"></span><br />
Ong Ling-hoa dan Sim Long sama terkejut, Sim Long berpaling dan bertanya, &#8220;Apa kau bilang, Nona?&#8221;</p>
<p>Sebetulnya Cu Jit-jit ingin bilang, &#8220;Lepaskan cawan arak, araknya beracun.&#8221;</p>
<p>Sungguh tak terpikir olehnya mendadak dirinya bisa bicara. Setelah sekian lama jadi orang bisu, kini dapat bicara lagi, betapa senang hatinya sukar dilukiskan.</p>
<p>Setelah tercetus perkataan &#8220;lepaskan&#8221;, ia sendiri pun kaget dan melongo, sampai lama ia tak mampu menyambung ucapannya.</p>
<p>Jelalatan bola mata Ong Ling-hoa, mendadak dia memburu maju dan menepuk hiat-to bisu si nona, maka Jit-jit tidak mampu bersuara lagi, ia cemas dan penasaran hingga keringat dingin bercucuran.</p>
<p>Sim Long mengerut alis, &#8220;Kenapa Ong-heng tidak membiarkan nona ini bicara?&#8221;"</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, katanya, &#8220;Nona ini terlampau lelah dan mengalami pukulan batin, pikiran belum tenang, setelah dapat bicara dan dapat bergerak, bukan mustahil dia akan melakukan sesuatu yang mengerikan, tadi hampir saja kulupakan hal ini, kini biarlah dia istirahat dulu.&#8221;</p>
<p>Sejenak kemudian ia angkat cangkirnya pula, &#8220;Mari minum!&#8221;</p>
<p>Sim Long agak bimbang, namun melihat Ling-hoa sudah menghabiskan isi cangkirnya, terpaksa ia pun tenggak araknya. Sudah tentu Cu Jit-jit yang berada di samping jadi gugup dan khawatir setengah mati, air mata pun meleleh.</p>
<p>Ong Ling-hoa mengisi secangkir penuh pula, katanya dengan tertawa, &#8220;Secangkir ini kudoakan saudara&#8230;&#8221; dia memang pandai bicara, tutur katanya ramah dan sopan, tanpa sadar Sim Long mengiringi dia menghabiskan tiga cangkir.</p>
<p>Sekujur badan Cu Jit-jit berkeringat dingin, kata-kata Ong Ling-hoa di penjara bawah tanah tempo hari kini seperti mengiang kembali di telinganya, &#8220;Sim Long &#8230;Sim Long &#8230;Bagus, ingin kubuktikan orang macam apa dia sebenarnya &#8230;aku justru akan bikin dia mati di depanku.&#8221;</p>
<p>Seolah-olah terbayang oleh Jit-jit darah hitam meleleh dari tujuh lubang indra Sim Long, lalu jatuh berkelejatan meregang jiwa. Sungguh ia ingin minum ketiga cangkir arak beracun tadi dan bukan Sim Long.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Bulan semakin tinggi, kini Si Kucing pun merasa rada heran.</p>
<p>Auyang Hi tetap mengentak kaki, katanya, &#8220;Kenapa belum lagi keluar?&#8221;</p>
<p>Kini dalam kamar tidak terdengar suara berisik apa pun, tenang dan sepi, hal ini mempertebal rasa curiga mereka, akhirnya Si Kucing menghela napas, katanya, &#8220;Sungguh terlebih sulit daripada menunggu orang melahirkan anak.&#8221;</p>
<p>Makan malam sudah disiapkan di atas meja, tapi ketiga orang ini tiada nafsu makan.</p>
<p>&#8220;Pasti terjadi sesuatu, ya, pasti terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan &#8230;&#8221; demikian gumam Auyang Hi. Lalu dia melirik Si Kucing, tanyanya, &#8220;Bagaimana? Perlu tunggu lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tunggu sebentar lagi &#8230;sebentar lagi,&#8221; sahut Si Kucing.</p>
<p>Mendadak Kim Bu-bong berkata, &#8220;Tunggu lagi sebentar, kalau terjadi sesuatu, kau yang harus bertanggung jawab.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku yang bertanggung jawab?&#8221; Si Kucing menegas. &#8220;Kenapa aku yang harus bertanggung jawab?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kau tidak berani bertanggung jawab, biar sekarang aku menerjang ke dalam,&#8221; jengek Kim Bu-bong. Mendadak dia berbangkit, tapi Si Kucing telah mengadang di depan pintu.</p>
<p>&#8220;Apa pula kehendakmu?&#8221; tanya Kim Bu-bong dengan gusar.</p>
<p>&#8220;Umpama ingin masuk juga harus memberi tanda lebih dulu,&#8221; ujar Si Kucing.</p>
<p>Auyang Hi segera mengetuk pintu, serunya, &#8220;Apa kami boleh masuk?&#8221;</p>
<p>Terdengar suara Ong Ling-hoa berkumandang dari dalam, &#8220;Kenapa terburu-buru? Tunggu sebentar lagi, hampir selesai.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, bagaimana?&#8221; ucap Si Kucing dengan tertawa. &#8220;Apa salahnya tunggu sebentar lagi.&#8221;</p>
<p>Mendengar ketukan pintu di luar, hati Cu Jit-jit amat girang, dia ingin berteriak supaya Si Kucing, Kim Bu-bong, dan lain-lain terjang masuk, apa pun juga, pasti masih sempat menolong jiwa Sim Long.</p>
<p>Tapi setelah mendapat jawaban Ong Ling-hoa, keadaan di luar kembali sunyi. Keruan di samping cemas Cu Jit-jit pun amat kecewa dan sedih, dengan sedih ia melihat Sim Long sekejap, sebetulnya dia tidak berani melihatnya lagi, namun tak tertahan dia menoleh ke sana juga.</p>
<p>Tertampak Sim Long masih berdiri tegak di tempatnya, ujung mulutnya masih mengulum senyuman khas yang santai dan gagah, sedikit pun tidak kelihatan keracunan.</p>
<p>Keruan Jit-jit melongo, entah kaget, heran atau gembira, bahwa arak itu tidak beracun, sungguh di luar dugaannya, mimpi pun tak terduga.</p>
<p>Didengarnya Ong Ling-hoa lagi berkata, &#8220;Tugas terakhir ini aku tidak perlu dibantu lagi, Sim-heng telah bekerja cukup berat, tentunya lelah, silakan duduk dan istirahat saja.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Kalau demikian, tolong saudara kerjakan sendiri.&#8221;</p>
<p>Kelihatannya dia memang sangat lelah, begitu duduk lantas memejamkan mata, tubuhnya juga lemas. Senyum di ujung mulutnya juga sirna, badan yang lemas akhirnya terkulai di kursi, entah tertidur pulas atau jatuh pingsan.</p>
<p>Baru saja hati Jit-jit merasa lega, melihat keadaan Sim Long, kembali air matanya meleleh saking cemasnya, sayang dia tidak mampu bersuara dan menangis tergerung-gerung.</p>
<p>Akhirnya Sim Long terperangkap juga oleh muslihat keji Ong Ling-hoa, ternyata dugaannya tadi tidak keliru, ketiga cangkir arak tadi mengandung racun.</p>
<p>Dengan dingin Ong Ling-hoa mengawasi Sim Long, ia tersenyum, senyuman misterius, dengan senyuman ini ia menghampiri Jit-jit, lalu menunduk dan mengawasinya.</p>
<p>Seperti mau menyemburkan bara sorot mata Cu Jit-jit, saking gemasnya ingin rasanya matanya benar-benar bisa menyemburkan api dan membakar mampus manusia keji ini.</p>
<p>Tapi sorot mata Ong Ling-hoa sebaliknya begitu lembut penuh kasih sayang, dengan tangan kiri dia membuka hiat-to di tubuh Cu Jit-jit, tapi tangan kanan tetap menekan hiat-to bisunya.</p>
<p>Dengan demikian, meski Jit-jit bisa bersuara, namun napasnya belum lancar, bersuara juga tidak bisa keras. Jit-jit tahu keadaan sendiri, maka ia pun segan buka suara.</p>
<p>Dengan tersenyum ramah Ong Ling-hoa lantas berkata, &#8220;Nona Cu, kau ingin bicara, kenapa tidak katakan saja?&#8221;</p>
<p>Mata Pek Fifi mendadak terbelalak, dia bergerak seperti hendak merangkak bangun, tapi sekali Ong Ling-hoa kebaskan lengan bajunya pada hiat-to penidurnya, seketika gadis itu tertidur pulas.</p>
<p>Jit-jit tambah kaget lagi, dengan suara gemetar katanya, &#8220;Da &#8230;dari mana kau tahu aku adalah &#8230;adalah&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Mendengar suara rintihanmu tadi, segera dapat kutebak siapa dirimu,&#8221; jawab Ong Ling-hoa, &#8220;karena rintihanmu itu terasa sudah pernah kudengar, pada saat itulah aku jadi menyesal kenapa baru sekarang teringat padamu, kenapa aku menyerahkan dirimu kepada Sim Long, perangkap yang kurencanakan kini malah menjerat diriku sendiri.&#8221;</p>
<p>Malu tapi juga benci Jit-jit, ia tahu iblis ini pernah mendengar rintihannya itu, adegan tidak senonoh iblis laknat ini di dalam penjara bawah tanah tempo hari sampai mati pun takkan dilupakannya.</p>
<p>Ong Ling-hoa berkata pula dengan tertawa, &#8220;Sayang Sim-siangkongmu belum pernah mendengar suara keluhanmu yang menggetar sukma itu, maka mimpi pun dia tidak menyangka akan dirimu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau iblis laknat &#8230;kau&#8230;&#8221; damprat Jit-jit dengan suara parau.</p>
<p>Ong Ling-hoa tidak menghiraukan caci makinya, dia berkata sendiri, &#8220;Karena mimpi pun dia tidak menduga akan dirimu, maka umpama tadi kau berteriak sekeras-kerasnya juga belum tentu dia mengenali suaramu, sebaliknya akulah justru mengenal suaramu.&#8221;</p>
<p>Jit-jit menggereget, &#8220;Kau &#8230;binatang!&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa kelihatan semakin senang, katanya, &#8220;Betul, aku ini binatang, tapi binatang macamku ini tanggung lebih kuat dan lebih bergairah daripada pahlawan pujaanmu itu, hal ini pernah kukemukakan kepadamu tempo hari, walau waktu itu kau tidak percaya, tapi asal kau mau melihat keadaannya sekarang, tentu kau akan tahu seribu Sim Long juga tak dapat dibandingkan seorang Ong Ling-hoa.&#8221;</p>
<p>Jit-jit mendesis gemas, &#8220;Mencelakai orang secara keji dan kotor, masih berani mengagulkan diri di hadapanku? Huh, bikin malu seluruh lelaki di dunia saja &#8230;jika dengan kepandaian sejati kau bunuh dia, aku pun akan menyerah padamu, tapi perbuatanmu yang rendah dan kotor seperti ini, aku &#8230;menjadi setan pun takkan mengampuni jiwamu.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, &#8220;Sayang sekarang kau masih hidup, masih segar bugar, ingin menjadi setan juga tidak bisa.&#8221;</p>
<p>Teriak Jit-jit dengan suara serak, &#8220;Jika dia mati, segera aku pun akan menyusulnya ke alam baka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia mati? Siapa bilang dia mati?&#8221;</p>
<p>Jit-jit melengak, suaranya gemetar, &#8220;Kau &#8230;kau tidak membunuhnya?&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, katanya, &#8220;Jika aku membunuhnya, bukankah seumur hidup kau akan membenciku? Kau adalah gadis pujaanku satu-satunya selama hidup ini, mana boleh kubikin kau membenciku?&#8221;</p>
<p>Kejut dan senang hati Jit-jit, katanya, &#8220;Tapi dia &#8230;dia kini&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang dia hanya terbius oleh obatku dan tidur pulas, tidak perlu kau khawatir, daya kerja obatku itu sangat mustajab, sedikit pun tidak menimbulkan efek sampingan yang merugikan, malah bila dia siuman nanti, dia takkan menduga bahwa barusan dia telah terbius olehku, rasanya seperti mengantuk dan pulas sekejap di atas kursi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau, kenapa kau lakukan hal ini&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku berbuat demikian hanya supaya kau tahu betapa pun aku lebih kuat daripada dia, jika dia betul-betul pintar seperti apa yang pernah kau katakan, mana mungkin dia tertipu olehku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia adalah seorang kuncu tulen, seorang lelaki sejati, sudah tentu takkan berpikir dan menjaga diri terhadap muslihat keji seorang siaujin (manusia rendah),&#8221; kata Jit-jit.</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa keras, katanya, &#8220;Betul, dia adalah kuncu dan aku ini siaujin, tapi kau ini juga siaujin. Siaujin sama siaujin, kebetulan adalah pasangan setimpal, akan datang suatu ketika kau akan tahu hanya aku saja yang benar-benar setimpal menjadi pasanganmu. Suatu hari kau akan kembali ke sampingku, ini mungkin karena pada hakikatnya engkau memang bukan pasangannya, kenapa kau harus menunggu dan menunggu dengan sia-sia, kuanjurkan lebih baik sekarang kau ikut aku saja, supaya kelak kau tidak berduka dan menangis.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kentut, kentut busuk! &#8230;&#8221; maki Jit-jit dengan gusar. &#8220;Aku lebih suka kawin dengan anjing dan babi, tidak sudi diperistri binatang yang lebih rendah daripada babi seperti dirimu ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang boleh kau benci padaku, boleh kau maki diriku sesuka hatimu, tapi jangan kau lupakan apa yang kukatakan kepadamu barusan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu aku tidak akan lupa, mati pun aku tidak lupa. Jika kau seorang pandai, sekarang juga harus kau bunuh aku dan Sim Long.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa harus kubunuhmu? Mana aku tega membunuhmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bila kau tidak membunuhku, nanti kalau Sim Long siuman, tentu akan kubongkar muslihatmu, kubongkar rahasiamu. Akan kusuruh Sim Long membunuhmu.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, &#8220;Justru itulah keinginanku, kalau tidak, buat apa aku melepasmu tempo hari? Kalau tidak, untuk apa sekarang aku bicara panjang lebar denganmu?&#8221;</p>
<p>Melihat betapa senang orang tertawa, mau tak mau Cu Jit-jit menjadi ragu dan heran, serunya, &#8220;Kau tidak takut?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setelah kau katakan nanti baru akan tahu apakah aku takut atau tidak&#8230;&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba terdengar Sim Long yang pulas di atas kursi itu mengeluarkan sedikit suara gerakan. Ucapan Ong Ling-hoa seketika terhenti, telapak tangan yang menekan hiat-to di tubuh Cu Jit-jit juga dilepaskan, kembali ia tarik kelopak mata Cu Jit-jit terus diguntingnya. Gerak-geriknya cekatan dan ahli benar.</p>
<p>Walau sekarang Jit-jit mampu berteriak, namun cinta pada kecantikan adalah pembawaan setiap anak perempuan, betapa pun dia khawatir bila dirinya bergembar-gembor, gunting dan pisau di tangan Ong Ling-hoa bukan mustahil bisa mengiris kulit daging mukanya, itu berarti wajahnya yang ayu jelita akan cacat seumur hidup. Terpaksa dia menahan diri sambil mengertak gigi.</p>
<p>Didengarnya Sim Long menarik napas panjang, agaknya telah berbangkit, lalu seperti berdiri melenggong, akhirnya tertawa dan berkata, &#8220;Apakah saudara belum rampung bekerja? Sungguh menggelikan, aku pulas di atas kursi.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tidak menghentikan kedua tangannya, jawabnya, &#8220;Sim-heng hanya mengantuk sekejap &#8230;Hampir selesai pekerjaanku, boleh saudara kemari melihatnya.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Aku memang ingin tahu siapa sebenarnya nona ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika nona itu begitu cantik molek, nona ini tentu juga bukan gadis sembarangan &#8230;Nah, silakan Sim-heng pentang lebar matamu, tunggu dan lihat sendiri.&#8221;</p>
<p>Mulut bicara sementara gunting bekerja, lapisan luar kulit muka Cu Jit-jit telah digunting dan dikupasnya tidak keruan, kini dia tinggal mengusapnya saja dan wajah asli Cu Jit-jit lantas terpampang di depan mata Sim Long.</p>
<p>Betapa pun tabah dan tenang hati Sim Long, tak urung menjerit kaget juga.</p>
<p>Suara kaget ini terdengar di luar, Kim Bu-bong tidak tahan lagi, cepat ia memburu maju, sekali pukul, &#8220;blang&#8221;, daun pintu jebol dan orangnya pun menerobos ke dalam. Sudah kasip Si Kucing mau merintangi, lekas ia pun ikut menerobos masuk, setiba di depan ranjang, begitu melihat Cu Jit-jit, tak tahan ia pun menjerit kaget.</p>
<p>&#8220;Cu Jit-jit &#8230;bagaimana mungkin kau&#8230;&#8221; Sim Long tergegap.</p>
<p>Si Kucing juga mematung, gumamnya, &#8220;Jadi &#8230;kiranya engkau&#8230;&#8221;</p>
<p>Kedua orang ini memang tidak pernah membayangkan bahwa Cu Jit-jit yang dicarinya ubek-ubekan sekian lamanya, ternyata berada di sampingnya sendiri.</p>
<p>Pada saat itulah mendadak Jit-jit membalik badan, kedua tangan bergerak sekaligus, ia menyerang jian-kin-hiat di dada kiri, dan dua hiat-to mematikan di tubuh Ong Ling-hoa.</p>
<p>Sudah tentu Ong Ling-hoa telah menduga akan serangan ini, mana bisa dia kecundang semudah ini, sedikit berputar, dengan enteng dia menghindarkan diri. Sebaliknya Si Kucing dan Sim Long kaget sekali, keduanya bergerak berbareng, kedua tangan Cu Jit-jit telah dipegang mereka.</p>
<p>Sim Long menggenggam pergelangan tangan kanan si nona, katanya dengan suara tertahan, &#8220;Jit-jit, apa kau gila? Mana boleh kau serang Ong-kongcu?&#8221;</p>
<p>Kedua pergelangan tangan Cu Jit-jit seperti terjepit tanggam, mana mampu meronta lepas, dia gugup dan gelisah hingga mukanya merah padam, kedua kakinya mencak-mencak, teriaknya serak, &#8220;Lepaskan! Kalian berdua babi goblok, kenapa memegangiku? Lekas lepaskan, biar aku mengupas kulit bangsat keparat ini!&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, katanya, &#8220;Coba kalian lihat, susah payah kutolong nona ini hingga bebas diri penderitaan, tapi nona ini malah mau mengupas kulitku &#8230;Wah, terhitung apa ini?&#8221;</p>
<p>Sim Long berkata, &#8220;Mungkin lantaran pikirannya belum jernih, maka&#8230;&#8221;</p>
<p>Jit-jit mengentak kaki, makinya, &#8220;Kentut, kau tahu apa, pikiranku belum pernah sejernih sekarang, kau &#8230;kau inilah babi goblok.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, &#8220;Kalau Nona berpikiran jernih, kenapa kebaikanku kau balas dengan jahat?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau masih berpura-pura? Kalau bukan gara-garamu, mana bisa aku mengalami nasib seperti ini? Aku &#8230;aku &#8230;apa pun aku akan membuat perhitungan denganmu.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa menyengir, ujarnya, &#8220;Apa yang dikatakan nona ini sungguh aku tidak mengerti. Sim-heng, Auyang-heng, dan Si Kucing manis, apa kalian tahu apa maksudnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak mengerti,&#8221; ujar Si Kucing, &#8220;Nona Cu, kau&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tutup mulutmu,&#8221; bentak Cu Jit-jit.</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Kaulah yang harus tutup mulut!&#8221;</p>
<p>&#8220;Manusia mampus, kau ini orang mampus,&#8221; pekik Cu Jit-jit. &#8220;Masa kau tidak tahu bahwa Ong Ling-hoa inilah iblis yang menculik Thi Hoat-hou, Can Ing-siong, dan lain-lain itu.&#8221;</p>
<p>Sim Long terperanjat, dengan alis bekernyit dia menoleh ke arah Ong Ling-hoa.</p>
<p>Ong Ling-hoa malah tertawa, katanya, &#8220;Nona Cu, apa kau perlu makan obat lagi? Selama ini tidak kukenal Nona, kenapa Nona memfitnahku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Selama ini belum kenal? Aku memfitnahmu? Kau, kau bangsat keparat, binatang, perbuatan yang pernah kau lakukan kenapa tidak berani kau akui?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku pernah berbuat apa?&#8221; ujar Ong Ling-hoa dengan lagak bingung, &#8220;Aku telah menolongmu, memangnya apa salahku? Sim-heng, tolong kau beri keadilan!&#8221;</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Sudah tentu Ong-heng tidak salah, mungkin dia&#8230;&#8221;</p>
<p>Hampir gila rasanya Cu Jit-jit, ia memandang kian-kemari tanpa menghiraukan betisnya yang mulus menongol keluar dari balik bajunya.</p>
<p>Terpaksa Sim Long menutuk hiat-to bagian bawah tubuh si nona, katanya dengan menghela napas, &#8220;Tenanglah.&#8221;</p>
<p>Setelah menutuk hiat-tonya, hatinya menjadi tidak enak, segera ia berkata pula, &#8220;Kau tahu, tindakanku ini demi kebaikanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau orang mampus, kenapa Ong Ling-hoa tadi tidak menusukmu mampus saja supaya matamu melek dan biar kau tahu siapa sebetulnya yang salah, siapa pula yang gila.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ong-heng mana bisa membunuhku, kau&#8230;&#8221; Sim Long menyengir.</p>
<p>&#8220;Masih omong lagi &#8230;babi goblok, ingin kugigitmu, menggigitmu sampai mampus&#8230;&#8221; mulutnya segera terbuka dan hendak menggigit Sim Long, sudah ia tentu tak mampu menggigitnya.</p>
<p>Agaknya Auyang Hi tidak tega, katanya, &#8220;Umpama benar ada persoalan, Nona harus bicara dengan tenang dan secara baik-baik&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku emoh bicara baik-baik, aku &#8230;mau gila &#8230;kalian bunuh aku saja, aku tidak mau hidup lagi&#8230;&#8221;</p>
<p>Apa yang dikatakan ada benarnya, kejadian sesungguhnya, orang lain justru menganggap dia gila, keruan ia gugup, mangkel dan penasaran, mana dia kuat menahan perasaannya, akhirnya dia menangis tergerung-gerung.</p>
<p>Orang banyak saling pandang, sesaat lamanya mereka melenggong dan tiada yang bersuara.</p>
<p>Pek Fifi datang menghampiri, katanya dengan lembut, &#8220;Nona &#8230;Siocia, jangan menangis lagi, kumohon sukalah kau bicara dengan baik-baik. Dengan caramu ini kau sendiri yang rugi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Peduli apa dengan kau, aku rugi adalah urusanku,&#8221; bentak Jit-jit dengan gusar. &#8220;Kau &#8230;enyah, aku tak mau melihatmu.&#8221;</p>
<p>Fifi menunduk, seperti anak kecil yang penasaran dimarahi dia menyingkir ke pinggir.</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Dia bermaksud baik, kenapa kau sekasar ini terhadapnya?&#8221;</p>
<p>Dengan sesenggukan Jit-jit masih ribut, &#8220;Biar, kau mau apa? Dia orang baik, aku &#8230;aku orang gila, pergi kau merawatnya, jangan pedulikan aku.&#8221;</p>
<p>Akhirnya Pek Fifi juga tidak tahan, dia menjatuhkan diri di lantai dan menangis keras-keras.</p>
<p>Ong Ling-hoa keluarkan sebutir pil, katanya, &#8220;Kukira keadaan Nona ini kurang sehat, obat ini dapat menenangkan pikirannya, silakan Sim-heng beri minum padanya.&#8221;</p>
<p>Sim Long menatap Jit-jit, dilihatnya kedua bola matanya merah rambutnya kusut masai, keadaannya memang seperti orang yang kurang waras, terpaksa dia terima pil itu, katanya, &#8220;Terima kasih&#8230;&#8221;</p>
<p>Kontan Jit-jit meratap dan berteriak, &#8220;Aku emoh &#8230;emoh minum obat &#8230;obat itu pasti obat bius, bila kumakan obat itu ingin mati pun tak bisa.&#8221;</p>
<p>Sim Long tidak menghiraukan, pil itu diangsurkan ke depan mulutnya, katanya, &#8220;Turut omonganku, jangan bandel &#8230;telanlah pil ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekuatnya Jit-jit menggeleng kepala, suaranya serak, &#8220;Tidak mau, tidak mau, mati pun tidak mau. O, tolong &#8230;tolonglah aku, kumohon jangan kau paksa aku minum obat ini, bila kumakan obat ini, selamanya tak bisa lagi membongkar rahasianya.&#8221;</p>
<p>Sim Long bimbang, katanya sambil menghela napas, &#8220;Kalau kau mau tenang dan bicara dengan baik, aku tidak akan paksa kau, kalau tidak&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku akan bicara dengan tenang, asal kau tidak paksa aku minum obat itu. Apa yang kau minta kulakukan tentu akan kulakukan.&#8221;</p>
<p>Sebenarnyalah dia sudah ngeri, maka menyerah dengan menderita.</p>
<p>&#8220;Apa benar pil ini beracun?&#8221; kata Ong Ling-hoa. Dia tertawa dingin dan ambil pil itu dari tangan Sim Long terus dimasukkan ke mulut sendiri serta ditelan, sambil mendongak katanya, &#8220;Kalau pil ini beracun, biar aku yang mati keracunan.&#8221;</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya sambil menggeleng, &#8220;Jit-jit, apa pula yang dapat kau katakan?&#8221;</p>
<p>Bercucuran air mata Jit-jit, katanya, &#8220;Dengarkan, jangan kau percaya padanya, setiap langkahnya pasti mengandung muslihat keji, dia &#8230;dia manusia paling jahat di dunia ini.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa menyeringai, &#8220;Nona Cu, sebetulnya ada permusuhan apa antara kau dengan aku, kenapa kau fitnahku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sim Long, dengarkan penjelasanku, setelah aku berpisah dengan kau tempo hari, kebetulan aku bertemu dengan rombongan Can Ing-siong, kulihat keadaan mereka seperti orang linglung, gerak-geriknya lamban&#8230;&#8221; sambil sesenggukan Jit-jit ceritakan bagaimana dia memergoki gadis-gadis berbaju putih mengiring kawanan mayat hidup, bagaimana dia sembunyi di bawah kereta hingga ikut terbawa ke dalam taman yang serbaaneh, bagaimana dia kepergok Ong Ling-hoa, lalu ditawan oleh nyonya jelita yang misterius itu, akhirnya dia disekap di penjara bawah tanah, secara ringkas dan jelas diceritakan seluruhnya.</p>
<p>Kisahnya memang nyata, umpama Sim Long kurang yakin akan ceritanya terpaksa juga harus percaya.</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa dingin, katanya, &#8220;Sungguh kisah yang menarik, apakah Sim-heng percaya?&#8221;</p>
<p>Walau tidak menjawab, sorot mata Sim Long yang menatap muka orang dengan tajam jelas memancarkan rasa curiga.</p>
<p>&#8220;Apakah Sim-heng tidak berpikir, jika kisahnya itu benar, urusan begitu penting dan begitu rahasia, mungkinkah kulepaskan harimau pulang ke gunung, membebaskan dia begitu saja?&#8221;</p>
<p>Auyang Hi ikut menimbrung, &#8220;Benar, dalam keadaan seperti itu, sudah tentu Ong-heng takut rahasia bocor dari mulut Nona Cu, jelas tidak mungkin membebaskan dia.&#8221;</p>
<p>Sim Long tetap tidak bersuara, sorot matanya yang masih curiga beralih menatap Jit-jit.</p>
<p>Nona itu menunduk, katanya, &#8220;Dalam hal ini memang ada sebabnya, soalnya&#8230;&#8221; walau watak Jit-jit kasar dan keras, tapi untuk menjelaskan kejadian di dalam penjara bawah tanah itu yang menyangkut kasih yang khusyuk masyuk itu, betapa pun sukar diceritakannya.</p>
<p>Tapi Sim Long justru mendesak lagi, &#8220;Soal apa, katakanlah.&#8221;</p>
<p>Jit-jit mengertak gigi, mendadak dia angkat kepala dan berseru, &#8220;Baik, kukatakan, soalnya orang she Ong ini mencintai aku, tapi aku justru kasmaran terhadap orang she Sim, karena tak tahan pancinganku, dia tantang kubawa Sim Long padanya, maka aku dibebaskannya.&#8221;</p>
<p>Bahwa seorang gadis belia berani bicara soal asmara di hadapan umum secara blakblakan, Auyang Hi dan lain-lain berdiri terkesima, sorot mata Si Kucing pun menampilkan rasa derita dan kecewa.</p>
<p>Ong Ling-hoa malah bergelak tertawa, katanya, &#8220;Tutur kata Nona Cu sungguh mengasyikkan &#8230;Umpama Nona Cu jelmaan bidadari, masakah perlu aku tergila-gila seperti itu kepadamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih berani mungkir?&#8221; teriak Jit-jit serak. &#8220;Berulang kali kau hendak mencelakai Sim Long, bukankah lantaran soal ini, barusan juga kau bilang kepadaku bahwa aku adalah perempuan satu-satunya yang paling kau cintai&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Barusan aku bilang begitu?&#8221; tukas Ong Ling-hoa dengan tertawa lebar. &#8220;Sim-heng, apakah kau dengar?&#8221;</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Aku tidak mendengar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jelas dia bilang begitu, tadi &#8230;kau tadi terbius pulas oleh arak obatnya, saat itulah dia bicara padaku.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa gelang-geleng kepala, katanya, &#8220;Nona bilang tadi aku berulang kali hendak mencelakai Sim-heng, kini kau bilang dia terbius pula hingga tidur pulas &#8230;Sim-heng, bila benar aku hendak mencelakai kau, kenapa tidak mumpung kau terbius kubunuhmu &#8230;Saudara-saudara, coba perhatikan, apa benar ada manusia tolol seperti itu di dunia ini?&#8221;</p>
<p>Hadirin diam saja dan saling pandang.</p>
<p>Jit-jit berteriak, &#8220;Kau membiusnya untuk berbicara denganku karena waktu itu kau tahu siapa diriku, kau takut selama hidup aku membencimu, maka kau tidak berani membunuhnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Waktu itu Sim-heng sendiri pun belum mengenali dirimu, bagaimana aku bisa mengetahui akan dirimu. Apalagi, umpama benar aku sudah mengenalimu, tapi bila kutahu kau bakal membongkar rahasiaku, kenapa aku mau menolongmu, sekarang kuberi pula kesempatan bicara padamu, memangnya aku sudah gila? Mungkinkah aku mencelakai jiwaku sendiri?&#8221;</p>
<p>Pembelaan masuk di akal, sudah tentu orang banyak tiada yang mau percaya pada cerita Cu Jit-jit.</p>
<p>Melihat sikap ragu orang banyak, saking gugupnya hampir gila Jit-jit, teriaknya dengan kalap, &#8220;Kau iblis laknat, mana kutahu muslihat yang kau rancang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja kau tidak tahu, karena apa yang kau ceritakan itu kau alami dalam mimpi, omong kosong belaka, namun impian yang menyenangkan juga rupanya,&#8221; demikian Ong Ling-hoa berolok-olok.</p>
<p>Setiap patah kata Jit-jit adalah kejadian sesungguhnya, peristiwa nyata, namun tiada seorang pun yang mau percaya padanya, betapa rasa penasarannya sungguh sukar dilukiskan. Dengan serak dia berteriak pula, &#8220;Apakah kalian tiada yang percaya pada perkataanku?&#8221;</p>
<p>Tiada yang menjawab, namun sikap hadirin sudah memberi jawaban. Bola mata Cu Jit-jit menyapu pandang wajah mereka satu per satu, akhirnya dia tak tahan isak tangisnya pula, walau tangisnya amat sedih, namun tiada seorang pun yang mau menghiburnya.</p>
<p>Tiba-tiba Si Kucing berkata, &#8220;Untuk membuktikan kebenaran kisah Nona Cu, kurasa ada satu cara dapat kita tempuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau kucing ini ada akal aneh apa?&#8221; tanya Auyang Hi.</p>
<p>&#8220;Bila kisah Nona Cu benar, pasti dia bisa membawa kita ke tempat yang diceritakan&#8230;&#8221;</p>
<p>Jit-jit berhenti menangis, serunya dengan terbelalak girang, &#8220;Betul, itulah cara yang tepat! Tadi sudah kukatakan, aku akan bawa kalian ke tempat itu, orang she Ong jangan boleh pergi, setiba di tempat itu, coba apa yang bisa dia katakan.&#8221;</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Sebetulnya soal ini tidak perlu dibuktikan, namun supaya dia tidak membuat ribut terpaksa kita gunakan cara ini, entah Ong-heng sudi tidak menyertai kami?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak perlu Sim-heng omong pasti juga kuikut, aku pun ingin tahu, cara bagaimana Nona Cu hendak membuktikan kisahnya. Kalau tak terbukti coba apa yang akan diucapkannya.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Waktu itu sudah tengah hari, Lokyang termasuk kota besar di Tionggoan, sudah tentu amat ramai, jalan raya penuh orang berlalu-lalang.</p>
<p>Rombongan Cu Jit-jit sudah tentu menarik perhatian orang.</p>
<p>Air mata Jit-jit sudah kering, matanya masih merah, dia berjalan paling depan, liku-liku jalan di kota besar ini sudah tentu dia belum hafal, setelah putar kayun sekian lama, belum juga dia menemukan tempat tujuannya.</p>
<p>Auyang Hi boleh dikatakan adalah rajanya kota Lokyang, orang paling berkuasa di kota kuno ini, ada Auyang Hi di dalam rombongan ini, siapa berani bertingkah, bahkan melirik pun tidak berani kepada mereka.</p>
<p>Sim Long dan Si Kucing berjalan di kanan-kiri mengapit Jit-jit, ternyata Pek Fifi juga mengintil di belakang, berjalan sambil menunduk, sikapnya yang lembut dan jinak sungguh harus dikasihani.</p>
<p>Setelah putar kayun setengah hari, Auyang Hi mengerut kening, katanya, &#8220;Agaknya Nona Cu tidak hafal jalan di sini, coba katakan saja di mana atau apa nama tempat itu, aku ini penduduk tua di kota ini, biar aku menunjukkan jalannya.&#8221;</p>
<p>Jit-jit cemberut, katanya, &#8220;Tak perlu kau menunjukkan jalan, juga tak perlu kau beri komentar.&#8221;</p>
<p>Setelah putar satu lingkaran pula, mendadak mereka membelok ke sebuah jalan panjang, di kanan-kiri jalan terdapat lima-enam buah warung kecil, bau makanan yang harum merangsang hidung.</p>
<p>Perut Jit-jit sudah kelaparan, mencium bau masakan lezat, seketika tergerak hatinya, mendadak dia teringat waktu dirinya melarikan diri dari toko peti mati, perutnya juga sedang kelaparan, saat itu ia pun mencium bau masakan yang lezat seperti ini.</p>
<p>Waktu dia mendongak dan celingukan, merek toko dan nama warung sekitar tempat ini rasanya seperti pernah dikenalnya.</p>
<p>Jit-jit terbelalak girang, mendadak dia berlari ke depan, begitu angkat kepala, terlihatlah tiga huruf &#8220;ONG SOM KI&#8221; yang besar di sebuah pigura. Pigura berwarna dasar hitam dengan tulisan huruf emas ini betapa pun tidak salah lagi, apalagi di kedua pintu samping tergantung juga dua papan panjang yang berukir syair yang hafal baginya.</p>
<p>Waktu dia melongok ke dalam, di belakang pintu terdapat sebuah panggung tinggi, di atas lemari terdapat dua timbangan, dua kuli, seorang sumbing bibirnya, yang lain burik, sedang menimbang uang perak. Keadaan toko ini masih persis seperti waktu dirinya melarikan diri tempo hari.</p>
<p>Tak tertahan Jit-jit berteriak girang, &#8220;Nah, ini dia di sini!&#8221;</p>
<p>&#8220;Di toko peti ini?&#8221; Sim Long mengerut kening.</p>
<p>&#8220;Ya, dalam toko peti mati ini, tanggung tidak salah.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, katanya, &#8220;Toko peti mati ini memang milikku, bila anggota keluarga Nona Cu ada yang meninggal dan mau pakai peti mati, ukuran apa dan kualitas terbaik juga dapat kusumbang beberapa buah.&#8221;</p>
<p>Jit-jit diam saja tidak menanggapi, langsung dia menerjang masuk lebih dulu.</p>
<p>Kedua pegawai itu hendak mengadang, begitu melihat Ong Ling-hoa, segera mereka menjura dan munduk-munduk, sapanya dengar cengar-cengir, &#8220;Siauya, kau telah datang, tumben Siauya datang kemari, biarlah hamba menyeduhkan teh wangi.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa mempersilakan para tamunya masuk, Sim Long bersama Si Kucing ikut menerjang masuk di belakang Cu Jit-jit.</p>
<p>Toko peti mati ini memiliki ruang pamer yang amat besar, peti-peti mati yang sudah siap dipasarkan dan yang belum jadi atau belum dipelitur tersebar di mana-mana, di sebelah belakang tukang-tukang kayu yang bertelanjang dada sedang sibuk bekerja, makan siang telah usai, banyak di antaranya sedang duduk di atas peti mati dan mengobrol sambil menikmati teh panas, mengisap pipa tembakau, melihat Ong Ling-hoa masuk membawa tamu, serempak mereka berdiri menyambut.</p>
<p>Pasah, gergaji, pahat, dan segala macam peralatan tukang kayu berserakan, serbuk gergaji bertumpuk, pasahan kayu berserakan, tapi Cu Jit-jit tidak pedulikan kotoran di sekelilingnya, dia maju ke samping kiri, dia memeriksa lantai di sekitarnya, maka ditemukan sebuah papan batu di sebelah kiri ada tanda-tanda pernah dijugil. Seketika wajahnya tersenyum senang, inilah senyuman pertama selama beberapa hari ini, khawatir Ong Ling-hoa mencegah atau merintangi tindakannya, dia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, langsung dia mendekat beberapa langkah, akhirnya dia tidak kuat menahan sabar, mendadak dia melompat ke atas papan batu itu, ia berpaling kepada Ong Ling-hoa dan berkata, &#8220;Nah, sekarang apa pula yang hendak kau katakan?&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa seperti bingung, katanya sambil mengerut alis, &#8220;Ada apa?&#8221;</p>
<p>Jit-jit tertawa, katanya, &#8220;Masih pura-pura pikun? Jelas kau tahu di bawah batu ini adalah mulut gua di bawah tanah yang terahasia itu, dari lubang inilah hari itu aku melarikan diri.&#8221;</p>
<p>Urusan sudah sejauh ini, mau tak mau orang setenang dan sedingin Kim Bu-bong pun ikut terbeliak, sorot matanya tampak beringas menatap Ong Ling-hoa, tak tahunya Ong Ling-hoa malah tertawa, katanya, &#8220;Bagus, bagus sekali!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apanya yang bagus?&#8221; jengek Jit-jit. &#8220;Masa kau masih bisa tertawa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau di bawah batu ada lubang gua, kenapa Nona tidak membongkar papan batu itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah tentu harus kubongkar untuk bukti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Biar aku?&#8221; seru Si Kucing sambil melompat maju.</p>
<p>Jit-jit mendelik, katanya, &#8220;Akulah yang menemukan tempat ini, siapa pun dilarang menggangguku.&#8221;</p>
<p>Di sana terdapat palu besar, linggis dan sekop, Jit-jit mengambil sekop terus menggali tanah di pinggir papan batu, lalu menjugil batu itu perlahan.</p>
<p>Kejap lain batu itu sudah terangkat ke atas dan terbalik ke sebelah samping, tapi semua orang saling pandang dengan air muka berubah, Jit-jit juga menjerit kaget sambil menyurut mundur. Di bawah papan batu ternyata adalah tanah padat, mana ada lubang gua segala.</p>
<p>Mendadak Ong Ling-hoa tertawa terkial-kial, suaranya terdengar puas dan gembira.</p>
<p>Dengan kening bekernyit Sim Long awasi Jit-jit, sementara Si Kucing, Auyang Hi menggeleng kepala, hanya Kim Bu-bong yang berdiri diam tanpa menunjukkan reaksi apa-apa, Pek Fifi mencucurkan air mata.</p>
<p>Lama Jit-jit berdiri kesima, mendadak seperti gila dia ambil sekop dan membongkar jubin sekitarnya, orang banyak menyingkir jauh, menonton dengan berpeluk tangan, tiada yang membantu atau mencegah, jubin seluas dua tombak hampir terjugil semua oleh sekop Jit-jit, tapi di bawah jubin jelas adalah tanah yang rata dan padat, tiada tanda-tanda pernah digali atau ditimbun.</p>
<p>&#8220;Nona Cu,&#8221; ujar Ong Ling-hoa penuh kemenangan, &#8220;apa abamu sekarang?&#8221;</p>
<p>Cu Jit-jit basah kuyup keringat, pakaiannya berlumpur, kaki tangan pun kotor, makinya sengit, &#8220;Kau bangsat keparat, kau &#8230;pasti sebelumnya kau tahu kami akan kemari, maka siang-siang kau sumbat lubang gua itu.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa getir, timbrungnya, &#8220;Tanah yang kau bongkar tiada tanda pernah digali atau ditimbun, orang awam pun tahu tempat ini tidak pernah dibongkar &#8230;Jit-jit, Nona Cu, kuminta jangan membual lagi, sia-sia kita semua berputar kayun dan membuang tenaga belaka.&#8221;</p>
<p>Jit-jit geregetan, teriaknya dengan air mata bercucuran, &#8220;Sim Long, aku bicara sebenarnya, semua kejadian nyata, kumohon padamu, percayalah kepadaku, selama hidupku kapan pernah kudustaimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kali ini? Kali ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Ong Ling-hoa menyela, &#8220;Jika Nona Cu masih penasaran, boleh kusuruh orang membongkar tanah sekitar supaya dia periksa dengan teliti hingga persoalan menjadi jelas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa Ong-heng berbuat demikian&#8230;&#8221; ujar Sim Long.</p>
<p>&#8220;Tidak apa, kalau urusan tidak dibikin beres, aku pun malu &#8230;&#8221; lalu dia memanggil tukang-tukang kayu itu dan berkata, &#8220;lekas kalian gali tanah di sekitar sini.&#8221;</p>
<p>Sebelum magrib, tanah di dalam ruang itu sudah digali sedalam beberapa kaki hingga menjadi sebuah kolam, bagian bawah tanah adalah fondasi yang keras, setiap orang yang bermata dapat melihat dengan jelas. Maka Sim Long dan lain-lain hanya menggeleng kepala dan menghela napas.</p>
<p>&#8220;Bagaimana Nona Cu?&#8221; tanya Ong Ling-hoa dengan tertawa.</p>
<p>&#8220;Bluk&#8221;, akhirnya Jit-jit jatuh terduduk dengan lemas, mukanya pucat, matanya mendelong seperti orang linglung.</p>
<p>&#8220;Ong Ling-hoa hanya memiliki toko peti mati satu ini di kota Lokyang, jadi tiada cabang lain, jika kalian tidak percaya, boleh silakan mencari tahu kepada penduduk dalam kota.&#8221;</p>
<p>Urusan sudah telanjur sejauh ini, siapa pula yang tidak percaya kepadanya? Umpama sekarang dia bilang peti mati buatan tokonya semua bulat, mungkin tiada orang yang berani bilang tidak percaya.</p>
<p>Sim Long berkata, &#8220;Kecuali minta maaf, terus terang tidak tahu apa yang harus kukatakan, semoga Ong-heng mengingat dia adalah seorang gadis hijau, jangan pikirkan persoalan ini dalam hatimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mendengar pernyataan Sim-heng, umpama seluruh tokoku ini harus dibongkar juga kurela,&#8221; kata Ong Ling-hoa. &#8220;Bagaimana kalau Sim-heng mampir dulu di kediamanku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mana berani aku mengganggu lagi, lebih baik&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Cu Jit-jit melompat bangun, serunya, &#8220;Kau tidak mau, biar aku ikut pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau mau ke mana?&#8221; tanya Sim Long.</p>
<p>Jit-jit mengucek mata, katanya, &#8220;Ke rumahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kapan Ong-kongcu mengundang kau ke rumahnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia mengundang kau, maka aku ikut, aku &#8230;aku harus memeriksa rumahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; ucap Ong Ling-hoa dengan tertawa, &#8220;betapa pun aku pasti juga mengundang Nona Cu, apa pun Nona Cu harus memeriksa persoalan ini secara tuntas.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Kekayaan Ong Ling-hoa merajai kota Lokyang, rumahnya megah pekarangan luas, bentuk bangunannya sudah tentu sangat hebat. Begitu masuk pintu, bola mata Cu Jit-jit lantas jelalatan, celingukan ke sana-sini.</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, katanya, &#8220;Walau rumahku ini agak sempit, tapi di belakang terdapat taman yang indah permai, sayang Siaute tidak pandai mengatur tanaman dan bangunan sehingga keadaan morat-marit, mohon Sim-heng nanti memeriksa ke sana dan sudilah memberi petunjuk.&#8221;</p>
<p>Sebelum Sim Long buka suara, Jit-jit menjengek, &#8220;Kita memang harus memeriksa ke taman di belakang.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa getir, katanya, &#8220;Ong-heng memang ingin kau periksa ke sana supaya selanjutnya tidak ribut lagi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hanya manusia yang licin suka bicara secara terbalik, meski kutahu ucapannya juga sengaja pura-pura tidak tahu.&#8221;</p>
<p>Segera dia mendahului melangkah ke dalam.</p>
<p>Jit-jit berjalan tanpa menentukan arah, melihat jalan lantas menerobos, sedikit pun tidak sungkan, serupa masuk ke rumah sendiri saja.</p>
<p>Sim Long mengikut di belakangnya, sering tertawa sambil menggeleng kepala.</p>
<p>Pepohonan di sini serbahijau dan tumbuh subur terpelihara baik, di sana loteng, di sini gerai pemandangan, letaknya diperhitungkan dengan tepat, jelas hasil tangan seorang yang ahli bangunan dan tata taman, berada di taman ini rasanya seperti di surga.</p>
<p>Taman seluas ini keadaan sepi lengang, tiada suara atau bayangan orang, kicau burung juga tidak terdengar, hanya jangkrik atau sebangsa serangga saja yang bernyanyi di tempat gelap.</p>
<p>Bergejolak perasaan Cu Jit-jit, batinnya, &#8220;Ke mana laki-laki kekar berbaju hitam serta kawanan gadis penggiring mayat hidup itu?&#8221;</p>
<p>Meski binal dan galak, betapa pun dia sungkan main geledah di rumah orang.</p>
<p>Di ujung taman terdapat beberapa rumah berloteng kecil, di samping sana terdapat istal kuda, suara ringkik kuda terdengar terbawa embusan angin. Semua ini jelas bukan pemandangan yang pernah dilihat Jit-jit hari itu. Akhirnya dia menghentikan langkahnya dan berkata, &#8220;Rumahmu bukan di sini.&#8221;</p>
<p>Ong Ling-hoa tertawa, katanya, &#8220;Masa rumahku sendiri tidak kukenal lagi dan Nona Cu lebih mengenalnya malah? Kalau benar omonganmu, bukankah aku ini orang pikun?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jelas ini bukan rumahmu,&#8221; teriak Jit-jit, &#8220;hendak kau tipu diriku?&#8221;</p>
<p>Auyang Hi tidak tahan, dia menyela, &#8220;Sudah puluhan tahun Ong-kongcu tinggal di sini, aku berani menjadi saksi dan pasti tidak salah, jika Nona Cu tetap tidak percaya, Nona boleh tanya pula kepada orang lain&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau demikian &#8230;dia pasti punya rumah yang lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe belum menikah, kurasa tidak perlu rumah lain untuk menyimpan si cantik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Keparat,&#8221; mendadak Jit-jit menjerit, &#8220;bisa mati gemas aku!&#8221;</p>
<p>Mendadak dia berjingkrak, tangannya meraih secomot salju di atap gardu terus dijejal ke mulut serta dikunyahnya dengan bernafsu, giginya sampai berkeriut, orang lain menyaksikan dengan merinding, muka Jit-jit tampak merah padam seperti membara, saking gugup, gelisah dan gusar, badannya seakan terbakar, ingin rasanya bergulingan di atas salju.</p>
<p>Sim Long menyengir, katanya, &#8220;Buat apa kau menyiksa diri&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan kau urus aku,&#8221; bentak Jit-jit, &#8220;pergi &#8230;&#8221; mendadak dia menerjang ke depan Ong Ling-hoa, &#8220;aku ingin tanya, bukankah kau punya seorang ibu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau Cayhe tidak punya ibu, memangnya aku dilahirkan dari celah-celah batu? Kenapa Nona tanya hal ini, apa kau sendiri tidak punya ibu?&#8221;</p>
<p>Jit-jit anggap tidak mendengar ocehannya, bentaknya, &#8220;Di mana sekarang ibumu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi Nona ingin bertemu dengan ibuku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, bawa aku kepadanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, memang aku ingin memperkenalkan Sim-heng kepada ibuku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ong-heng, jangan kau turuti kehendaknya, mana berani aku mengganggu ketenangan ibumu,&#8221; kata Sim Long.</p>
<p>&#8220;Tidak apa, walau sudah lanjut usia, tapi ibuku paling suka menerima tamu muda yang gagah, jika Sim-heng tidak percaya, ini, Auyang-heng boleh menjadi saksi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, betul,&#8221; ujar Auyang Hi. &#8220;Bukan, saja aku sering bertemu dengan ibunya, pernah pula Siaute disuguh kuah jinsom masakan beliau sendiri, sungguh seorang tua yang welas asih.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Waktu itu Ong-lohujin baru saja bangun tidur siang, rambutnya sudah ubanan seluruhnya, namun tersisir rapi dan berduduk di tengah ruang besar, dengan tertawa dia sambut kedatangan putranya yang membawa beberapa tamu. Raut wajahnya yang penuh keriput tampak berseri tawa, sambil bicara dan berkelakar dia berpesan kepada putranya supaya lekas menyiapkan perjamuan, jangan kurang adat terhadap tamu.</p>
<p>Orang banyak saling pandang sekejap, dalam hati sama berpikir, &#8220;Memang seorang tua yang welas asih.&#8221;</p>
<p>Tapi setelah berhadapan dengan nyonya tua welas asih ini, Jit-jit justru tambah gelisah dan hampir gila. Sebetulnya dia hendak membentak gusar, &#8220;Dia bukan ibumu!&#8221; Syukur dia belum gila benar-benar, dia tidak berani melontarkan kata demikian, dalam keadaan seperti ini, dia insaf dirinya terpaksa harus menahan emosi, maka dia hanya berpeluk tangan dan melancarkan gerakan tutup mulut.</p>
<p>Benaknya rasanya seperti butek dan pening, apa yang dipercakapkan orang lain sepatah pun tidak didengarnya, apa yang dilakukan orang lain juga tidak dilihatnya.</p>
<p>Untunglah hidangan sudah disuguhkan, setelah makan, Ong-hujin pamit masuk kamar, perjamuan usai, Sim Long mohon diri.</p>
<p>Dengan tertawa Ong Ling-hoa berkata, &#8220;Nona Cu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada apa berteriak-teriak?&#8221; bentak Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Pintu rumahku selalu terbuka menyambut kedatangan Nona Cu, kalau dalam hati masih curiga atau ada sesuatu yang kurang jelas, sembarang waktu boleh kau datang kemari.&#8221;</p>
<p>Jit-jit hanya melotot saja dengan mendongkol tanpa balas berolok.</p>
<p>Ong Ling-hoa lantas berkata lebih lanjut, &#8220;Kenapa Nona Cu tidak bicara lagi?&#8221;</p>
<p>Cu Jit-jit mengentak kaki terus menerobos keluar lebih dulu.</p>
<p>Sim Long tertawa getir, katanya, &#8220;Begini sikap Ong-heng padanya, apa yang bisa dia katakan pula.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Malam dingin, salju berhamburan. Sim Long tidak lagi minta meninggalkan kota, maka rombongan kembali ke rumah Auyang Hi, hingga malam ketika perjamuan diadakan pula, Cu Jit-jit tetap tutup mulut. Alisnya terkerut, kepala tertunduk, entah apa yang sedang dipikirkan. Siapa pun mengajak bicara juga tidak dipedulikan, seperti tidak mendengar.</p>
<p>Akhirnya Auyang Hi menghela napas, katanya, &#8220;Ong Ling-hoa memang bukan seorang kuncu, tapi kuyakin dia juga bukan lelaki seperti apa yang dikisahkan oleh Nona Cu, kurasa dalam persoalan ini pasti ada salah paham, Sim-heng, kau&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tanpa kau katakan juga kutahu,&#8221; tukas Sim Long.</p>
<p>&#8220;Apa lagi, meski dia bun-bu-siang-coan (serbamahir ilmu silat dan sastra), tapi belum pernah dia pamer di depan umum, kecuali dua-tiga orang tua seangkatanku, penduduk Lokyang hanya tahu dia seorang pemuda kaya yang suka pelesir, siapa pun tidak tahu dia pandai kungfu, terhadap seluk-beluk dunia Kangouw dia lebih-lebih tidak pernah ikut campur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hal itu juga sudah kuketahui,&#8221; kata Sim Long dengan tertawa.</p>
<p>Mendadak Cu Jit-jit menggebrak meja, teriaknya, &#8220;Kau tahu kentut!&#8221;</p>
<p>Sim Long mengerut kening, katanya, &#8220;Urusan sudah sejauh ini, kau masih ingin membuat ribut, kau memfitnah orang, jika Ong-kongcu kurang bijaksana dan ramah tamah, mana dia mau mengampuni kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia tidak mengampuni aku?&#8221; jengek Jit-jit penuh kebencian. &#8220;Hm, justru aku yang tidak akan mengampuni dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa pula yang hendak kau lakukan?&#8221; tanya Sim Long.</p>
<p>Turun-naik dada Jit-jit saking gemas, akhirnya dia menghela napas dan berkata, &#8220;Aku mau tidur.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Memangnya sejak tadi kau perlu tidur&#8230;&#8221;</p>
<p>Sejak tadi Pek Fifi duduk di samping Cu Jit-jit, segera ia berdiri, katanya, &#8220;Biar kulayani Nona beristirahat!&#8221;</p>
<p>Sambil menunduk dia ikut maju melangkah ke sana.</p>
<p>Mendadak Jit-jit membalik dan membentak, &#8220;Siapa minta dilayani? Enyahlah yang jauh.&#8221;</p>
<p>Suara Fifi gemetar, katanya, &#8220;Tapi &#8230;tapi budi pertolongan Nona&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang she Sim itu yang menolong kau dan bukan aku, boleh kau ladeni dia saja,&#8221; sambil mendorong ke belakang Jit-jit lantas berlalu.</p>
<p>Sudah tentu Fifi tidak kuat menahan tolakan itu, tubuh yang lemah itu terhuyung dan air mata bercucuran.</p>
<p>Cepat Sim Long memapahnya, katanya, &#8220;Begitulah tabiatnya, jangan kau berkecil hati, sebenarnya &#8230;sebenarnya &#8230;Ai, lahirnya dia kelihatan galak, padahal hatinya tidak demikian.&#8221;</p>
<p>Berlinang air mata Fifi, ia mengangguk, suaranya masih gemetar, &#8220;Budi kebaikan Nona Cu terhadapku setinggi gunung, selama hidupku ini sudah menjadi miliknya, bagaimanapun sikapnya terhadapku adalah pantas&#8230;&#8221;</p>
<p>Lama Sim Long menatapnya, wajahnya yang tenang mendadak memperlihatkan perasaan haru, sesaat baru dia menghela napas, ujarnya, &#8220;Cuma &#8230;terlalu menyusahkan kau.&#8221;</p>
<p>Fifi tertawa pedih, katanya, &#8220;Aku memang bernasib jelek, derita apa pun sudah biasa kualami, apa lagi &#8230;apalagi para Kongcu bersikap sedemikian baik kepadaku &#8230;inilah &#8230;inilah hari-hari kehidupanku yang paling bahagia&#8230;&#8221;</p>
<p>Tangannya tidak berhenti menyeka air mata, tapi air mata justru tidak berhenti mengalir.</p>
<p>Agak lama Sim Long termenung, akhirnya dia menghela napas, &#8220;Pergilah tidur.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih, Kongcu,&#8221; ucap Fifi, lalu dia memberi hormat dan melangkah pergi.</p>
<p>Auyang Hi menghela napas, katanya, &#8220;Perempuan seperti dia baru terhitung perempuan tulen, lelaki mana bila dapat mempersunting gadis seperti dia, sungguh bahagia selama hidupnya.&#8221;</p>
<p>Si Kucing mendebat, &#8220;Kau berkata demikian, memangnya Nona Cu itu bukan perempuan tulen dan gadis idaman?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nona Cu? &#8230;Kurasa &#8230;oh&#8230;&#8221; Auyang Hi terbatuk-batuk untuk menghilangkan rasa canggungnya.</p>
<p>&#8220;Rase tua, tidak mau bicara, buat apa pura-pura batuk?&#8221; berolok Si Kucing. &#8220;Yang benar, meski Nona Pek sehalus sutra, secantik bunga, tapi Nona Cu juga tidak kalah dibandingkan dia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nona Cu memang sangat cantik, cuma tabiatnya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tahu apa? Dia mengumbar nafsu karena dalam hati sedang dirangsang emosi, lelaki mana yang membuatnya kasmaran baru benar-benar bahagia hidupnya.&#8221;</p>
<p>Auyang Hi tertawa, katanya, &#8220;Apakah betul bahagia, untuk ini kurasa harus tanya Sim-heng.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa tanpa memberi jawaban. Saat mana hujan salju makin lebat di luar, hawa dalam kamar justru masih hangat. Sim Long menatap keluar jendela, mendadak dia bergumam, &#8220;Malam sedingin ini, mengapa ada juga orang yang keluar di bawah hujan lebat?&#8221;</p>
<p>Auyang Hi tidak jelas, dia tanya, &#8220;Apa yang kau katakan, Sim-heng?&#8221;</p>
<p>&#8220;O, tidak apa-apa &#8230;marilah, Him-heng, temani aku minum secangkir.&#8221;</p>
<p>Setelah beberapa cangkir arak masuk ke perut, mendadak Si Kucing mendorong cangkir dan katanya dengan tertawa lebar, &#8220;Siaute sudah tidak kuat minum lagi, aku mau tidur &#8230;haha.&#8221;</p>
<p>Di tengah gelak tertawanya, &#8220;blang&#8221;, dia menumbuk kursi hingga terbalik terus melangkah dengan sempoyongan keluar pintu.</p>
<p>Sim Long berkata, &#8220;Pertemuan meriah begini kenapa kau pergi lebih dulu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarkan kucing itu pergi, mari kita minum tiga ratus cangkir,&#8221; agaknya Auyang Hi mulai sinting.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Setelah berada di luar, mata Si Kucing menjelajah sekitarnya, setelah yakin tiada bayangan orang lain, dengan langkah sempoyongan dia berjalan beberapa langkah lagi, tapi mendadak dia melompat ke balik pohon sana, gerak-geriknya tampak lincah, cekatan dan mantap, sorot matanya yang semula seperti mabuk kini berkilat terang.</p>
<p>Dia meluncur seperti bermain ski saja, meluncur ke samping sana dan melewati serambi, ia melayang ke sana di bawah hujan salju, lalu melompat ke wuwungan yang tertimbun salju.</p>
<p>Hujan salju yang hebat, suasana remang-remang. Sedikit merandek, setelah menentukan arah, Si Kucing melesat kencang ke depan. Embusan angin mengiris muka setajam pisau, dinginnya meresap tulang sumsum, namun dia tidak mengerut kening, dada baju malah disingkap terlebih lebar.</p>
<p>Beruntun dia melompat naik-turun delapan kali, kini dia sudah berada puluhan tombak jauhnya, dari kejauhan sempat dia melihat sesosok bayangan orang yang bergerak di wuwungan rumah di sebelah depan, segera ia berjongkok, menentukan arah dan meneliti sekitarnya. Tanpa mengeluarkan suara Si Kucing merunduk maju ke sana, langkahnya ternyata tidak meninggalkan jejak dan tanpa mengeluarkan suara. Dalam sekejap dia sudah melejit turun di belakang orang itu dan berdiri tegak dengan diam.</p>
<p>Didengarnya orang itu sedang bergumam sendiri, &#8220;Menyebalkan, kenapa turun hujan selebat ini? Pantas kebanyakan maling yang berpengalaman suka bilang &#8216;mencuri jangan pada waktu hujan salju&#8217;, agaknya beroperasi pada saat seperti ini memang tidak leluasa.&#8221;</p>
<p>Si Kucing tertawa, katanya tiba-tiba, &#8220;Apa yang kau curi?&#8221;</p>
<p>Orang itu berjingkat kaget dan membalik tubuh seraya mengayun tangga dan memukul dada Si Kucing, tanpa peduli siapa lawannya, dia menyerang secara keji.</p>
<p>&#8220;Wah, celaka!&#8221; seru Si Kucing. Belum lenyap suaranya, orangnya sudah roboh.</p>
<p>Orang itu berpakaian ketat dan berkerudung kepala, setelah merobohkan orang, dia berdiri bingung malah, bentaknya, &#8220;Siapa kau?&#8221;</p>
<p>Si Kucing telentang kaku sambil merintih-rintih.</p>
<p>Orang itu bergumam, &#8220;Ginkang orang ini tidak rendah, kenapa kungfunya tidak becus&#8230;&#8221; karena ingin tahu, segera dia melompat maju serta jongkok untuk memeriksa siapa gerangan korbannya ini.</p>
<p>Di bawah refleksi cahaya salju, dilihatnya mata Si Kucing terpejam, mukanya pucat.</p>
<p>Begitu melihat wajah Si Kucing, orang itu mendadak berseru kaget, gumamnya pula, &#8220;Kiranya dia &#8230;Wah, ba &#8230;bagaimana baiknya?&#8221;</p>
<p>Agaknya dia gugup dan juga menyesal hingga suaranya gemetar, akhirnya dia raih tubuh Si Kucing dan berkata, &#8220;He, kau kenapa? &#8230;Ayo bicara &#8230;kau &#8230;kau &#8230;kenapa tak berguna, sekali pukul lantas sekarat begini.&#8221;</p>
<p>Dia tidak tahu bahwa Si Kucing sedang memicingkan mata dan mengintip kelakuannya, ujung mulut malah menyungging senyum geli. Mendadak tangannya bergerak menarik kain kerudung yang menutupi muka orang itu.</p>
<p>Orang itu kaget, saking gugupnya berlinang air matanya, siapa lagi dia kalau bukan Cu Jit-jit.</p>
<p>Si Kucing tertawa, katanya, &#8220;Ternyata kau, memang sudah kuduga akan dirimu.&#8221;</p>
<p>Terangkat alis Cu Jit-jit, namun segera ia pun tertawa, &#8220;Oo, apa benar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi tak kuduga sebelumnya, melihat aku roboh terpukul, kau kelihatan khawatir, aku &#8230;aku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau senang sekali, begitu?&#8221; tukas Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Kau bersikap sebaik ini kepadaku, tak sia-sia aku memerhatikan dirimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang selama ini aku amat baik terhadapmu, masa kau tidak tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku &#8230;aku tahu, kau&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku menghendaki kau &#8230;kau mampus,&#8221; mendadak Jit-jit ayun tangan menggampar beberapa kali muka Si Kucing, ditambah sekali tendangan pula hingga Si Kucing jatuh terjungkal.</p>
<p>Si Kucing tertegun ketika mukanya digampar, &#8220;bluk&#8221;, dengan keras dia jatuh terbanting pula di atas salju, pantat seperti mau pecah, kepala pusing dan mata berkunang-kunang.</p>
<p>Dilihatnya Cu Jit-jit bertolak pinggang, memaki sambil membungkuk badan ke arahnya, &#8220;Kau kucing mampus, kucing malas, kucing busuk, memangnya nonamu sudah buta, kau sendiri yang mabuk kepayang, kau &#8230;kau lekas mampus saja.&#8221;</p>
<p>Sambil memaki dia mencomot salju terus ditimpukkan ke badan Si Kucing, lalu berlari pergi tanpa menoleh lagi.</p>
<p>Sekujur badan Si Kucing bertaburan salju, baru saja dia hendak memanggil, ternyata penghuni rumah terjaga bangun karena keributan ini, beberapa orang tampak lari keluar sambil membawa pentung dan menerjang ke arahnya, tanpa bicara terus menghajar Si Kucing dengan bernafsu.</p>
<p>Si Kucing tidak membalas, tapi berteriak-teriak, &#8220;Tahan, berhenti&#8230;&#8221;</p>
<p>Tapi beberapa orang itu mencaci dengan gusar, &#8220;Maling keparat, ganyang saja, ayo dibunuh!&#8221;</p>
<p>Setelah terkena beberapa kali gebukan pentung baru Si Kucing berhasil menerjang keluar terus melompat ke atas genting dan melarikan diri, hatinya dongkol tapi juga geli.</p>
<p>Sejak dia berkecimpung di dunia Kangouw, kapan pernah digebuk orang, apalagi harus melarikan diri dalam keadaan runyam, waktu dia celingukan, bayangan Cu Jit-jit sudah tidak kelihatan. Setelah mengejar beberapa saat lamanya, tak tahan dia mengentak kaki dan mengomel, &#8220;Budak busuk, budak setan, seorang diri berkeliaran, entah apa yang dilakukannya, bikin orang lain khawatir bagimu.&#8221;</p>
<p>Mendadak didengarnya cekikik tawa geli di tempat gelap, katanya, &#8220;Untuk siapa kau bergelisah begini?&#8221;</p>
<p>Sambil membetulkan sanggulnya, Cu Jit-jit tampak muncul dari tempat gelap, tubuhnya yang semampai dan menggiurkan menambah cemerlang cahaya salju yang putih perak.</p>
<p>Si Kucing terpesona mengawasinya, katanya tergegap, &#8220;Untukmu &#8230;tentu saja demi kau.&#8221;</p>
<p>Jit-jit tertawa, &#8220;Jadi budak setan juga memaki diriku?&#8221;</p>
<p>Selangkah demi selangkah dia menghampiri, Si Kucing juga menyurut mundur, dengan tertawa merdu Jit-jit berkata lembut, &#8220;Jangan khawatir, walau kau memakiku, aku tidak marah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah &#8230;bagus sekali&#8230;&#8221; padahal jawaban yang tidak genah, di mana letak baiknya dan mana yang bagus dia tidak tahu, akhirnya Si Kucing tertawa geli sendiri.</p>
<p>&#8220;Coba lihat, sekujur badanmu berlepotan salju, mukamu juga bengep seperti dipukul orang, bocah segede ini, memangnya kau tidak tahu menjaga dirimu sendiri?&#8221; tutur kata Jit-jit lembut penuh kasih sayang, kejadian yang baru menimpa Si Kucing seperti tiada sangkut pautnya dengan dirinya.</p>
<p>Si Kucing jadi menyengir, katanya, &#8220;Nona&#8230;&#8221;</p>
<p>Jit-jit keluarkan saputangan sutra, katanya, &#8220;Lekas kemari, biar kubersihkan wajahmu&#8230;&#8221;</p>
<p>Si Kucing malah mundur sambil menggoyang tangan, katanya, &#8220;Terima kasih, terima kasih, maksud baik Nona tak berani kuterima, selanjutnya asal Nona tidak main kaki dan tangan, Cayhe akan berterima kasih kepadamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tadi aku hanya berkelakar denganmu, apakah kau sesalkan perbuatanku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau ini memang masih bocah, kukira &#8230;lebih baik kau anggap aku sebagai taci saja, supaya kelak Taci bisa selalu membela dirimu.&#8221;</p>
<p>Mendadak Si Kucing terbahak-bahak.</p>
<p>Jit-jit melotot, &#8220;Kenapa tertawa?&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa Si Kucing bertanya, &#8220;Sebetulnya ada urusan apa yang perlu kukerjakan, lekas katakan saja, tak perlu bermuka-muka, jika aku punya taci seperti dirimu, dalam tiga hari saja tulang badanku bisa terhajar remuk.&#8221;</p>
<p>Merah muka Jit-jit, mendadak tinjunya menjotos secepat kilat.</p>
<p>Tapi kali ini Si Kucing sudah siaga, mana mampu dia memukulnya.</p>
<p>Jit-jit mengertak gigi, makinya dengar geregetan, &#8220;Kucing mampus, kucing keparat, kau &#8230;kau.&#8221;</p>
<p>Si Kucing berkata, &#8220;Jangan khawatir, apa saja boleh kau katakan, pasti kukerjakan.&#8221;</p>
<p>Dia bicara sambil tertawa, namun sorot matanya menunjukkan ketulusan hatinya.</p>
<p>Jit-jit tak mampu memakinya lagi, katanya, &#8220;Apa kau bicara setulus hati?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak suka ngecap, ucapanku pasti dapat dipercaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi &#8230;tapi kenapa kau bersikap demikian?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku &#8230;aku &#8230;&#8221; mendadak Si Kucing mengentak kaki, katanya, &#8220;jangan peduli kenapa aku bersikap demikian, pendek kata &#8230;apa yang pernah kuucapkan pasti takkan kujilat kembali, ada persoalan apa yang kau minta kulakukan, katakan saja.&#8221;</p>
<p>Jit-jit menghela napas, &#8220;Apakah kau hafal jalan di kota Lokyang ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kau ingin cari penunjuk jalan, tepat sekali kau cari diriku, jalan raya dan gang sempit di seluruh pelosok kota Lokyang ini serupa rumahku sendiri, dengan mata tertutup juga aku bisa menemukan tempatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, bawalah aku ke pasar bunga kota ini.&#8221;</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Tengah malam musim dingin, pasar bunga kota Lokyang yang biasanya ramai sekarang jadi sepi lengang, penjual kembang yang rajin bekerja sama datang pagi-pagi, tapi tengah malam tak mungkin mereka berada di pasar. Cu Jit-jit keluyuran ke sana kemari, Si Kucing mengintil di belakangnya.</p>
<p>Jit-jit bergumam, &#8220;Apakah kota Lokyang hanya ada pasar kembang satu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, hanya ada di sini, tiada cabang di tempat lain, kalau Nona ingin membeli bunga, sekarang masih teramat pagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bukan ingin beli bunga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak ingin beli bunga, tapi berkeluyuran di pasar bunga, memangnya kau ingin makan angin malam yang dingin?&#8221;</p>
<p>Pandangan Jit-jit menatap ke tempat jauh, mulutnya berkata lirih, &#8220;Dalam hal ini ada rahasianya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Rahasia apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kau ingin tahu, boleh kuceritakan kepadamu, tapi &#8230;&#8221; mendadak dia menoleh dan mengawasi Si Kucing, katanya pula dengan serius, &#8220;sebelum kubeberkan rahasia ini, ingin kutanya padamu.&#8221;</p>
<p>Si Kucing tertawa, &#8220;Sejak kapan kau sungkan padaku? &#8230;Tanya saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ceritaku ini menyangkut Ong Ling-hoa, kau percaya tidak?&#8221;</p>
<p>Berkedip mata Si Kucing, gumamnya, &#8220;Ong Ling-hoa keparat itu adakalanya memang tampak plinplan, kalau orang tanya asal usul ilmu silatnya, sepatah kata pun dia tak mau memberi keterangan. Coba katakan apa saja yang pernah dilakukannya, aku tidak akan kaget atau heran.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, pasti tidak salah lagi. Hari itu aku sembunyi di bawah kereta, waktu masuk kota Lokyang pernah lewat dan mampir di pasar bunga ini, gadis-gadis di atas kereta turun sejenak membeli bunga segar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maka sekarang kau ingin menelusuri kejadian hari itu mulai dari pasar bunga ini untuk menemukan tempat di mana kau pernah disekap, begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau memang pintar,&#8221; puji Jit-jit tertawa.</p>
<p>&#8220;Syukurlah kalau tidak bodoh,&#8221; ujar Si Kucing dengan jenaka.</p>
<p>&#8220;Bagus, orang pintar, pergilah cari sebuah kereta dan bawa kemari.&#8221;</p>
<p>Mata Si Kucing terbelalak, tanyanya heran, &#8220;Cari kereta untuk apa?&#8221;</p>
<p>Jit-jit menggeleng, katanya, &#8220;Baru saja bilang kau pandai, kenapa berubah bodoh pula. Hari itu aku sembunyi di bawah kereta, tiada yang bisa kulihat, terpaksa diam-diam aku mengingat arah kereta berjalan, maka sekarang aku harus mengulang dengan sebuah kereta&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, kali ini memang akulah yang bodoh, kenapa hal sepele begini tidak kupahami. Tapi tengah malam buta begini, ke mana dapat kucari kereta?&#8221;</p>
<p>&#8220;Laki-laki macam dirimu, persoalan apa yang pernah menyulitkan kau? Jangankan hanya sebuah kereta, sepuluh kereta juga dapat kau bawa kemari, betul tidak?&#8221;</p>
<p>Si Kucing garuk-garuk kepala, &#8220;Tapi &#8230;tapi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku minta tolong, ya &#8230;aku minta tolong, usahakan!&#8221; pinta Jit-jit.</p>
<p>Si Kucing menghela napas. &#8220;Baiklah, aku akan berusaha.&#8221;</p>
<p>Jit-jit tertawa lebar, katanya, &#8220;Nah, memang kau anak penurut, lekas pergi dan lekas pulang, aku menunggumu &#8230;&#8221; lalu dirabanya wajah orang dan berbisik di pinggir telinganya, &#8220;harus berhasil dan lekas bawa kemari, jangan membuatku kecewa.&#8221;</p>
<p>Si Kucing bersungut-sungut, menggeleng kepala dan melangkah pergi.</p>
<p>Kira-kira sepemasakan air, terdengar derap kuda lari di bawah embusan angin dan taburan salju, tampak Si Kucing membawa datang sebuah kereta besar, wajahnya tampak puas dan bangga.</p>
<p>Jit-jit menyambut kedatangannya sambil berkeplok senang, serunya, &#8220;Bagus, engkau memang pintar, dari mana kau peroleh kereta besar ini? Di mana kusirnya? Apakah kau curi kereta ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mencuri atau merampas sama saja, pendek kata aku sudah menunaikan tugas dengan baik, memangnya kau belum puas? Untuk apa kau tanya asal usul kereta ini?&#8221;</p>
<p>Jit-jit cekikikan, lalu ia hendak menyelinap ke bawah kereta.</p>
<p>&#8220;He, kau mau apa?&#8221; tanya Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Goblok, berapa kali kukatakan padamu? Hari itu aku sembunyi di bawah kereta, maka sekarang aku&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Si Kucing bergelak tertawa, &#8220;Betul, betul, aku memang goblok!&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya kau tidak goblok? Apa yang kau tertawakan?&#8221;</p>
<p>Si Kucing menahan gelinya, katanya, &#8220;Nona manis, hari itu karena khawatir kepergok orang, maka kau sembunyi di bawah kereta, tapi sekarang untuk apa kau sembunyi di bawah kereta pula? Untuk meneliti arah dan tujuan, apa bedanya duduk saja di depan kereta, kenapa harus meringkal di bawah kereta?&#8221;</p>
<p>Merah muka Jit-jit, sesaat kemudian dia berkata sambil bersungut, &#8220;Hm, anggap alasanmu kali ini betul, tapi juga alasan biasa, kenapa bangga? Orang bodoh adakalanya juga bisa pintar.&#8221;</p>
<p>Si Kucing melongo, gumamnya kemudian, &#8220;Pantas Sim Long tidak berani bercuit di depanmu, nona segalak dan sebinal ini, orang gelandangan seperti diriku ini juga mati kutu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa katamu?&#8221; bentak Jit-jit mendelik.</p>
<p>&#8220;Tidak apa-apa,&#8221; sahut Si Kucing gelagapan, &#8220;Nona baik, Nona manis, lekas naik kereta.&#8221; Segera Si Kucing ayun cemeti, &#8220;tar&#8221;, kereta berkuda itu segera berlari ke depan.</p>
<p>Jit-jit duduk di sampingnya, memejamkan mata dan mulut mulai menghitung, &#8220;Satu, dua, tiga &#8230;tiga puluh &#8230;empat puluh &#8230;&#8221; sampai hitungan empat puluh tujuh mendadak dia membuka mata dan berseru, &#8220;keliru, keliru!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apanya yang keliru?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kereta ini terlalu lambat, dibandingkan laju kereta hari itu jauh lebih lambat, lekas putar balik dan ulangi lagi dari depan pasar bunga.&#8221;</p>
<p>Si Kucing menghela napas dan mengiakan, kereta diputar balik dan diulang.</p>
<p>Kembali Jit-jit menghitung, &#8220;Satu, dua, tiga &#8230;&#8221; waktu hitung sampai empat puluh tujuh, kembali dia membuka mata dan berteriak, &#8220;salah, salah lagi, kali ini terlalu cepat.&#8221;</p>
<p>Si Kucing tak sabar, katanya dengan mendongkol, &#8220;Apakah kau tidak bisa tahu lebih dini bila salah? Kenapa setelah sejauh ini baru&#8230;&#8221;</p>
<p>Jit-jit mendekap mulut orang, katanya dengan lembut dan tertawa, &#8220;Hanya sekali lagi, ya, sekali saja, apa kau tidak sudi membantuku?&#8221;</p>
<p>Sesaat Si Kucing menatapnya dengan kesima, akhirnya dia tertawa getir, katanya, &#8220;Di hadapanmu, aku benar-benar tak berdaya lagi, jangankan hanya sekali, sepuluh kali juga kulakukan.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara kereta dia putar balik.</p>
<p>&#8220;Kau memang anak baik,&#8221; puji Jit-jit dengan tertawa.</p>
<p>Waktu kereta dilarikan lagi, kecepatannya kali ini tepat, Jit-jit terus menghitung sampai 90, lalu berkata, &#8220;Belok kanan, lalu belok ke kiri.&#8221;</p>
<p>Si Kucing memang melihat ada simpang jalan ke kanan. Maka kereta lantas dibelokkan ke kanan, di sebelah depan benar juga ada jalan yang membelok ke kanan, bilang belok kiri juga betul ada jalan membelok ke kiri, meski hitungan jaraknya ada sedikit berselisih, tapi kebanyakan tepat, mau tidak mau Si Kucing memuji dalam hati, &#8220;Daya ingat budak ini memang hebat, apa yang dikatakannya agaknya bukan bualan.&#8221;</p>
<p>Tengah Si Kucing membatin, mendadak didengarnya Cu Jit-jit berseru dengan tertawa, &#8220;Sudah sampai, pasti di sini!&#8221;</p>
<p>Lekas Si Kucing tarik tali kendali dan menghentikan kereta, tanyanya heran, &#8220;Di sini?&#8221;</p>
<p>Waktu Jit-jit membuka mata, dilihatnya jalan raya di sini dilapisi balok-balok batu besar, diapit dinding tinggi, di depan sana terdapat sebuah pintu besar bercat merah, undakan batu tampak bersih dan rata, lampion terpasang benderang, di kedua samping undakan terdapat jalan samping yang bisa buat lewat kuda dan kereta, sekilas pandang, seketika dia berseru girang, &#8220;Ini dia, pintu itulah!&#8221;</p>
<p>Si Kucing tampak heran dan kaget, katanya, &#8220;Maksudmu pintu di sana itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kali ini mungkin kau keliru.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak salah, tidak keliru, pasti tidak keliru.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku justru bilang keliru, karena penghuni rumah ini sudah kukenal.&#8221;</p>
<p>Jit-jit kaget dan terbelalak, katanya, &#8220;Kau kenal? Apa betul rumah Ong Ling-hoa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang Ong Ling-hoa sering kemari, tapi pasti bukan rumahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu &#8230;tempat apakah sebetulnya?&#8221;</p>
<p>Si Kucing menyengir, katanya sambil menggeleng, &#8220;Tak dapat kukatakan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa tak dapat kau katakan, aku justru ingin kau bicara &#8230;Ayo katakan, lekas!&#8221;</p>
<p>Karena terdesak, Si Kucing ragu-ragu, ucapnya, &#8220;Baiklah, kukatakan, tapi setelah dengar, jangan merah mukamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mukaku merah? Memangnya begitu gampang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, biar kujelaskan, itulah tempat lampu merah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tempat lampu merah&#8221; artinya sarang pelacur, tapi Cu Jit-jit tidak tahu, setelah melenggong sekian saat, lalu diliriknya beberapa kali, katanya, &#8220;Pintu besar itu diterangi lampion sebesar itu, mana ada lampu merah?&#8221;</p>
<p>Si Kucing melongo, katanya dengan tertawa getir, &#8220;Maksudku penghuni di rumah ini adalah kaum bidadari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Penghuni rumah itu jelas kawanan iblis, kau justru bilang bidadari, memangnya kau juga sehaluan dengan mereka?&#8221;</p>
<p>Dongkol hati Si Kucing, dengan tawa tertahan dia berkata, &#8220;Nona manis, apakah benar kau tidak tahu apa-apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa pun aku tahu, kau &#8230;kau memang sehaluan dengan mereka, kau &#8230;kalian memang ingin menggoda aku,&#8221; akhir katanya suaranya sudah setengah terisak.</p>
<p>&#8220;Nona manis, Nona ayu, jangan menangis &#8230;jangan menangis&#8230;&#8221;</p>
<p>Jit-jit melengos sambil mengentak kaki, &#8220;Kentut, siapa menangis? &#8230;Lekas katakan, tempat apakah itu, lekas katakan!&#8221;</p>
<p>Si Kucing menghela napas, &#8220;Baiklah, kujelaskan, bidadari adalah &#8230;adalah nona-nona yang kerjanya tidak senonoh.&#8221;</p>
<p>Khawatir Jit-jit curang paham, segera dia menambahkan dengan blakblakan, &#8220;Tempat itu adalah sarang pelacur, penghuninya semua pelacur.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu malu Jit-jit, ia menunduk dan memainkan ujung baju, mendadak dia membalik tubuh dan melotot kepada Si Kucing, teriaknya, &#8220;Sarang pelacur? Mana mungkin sarang pelacur? Kau tipu aku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau tidak percaya, kenapa tidak kau masuk memeriksanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masuk ya masuk, memangnya aku takut?&#8221; segera dia melompat turun terus berlari ke sana, tangan diangkat dan hendak menggedor pintu.</p>
<p>Tapi tangan yang sudah terangkat itu terhenti di udara, mendadak dia membalik dan lari kembali.</p>
<p>Dengan tertawa Si Kucing mengawasi tingkah lakunya tanpa bicara.</p>
<p>Didengarnya Jit-jit bergumam, &#8220;Sarang pelacur, ya, mungkin saja tempat ini sarang pelacur. Pek-hun-bok-li itu adalah &#8230;adalah bidadari, sarang pelacur, digunakan sebagai tempat operasi untuk menyembunyikan perbuatan mereka, memang akal yang bagus, siapa yang menduga orang-orang gagah yang biasa malang melintang di dunia persilatan bisa menjadi tawanan kawanan pelacur, lalu digusur dan disekap dalam sarang pelacur?&#8221;</p>
<p>Si Kucing masih mengawasi tanpa bicara, namun kedua alisnya tampak bekernyit, senyum pun lenyap, kini kelihatan prihatin.</p>
<p>Jit-jit menarik lengan bajunya, katanya perlahan, &#8220;Bagaimanapun aku sudah berada di sini, apa pun harus kuselidiki hingga jelas duduknya perkara.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang harus demikian, lekas Nona masuk saja.&#8221;</p>
<p>Jit-jit melenggong, &#8220;Kau &#8230;kau suruh aku masuk sendiri?&#8221;</p>
<p>Si Kucing berkedip-kedip, katanya, &#8220;Apa Nona minta kutemani masuk?&#8221;</p>
<p>Jit-jit gigit bibir dengan mendongkol, &#8220;Hm, memangnya kau ingin kumohon padamu &#8230;Huh, jangan harap, kau kira aku tidak pernah masuk ke sana, memangnya apa yang perlu ditakuti?&#8221;</p>
<p>Lahirnya bilang tidak takut, padahal dalam hatinya takut sekali, adegan di dalam kamar bawah tanah, betapa tinggi kungfu si nyonya setengah baya yang cantik itu, betapa jahat dan culas hatinya, semua itu cukup membuatnya ngeri dan bergidik. Kejadian itu betul-betul membuatnya takut, seorang diri betapa pun dia tak berani masuk ke sana.</p>
<p>Akhirnya Jit-jit bersuara, &#8220;Kau&#8230;kau&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku kenapa?&#8221; tanya Si Kucing.</p>
<p>&#8220;Apa kau tidak ingin masuk ke sana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk masuk ke tempat ini aku harus menunggu bila hari sudah mulai gelap, kantongku penuh berisi, dengan langkah lebar dan membusung dada kumasuk melalui pintu besar, mana boleh menyelundup masuk di tengah malam buta?&#8221; </p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.info">Cerita Silat</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-11/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Baja (10)</title>
		<link>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-10/</link>
		<comments>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-10/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 02:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendekar Baja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.info/?p=808</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gu Long
Bukan saja mampu meluputkan diri dari dua jurus serangan keji, gerak-gerik lawan ternyata juga aneh dan lincah, mau-tidak-mau si nyonya tampak gugup, bentaknya beringas, &#8220;Masih ada sejurus, sambutlah!&#8221;

Kembali telapak tangannya didorong perlahan, gayanya mirip jurus pertama tadi.
Si Kucing menjengek, &#8220;Tadi sebetulnya sudah cukup tiga jurus, tapi apa alangannya aku mengalah sejurus lagi.&#8221;
Beberapa patah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Gu Long</strong></p>
<p>Bukan saja mampu meluputkan diri dari dua jurus serangan keji, gerak-gerik lawan ternyata juga aneh dan lincah, mau-tidak-mau si nyonya tampak gugup, bentaknya beringas, &#8220;Masih ada sejurus, sambutlah!&#8221;<br />
<span id="more-808"></span><br />
Kembali telapak tangannya didorong perlahan, gayanya mirip jurus pertama tadi.</p>
<p>Si Kucing menjengek, &#8220;Tadi sebetulnya sudah cukup tiga jurus, tapi apa alangannya aku mengalah sejurus lagi.&#8221;</p>
<p>Beberapa patah kata ini tidak pendek, tapi selesai diucapkannya, pukulan telapak tangan si nyonya baju hijau juga baru mencapai setengah jalan, si Kucing berdiri sekukuh gunung, bola matanya menatap tajam seperti mata harimau, siap menunggu serangan lawan dan segera akan melancarkan serangan balasan mematikan.</p>
<p>Terdengar nyonya berbaju hijau menghardik, &#8220;Kena!&#8221;</p>
<p>Telapak tangan berhenti bergerak, tapi kaki kanan mendadak melayang, menendang selangkangan.</p>
<p>Jurus serangan yang tak terduga oleh lawan, namun si Kucing masih sempat berkelit meski agak kelabakan.</p>
<p>Mendadak lengan baju si nyonya mengebas, puluhan bintik sinar lembut menyambar keluar dan berkembang melebar, tiga tombak di kanan-kiri si Kucing terjangkau oleh bintik sinar kemilau itu, betapa pun tinggi kungfu si Kucing, kali ini jelas tak mampu menyelamatkan diri dari am-gi atau senjata rahasia yang ganas ini.</p>
<p>Anak buahnya baru saja bersorak girang ketika melihat si Kucing berhasil meluputkan diri dari serangan berbahaya lawan, kini melihat pemimpin mereka terancam bahaya pula, semuanya menjerit kaget dan khawatir.</p>
<p>Pada detik yang menentukan itulah, buli-buli arak di tangan si Kucing mendadak berputar, puluhan bintik sinar kemilau yang berkembang di udara itu laksana rombongan lebah sekaligus meluncur ke dalam sarangnya, seluruhnya tersedot oleh buli-buli itu.</p>
<p>Nyonya baju hijau terperanjat, sebaliknya anak buah si Kucing berkeplok girang.</p>
<p>Si Kucing menegakkan badan sambil bergelak tertawa, katanya, &#8220;Senjata rahasia keji, tangan yang ganas, untung berhadapan dengan si Kucing, kakek moyangnya ahli antiberbagai am-gi dari segenap perguruan di dunia ini.&#8221;</p>
<p>Gemetar suara si nyonya baju hijau, &#8220;Kau&#8230;dari mana kau peroleh buli-buli ini?&#8221;</p>
<p>Si Kucing tertawa, katanya, &#8220;Tidak perlu kau urus, sambutlah sejurus seranganku!&#8221;</p>
<p>Di tengah gelak tertawanya, buli-buli mendadak menghantam dengan dahsyatnya.</p>
<p>Cepat si nyonya baju hijau menyurut mundur beberapa langkah dan tidak balas menyerang.</p>
<p>Si Kucing tertawa, &#8220;Eh, kenapa berhenti, ayolah serang pula.&#8221;</p>
<p>Mendelik benci si nyonya baju hijau, desisnya sambil mengertak gigi, &#8220;Tak nyana hari ini aku bertemu dengan kau&#8230;Buli-bulimu itu&#8230;&#8221; setelah mengentak kaki ia menambahkan, &#8220;Sudahlah.&#8221;</p>
<p>Segera dia berputar hendak lari.</p>
<p>&#8220;Masa mau pergi begitu saja,&#8221; si Kucing mencemooh, sinar kemilau berkelebat, golok pendek tercabut dari pinggangnya, cahaya lembayung mendadak mencegat jalan pergi si nyonya baju hijau.</p>
<p>Merah mata si nyonya baju hijau, mendadak dia angkat Pek Fifi yang dikempitnya terus diangsurkan ke arah golok. Keruan si Kucing terkejut, lekas dia menarik golok dan menangkap tubuh Pek Fifi, dalam sekejap itu si nyonya berbaju hijau sudah melesat pergi beberapa tombak jauhnya, sekali melejit pula, bayangannya lantas lenyap.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Go-losi sedang mengayun langkah menyusuri jalan, mendadak dilihatnya kedua &#8220;kambing gemuk&#8221; yang banyak uang kertas itu sedang tanya ini-itu kepada seorang lelaki di bawah pohon sana.</p>
<p>Wajah orang yang lebih tua itu tampak kaku dingin, wajahnya aneh dan seram, sepintas pandang bentuknya seperti mayat hidup, siapa pun yang melihatnya pasti mengirik.</p>
<p>Sementara yang lebih muda bersikap ramah santai dan gagah, ujung mulutnya mengulum senyum, berhadapan dengan dia siapa pun akan merasa sejuk seperti melihat bunga mekar di musim semi, ingin rasanya berkenalan dan bersahabat dengan dia.</p>
<p>Tergerak hati Go-losi, pikirnya, &#8220;Him-toako sedang mencari mereka, mungkin mereka juga sedang mencari Him-toako, sungguh kebetulan, sayang orang yang ditanya bukan saudara anggota kita.&#8221;</p>
<p>Segera dia menghampiri dengan langkah lebar, sapanya dengan tertawa, &#8220;Apakah kalian sedang mencari orang?&#8221;</p>
<p>Orang yang sedang bertanya pada lelaki di bawah pohon memang betul Kim Bu-bong dan Sim Long, sesaat mereka mengawasi Go-losi, sorot mata Sim Long tampak cerah, katanya dengan tertawa, &#8220;Orang yang kami cari, apakah Saudara mengenalnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba kalian jelaskan siapa yang kalian cari?&#8221; tanya Go-losi.</p>
<p>Kucing kemala segera dikeluarkan oleh Sim Long dan diangsurkan ke depan Go-losi, katanya dengan tertawa, &#8220;Orang yang memiliki mainan kucing ini.&#8221;</p>
<p>Go-losi tertawa, segera dia ulur tangan hendak mengambil kucing kemala itu, tapi Sim Long lantas menarik tangannya, Go-losi jadi menyengir katanya, &#8220;Kalau kalian mencari orang lain, mungkin Siaute tidak mengenalnya, tapi pemilik kucing kemala ini&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau kenal dia? Di mana dia sekarang?&#8221; tanya Sim Long.</p>
<p>&#8220;Silakan ikut padaku,&#8221; kata Go-losi, ia putar tubuh terus melangkah pergi.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Musim dingin siang lebih pendek, malam datang lebih cepat.</p>
<p>Api unggun dalam kuil bobrok itu tampak berkobar, di atas dinding menyala pula lima batang obor, kuil bobrok yang terpencil ini jadi terasa hangat.</p>
<p>Si Kucing sedang duduk di atas sebuah kasur bundar sambil bertopang dagu mengawasi kedua perempuan buruk rupa yang berada di samping api unggun. Terasa olehnya ada sesuatu yang kurang beres pada kedua perempuan ini, walau sejauh ini dia belum menyadari bahwa kedua perempuan buruk ini telah diproses sedemikian rupa oleh tangan seorang ahli hingga bentuk wajahnya berubah sama sekali dari aslinya.</p>
<p>Ilmu rias keluarga Suto memang hebat luar biasa.</p>
<p>Terasa pula oleh si Kucing kedua perempuan ini seperti ingin melimpahkan banyak persoalan yang mengganjal hatinya, tapi tak mampu buka suara, maka sorot matanya saja yang berbicara, sorot mata mereka tampak gelisah, mendesak namun juga malu-malu di samping senang pula.</p>
<p>Tak terpikir oleh Cu Jit-jit bahwa nasib manusia memang serbaaneh, orang yang menolong dan membebaskan dia dari belenggu iblis ternyata adalah pemuda bajingan yang pernah dibencinya, sedangkan Sim Long&#8230;ai, entah di mana Sim Long sekarang.</p>
<p>Buli-buli arak yang serbaguna itu ternyata berada dekat lutut si Kucing, di sekitar perut buli-buli yang gendut itu penuh menemplek jarum lembut yang runcing mengilap seperti dilem saja lengket di atasnya, di bawah pancaran cahaya api, jarum-jarum itu tampak berkilau biru.</p>
<p>Pandangan si Kucing beralih ke arah buli-buli araknya, lalu dengan sepotong kayu kecil dia cungkil sebatang jarum serta diperiksanya dengan saksama, mendadak air mukanya berubah kelam.</p>
<p>Pada saat itulah Go-losi menerobos masuk seraya berseru, &#8220;Toako, Siaute membawa tamu untukmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa?&#8221; tanya si Kucing dengan berkerut kening. Sembari bicara dia membalik badan, maka dilihatnya Kim Bu-bong dan Sim Long melangkah masuk. Wajah Kim Bu-bong tetap kaku masam, sedang Sim Long tetap tersenyum ramah.</p>
<p>Sim Long angsurkan batu kemala itu dengan kedua tangan, si Kucing menerima dengan kedua tangan pula, sepatah kata pun kedua orang ini tidak berucap, hanya sama tersenyum saja, namun segala perasaan hati masing-masing sudah terjalin dalam senyum persahabatan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-10/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Baja (09)</title>
		<link>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-09/</link>
		<comments>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-09/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 02:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendekar Baja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-09/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gu Long
Usianya sudah mendekati setengah abad, tapi berdandan seperti pemuda bangsawan atau anak pembesar, tangan kiri menjinjing sangkar burung kenari, tangan kanan memegang pipa tembakau, sabuknya emas dengan beberapa kantong bersulam tergantung di pinggang, seakan khawatir orang tidak tahu dirinya kaya, maka kantong yang penuh berisi uang itu semua terbuka tutupnya hingga logam kuning [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Gu Long</strong></p>
<p>Usianya sudah mendekati setengah abad, tapi berdandan seperti pemuda bangsawan atau anak pembesar, tangan kiri menjinjing sangkar burung kenari, tangan kanan memegang pipa tembakau, sabuknya emas dengan beberapa kantong bersulam tergantung di pinggang, seakan khawatir orang tidak tahu dirinya kaya, maka kantong yang penuh berisi uang itu semua terbuka tutupnya hingga logam kuning kelihatan gemerlapan.<br />
<span id="more-807"></span><br />
Orang banyak memang dapat melihat tingkah lakunya, tapi semua orang hampir muntah karena mual terhadap laki-laki gendut berbau tengik ini, celakanya di belakangnya ikut keluar seorang gadis berbaju putih yang cantik bagai bidadari, seperti burung dara saja lengket di samping si gendut.</p>
<p>Kalau si gendut memuakkan, gadis ini bak teratai yang tumbuh di dalam lumpur, cantik sekali, terutama sikapnya yang seperti minta dikasihani, lelaki mana pun akan tergiur.</p>
<p>Melihat kedua orang ini, sungguh senang Jit-jit bukan main.</p>
<p>Kiranya lelaki tambun ini bukan lain ialah Keh-pak-bwe, gadis jelita itu jelas adalah Pek Fifi yang pantas dikasihani.</p>
<p>Melihat Pek Fifi kembali terjatuh ke tangan Keh-pak-bwe, mau tak mau hati Jit-jit jadi sedih dan kasihan, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini, setiap melihat orang yang dikenalnya, dirasakan seperti kedatangan penolong yang akan membebaskan dirinya.</p>
<p>Waktu itu kebetulan ada sebuah meja kosong di sebelah kiri Cu Jit-jit, Keh-pak-bwe dengan langkah dibuat-buat membawa Pek Fifi berduduk di meja itu, kebetulan duduk di depan Cu Jit-jit.</p>
<p>Jit-jit berharap dan menunggu Pek Fifi akan angkat kepala, malah ia pun berharap Keh-pak-bwe akan melihat dirinya, maka ia melotot mengawasi kedua orang ini hingga lama, sampai mata terasa pegal.</p>
<p>Akhirnya Pek Fifi angkat kepala, Keh-pak-bwe juga memandangnya sekejap. Tapi sekali pandang laki-laki kikir yang suka menggasak uang orang ini seketika mengunjuk rasa jijik, dia meludah ke samping terus melengos ke arah lain.</p>
<p>Demikian pula sorot mata Pek Fifi juga mengunjuk rasa kasihan, tapi dia diam saja seperti tidak mengenalnya, tidak tersenyum, tidak mengangguk atau menyapa.</p>
<p>Keruan Jit-jit heran, marah, dan kecewa, kalau Keh-pak-bwe bersikap tak acuh kepadanya masih dapat dimaklumi, tapi Pek Fifi, apakah dia tidak kenal budi?</p>
<p>Akhirnya dia hanya menghela napas, batinnya, &#8220;Sudahlah, manusia di dunia ini memang banyak yang tidak tahu balas budi, apa gunanya aku hidup di dunia ini?&#8221;</p>
<p>Sungguh ia kecewa dan putus asa, tekad untuk mati makin menggelora dalam sanubarinya.</p>
<p>Didengarnya si nyonya baju hijau berkata kepadanya, &#8220;Anak baik, kau dahaga, minumlah teh ini.&#8221;</p>
<p>Jit-jit berpikir, &#8220;Cara lain untuk membunuh diri tidak ada, biar aku mogok makan minum saja.&#8221;</p>
<p>Air teh yang dituang ke mulutnya kontan disemburkan ke atas meja. Air teh berceceran di atas meja yang mengilap sehingga mirip sebuah cermin. Tanpa terasa Jit-jit menunduk, mendingan dia tidak melihat permukaan meja, karena apa yang dilihat pada permukaan meja seketika membekukan darahnya.</p>
<p>Dengan air teh yang tumpah di atas meja, dia dapat bercermin melihat muka sendiri, dilihatnya wajah yang kelihatan bukan lagi wajah cantik molek dulu, tapi seraut wajah yang tak keruan bentuknya, hidung yang semula mancung sekarang berubah jadi peyot, bibir yang tipis mungil kini berubah merot, muka yang halus kini berubah kisut, wajah yang cantik seperti bidadari dahulu sekarang lebih mirip hantu.</p>
<p>Sungguh tidak kepalang kaget Jit-jit, remuk redam hatinya.</p>
<p>Umumnya orang perempuan memandang kecantikan melebihi jiwa sendiri, bahwa wajah yang dulu begitu ayu kini rusak jadi begini, betapa luluh perasaannya, ia membatin, &#8220;Pantas sepanjang jalan orang yang melihat aku sama merasa jijik dan keheranan, tak heran pula Pek Fifi jadi tidak mengenalku lagi&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekarang dia ingin menggembor, ingin menangis, ingin mati pun sukar terlaksana, mendadak dia mengertak gigi dan menumbuk meja sekuatnya.</p>
<p>&#8220;Brak, prang!&#8221; meja ambruk, cangkir piring dan perabot lainnya sama berantakan, Jit-jit juga jatuh terguling di lantai, menggelinding di antara pecahan beling.</p>
<p>Tetamu menjadi panik, si nyonya baju hijau tampak gugup dan kerepotan, Pek Fifi dan beberapa orang lain memburu datang membantu si nyonya untuk memapah Jit-jit. Seorang menghela napas dan mengawasi dia, katanya, &#8220;Nona, lihatlah betapa sabar dan kasih sayang orang tua ini merawat dan menjagamu, kau harus turut nasihatnya, jangan lagi berbuat hal-hal yang mendatangkan kesulitan bagi beliau dan juga untuk dirimu sendiri.&#8221;</p>
<p>Ternyata si nyonya baju hijau sedang mencucurkan air mata, katanya, &#8220;Sejak kecil keponakanku ini memang sudah cacat, dasar nasibnya jelek, dilahirkan dalam keadaan seperti ini, maklum bila wataknya juga rada pemberang, jangan kalian salahkan dia.&#8221;</p>
<p>Hadirin menggeleng kepala mendengar ucapan si nyonya, banyak pula yang menghela napas, semua bersimpati padanya. Jit-jit dipapah duduk kembali di atas kursi, mau menangis juga tak keluar air mata. Siapa pula yang tahu betapa sengsara dan tersiksa hatinya? Siapa pula akan tahu betapa jahat dan keji tujuan si nyonya berbaju hijau, siapa pula yang dapat menolong dirinya? Ia benar-benar putus asa, umpama Sim Long sekarang berdiri di depannya juga tidak akan mengenalnya lagi, apalagi orang lain, jangan harap orang lain akan menolongnya.</p>
<p>Pek Fifi mengeluarkan saputangan untuk mengusap air mata di pipi Jit-jit, katanya perlahan, &#8220;Cici, jangan menangis, walau kau&#8230;walau kau dihinggapi penyakit, tapi&#8230;tapi ada sementara gadis yang berparas cantik hidupnya justru lebih menderita daripadamu&#8230;&#8221; gadis lemah ini agaknya teringat akan nasib sendiri, tak tertahan lagi air matanya meleleh. Dengan sesenggukan dia berkata pula, &#8220;Apa pun engkau masih ada yang merawat dan memerhatikan dirimu seperti bibi ini, sebaliknya aku&#8230;aku&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Keh-pak-bwe membentak, &#8220;Fifi, lekas kembali!&#8221;</p>
<p>Bergetar badan Pek Fifi, seketika mukanya pucat, cepat ia mengusap air mata, diam-diam ia melolos sebuah peniti bermutiara dan disisipkan ke tangan si nyonya baju hijau, lalu lari balik ke sana.</p>
<p>Nyonya baju hijau itu melenggong mengawasi bayangan punggungnya, gumamnya sambil menghela napas, &#8220;Nona yang baik hati, semoga Thian selalu melindungimu.&#8221;</p>
<p>Suara lembut yang penuh kasih sayang, wajah yang arif bijaksana, sungguh seorang tua yang terpuji. Tapi siapa tahu di balik wajahnya yang baik itu tersembunyi sebuah hati yang jahat, hati iblis.</p>
<p>Cu Jit-jit menatapnya, air matanya hampir berubah menjadi darah. Dia teringat kepada Ong Ling-hoa dan Toan-hong-cu, meski kedua orang ini rendah dan kotor, keji dan culas, tapi dibandingkan nyonya ini, mereka masih terhitung orang baik. Kini wajah sendiri sudah rusak, jiwa-raganya tergenggam di tangan si iblis, kecuali ingin lekas mati, harapan apa lagi yang didambakannya? Dengan keras dia mengertak gigi, sebutir nasi pun tidak mau makan, setetes air pun tidak mau minum.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Ketika malam tiba, di bawah bantuan pelayan hotel yang simpatik dan berkasihan, nyonya baju hijau memasuki sebuah kamar yang terletak di pojok barat, tempat yang sepi serta tenang.</p>
<p>Perut Jit-jit sudah keroncongan, tenggorokan kering, baru sekarang dia tahu kelaparan adalah siksaan yang tidak enak, tapi dahaga lebih menyiksa lagi, lehernya seperti dibakar.</p>
<p>Setelah mengantar minuman, pelayan hotel keluar sambil menghela napas, akhirnya tinggal Jit-jit dan si nyonya berbaju hijau, iblis jahat itu berdiri di depan Jit-jit dan menatapnya.</p>
<p>Mendadak si nyonya menjambak rambutnya, katanya dengan menyeringai, &#8220;Budak busuk, kau tidak mau makan minum, memangnya ingin mampus?&#8221;</p>
<p>Mendadak Jit-jit membuka matanya, dengan penuh kebencian dia tatap orang, walau mulut tidak mampu bicara, tapi sorot matanya menampilkan tekad ingin mati saja.</p>
<p>&#8220;Setelah terjatuh di tanganku, ingin mampus?&#8230;hehehe, tidak begitu gampang. Kukira lebih baik kau tunduk dan menurut saja, kalau tidak&#8230;&#8221; mendadak tangannya melayang pulang-balik, muka Jit-jit ditamparnya.</p>
<p>Memangnya sudah benci dan nekat, Jit-jit tetap menatapnya dengan mendelik. Sorot matanya yang penuh dendam seperti mau bilang, &#8220;Aku bertekad akan mati, apa pula yang kutakutkan? Mau pukul mau bunuh boleh kau lakukan.&#8221;</p>
<p>Si nyonya menyeringai pula, katanya, &#8220;Budak busuk, tak nyana watakmu sebandel ini, kau tidak takut ya?&#8230;Baik, ingin kubuktikan apa kau takut tidak.&#8221;</p>
<p>Waktu mengucapkan kata terakhir, mendadak suaranya berubah logat seorang lelaki, kedua tangan terus meraih paha Jit-jit.</p>
<p>Walau sudah terbuktikan nyonya baju hijau ini berhati keji, jahat dan culas, tapi mimpi pun tidak terbayang oleh Jit-jit bahwa perempuan ini samaran seorang lelaki.</p>
<p>&#8220;Bret&#8221;, tahu-tahu si &#8220;nyonya&#8221; merobek pakaian Jit-jit, sebelah tangannya lantas meraba dada Jit-jit yang hangat.</p>
<p>Air mata bercucuran, badan Jit-jit bergetar keras, meski tidak takut mati, mana bisa dia tidak ngeri bila dirinya dijamah dan dihina oleh tangan kotor iblis laknat ini.</p>
<p>Nyonya baju hijau itu tertawa terkial-kial, katanya, &#8220;Sebetulnya aku ingin melayanimu dengan baik, akan kuantarkan ke suatu tempat untuk hidup bahagia, tapi kau tidak tahu kebaikan, terpaksa aku mencicipi dulu keindahan tubuhmu&#8230;&#8221;</p>
<p>Badan Jit-jit masih di bawah remasan tangan si iblis, dadanya yang putih kenyal itu kini sudah mulai bersemu merah karena belaian jari jemari iblis itu.</p>
<p>Jit-jit tidak bisa menghindar, juga tidak dapat melawan, ingin marah pun tidak mampu, sorot matanya hanya menampilkan rasa mohon belas kasihan.</p>
<p>Nyonya berbaju hijau tertawa senang, katanya, &#8220;Kau takut sekarang?&#8221;</p>
<p>Dengan menahan duka dan marah, dengan penasaran Jit-jit mengangguk.</p>
<p>&#8220;Selanjutnya kau mau tunduk dan menurut perintahku?&#8221; desak si nyonya.</p>
<p>Di bawah cengkeraman tangan iblis, apa yang bisa dilakukan Jit-jit kecuali mengangguk. Wataknya keras, sejak kecil sudah biasa mengumbar adat, tapi berada di tangan iblis ini, terpaksa dia tunduk dan patuh.</p>
<p>&#8220;Bagus, kan begitu seharusnya,&#8221; si nyonya tertawa. Suaranya berubah pula, berubah lembut, perlahan dia mengusap muka Jit-jit, katanya, &#8220;Anak sayang, bibi akan keluar sejenak, segera aku kembali.&#8221;</p>
<p>Iblis ini ternyata memiliki dua wajah dan dua suara. Hanya dalam sekejap dia bisa berubah menjadi seorang lain.</p>
<p>Jit-jit hanya bisa mengawasi orang keluar dan menutup pintu, ia tak tahan lagi dan menangis.</p>
<p>Terhadap nyonya ini sungguh ia sangat takut, meski si nyonya keluar, tapi dia tidak berani sembarang bergerak, hanya ingin melampiaskan rasa takut, duka, marah, putus asa dan terhina lewat air matanya yang tak terbendungkan lagi.</p>
<p>Air mata membasahi pakaian, bantal dan selimut, dia terus menangis dan menangis sampai lemas dan tanpa terasa dia tertidur lelap.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Di tengah mimpinya mendadak terasa angin dingin meniup dadanya, Jit-jit kedinginan dan terjaga dari tidurnya.</p>
<p>Waktu ia membuka mata, pintu sudah terbuka, iblis jahat itu sudah pulang. Di bawah ketiaknya mengempit sebuah bungkusan besar panjang, setelah menutup pintu, perlahan dia turunkan buntelan besar itu di atas ranjang, katanya dengan tertawa, &#8220;Anak baik, nyenyak tidak tidurmu?&#8221;</p>
<p>Melihat senyumnya, mendengar suaranya, kembali gemetar badan Jit-jit, kalau senyum dan suaranya sejelek dan sejahat hatinya masih mending, makin ramah dan welas asih senyum dan suaranya semakin mengerikan baginya.</p>
<p>Waktu Jit-jit menoleh ke sana, kembali perasaannya seperti diguyur air dingin. Buntelan besar itu ternyata berisi seorang gadis berbaju putih, tampak pipinya merah jambu, pelupuk matanya terpejam, tidur pulas dengan senyum dikulum, siapa lagi kalau bukan Pek Fifi.</p>
<p>Fifi yang harus dikasihani ternyata juga jatuh ke tangan iblis laknat ini.</p>
<p>Dengan gemas Jit-jit pandang si nyonya, sorot matanya diliputi rasa dendam dan benci.</p>
<p>Kalau sorot matanya dapat dibuat membunuh orang, entah berapa kali nyonya berbaju hijau itu akan mampus di bawah tatapan matanya.</p>
<p>Tampak orang itu mengeluarkan sebuah kantong kulit hitam, dari dalam kantong dikeluarkan sebilah pisau kecil tipis dan sebuah kaitan yang mengilat, sebuah jepitan, sebuah sendok, sebuah gunting, tiga botol porselen kecil dan ada lagi lima macam peralatan yang tidak diketahui namanya seperti setrika mini, serupa mainan anak-anak saja.</p>
<p>Cu Jit-jit tidak tahu untuk apa peralatan itu, dia mengawasi dengan terkesima.</p>
<p>&#8220;Anak baik,&#8221; ujar si nyonya, &#8220;kalau kau tidak takut mati kaget, boleh kau menonton dari samping, kalau tidak, bibi menasihatimu memejamkan mata saja.&#8221;</p>
<p>Segera Jit-jit memejamkan mata, didengarnya si nyonya berkata, &#8220;Kau memang anak baik&#8230;&#8221;</p>
<p>Selanjutnya didengarnya suara gemerencing alat-alat yang bersentuhan, suara membuka tutup botol, suara gunting bekerja, suara tepukan perlahan&#8230;</p>
<p>Berhenti sejenak lalu terdengar si nyonya meniup berulang kali, lalu pisau mengiris sesuatu diselingi rintihan perlahan Pek Fifi.</p>
<p>Di tengah malam sunyi, semua suara itu terdengar dengan mengerikan, selain takut Jit-jit juga heran dan tertarik, tak tahan lagi, diam-diam ia mengintip ke sana. Sayang nyonya baju hijau itu berdiri mungkur mengalangi pandangannya, kecuali terlihat kedua tangannya sibuk bekerja, bagaimana keadaan Fifi dan apa yang sedang dilakukan si nyonya baju hijau, sama sekali tidak terlihat.</p>
<p>Terpaksa ia memejamkan mata pula, kira-kira sepemasakan air, terdengar pula gemerencing alat-alat, suara botol ditutup, kantong diikat. Terakhir nyonya itu menghela napas lega dan berucap, &#8220;Sudah selesai.&#8221;</p>
<p>Waktu Jit-jit membuka mata dan memandang ke sana, seketika ia melongo.</p>
<p>Nona jelita Pek Fifi yang berwajah cantik itu kini sudah berubah menjadi seorang perempuan setengah umur dengan rambut beruban, bermuka burik, alis tipis, hidung pesek dan bibir tebal, jeleknya sukar dilukiskan.</p>
<p>Nyonya itu tertawa senang, katanya, &#8220;Bagaimana dengan kepandaian operasi bibi? Kini umpama ayah-bunda bocah ini berada di depannya juga tidak mengenalnya lagi.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Jit-jit tidak mampu bicara.</p>
<p>Nyonya berbaju hijau tertawa riang pula, dia membelejeti pakaian Pek Fifi, sebentar saja nona itu sudah telanjang bulat. Di bawah penerangan lampu badan Pek Fifi mirip domba yang akan disembelih, meringkuk di tempat tidur, sungguh kasihan, tapi juga menarik.</p>
<p>&#8220;Sungguh dara jelita yang mengagumkan&#8230;&#8221; kata nyonya berbaju hijau dengan tertawa. Serasa meledak kepala Jit-jit, mukanya merah panas, lekas dia pejamkan mata lagi, mana berani menonton lebih lanjut.</p>
<p>Waktu dia membuka mata pula, si nyonya sudah memberi pakaian kasar rombeng warna hijau kepada Fifi, kini anak dara itu betul-betul telah berganti rupa.</p>
<p>Nyonya berbaju hijau tertawa bangga, katanya, &#8220;Terus terang, bila kau tidak menyaksikan sendiri, dapatkah kau percaya bahwa nyonya buruk di depanmu ini adalah gadis jelita yang kasihan itu?&#8221;</p>
<p>Rasa gusar kembali membakar hati Jit-jit, malu dan menyesal pula, kini baru dia tahu bagaimana proses dirinya waktu mukanya dipermak menjadi sejelek setan ini, jalannya operasi tentu sama dengan Pek Fifi tadi. Dalam hati dia membatin, &#8220;Asal aku tidak mati, akan datang suatu hari akan kupotong kedua tanganmu, mengorek kedua bola matamu yang pernah melihat badanku, supaya selama hidupmu tak dapat lagi melihat dan meraba, biar kau rasakan betapa sengsara orang hidup tersiksa.&#8221;</p>
<p>Bila dendam membara, keinginan untuk hidup lantas menggelora, dalam hati dia bersumpah apa pun yang terjadi dia harus bertahan hidup, peduli siksa derita apa pun yang akan dialaminya, dia tidak mau mati secara penasaran.</p>
<p>Nyonya itu masih terus tertawa riang, katanya, &#8220;Tahukah kau, bicara tentang ilmu tata rias kecuali ajaran Hun-bong-siancu dulu, kuyakin tiada orang kedua lagi di dunia ini yang mampu menandingi bibimu ini.&#8221;</p>
<p>Mendadak tergerak hati Jit-jit, teringat olehnya kemahiran Ong Ling-hoa, pemilik perusahaan &#8220;Ong-som-ki&#8221; yang juga pandai ilmu rias itu, rasanya dia tidak lebih asor daripada perempuan ini. Dalam hati dia membatin, &#8220;Mungkinkah Ong Ling-hoa keturunan Hun-bong-siancu? Apakah nyonya setengah umur berdandan seperti permaisuri dengan kepandaian yang mahatinggi itu adalah Hun-bong-siancu?&#8221;</p>
<p>Sungguh ia ingin memberitahukan penemuannya ini kepada Sim Long, tapi selama hidupnya ini apakah dapat bertemu pula dengan Sim Long, harapannya terlalu kecil, dia hampir tidak berani mengharapkannya lagi.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Hari kedua pagi-pagi mereka bertiga melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Jit-jit tetap menunggang keledai, sebelah tangan si nyonya menuntun keledai dan tangan yang kiri menggandeng Pek Fifi.</p>
<p>Fifi dapat berjalan, karena si &#8220;nyonya&#8221; tidak membikin lumpuh badannya, sebab ia tahu gadis lemah ini tidak bakal melawan.</p>
<p>Cu Jit-jit tidak berani memandang Pek Fifi, dan tidak ingin melihat Pek Fifi yang sedang menangis dan juga tampak takut dan ngeri itu.</p>
<p>Maklum, kalau Jit-jit yang berwatak keras saja ketakutan, apalagi gadis lembut dan penurut seperti Pek Fifi, meski tidak dipandang juga dapat dimaklumi Jit-jit.</p>
<p>Tapal keledai berdetak, air mata bercucuran, debu beterbangan tertiup angin menyampuk muka, sorot mata orang lalu yang menaruh belas kasihan, semua itu terjadi serupa kemarin.</p>
<p>Perjalanan yang bisa membuat orang gila ini entah akan berakhir kapan? Siksa derita yang tidak tertahankan ini apakah tidak akan berakhir?</p>
<p>Mendadak sebuah kereta besar berkabin muncul dari depan. Kereta ini tiada bedanya dengan kereta umum yang lewat di jalan raya ini, kuda penarik kereta tampak kurus, sudah tua dan lelah. Tapi yang menjadi kusir kereta ternyata adalah Kim Bu-bong yang tindak tanduknya serbamisterius, yang duduk di samping Kim Bu-bong dengan gagah, siapa lagi kalau bukan Sim Long.</p>
<p>Jantung Cu Jit-jit seperti hendak melompat keluar, tidak kepalang rasa girangnya. Seketika kepala terasa pening, pandangan juga kabur, air mata tidak terbendung lagi. Dengan sepenuh hati dia ingin berteriak, &#8220;Sim Long&#8230;Sim Long&#8230;tolong aku&#8230;!&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Sim Long tidak dapat mendengar suara hatinya, anak muda ini hanya memandang Jit-jit sekejap, kelihatan menghela napas, lalu menoleh ke arah lain. Kereta itu berjalan lambat karena keledai penarik kereta terlalu lelah dan berlari ogah-ogahan.</p>
<p>Sungguh cemas, gemas dan benci hati Cu Jit-jit, hampir gila rasanya. Hatinya seperti dirobek-robek, keluhnya, &#8220;Sim Long, O, Sim Long&#8230;tolonglah&#8230;pandanglah diriku, aku inilah Cu Jit-jit yang merindukanmu siang dan malam, apakah kau tidak mengenalku lagi?&#8221;</p>
<p>Dia rela mengorbankan apa pun asal Sim Long dapat mendengar jeritan hatinya, tapi sayang, Sim Long tidak mendengar apa pun.</p>
<p>Siapa pun tidak menduga mendadak si nyonya berbaju hijau malah mencegat kereta yang datang dari depan, tangan disodorkan sambil meratap, &#8220;Tuan yang membawa kereta, sudilah memberi sedekah menolong kaum sengsara ini, Thian pasti akan memberkahi kalian panjang umur dan banyak rezeki.&#8221;</p>
<p>Sim Long mengunjuk rasa heran, ia heran nyonya ini bisa mengadang kereta dan minta sedekah. Siapa tahu Kim Bu-bong lantas merogoh saku dan menyisipkan selembar uang ke tangannya.</p>
<p>Jit-jit melototi Sim Long, hampir saja dia meneteskan darah. Hatinya meratap juga mengumpat, &#8220;Sim Long, O, apa betul kau tidak mengenalku lagi, kau jahat, tidak tahu budi, keparat yang tidak punya hati, sekilas pun kau tidak sudi memandangku lagi.&#8221;</p>
<p>Sim Long memang tidak lagi memandangnya, perhatiannya hanya tertuju kepada nyonya berbaju hijau dan Kim Bu-bong. Nyonya berbaju hijau sedang bergumam, &#8220;Orang yang berhati baik, Thian pasti membalas kebaikanmu.&#8221;</p>
<p>Wajah Kim Bu-bong tetap kaku, tidak mengunjuk sesuatu perasaan, cemeti diayun, &#8220;tar&#8221;, kereta berjalan pula.</p>
<p>Runtuh rasanya seluruh raga Jit-jit, walau dia tahu jelas Sim Long tidak mungkin mengenalnya, tapi sebelum bertemu dengan Sim Long, dalam hatinya masih terbetik setitik harapan, dan harapan itu akhirnya juga nihil.</p>
<p>Roda kereta gemeretak di jalan raya, makin lama makin jauh, membawa pergi segala harapannya, kini dia benar-benar tahu bagaimana rasanya putus asa, sungguh perasaan yang aneh.</p>
<p>Kini hatinya tidak lagi sedih, tidak marah, tidak takut, dan tidak menderita, segenap jiwa raganya sekarang seperti sudah mati rasa. Hanya kegelapan yang terbentang di depannya, tiada sesuatu yang dapat dilihatnya, tiada yang bisa didengarnya lagi, mati rasa ini seperti menyeluruh, mungkin inilah perasaan putus asa total.</p>
<p>Jalan raya ini sangat ramai, orang bersimpang-siur, ada yang riang gembira, ada pula yang sedih, ada yang berjalan dengan enteng dan cepat, ada pula yang melangkah dengan berat dan seperti hendak mencari sesuatu, ada pula yang ingin melupakan&#8230;Tapi siapakah yang dapat benar-benar merasakan putus asa?</p>
<p>Kereta yang ditunggangi Sim Long dan Kim Bu-bong sudah ratusan tombak jauhnya.</p>
<p>Angin dingin mencambuk muka, lekas Sim Long menarik turun topi beledunya yang mahal tapi sudah butut itu, tanpa menghiraukan Kim Bu-bong, dia menguap dan mementang kedua tangan, gumamnya, &#8220;Tiga hari&#8230;sudah tiga hari tanpa menemukan apa-apa, tiada yang kulihat, padahal waktu yang ditentukan sudah makin dekat&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, benar, mungkin sudah tiada harapan lagi,&#8221; ujar Kim Bu-bong.</p>
<p>Tersimpul senyum kemalasan di wajah Sim Long, katanya, &#8220;Tiada harapan?&#8230;Kurasa harapan tetap ada.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, tiada persoalan apa pun di dunia ini yang dapat membuatmu putus asa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tahukah kau apa harapan satu-satunya yang kudambakan?&#8221; berhenti sejenak karena Kim Bu-bong tidak menjawab, lalu Sim Long melanjutkan, &#8220;Harapan kita satu-satunya hanya pada Cu Jit-jit, dia lenyap seperti ditelan bumi, tentu karena dia menemukan sesuatu rahasia, dia gadis yang tinggi hati dan keras kepala&#8230;Dia ingin seorang diri menyelidiki rahasia itu, maka diam-diam dia minggat. Kalau tidak, biasanya ia tidak suka pergi sendirian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, pikiran siapa pun tak bisa mengelabui kau, apalagi isi hati Cu Jit-jit,&#8221; ujar Kim Bu-bong.</p>
<p>Sim Long menghela napas, ujarnya, &#8220;Tapi sudah tiga hari kita tak berhasil menemukan dia, pasti dia sudah jatuh ke tangan musuh, kalau tidak, menuruti wataknya, di mana pun berada dia pasti menarik perhatian orang, sedikit banyak kita bisa mencari tahu tentang dia.&#8221;</p>
<p>Mendadak Sim Long tertawa dan memotong, &#8220;Aku bicara panjang lebar, beruntun empat kali kau jawab benar, jangan-jangan kau sedang memikirkan sesuatu&#8230;padahal tidak perlu kau jawab.&#8221;</p>
<p>Lama Kim Bu-bong termenung, perlahan dia menoleh ke arah Sim Long dan menatapnya dengan tajam, katanya kemudian, &#8220;Tebakanmu memang benar, saat ini aku memang sedang memikirkan sesuatu, tapi soal apa yang kupikirkan? Dapat kau terka?&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, &#8220;Mana bisa kuterka&#8230;aku hanya heran.&#8221;</p>
<p>&#8220;Heran apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Di tengah jalan bertemu dengan seorang nyonya yang tidak dikenal, tapi sekali rogoh saku kau beri selembar uang senilai selaksa tahil kepadanya, apakah ini tidak patut diherankan?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong berdiam pula, ujung mulutnya mengulum senyum, katanya kemudian, &#8220;Apakah tiada sesuatu kejadian di dunia ini dapat mengelabui matamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, memang tidak banyak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukankah kau pun seorang yang murah hati?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, kalau aku punya uang selaksa tahil dan melihat orang yang harus dikasihani, pasti juga akan kuberikan selaksa tahil padanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cocok kalau begitu.&#8221;</p>
<p>Sim Long menatapnya, katanya, &#8220;Tapi aku ini berasal dari keluarga yang miskin, sebaliknya kau bukan, kelihatannya kau bukan orang yang suka merogoh kantong memberi sedekah kepada orang miskin, kenapa nyonya itu tidak minta sedekah kepadaku atau kepada orang lain, dia justru minta kepadamu.&#8221;</p>
<p>Kepala Kim Bu-bong menunduk, gumamnya, &#8220;Apa pun tak dapat mengelabui kau&#8230;apa pun tidak bisa mengelabui kau&#8230;&#8221; mendadak dia angkat kepala, sikapnya kembali dingin dan kaku, suaranya pun berat, &#8220;Betul, dalam hal ini memang ada segi yang patut diherankan dan menarik perhatian, tapi aku tidak bisa menjelaskan.&#8221;</p>
<p>Pandangan mereka beradu, keduanya sama bungkam, akhirnya Sim Long tersenyum.</p>
<p>&#8220;Senyummu kelihatan aneh,&#8221; kata Kim Bu-bong.</p>
<p>&#8220;Rahasia hatimu, meski tidak kau katakan, dapat juga kuterka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau bicara jangan terlalu yakin.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau aku menebaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh saja kau tebak, urusan lain mungkin bisa kau tebak, tapi soal ini&#8230;&#8221; sampai di sini dia menahan perkataannya, sebab kelanjutannya dikatakan atau tidak tetap sama.</p>
<p>Kereta keledai ini masih terus maju perlahan, Sim Long mengawasi debu yang mengepul di kaki kuda, katanya pula, &#8220;Sejak berkenalan denganku, persoalan apa pun tiada yang kau rahasiakan, hanya soal ini&#8230;soal ini pasti besar sangkut pautnya dengan dirimu, hal ini tidak perlu kutanyakan juga dapat diketahui?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya&#8230;&#8221; Kim Bu-bong tetap tenang.</p>
<p>&#8220;Bila soal ini ada sangkut pautnya dengan dirimu, kuyakin pasti besar pula sangkut pautnya dengan Koay-lok-ong&#8230;&#8221; kelihatannya dia memerhatikan debu, padahal setiap perubahan sikap dan gerakan Kim Bu-bong tidak terlepas dari pengamatannya, sampai di sini air muka Kim Bu-bong benarlah mulai ada perubahan.</p>
<p>Segera Sim Long berkata pula, &#8220;Karena itu, menurut pendapatku, nyonya yang harus dikasihani itu pasti juga ada hubungan dengan Koay-lok-ong, sikapnya yang kasihan itu mungkin hanya pura-pura belaka.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini dia tidak melanjutkan lagi, ia menatap wajah Kim Bu-bong, bibir orang kelihatan terkancing rapat, kulit mukanya juga dingin.</p>
<p>Kereta terus maju, angin dingin menampar muka, kedua orang ini saling tatap, masing-masing sama ingin menyelami isi hati lawan.</p>
<p>Dari air muka Sim Long agaknya Kim Bu-bong ingin menebak ada berapa banyak yang diketahuinya? Sebaliknya dari perubahan air muka Kim Bu-bong juga Sim Long ingin tahu ada berapa banyak yang diketahuinya?</p>
<p>Kereta itu maju ratusan tombak pula. Akhirnya air muka Kim Bu-bong yang dingin beku itu mulai cair. Hati Sim Long tergerak, namun dia menahan perasaannya, karena dia tahu inilah detik-detik yang menentukan. Ia tahu bila dirinya tak tahan dan buka suara, maka jangan harap lagi Kim Bu-bong akan mau bicara.</p>
<p>Akhirnya Kim Bu-bong buka suara. Setelah menarik napas panjang, lalu berkata, &#8220;Betul, nyonya itu memang murid Koay-lok-bun.&#8221;</p>
<p>Sim Long tidak mau membuang kesempatan, tanyanya segera, &#8220;Di bawah Koay-lok-ong kau bertugas pemegang uang, kedudukanmu tinggi dan penting tapi hanya sedikit mengangguk kepala perempuan itu dapat minta sekian banyak uang darimu, jelas kedudukannya tidak di bawahmu, lantas siapakah dia? Apakah salah satu dari duta besarnya? Tapi mengapa dia seorang perempuan?&#8221;</p>
<p>Setiap patah katanya laksana cemeti, begitu deras ia melecut sehingga Kim Bu-bong tidak diberi kesempatan berganti napas karena setiap patah pertanyaan ini tepat mengenai sasarannya.</p>
<p>Kim Bu-bong tidak berani menatap sorot mata Sim Long, ia diam sejenak, mendadak dia balas bertanya, &#8220;Tahukah kau kecuali Hun-bong-siancu yang mahir ilmu tata rias yang diakui nomor satu di dunia ini, masih ada orang atau perguruan lain yang juga mahir?&#8221;</p>
<p>Sim Long berpikir sejenak, katanya kemudian, &#8220;Ilmu tata rias sebetulnya tidak terlingkup dalam ilmu silat, seorang yang lihai dan nomor satu ilmu tata riasnya belum tentu seorang pesilat kenamaan&#8230;&#8221; mendadak dia menepuk paha dan berteriak tertahan, &#8220;Aha, apakah maksudmu Suto dari Sancoh?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong tidak angkat kepalanya, juga tidak bersuara, tapi mengayun pecut menyabat pantat kuda sekeras-kerasnya, namun kuda penarik kereta ini sudah tua dan kurus, betapa pun keras dia memukulnya tetap tak bisa berlari lagi.</p>
<p>Terpancar rasa senang dan bergairah pada sinar mata Sim Long, katanya, &#8220;Keluarga Suto bukan saja terkenal menguasai ilmu tata rias yang luar biasa, malah juga mahir Ginkang, Am-gi dan obat bius, demikian pula dalam hal kepandaian urut-mengurut, semuanya berada pada tingkat paling tinggi. Kebesaran nama keluarga mereka dahulu hanya sedikit lebih asor daripada Hun-bong-siancu. Berita yang tersiar di kalangan Kangouw belakangan ini mengatakan keluarga Suto mulai runtuh karena banyak melakukan kejahatan sehingga mendapat kutukan Thian, namun di antara anggota keluarganya masih ada juga yang hidup di dunia ini. Berdasarkan nama kebesaran dan kepandaian mereka, bila masuk ke dalam lingkungan Koay-lok-bun, kuyakin dapat menduduki jabatan salah satu keempat duta besarnya.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong tetap membungkam.</p>
<p>Sim Long bergumam pula, &#8220;Kalau aku menjadi Koay-lok-ong, bila ada sanak keluarga Suto mau masuk ke perguruanku, maka kedudukan atau jabatan apa yang akan kuserahkan kepadanya&#8230;&#8221;</p>
<p>Air mukanya semakin cerah dan tampak bercahaya, sambungnya, &#8220;Keluarga Suto tidak gemar arak, Duta Harta sudah diduduki orang&#8230;kukira manusia Suto itu bukan jenis lelaki yang suka berkelahi dan bernyali besar, tapi jika anak murid Suto disuruh mengoleksi gadis-gadis cantik di seluruh jagat ini, kurasa tiada orang lain lagi yang lebih tepat, betul tidak?&#8221;</p>
<p>Dengan suara dingin Kim Bu-bong menjawab, &#8220;Apa pun tidak pernah kukatakan, semua itu kau sendiri yang menebaknya.&#8221;</p>
<p>Berkilau sinar mata Sim Long, lama dia pandang angkasa, lalu berkata, &#8220;Kalau aku menjadi murid keluarga Suto, cara bagaimana aku akan mengoleksi gadis-gadis cantik di dunia ini untuk Koay-lok-ong? Cara bagaimana aku akan menunaikan kewajiban?&#8230;&#8221; perlahan dia mengangguk, lalu meneruskan, &#8220;Ya, pertama aku sendiri sudah tentu harus menyamar menjadi seorang perempuan, dengan demikian kesempatan untuk bercengkerama dengan gadis-gadis akan jauh lebih banyak.&#8221;</p>
<p>Sorot mata Kim Bu-bong mulai memancarkan rasa kagum.</p>
<p>Sim Long berkata lebih lanjut, &#8220;Gadis yang berhasil kuculik, untuk membawanya keluar perbatasan sejauh itu jelas kurang leluasa, maklum gadis cantik umumnya pasti menarik perhatian orang banyak, tapi kalau aku mahir tata rias, dengan mudah bisa saja kurias gadis cantik itu menjadi nenek reyot atau perempuan apa saja yang buruk rupanya sehingga sekilas pandang cukup membuat orang jijik, kalau aku khawatir gadis itu berontak dan tidak tunduk pada perintahku, akan kucekok dia sejenis obat sehingga sepanjang jalan dia tidak bisa bicara atau ribut lagi.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menarik napas panjang, sesaat dia menoleh dan memandang bocah yang tidur pulas di kabin kereta, ia bergumam, &#8220;Kelak kalau bocah ini bisa memiliki setengah kepandaian Sim-siangkong sudah lebih dari cukup.&#8221;</p>
<p>Rupanya sepanjang hari bocah itu bekerja berat dan keletihan, kini tidurnya pulas sekali, tentu saja tidak mendengar ucapannya. Padahal meski kata-katanya ditujukan kepada si bocah, tapi secara tak langsung dia seperti mau berkata, &#8220;Sim Long, kau memang cerdik, semua rahasia ini telah kau tebak dengan betul.&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Sim Long merasakan juga pengakuan dari ucapannya yang tidak langsung ini, katanya dengan tersenyum, &#8220;Putar kembali!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kembali?&#8221; Kim Bu-bong berkerut kening.</p>
<p>&#8220;Dua gadis yang berada di sampingnya itu, pasti gadis dari keluarga baik-baik, apa tega aku melihat mereka jatuh ke dalam cengkeramannya?&#8221;</p>
<p>Mendadak Kim Bu-bong tertawa dingin, kembali ia menoleh kepada bocah itu, katanya, &#8220;Kelak bila kau sudah dewasa, ada beberapa urusan jangan kau tiru seperti apa yang dilakukan Sim-siangkong ini, urusan kecil tidak bisa sabar akan menggagalkan urusan besar, nasihatku ini harus selalu kau camkan dalam sanubarimu.&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, dia tidak bicara lagi, namun kereta belum juga diputar balik.</p>
<p>Sesaat kemudian mendadak Kim Bu-bong tersenyum dan berkata kepada Sim Long, &#8220;Banyak terima kasih.&#8221;</p>
<p>Selama bergaul beberapa hari dengan Kim Bu-bong, baru sekarang Sim Long melihat dia tersenyum, senyuman yang timbul dari relung hatinya yang dalam.</p>
<p>Dengan tertawa Sim Long bertanya, &#8220;Soal apa kau berterima kasih padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Besar tekadmu menyelidiki jejak Koay-lok-ong, jelas kau pun tahu kali ini Suto Pian pasti akan melaporkan hasil kerjanya kepada Koay-lok-ong, sebetulnya secara diam-diam kau bisa menguntitnya, tapi karena Suto Pian sudah melihat kau seperjalanan denganku, jika kau menguntitnya, jelas, aku akan ikut bersalah dan mendapat hukuman, lantaran diriku terpaksa kau lepaskan kesempatan baik ini, namun sama sekali engkau tidak pernah menyinggung kebaikanmu ini kepadaku, untuk ini aku mengucap terima kasih padamu?&#8221;</p>
<p>Lelaki aneh yang berwatak kaku dan pendiam ini kini melimpahkan isi hatinya, nada suaranya kedengaran mengharukan.</p>
<p>&#8220;Sesama kawan mengutamakan tahu sama tahu, bila kau dapat menyelami isi hatiku, apa pula yang kuminta?&#8221;</p>
<p>Keduanya saling pandang sekejap, namun hati sanubari mereka sudah bertaut, kata-kata hanya akan berlebihan belaka.</p>
<p>Dari arah depan mendadak berkumandang suara senandung seorang dengan lantang, tertampak seorang lelaki muda berperawakan kekar tinggi tengah melangkah dari tepi jalan.</p>
<p>Perawakannya yang setinggi delapan kaki itu sangat gagah, berdada lebar, alis tebal, mata besar, pada pinggangnya terselip sebatang golok pendek tanpa sarung, pada tangannya menjinjing sebuah buli-buli arak, sambil bersenandung dia menenggak arak sepuasnya. Rambutnya semrawut, baju bagian dadanya terbuka lebar, kakinya mengenakan sepatu butut, pakaiannya kotor, namun langkahnya gagah dan tegap, sikapnya seperti dunia ini milikku, seperti jalan raya ini tiada orang lain lagi.</p>
<p>Sudah tentu perhatian orang yang lewat di jalan raya ini tertuju kepadanya, tapi perhatian pemuda ini justru tertuju ke wajah Sim Long.</p>
<p>Sim Long memandangnya dengan tersenyum, lelaki itu juga balas tersenyum, katanya mendadak, &#8220;Boleh menumpang kereta ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Silakan,&#8221; sahut Sim Long.</p>
<p>Memburu maju dua langkah, lelaki muda itu melompat ke atas kereta dan berjubel di samping Sim Long.</p>
<p>Dengan nada dingin Kim Bu-bong berkata, &#8220;Arah tujuanmu berlawanan dengan kami, kami akan pergi ke arah datangmu, apa tidak salah kau menumpang kereta ini?&#8221;</p>
<p>Pemuda kekar itu mendongak dan bergelak tertawa, katanya, &#8220;Seorang lelaki menjadikan empat penjuru sebagai rumahnya, setiap tempat di dunia ini adalah tujuanku, ingin pergi atau mau datang boleh sesuka hati, hidup bebas melanglang buana, kenapa tidak boleh?&#8221;</p>
<p>Mendadak dia angkat tangan dan menepuk pundak Sim-Long, katanya, &#8220;Mari, minum seceguk.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, dia terima buli-buli orang, terasa buli-buli ini terbuat dari baja, dengan bernafsu dia menghirup satu ceguk, araknya terasa harum, ternyata arak simpanan yang paling wangi dan jarang ada di pasaran.</p>
<p>Kedua orang ini tidak saling tanya asal usul, tidak tanya she dan nama, tapi seceguk demi seceguk hingga dalam sekejap arak sebuli-buli penuh telah dihabiskan mereka berdua. Pemuda itu bergelak riang, serunya, &#8220;Lelaki hebat! Peminum baik!&#8221;</p>
<p>Belum lenyap gelak tertawanya, Kim Bu-bong menghentikan kereta di sebuah kota kecil, air mukanya kelihatan masam, katanya dingin, &#8220;Tujuan kami sudah sampai, saudara ini silakan turun.&#8221;</p>
<p>Pemuda itu terus menarik Sim Long turun, katanya, &#8220;Baiklah, kau boleh pergi, aku ingin mengajaknya minum beberapa cawan lagi.&#8221;</p>
<p>Tanpa menunggu reaksi orang dia tarik Sim Long dan diajak memasuki sebuah warung kecil yang kotor dan gelap.</p>
<p>Bocah dalam kabin kereta tiba-tiba tertawa, katanya, &#8220;Mungkinkah orang ini gila? Agaknya dia juga tahu sikap Sim-siangkong yang meremehkan segala persoalan, kalau orang lain tentu sudah dibuatnya gemas.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong mendengus sekali, katanya, &#8220;Jaga kereta!&#8221;</p>
<p>Waktu dia masuk ke dalam warung, sementara Sim Long dan pemuda tadi sudah menghabiskan tiga cawan, sepiring daging rebus juga sudah disajikan di atas meja.</p>
<p>Dari restoran besar termewah yang ada di dunia ini sampai warung kotor dan paling murah, semua pernah dikunjungi Sim Long, demikian pula hidangan paling lezat sampai makanan paling kasar di dunia ini juga pernah dirasakan olehnya. Peduli ke mana ia pergi, apa pun yang dimakannya, semua sama saja, begitulah sikapnya.</p>
<p>Dengan kaku Kim Bu-bong menyusul datang terus duduk dengan dingin, dia tatap pemuda itu, sampai lama dia menatapnya, mendadak dia menegur, &#8220;Sebetulnya apa kehendakmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hendak apa? Hendak minum arak, ingin bersahabat,&#8221; sahut pemuda ini.</p>
<p>&#8220;Kau ini orang macam apa, memangnya kau kira aku tidak bisa melihatnya?&#8221; jengek Kim Bu-bong.</p>
<p>Pemuda itu bergelak tertawa, serunya, &#8220;Betul, aku memang bukan orang baik, memangnya tuan orang baik. Kalau aku ini perampok, mungkin Anda bandit besar.&#8221;</p>
<p>Berubah air muka Kim Bu-bong, pemuda itu malah angkat cawan araknya, katanya dengan riang, &#8220;Mari, mari! Biar rampok kecil macamku ini menyuguh secawan arak kepada bandit besar.&#8221;</p>
<p>Telapak tangan Kim Bu-bong berada di bawah meja, sumpit di atas meja seperti mendadak kena ilmu sihir, entah bagaimana tiba-tiba mencelat terus melesat dengan desing yang keras, kedua sumpit mengincar kedua bola mata si pemuda.</p>
<p>&#8220;Khikang bagus!&#8221; puji pemuda itu. Sambil mengucap kedua patah kata itu, si pemuda pentang mulut dan tepat menggigit sepasang sumpit itu terus ditiupnya kembali ke sana, dengan membawa suara mendesing meluncur balik mengincar mata Kim Bu-bong.</p>
<p>Pergi-datang sepasang sumpit ini sedemikian cepat hingga sukar diikuti oleh pandangan mata orang biasa.</p>
<p>Sim Long hanya tersenyum, sumpit yang meluncur di udara mendadak lenyap tak keruan parannya, waktu mereka menunduk, ternyata sumpit sudah berada di tangan Sim Long, entah dengan cara bagaimana dan dengan gerakan apa Sim Long menyambar sepasang sumpit yang meluncur kencang dan dalam jarak sedekat ini.</p>
<p>Taraf kepandaian si pemuda jelas di luar dugaan Kim Bu-bong, tapi betapa tinggi kungfu Sim Long, jelas juga di luar dugaan si pemuda.</p>
<p>Maklum kepandaian mereka sudah termasuk jago top dunia persilatan, sesaat mereka bertiga saling pandang dengan kaget dan heran.</p>
<p>Perlahan Sim Long taruh sepasang sumpit di depan Kim Bu-bong, sikapnya tetap wajar dan ramah, cawan arak terus diangkatnya pula, seolah-olah kejadian barusan tidak pernah ada.</p>
<p>Kim Bu-bong tidak bersuara, juga tidak memegang sumpitnya dan cawan, dalam hati sedang berpikir sejak kapankah muncul seorang pemuda kosen ini dalam dunia Kangouw?</p>
<p>Pemuda itu pun tidak menghiraukan lagi kehadirannya, dia tetap makan minum sepuasnya bersama Sim Long, makin tenggak makin banyak, lambat laun pemuda itu mulai mabuk, tiba-tiba dia berdiri serta bergumam, &#8220;Tunggu sebentar, Siaute mau ke belakang.&#8221;</p>
<p>Mendadak ia sempoyongan dan &#8220;bruk&#8221; ia ambruk dan menjatuhi meja, keruan hidangan di atas meja tumpah berantakan.</p>
<p>Kim Bu-bong tengah melamun, karena tidak menduga, badan basah kecipratan kuah dan hidangan.</p>
<p>&#8220;Maaf, maaf,&#8221; cepat pemuda itu membersihkan pakaian Kim Bu-bong dengan lengan bajunya. Tapi Kim Bu-bong lantas mendorong pemuda itu hingga sempoyongan.</p>
<p>&#8220;Ai, aku bermaksud baik, kenapa saudara memukulku malah&#8230;&#8221; dengan langkah sempoyongan pemuda itu lari ke belakang.</p>
<p>Kim Bu-bong menatap Sim Long, katanya, &#8220;Maksud keparat ini sukar diraba, kenapa kau bergaul dengan dia, lebih baik&#8230;&#8221; mendadak berubah air mukanya, serentak ia membentak dengan beringas, &#8220;Celaka, kejar!&#8221;</p>
<p>Tapi Sim Long lantas menariknya, katanya dengan tertawa, &#8220;Kejar apa?&#8221;</p>
<p>Masam muka Kim Bu-bong, tanpa bersuara dia meronta dan hendak mengejar.</p>
<p>Sim Long berkata, &#8220;Apakah ada milikmu digerayangi dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia mengambil barangku, akan kucabut nyawanya!&#8221; berkilat sorot mata Kim Bu-bong, segera dia balas bertanya, &#8220;Dari mana kau tahu dia mengambil barangku?&#8221;</p>
<p>Tersenyum Sim Long, tangannya terangkat dari bawah meja, ternyata menggenggam setumpuk uang kertas dan sebuah kantong kecil mungil.</p>
<p>Kim Bu-bong heran, tanyanya, &#8220;Ini&#8230;cara bagaimana bisa berada padamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia mencomot uang kertas ini dari badanmu, maka aku pun mencomotnya dari kantongnya, sekaligus kuambil juga kantong kulit kecil ini.&#8221;</p>
<p>Beberapa kejap Kim Bu-bong menatapnya lekat-lekat, akhirnya tersembul pula senyuman tulus dan penuh pengertian, perlahan dia duduk pula terus menenggak arak, katanya kemudian, &#8220;Sudah belasan tahun aku tak minum arak, secawan arak ini kuminum untuk sahabatku, pencopet sakti nomor satu di kolong langit ini.&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa sengaja Sim Long bertanya, &#8220;Siapa itu pencopet nomor satu? Apakah pemuda tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kecepatan tangan bocah itu sudah cukup mengejutkan, tapi selama Sim Long masih hidup, orang lain jangan harap bisa memperoleh julukan copet nomor satu di dunia ini.&#8221;</p>
<p>Sim Long bergelak tertawa, &#8220;Sudah memaki orang sebagai copet, malah dibilang julukan baik segala. Nah, aku tidak berani menerima julukan baik ini.&#8221;</p>
<p>Segera dia kembalikan uang kertas kepada Kim Bu-bong, lalu berkata pula, &#8220;Coba kita periksa apa isi kantong kulit saudara yang ingin mencopet uangmu itu.&#8221;</p>
<p>Simpanan uang dalam kantong si pemuda ternyata tidak banyak, hanya uang receh beberapa keping saja.</p>
<p>Sim Long geleng kepala, katanya, &#8220;Dinilai dari gerak-geriknya, kuyakin dia bukan lelaki rudin yang kurang penghasilan, siapa tahu hanya memiliki uang receh yang tak berarti ini, mungkin dia terlalu royal menghamburkan uangnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau memperolehnya gampang, membuangnya juga pasti mudah,&#8221; ujar Kim Bu-bong.</p>
<p>Dengan tertawa Sim Long mengeluarkan secarik kertas dari dalam kantong kecil itu, ternyata bukan uang tapi secarik surat, gaya tulisannya jelek, isinya berbunyi:</p>
<p>Kepada yang terhormat Liongthau Toako.</p>
<p>Sejak Toako mencekok arak, hingga Siaute mabuk tempo hari, terpaksa Siaute juga mencekoki orang lain sampai mabuk, aku sendiri selama ini belum pernah mabuk lagi, haha. Memang amat menyenangkan. Selama beberapa hari ini Siaute mendapat penghasilan lumayan, tapi aku selalu tunduk pada nasihat Toako, selain kubagikan kepada mereka yang membutuhkan, seperti juga Toako, sekarang Siaute sering kelaparan, makan tidak tetap, namun setiap malam tidur di dalam biara bobrok, meski hidup agak menderita, namun perasaanku lega dan gembira, baru sekarang aku percaya kepada ucapan Toako membantu kesulitan orang lain rasanya memang jauh lebih menyenangkan dibanding menunaikan tugas apa pun.</p>
<p>Membaca sampai di sini, Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Bagaimana, pemuda ini memang seorang murah hati, bukan?&#8221;</p>
<p>Sim Long membaca lebih lanjut.</p>
<p>&#8220;Poa-loji memang betul melakukan perbuatan kotor, memerkosa gadis keluarga baik-baik, aku sudah menghukumnya dengan memotong anunya, To-lotoa melakukan korupsi, Tam It-seng berbuat serong, To Bian-ci ingkar janji, ketiga keparat ini membuat Toako marah, maka Siaute mengiris sebelah kupingnya, tapi si tukang makan Lo Ciu telah mencurinya untuk teman arak, saking dongkol, kuping Lo Ciu juga kuiris dan kusuruh dia makan kuping sendiri untuk teman arak pula. Haha, mungkin nikmat dia makan kuping curian, tapi betapa lucu air mukanya waktu dia makan kupingnya sendiri sulit kulukiskan dengan alat tulis ini, sayang Toako tidak menyaksikan sendiri, namun sejak kini Lo Ciu sudah menyatakan kapok, tidak berani makan daging manusia lagi.&#8221;</p>
<p>Membaca sampai di sini, Kim Bu-bong yang biasa bersikap kaku dingin jadi geli juga.</p>
<p>Lebih lanjut surat itu berbunyi:</p>
<p>&#8220;Untung masih ada Kam Bun-goan, Ko Ci, Kam Lip-tik, Seng Hiong, Liok Ping, Kim Tek-ho, Sun Ciu-un dan para cucu lainnya, ternyata mereka mau bekerja keras untuk Toako, semua tugas mereka kerjakan dengan baik, karena puas Siaute mewakili Toako menjamu mereka makan-minum sepuasnya, hahaha, setelah kenyang baru Siaute sadar kantong kosong, sepeser pun tidak punya, konon pemilik restoran ini seorang kikir dan tamak, dengan mata melotot orang banyak lantas tinggal pergi dengan begitu saja, sebelum pergi malah minta pinjam kepada kasir restoran lima ratus tujuh puluh tahil perak tunai, seluruhnya disumbangkan kepada Hiong-lusit yang berjualan wedang kacang di seberang jalan untuk menikahkan putranya.</p>
<p>&#8220;Satu hal perlu Toako ketahui, saudara-saudara yang hidupnya menderita dalam wilayah ini sudah banyak yang kita rangkul, seluruhnya berjumlah lima ratus delapan puluh empat orang, Siaute sudah ajarkan cara bagaimana mengadakan kontak rahasia, bila di tengah jalan menemukan &#8216;kambing gemuk&#8217; yang mencurigakan, harus berusaha memberitahukan kepada Toako. Hahaha, perkumpulan kita sekarang sudah beranggotakan ribuan orang, kekuatan kita sudah tidak kecil lagi, lain kali bila Toako mabuk minum arak, jangan lupa mencarikan nama baik untuk perserikatan kita.&#8221;</p>
<p>Di bagian bawah bertanda tangan &#8220;Ang-thau-eng&#8221; (Elang Kepala Merah).</p>
<p>Habis membaca surat itu, Sim Long berseru, &#8220;Bagus, bagus, siapa nyana pemuda yang masih begitu muda ternyata mampu mengendalikan ribuan orang dan menjadi Liongthau Toako (pemimpin) mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena itulah kau dan aku disangka sebagai &#8216;kambing gemuk&#8217; yang patut digerayangi isi kantongnya,&#8221; demikian ucap Kim Bu-bong.</p>
<p>&#8220;Waktu kau berikan uang kertas ini kepada Suto Pian tadi mungkin terlihat oleh anak buahnya, lalu dia mendahului di depan dan mencegat kita,&#8221; ujar Sim Long, lalu sambungnya, &#8220;Setiap nama yang disinggung dalam surat ini, kecuali si Ciu Jing, semua adalah orang-orang gagah, terutama Ang-thau-eng yang menulis surat ini, seorang begal besar yang sudah lama terkenal. Konon Ginkang orang ini tidak kalah dibandingkan Toan-hong-cu dan lain-lain, bahwa tokoh selihai ini juga sudah ditundukkan oleh pemuda ini, bagaimana sepak terjang pemuda ini dapatlah dibayangkan, terutama caranya merampas milik si zalim dan dibagikan kepada yang miskin, patut kita berkenalan dengan dia.&#8221;</p>
<p>Kembali Kim Bu-bong hanya mendengus saja tanpa memberi komentar.</p>
<p>&#8220;Apakah kejadian barusan masih kau pikirkan dalam hati?&#8221;</p>
<p>Tanpa menjawab pertanyaan ini, Kim Bu-bong balas bertanya, &#8220;Apa lagi isi kantong itu?&#8221;</p>
<p>Sim Long angkat kantong kulit itu dan dituangnya, ternyata ada dua benda jatuh di atas meja, yang sebuah adalah seekor kucing batu jade sebesar ibu jari. Tampaknya hanya perhiasan sederhana saja, namun berkat tangan seorang ahli, ternyata bentuk kucing kecil ini kelihatan begini elok dan laksana hidup tulen. Setelah diteliti, di bagian bawah lehernya terukir sebaris huruf kecil yang berbunyi, &#8220;Ukiran Him Miau-ji, untuk disimpan, dilihat, dan dibuat main sendiri.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Rupanya pemuda itu bernama Him Miau-ji (si Kucing).&#8221;</p>
<p>Dengus Kim Bu-bong, &#8220;Melihat tampangnya dia memang mirip kucing.&#8221;</p>
<p>Sim Long bergelak tertawa sambil memandang benda kedua, tapi gelak tertawanya seketika lenyap, air muka pun berubah hebat.</p>
<p>Kim Bu-bong heran, tanyanya, &#8220;Benda apa pula ini?&#8221;</p>
<p>Benda kedua itu adalah sekeping batu jade bundar yang bolong bagian tengahnya, bentuknya mirip mainan kalung, warnanya hijau pupus mengilap, kelihatan elok sekali, mainan kalung seperti ini terlalu umum, tapi setelah Kim Bu-bong membolak-balik dan memeriksanya, seketika ia pun mengunjuk rasa kaget dan heran.</p>
<p>Ternyata di atas mainan kalung batu jade itu berukir dua huruf &#8220;Sim Long&#8221;.</p>
<p>Kim Bu-bong berkata dengan heran, &#8220;Batu mainanmu, mengapa bisa berada di tangannya? Mungkinkah sebelumnya dia telah menggerayangi isi kantongmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Batu mainan ini bukan milikku,&#8221; ucap Sim Long.</p>
<p>&#8220;Bukan milikmu, bagaimana mungkin terukir namamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Batu mainan ini sebetulnya milik Cu Jit-jit.&#8221;</p>
<p>Tambah terkejut Kim Bu-bong, serunya, &#8220;Batu mainan nona Cu bagaimana bisa berada padanya, mungkin&#8230;mungkin&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Peduli apa sebabnya, kalau mainan ini berada di tangannya, maka dia pasti tahu di mana Cu Jit-jit sekarang, apa pun yang terjadi kita harus mencari dan tanya kepadanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia sudah pergi jauh, ke mana kita akan mengejarnya?&#8221; ujar Kim Bu-bong. Tapi sebelum Sim Long menjawab dia sudah menjawabnya sendiri, &#8220;Tidak sukar, bila di jalan raya kita memergoki kawanan gelandangan, dari mulutnya tentu bisa kita mencari tahu jejak si Kucing.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar, kalau ratusan anak buahnya tersebar di sepanjang jalan raya ini, memangnya khawatir takkan menemukan jejaknya?&#8230;Ayolah cepat!&#8221; lenyap suaranya, orangnya sudah berkelebat ke luar pintu.</p>
<p>Cuaca lembap, mega mendung, angin berembus dingin, tak jauh di pinggir jalan dalam sebuah kuil bobrok menyala seonggok api unggun, belasan lelaki duduk mengelilingi api unggun itu, mangkuk kosong berserakan, guci arak pun berjungkir balik.</p>
<p>Orang-orang itu sedang berkeplok sambil bernyanyi, suaranya berpadu dan riang, &#8220;Si Kucing, si Kucing, pendekar kelana nomor satu di Kangouw, ahli menggerayangi kantong, merampas yang kaya menolong yang miskin, setiap orang di empat penjuru ikutan memujinya sebagai si Kucing yang tiada duanya&#8230;&#8221;</p>
<p>Di tengah paduan suara yang gembira bercampur gelak tawa itu, mendadak seorang bernyanyi solo dengan suara tenor di luar kuil, &#8220;Daripada disebut si Kucing yang tiada duanya, lebih tepat dinamakan si Kucing yang suka mabuk.&#8221;</p>
<p>Sesosok bayangan tampak bersalto beberapa kali di udara, lalu meluncur turun di pinggir api unggun, siapa lagi dia kalau bukan si Kucing yang beralis tebal.</p>
<p>Orang-orang itu segera bersorak sambil berdiri, &#8220;Toako sudah pulang!&#8221;</p>
<p>Seorang lantas bertanya, &#8220;Apakah Toako sudah berhasil?&#8221;</p>
<p>Si Kucing menatap tajam satu per satu hadirin ini sambil berputar, alisnya menegak, matanya bercahaya, katanya dengan tertawa, &#8220;Memangnya kapan kalian melihat si Kucing gagal dalam tugasnya?&#8221;</p>
<p>Mendadak ia menepuk pundak seorang lelaki bermuka kuning yang duduk di pinggir api unggun katanya, &#8220;Go-losi, matamu memang tidak lamur, kedua orang itu memang punya asal usul luar biasa, pinggangnya juga gemuk, namun betapa tinggi kungfu mereka sungguh mimpi pun tak pernah terduga.&#8221;</p>
<p>Lelaki bernama Go-losi tertawa, katanya, &#8220;Betapa pun tinggi kungfunya, memangnya dia mampu menahan kelincahan tangan Toako?&#8221;</p>
<p>Si Kucing mendongak sambil bergelak, katanya, &#8220;Memang betul, biarlah kuperlihatkan kepada kalian barang apa saja yang berhasil kugaet dari sakunya. Cukup segenggam yang kuperoleh ini, mungkin lebih dari cukup untuk hidup tenteram puluhan keluarga miskin di luar pintu utara itu.&#8221;</p>
<p>Tapi demi tangannya menepuk saku pinggang, gelak tawanya seketika berubah menjadi menyengir, air muka pun berubah hebat, tangan yang sudah merogoh saku ternyata tak mampu dikeluarkan lagi.</p>
<p>Keruan hadirin melenggong, semua heran dan kaget, seru mereka, &#8220;Kenapa, Toako?&#8221;</p>
<p>Lama si Kucing terlongong di tempatnya, akhirnya ia bergumam, &#8220;Lihai benar, sungguh lihai.&#8221;</p>
<p>Di bawah cahaya api unggun tertampak keringat sebesar kacang berketes-ketes di atas jidatnya, mendadak dia bergelak tertawa sambil mendongak, serunya, &#8220;Gerakan bagus, lelaki hebat, hari ini si Kucing baru dapat bertemu dengan tokoh semacam ini, umpama terjungkal juga rela.&#8221;</p>
<p>Go-losi bertanya, &#8220;Siapakah yang Toako maksudkan?&#8221;</p>
<p>Si Kucing segera mengacungkan jempol, katanya, &#8220;Bicara soal ini, betapa tinggi kungfunya, mungkin jarang ada tandingan di kolong langit ini, tindak tanduknya yang ramah, tutur katanya yang halus, terus terang jarang terlihat olehku selama hidup ini, bila aku ini seorang cewek, kecuali dengan dia, aku bersumpah tidak mau kawin.&#8221;</p>
<p>Go-losi makin heran, tanyanya mendesak, &#8220;Siapakah dia sebenarnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dialah pemuda tampan di antara kedua kambing gemuk itu,&#8221; sahut si Kucing.</p>
<p>Seluruh hadirin bersuara heran, semua melongo, berkata pula Go-losi, &#8220;Toako memujinya begitu rupa, kuyakin dia pasti luar biasa, tapi&#8230;entah&#8230;&#8221; dia hentikan perkataannya demi melihat tangan si Kucing yang merogoh saku itu sudah sekian lama masih belum ditarik keluar lagi.</p>
<p>Si Kucing tertawa, katanya, &#8220;Dalam hati kau sangsi, tapi tak berani tanya, betul tidak? Baik, biar kujelaskan. Aku berhasil menggerayangi seluruh uang kepunyaan orang itu, di luar tahuku sakuku berbalik juga digerayangi olehnya, lebih celaka lagi, dompetku juga ikut jatuh ke tangan pemuda itu, bukankah hal ini dapat dikatakan tak berhasil mencuri ayam malah kehilangan segenggam beras?&#8221;</p>
<p>Peristiwa yang memalukan, kalau orang lain, siapa mau bercerita akan hal ini di hadapan anak buahnya sendiri, tapi si Kucing justru omong seenaknya dengan tertawa riang.</p>
<p>Keruan hadirin saling pandang, tiada yang bersuara.</p>
<p>Si Kucing tertawa pula, katanya, &#8220;Untuk apa kalian berlagak seperti ini? Dapat bertemu dengan tokoh seperti itu sudah untung bagiku, kehilangan barang tak berarti apa-apa, pula barang itu juga bukan milikku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230;tapi dompet Toako itu&#8230;&#8221; Go-losi tergegap.</p>
<p>&#8220;Dompet itu juga tak berarti, yang harus kusayangkan adalah kucing kemala yang kuukir dengan golok pusakaku ini, namun&#8230;&#8221; mendadak berubah air muka si Kucing, teriaknya, &#8220;Wah celaka, masih ada benda lain dalam dompetku itu.&#8221;</p>
<p>Kehilangan barang apa pun si Kucing tidak perlu cemas, namun demi teringat pada barang yang berada dalam dompet itu, seketika muka si Kucing berubah hebat, jelas benda itu sangat berarti dan tinggi nilainya.</p>
<p>Cepat Go-losi bertanya, &#8220;Benda apa?&#8221;</p>
<p>Sesaat lamanya si Kucing termenung, katanya kemudian dengan menyengir, &#8220;Benda itu kutemukan di sebuah kuil bobrok, tapi&#8230;tapi&#8230;&#8221; akhirnya dia menghela napas dan menengadah, &#8220;tapi benda itu jelas milik pribadi nona itu.&#8221;</p>
<p>Go-losi berkerut kening, beberapa kali dia membuka mulut seperti ingin tanya apa-apa, tapi tidak berani mengutarakan isi hatinya.</p>
<p>&#8220;Kalian tentu ingin tahu siapa nona itu, bukan?&#8221; ucap si Kucing.</p>
<p>Go-losi tertawa geli sendiri, katanya, &#8220;Apakah nona itu adalah&#8230;adalah Toako punya&#8230;Toako punya&#8230;&#8221; hadirin tertawa gemuruh menyambut pertanyaan Go-losi yang kepalang tanggung itu.</p>
<p>Si Kucing tertawa riang, katanya sambil membusungkan dada, &#8220;Betul, gadis itu memang menggiurkan, paling cantik dalam pandanganku, tapi siapa dia sebetulnya, siapa namanya, sampai saat ini aku pun tidak tahu.&#8221;</p>
<p>Berkedip Go-losi, katanya, &#8220;Apakah perlu Siaute mencari tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak usah,&#8221; ucap si Kucing tertawa kecut, &#8220;Ai, sejak hari itu aku melihat wajahnya, dia mendadak seperti menghilang begitu saja, beberapa kali aku mondar-mandir di sepanjang jalan raya, namun tak kulihat pula bayangannya.&#8221;</p>
<p>Sejenak kemudian, mendadak dia putar badan dan melangkah keluar.</p>
<p>&#8220;Toako, mau ke mana?&#8221; serempak semua orang bertanya.</p>
<p>&#8220;Apa pun dompetku itu harus kuminta kembali, aku pun ingin bersahabat dengan pemuda itu, bila kalian tiada tugas, boleh tunggu saja di sini,&#8221; belum habis si Kucing bicara bayangannya sudah lenyap di luar kuil.</p>
<p>Go-losi mengawasi bayangan punggungnya, gumamnya, &#8220;Beberapa tahun aku melanglang buana, sungguh belum pernah kulihat seorang gagah jujur, bijaksana dan berjiwa besar seperti Him-toako, kita bisa menjadi saudaranya, sungguh beruntung besar, manusia seperti dia memang ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin besar. Dia hendak mencari orang, bagaimana juga harus kubantu.&#8221;</p>
<p>Sambil bicara bergegas ia pun berlari keluar.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Senja belum tiba, si Kucing sudah berada di jalan raya, agar dapat menemukan jejak Sim Long dan Kim Bu-bong, dia tidak mengembangkan Ginkangnya yang hebat.</p>
<p>Setelah mengayun langkah sekian lamanya, tampak dari depan datang seorang nyonya berpakaian hijau dengan tubuh terbungkuk-bungkuk, sebelah tangan menggandeng seorang anak perempuan, tangan yang lain menuntun seekor keledai, dengan langkah terseok-seok. Gadis yang di atas keledai dan yang digandeng itu bermuka jelek sekali, jarang ada perempuan sejelek itu di dunia ini, sampai si Kucing juga tidak tahan dan meliriknya dua kali.</p>
<p>Dua kali lirikan ini cukup berarti, mendadak dia ingat nyonya baju hijau ini bukan lain adalah nyonya yang membuat api unggun di dalam kuil bobrok kemarin, pada waktu itu pula si nona cantik menggiurkan itu mencopot pakaian dan memanggang bajunya.</p>
<p>Sekilas dia berkerut alis, setelah bimbang sejenak, mendadak ia mengadang di depan ketiga orang dan satu keledai itu sambil membentang kedua tangannya, katanya dengan cengar-cengir, &#8220;Masih kenal aku tidak?&#8221;</p>
<p>Beberapa kali si nyonya baju hijau mengawasinya naik-turun, lalu berkata dengan tertawa dibuat-buat, &#8220;Toaya apakah mau memberi sedekah?&#8221;</p>
<p>Si Kucing tertawa, katanya, &#8220;Kau tidak mengenalku, aku masih mengenalmu. Hari itu kau sendirian, mengapa sekarang berubah menjadi bertiga? Apakah kau melihat nona itu?&#8221;</p>
<p>Semula Cu Jit-jit sudah putus asa, kini jantungnya berdebar pula, dia masih kenal pemuda bergajul ini, sungguh tak nyana pemuda bergajul ini bisa mencarinya.</p>
<p>Terdengar nyonya berbaju hijau itu berkata, &#8220;Apa satu jadi tiga segala? Nona apa? Toaya, apa yang kau maksudkan, aku tidak tahu, kalau Toaya ingin memberi sedekah, lekaslah memberi, kalau tidak aku mau pergi saja.&#8221;</p>
<p>Si Kucing menatapnya dengan melotot, katanya, &#8220;Kau betul tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu? Nona yang malam itu buka baju di dalam kuil itu masa sudah kau lupakan? Nona yang bermata bundar besar, mulut kecil&#8230;&#8221;</p>
<p>Nyonya berbaju hijau seperti teringat mendadak, jawabnya, &#8220;O, maksudmu, nona yang mengeringkan pakaiannya pada api unggun itu. Ai, sungguh cantik sekali, cuma&#8230;malam itu dia lantas pergi ikut si Tosu yang berkelahi dengan kau itu, kudengar katanya menuju ke timur, agaknya Toaya tidak menemukan dia.&#8221;</p>
<p>Si Kucing menghela napas kecewa, ia tidak tanya pula, baru saja dia membalik badan, mendadak terasa gadis berwajah buruk di samping nyonya baju hijau itu seperti menunjukkan pandangan ganjil padanya. Segera dia menghentikan langkah sambil berkerut kening, ia merasa heran, dia tidak dapat berpikir lebih cermat, sementara si nyonya baju hijau sudah melangkah pergi sambil menggandeng gadis buruk dan keledainya.</p>
<p>Hati Cu Jit-jit kembali tenggelam, selanjutnya dia tidak berani menaruh harapan setitik pun.</p>
<p>Si Kucing mengguncang buli-buli araknya, isinya sudah kosong, dia menghela napas panjang, perasaannya kesal dan hampa, sesaat dia berdiri bingung, entah apa sebabnya.</p>
<p>&#8220;Toako!&#8221; mendadak didengarnya seorang memanggil di belakang.</p>
<p>Ternyata Go-losi memburu datang dengan napas ngos-ngosan, sikapnya kelihatan aneh, si Kucing heran, tanyanya, &#8220;Ada apa?&#8221;</p>
<p>Menuding punggung si nyonya berbaju hijau Go-losi mendesis, &#8220;Kedua&#8230;kedua &#8216;kambing gemuk&#8217; itu pernah memberi uang kepada nyonya baju hijau itu sehingga dapat kulihat sakunya cukup padat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oo&#8230;&#8221; si Kucing melengak.</p>
<p>&#8220;Mata Siaute cukup tajam, sekilas pandang kulihat uang yang mereka berikan kepada nyonya baju hijau itu berhuruf merah, itu berarti nilai setiap uang kertas itu di atas lima ribu tahil.&#8221;</p>
<p>Tergerak hati si Kucing, katanya dengan mendelik, &#8220;Kau tidak salah melihat?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tanggung tidak salah,&#8221; sahut Go-losi.</p>
<p>Bertaut alis tebal si Kucing, katanya, &#8220;Kalau hanya memberi sedekah kepada si miskin di tengah jalan, tak mungkin sekali rogoh kantong mengeluarkan uang lima ribuan, aku percaya nyonya baju hijau ini pasti ada hubungan erat dengan kedua orang itu. Kalau kedua orang itu orang aneh dunia Kangouw, maka nyonya berbaju hijau itu pasti juga bukan orang sembarangan, tapi dia justru berpura-pura selemah itu&#8230;kurasa ada sesuatu yang kurang beres.&#8221;</p>
<p>Mendadak dia putar balik dan memburu ke arah si nyonya baju hijau.</p>
<p>Langkahnya semakin dekat, tapi nyonya baju hijau seperti tidak merasakan. Sorot mata si Kucing jelalatan, dengan gerak cepat mendadak dia cengkeram pundak si nyonya baju hijau, kelima jarinya penuh dilandasi tenaga dalam, setiap insan persilatan bila mendengar sambaran angin sekuat ini pasti segera tahu bila pundak tercengkeram, tulang pundak pasti teremas hancur.</p>
<p>Tapi nyonya baju hijau tetap seperti tidak merasakan apa-apa, namun mendadak langkahnya seperti tersaruk batu hingga sempoyongan ke depan, pada detik terakhir itu dia meluputkan diri dari cengkeraman si Kucing.</p>
<p>Si Kucing tertawa, katanya, &#8220;Ternyata memang punya kungfu bagus!&#8221;</p>
<p>Nyonya itu berpaling dan bertanya dengan bingung, &#8220;Kungfu bagus apa? Toaya, aku tidak mengerti apa yang kau katakan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Peduli kau tahu atau tidak, ayolah ikut padaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mau&#8230;mau ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kulihat kau terlalu miskin dan hidup sengsara, hatiku tidak tega, ingin kuberi sedekah padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih atas maksud baik tuan, sayang aku harus menempuh perjalanan dengan membawa kedua keponakanku ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak si Kucing membentak, &#8220;Mau atau tidak mau harus ikut.&#8221;</p>
<p>Mendadak dia melompat ke punggung keledai dan segera menepuk pantatnya, karena kesakitan keledai itu segera lari kencang seperti kesetanan.</p>
<p>Keruan si nyonya baju hijau melengak, berubah air mukanya makinya dengan gusar, &#8220;Bajingan, kembali!&#8221;</p>
<p>Si Kucing tergelak, serunya, &#8220;Aku memang bajingan, caramu itu pantas untuk menghadapi kaum pendekar, orang lain mungkin tak mampu berbuat apa-apa terhadapmu, tapi menghadapi bajingan seperti diriku, hehehe, memangnya bajingan peduli amat terhadap permainanmu ini.&#8221;</p>
<p>Walau kurus, dalam sekejap keledai itu telah lari lebih dua puluhan tombak.</p>
<p>Nyonya berbaju hijau mencak-mencak, teriaknya, &#8220;Penculik, rampok&#8230;tolong&#8230;&#8221;</p>
<p>Dari kejauhan si Kucing berkaok, &#8220;Betul, aku memang rampok, tapi adakah rampok yang takut pada orang baik, sebaliknya orang baik sama takut kepada rampok, sampai pecah tenggorokanmu juga tak ada orang berani menolongmu.&#8221;</p>
<p>Lari keledai semakin jauh, dalam sekejap lagi hampir lenyap dari pandangan mata.</p>
<p>Akhirnya si nyonya berbaju hijau tidak tahan, sambil mengertak gigi, sekali raih dia peluk pinggang Pek Fifi, tanpa hiraukan apakah orang lain kaget dan melongo, sekali tarik napas dia melompat jauh ke depan terus mengudak dengan kencang.</p>
<p>Ginkang dan gerak tubuhnya memang luar biasa, meski sebelah tangannya mengempit seorang, tapi beruntun empat kali lompat naik-turun dia sudah meluncur dua puluhan tombak.</p>
<p>Kedua kaki si Kucing mengempit keras perut keledai, sebelah tangan memeluk gadis buruk rupa, alias Cu Jit-jit, sebelah tangan terus-menerus menepuk pantat keledai supaya lari lebih cepat, katanya sambil tertawa, &#8220;Nah, kelihatan belangnya sekarang, akhirnya dapat kupaksa menunjukkan kungfumu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa kalau dipaksa?&#8221; jengek si nyonya baju hijau dengan benci, &#8220;apa kau kira bisa hidup lagi?&#8221;</p>
<p>Beberapa kali lompatan pula, jelas dia akan dapat menyusul keledainya yang berlari kencang itu.</p>
<p>Tak tersangka mendadak si Kucing angkat Cu Jit-jit terus melayang tinggi dari punggung keledai, serunya dengan tertawa, &#8220;Boleh kau kejar aku dulu dan bicara lagi nanti.&#8221;</p>
<p>Sekali meluncur tiga tombak ke depan, keledai tanpa penumpang itu ditinggalkan, tapi dia yakin yang dikejar nyonya baju hijau bukan keledai melainkan penunggangnya yang bermuka buruk dalam rangkulannya ini.</p>
<p>Jika murid didik kaum pendekar jelas tak sudi melakukan perbuatan yang memalukan ini, tapi lain dengan si Kucing yang tidak peduli tentang sopan santun segala, asal tujuannya suci dan dapat tercapai, perbuatan apa pun berani dilakukannya.</p>
<p>Agaknya nyonya berbaju hijau tidak menduga bajingan tengik ini memiliki Ginkang selihai itu, dirinya ternyata tidak mampu menyusulnya, keruan ia gugup bercampur gusar pula, segera bentaknya, &#8220;Berhenti, marilah kita bicara secara baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bicara soal apa?&#8221; tanya si Kucing.</p>
<p>&#8220;Sebetulnya apa kehendakmu? Turunkan dulu keponakanku, urusan bisa dirundingkan.&#8221;</p>
<p>Sementara itu mereka sudah hampir mencapai kuil bobrok itu.</p>
<p>Si Kucing tertawa riang, katanya, &#8220;Berhenti juga boleh. Tapi lebih dulu kau harus berhenti mengejar, baru nanti aku akan berhenti, kalau tidak meski tiga hari tiga malam, jangan harap kau dapat menyusul aku, kukira kau sendiri maklum akan hal ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bangsat, bajingan!&#8221; maki si nyonya baju hijau. Tapi terpaksa dia menghentikan langkahnya, &#8220;Apa kehendakmu? Katakan!&#8221;</p>
<p>Si Kucing juga berhenti dalam jarak lima tombak, katanya dengan tertawa, &#8220;Apa pun tidak kuinginkan, aku hanya ingin tanya beberapa patah kata saja.&#8221;</p>
<p>Berkilat sorot mata si nyonya baju hijau, wajahnya tidak kelihatan welas asih lagi, desisnya penuh kebencian, &#8220;Lekas, tanya soal apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ingin kutanya lebih dulu siapa sebetulnya kedua orang yang memberi uang kertas itu kepadamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Seorang murah hati yang kebetulan lewat di jalan, mana aku mengenalnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kau tidak kenal dia, memangnya dia mau memberi uang kertas sebanyak itu kepadamu?&#8221;</p>
<p>Berubah pula air muka si nyonya baju hijau, serunya beringas, &#8220;Baiklah kuberi tahu padamu, kedua orang itu begal besar yang kupegang rahasianya, mulutku terpaksa disumbat dengan uang supaya rahasia itu tidak kubocorkan. Tentang di mana sekarang kedua orang itu, terus terang aku tidak tahu.&#8221;</p>
<p>Si Kucing tertawa terkial-kial, katanya, &#8220;Kalau betul kedua orang itu begal besar, pasti kau ini sekomplotan dengan mereka. Manusia macam dirimu ini, mengapa membawa dua gadis buruk muka dalam perjalanan, kurasa pasti ada suatu yang tidak beres&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini&#8230;ini bukan urusanmu,&#8221; bentak nyonya baju hijau dengan gusar.</p>
<p>&#8220;Aku si Kucing justru suka mencampuri urusan orang lain, meski urusan kecil yang tiada sangkut pautnya denganku, bila kebentur di tanganku, urusan harus dibikin jelas baru puas hatiku. Hari ini kalau aku tidak membekuk kau, tentu kau tak mau bicara sejujurnya.&#8221;</p>
<p>Mendadak dia menggembor keras, &#8220;Hai, saudara-saudara, ayolah keluar!&#8221;</p>
<p>Lenyap suaranya, maka berbondonglah puluhan orang menerjang keluar dari dalam kuil.</p>
<p>Si Kucing menyerahkan Cu Jit-jit sambil berpesan, &#8220;Sembunyikan gadis ini di tempat yang rahasia dan jaga baik-baik&#8230;&#8221;</p>
<p>Sambil mengiakan anak buahnya merubung maju, sementara si Kucing sendiri melompat balik ke hadapan si nyonya berbaju hijau, katanya, &#8220;Nah, boleh mulai.&#8221;</p>
<p>Nyonya baju hijau menyeringai, jengeknya, &#8220;Kau ingin mampus? Baik!&#8221;</p>
<p>Dalam berkata &#8220;baik&#8221;, sekaligus ia sudah menyerang tiga jurus. Agaknya dia tidak berani meremehkan pemuda bergajul yang kurang ajar ini, meski sambil mengempit Pek Fifi, tapi tiga jurus pukulannya telah mengerahkan seluruh tenaganya.</p>
<p>Gerakan si Kucing segarang harimau, berputar laksana langkah naga, secepat kilat dia berkelit tiga kali, katanya dengan tertawa, &#8220;Mengingat kau ini seorang perempuan, biar aku mengalah tiga jurus lagi.&#8221;</p>
<p>Sikap si nyonya baju hijau tampak prihatin, bentaknya bengis, &#8220;Baik, jangan kau menyesal.&#8221;</p>
<p>Segera kaki kiri melangkah ke depan, tubuh setengah berputar, telapak tangan kanan didorong perlahan, mulut membentak pula, &#8220;Inilah jurus pertama.&#8221;</p>
<p>Tampak kelima jarinya setengah tertekuk, bentuknya mirip tinju tapi bukan tinju, seperti telapak tangan juga bukan telapak tangan, gerak serangannya lamban, sampai setengah jalan serangannya, lawan masih bingung dan tak dapat meraba ke arah mana serangannya akan dilancarkan.</p>
<p>Si Kucing berdiri tegak bergeming, matanya menatap telapak tangan lawan yang satu ini, sorot matanya tampak prihatin, namun ujung mulutnya mengulum senyuman acuh tak acuh.</p>
<p>Setiba di tengah jalan mendadak telapak tangan nyonya baju hijau itu terayun ke atas dan menghantam telinga kiri si Kucing.</p>
<p>Letak kuping kiri merupakan tempat sepele, dengan sendirinya tidak terduga bahwa lawan bakal menyerang tempat ini, dengan perkataan lain pertahanan paling lemah pada bagian ini.</p>
<p>Si Kucing merasa di luar dugaan, dalam repotnya dia tidak sempat berpikir, ia mengegos ke kanan, tak tahunya si nyonya baju hijau seperti sudah memperhitungkan gerakannya yang berkelit ke kanan ini, hanya bagian tubuh atas saja yang berkisar tanpa menggeser kedua kakinya, ini berarti ruang lingkup gerak tubuhnya tidak besar, maka begitu badan si Kucing miring ke kanan, telunjuk jarinya segera menjentik, yang digunakan adalah sebangsa Tan-ci-sin-thong atau tenaga jari sakti, sejalur angin tajam segera menyambar ke lubang telinga si Kucing.</p>
<p>Lubang telinga dengan genderang kuping adalah titik terlemah pada tubuh manusia umumnya, biasanya cukup orang mengorek kuping dengan gulungan kertas saja akan menimbulkan rasa sakit, apalagi nyonya berbaju hijau ini menyerang dengan landasan tenaga murni, meski tidak kelihatan bentuknya, yang jelas tajamnya melebihi sebatang paku, bila terkena tenaga selentikan jarinya, genderang telinga bisa pecah.</p>
<p>Sungguh tak pernah terpikir oleh si Kucing bahwa nyonya berbaju hijau itu bisa melancarkan serangan sekeji ini, kecuali manusia berhati culas dan jahat, mustahil bisa memikirkan serangan keji ini.</p>
<p>Cepat si Kucing mengkeret kepala dan menjengkang badan serta mundur beberapa kaki. Tapi betapa cepat sambaran angin jentikan lawan, walau dia sempat berkelit, tak urung jidatnya keserempet juga hingga kulit jidatnya jadi merah. Seketika si Kucing berjingkrak gusar, bentaknya, &#8220;Apa ini juga terhitung satu jurus?&#8221;</p>
<p>Baru saja dia membentak, tahu-tahu si nyonya baju hijau menubruk tiba pula dan melancarkan jurus kedua, yang diincar adalah bagian berbahaya di bawah perut, jurus serangan ini lebih keji lagi, saat itu badan si Kucing lagi doyong ke belakang, tenaga belum sempat dikerahkan, maka nyonya baju hijau yakin jurus kedua ini pasti akan menamatkan riwayat lawan.</p>
<p>Di luar tahunya, kekuatan fisik si Kucing sungguh tak terbayang oleh siapa pun, tenaga murni tubuhnya ternyata bagai arus air yang mengalir tak terputus-putus.</p>
<p>Dia menarik napas, dengan tangkas ia menyurut mundur beberapa kaki pula, begitu dia kerahkan tenaga pada tungkak kakinya, mendadak dia melompat ke udara, sekali berjumpalitan kembali ia berada lagi di hadapan si nyonya berbaju hijau.</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.info">Cerita Silat</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-09/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Baja (08)</title>
		<link>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-08/</link>
		<comments>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-08/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 02:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendekar Baja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.info/?p=804</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gu Long
Baru sekarang Cu Jit-jit tahu bahwa Tio-lotoa ternyata salah seorang pengagum Tiong-goan-beng-siang, melihat belasan lelaki merubung tiba, lekas Jit-jit jambret bahu Tio-lotoa terus dilemparkan ke arah dua lelaki yang memburu datang lebih dulu.
Sudah tentu kedua orang itu tidak kuat menahannya. Tiga orang terguling mencium tanah, sementara orang lain yang memburu tiba jadi kaget [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Gu Long</strong></p>
<p>Baru sekarang Cu Jit-jit tahu bahwa Tio-lotoa ternyata salah seorang pengagum Tiong-goan-beng-siang, melihat belasan lelaki merubung tiba, lekas Jit-jit jambret bahu Tio-lotoa terus dilemparkan ke arah dua lelaki yang memburu datang lebih dulu.</p>
<p>Sudah tentu kedua orang itu tidak kuat menahannya. Tiga orang terguling mencium tanah, sementara orang lain yang memburu tiba jadi kaget dan merandek, tapi Jit-jit lantas menerjang maju.<br />
<span id="more-804"></span><br />
Kungfu yang pernah dipelajarinya beraneka ragam dan tiada satu pun yang boleh dikatakan mahir, namun untuk menghadapi lawan keroco ini masih cukup berlebihan, seperti harimau mengamuk di tengah rombongan domba, dalam sekejap belasan lelaki itu telah dihajarnya hingga tunggang langgang.</p>
<p>Sudah beberapa hari ini Cu Jit-jit menanggung penasaran, marah, dan takut, sekarang baru dia berhasil melampiaskan kekesalan hatinya, hingga perut lapar pun terlupakan.</p>
<p>Merasa bukan tandingan Jit-jit, orang-orang itu melawan sambil mundur, sementara Jit-jit menghajar sambil mengejar, sebentar saja mereka sudah dekat di depan pintu gerbang.</p>
<p>&#8220;Berhenti!&#8221; mendadak seorang membentak. Seorang lelaki berperawakan pendek dan kekar berusia 30-an, berpakaian sutra warna hijau berdiri di ambang pintu sambil menggendong tangan, wajahnya kelihatan kereng dan sedang mengawasi Cu Jit-jit dengan aliasnya berkerut, agaknya heran karena Cu Jit-jit dapat menguasai ilmu silat sebanyak itu ragamnya, tapi sikapnya tetap tenang saja.</p>
<p>Melihat lelaki ini, kawanan lelaki tadi berlari dan sembunyi di belakangnya. Cu Jit-jit masih memburu maju dan hendak menjotos, tiba-tiba dilihatnya lelaki kekar ini mengadangnya sambil menjura dengan tertawa, &#8220;Sabar, kungfu nona memang mengagumkan.&#8221;</p>
<p>Tabiat Cu Jit-jit memang senang dilayani secara ramah dan pantang dikasari, melihat orang berlaku sopan, maka jotosannya yang sudah melayang segera ditarik kembali.</p>
<p>Lelaki berbaju sutra hijau tertawa, katanya, &#8220;Kawanan hamba itu memang tidak bermata hingga lancang terhadap nona, semoga nona suka mengampuni mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tidak apa-apa,&#8221; ujar Jit-jit, &#8220;sudah kenyang juga kuhajar mereka.&#8221;</p>
<p>Lelaki berbaju sutra melengak, katanya pula, &#8220;Sifat nona ternyata suka berterus terang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sifatku ini baik atau jelek?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>Tidak sedikit orang yang dikenal lelaki ini, tapi gadis sebinal ini belum pernah dihadapinya, sesaat dia melenggong, katanya kemudian, &#8220;O, baik&#8230;tentu saja baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Melihat tampangmu ini, tentu kau inilah Tiong-goan-beng-sian Auyang Hi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul&#8230;entah nona ada petunjuk apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kau dijuluki Beng-siang, maka sepantasnya kau meladeni aku dengan baik, makan minum dulu sampai puas, sebab ada urusan penting ingin kuberi tahukan kepadamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tamu seperti nona biarpun sengaja kuundang juga belum tentu sudi kemari, cuma hari ini&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hari ini kenapa? Apakah hari ini kau kehabisan uang dan tidak mampu mentraktir aku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biar kukatakan terus terang kepada nona, hari ini ada seorang saudagar besar kalangan Kangouw, Leng-jiya, beliau telah meminjam tempatku ini, tamu agung dari berbagai penjuru sudah berdatangan, maka Cayhe tidak berani&#8230;&#8221;</p>
<p>Berputar bola mata Cu Jit-jit, katanya dengan tertawa, &#8220;Dari mana kau tahu bahwa kedatanganku tidak untuk berdagang. Tolong kau bawa aku masuk.&#8221;</p>
<p>Dengan sangsi Auyang Hi pandang dia beberapa kali lagi, meski pakaian si nona tidak keruan, tapi sikapnya agung dan berani, selagi ragu, Cu Jit-jit lantas melangkah masuk rumah orang seperti rumah sendiri.</p>
<p>Keruan Auyang Hi makin bingung dan tidak dapat meraba asal usul si nona, tapi ia pun tidak berani sembrono, terpaksa dengan tertawa getir dia silakan orang masuk.</p>
<p>Cahaya lampu terang benderang di ruang besar, dua baris meja kayu cendana yang panjang penuh diduduki tiga puluhan orang, baik usia, tampang, dan dandanan mereka berbeda, tapi pakaian mereka sama perlente, jelas mereka adalah saudagar besar yang sering berkecimpung di dunia Kangouw. Melihat Auyang Hi datang mengiringi seorang nona cantik, semua mengunjuk rasa heran.</p>
<p>Cu Jit-jit sudah biasa dipandang sedemikian rupa oleh orang banyak, kalau orang mengawasi kepalanya sampai ke kaki, dia tetap tak peduli dan tenang-tenang saja, dia malah melirik ke sana-sini.</p>
<p>Sudah tentu kehadirannya menarik perhatian dan menimbulkan kasak-kusuk, tapi Jit-jit langsung menarik kursi terus berduduk, katanya dengan lantang, &#8220;Apakah kalian tidak pernah melihat orang perempuan? Ayolah, bisnis lebih penting, aku kan manusia biasa dan tidak punya tiga mata, kenapa aku dipandang begitu rupa?&#8221;</p>
<p>Delapan di antara sepuluh hadirin merah mukanya oleh sindiran Cu Jit-jit, banyak yang menunduk atau melengos.</p>
<p>Sungguh senang, bangga juga geli hati Cu Jit-jit. Dia melarang orang memandang dirinya, matanya justru menjelajah kanan-kiri dengan pandangan tajam.</p>
<p>Di antara sekian orang yang hadir, dia yakin yang benar-benar pedagang hanya tujuh-delapan orang, belasan yang lain adalah jago-jago kosen Bu-lim, dua di antaranya malah lain daripada yang lain. Seorang duduk di depan Jit-jit, bibir merah muka putih, pakaiannya serbasutra, di antara sekian hadirin usianya terhitung yang paling muda, wajahnya juga sangat tampan, secara sembunyi-sembunyi dia melirik Jit-jit, bila Jit-jit balas menatapnya, dengan muka jengah dia lantas melengos.</p>
<p>Cu Jit-jit tertawa di dalam hati, &#8220;Kelihatannya pemuda ini anak pingitan yang jarang keluar pintu, lebih pemalu dari gadis&#8230;&#8221;</p>
<p>Makin orang pemalu, makin dipandangnya, hingga pemuda itu tidak berani angkat kepalanya, sungguh senang hati Cu Jit-jit.</p>
<p>Seorang lagi kelihatan seperti pelajar tua rudin yang tidak lulus ujian, mukanya kurus, berjenggot kambing yang jarang-jarang, mengenakan jubah panjang yang warnanya sudah luntur, saat mana sedang memejamkan mata seperti orang yang sudah beberapa hari tidak makan, hingga duduk lemas dan tidak mampu bicara lagi.</p>
<p>Di belakangnya berdiri seorang kacung berbaju hijau pula, juga kurus tinggal kulit membungkus tulang, untung bola mata masih berputar kian kemari, kalau tidak, hampir tak kelihatan gairah hidup sedikit pun.</p>
<p>Diam-diam Jit-jit membatin pula, &#8220;Pelajar rudin begini juga berani datang untuk urusan dagang? Memangnya akan menjual pensil butut.&#8221;</p>
<p>Kasak-kusuk dalam ruang besar sudah sirap, terdengar Auyang Hi berdehem, lalu berseru, &#8220;Kini tinggal Leng-jiya dan Keh-siangkong saja, kedatangan Keh-siangkong ke Lokyang kali ini entah membawa barang-barang aneh apa.&#8221;</p>
<p>Akhir katanya matanya menatap seorang lelaki gemuk putih, berdandan lucu, usianya jelas tidak muda lagi tapi sengaja berlagak Siangkong (tuan muda), kepalanya pakai ikat kain, jubahnya yang kedodoran bersulam aneka warna, belasan kantong sutra bergantungan di sekeliling pinggangnya, tangan memegang pipa tembakau.</p>
<p>Keh-siangkong memicingkan mata, lalu menoleh ke kanan-kiri, katanya dengan tersenyum, &#8220;Akhir-akhir ini aku sudah makin malas, kutahu dengan kedatangan Leng-jiya, pasaran dagang di kota Lokyang pasti ramai, namun aku hanya membawa dua macam barang saja.&#8221;</p>
<p>Auyang Hi berkata, &#8220;Barang mengutamakan kualitas dan bukan kuantitas. Barang yang dibawa Keh-siangkong kuyakin pasti luar biasa, silakan Keh-siangkong mengeluarkannya supaya hadirin ikut menyaksikan.&#8221;</p>
<p>Keh-siangkong berkata, &#8220;Ah, janganlah pujian melulu, cuma kawan Kangouw juga sama tahu, barang berharga di bawah lima ribu tahil aku tidak pernah jual-beli.&#8221;</p>
<p>Cu Jit-jit berkerut kening, batinnya, &#8220;Besar juga mulutnya, dipandang dari dandanan dan sikapnya, bukan mustahil dia ini salah seorang Ngo-toa-ok-kun (lima penjahat) yang merajalela di Kangouw, yaitu Kan-sian Keh-pak-bwe? (pedagang licik Keh si Pembeset Kulit). Jika benar dia adanya, orang yang berjual-beli dengan dia pasti akan mengalami kerugian.&#8221;</p>
<p>Tampak Keh-siangkong telah mengeluarkan sebuah kodok-kodokan pualam warna hijau sebesar mangkuk, terutama kedua matanya ternyata terbuat dari sepasang mutiara besar dan bundar, di bawah sinar lampu tampak gemerlap, harganya tentu tidak bernilai.</p>
<p>Keh-siangkong berkata, &#8220;Kalian sama ahli, baik-jelek barang ini tentu dapat kalian lihat, maka tidak perlu aku membual, silakan saja kalian menentukan harga sendiri.&#8221;</p>
<p>Beruntun dia bersuara dua kali, tapi hadirin tiada yang memberi reaksi.</p>
<p>Cu Jit-jit tertawa geli di dalam hati, pikirnya, &#8220;Mungkin orang takut pada yang ahli membeset kulit, maka tiada yang berani memberi penawaran, padahal kodok pualam hijau ini memang berharga sekitar lima-enam ribu tahil.&#8221;</p>
<p>Keh-siangkong menoleh kian kemari, satu per satu hadirin ditatapnya, akhirnya pandangannya berhenti pada seorang bertubuh gemuk pendek, katanya dengan tertawa, &#8220;Si Yong-kui, kau berdagang batu permata, berapa kau menawar barangku?&#8221;</p>
<p>Berdenyut kulit muka Si Yong-kui yang gempal itu, katanya sambil menyengir, &#8220;Ah&#8230;baiklah, aku menawar tiga ribu tahil.&#8221;</p>
<p>Keh-siangkong menarik muka, katanya dengan tertawa dingin, &#8220;Tiga ribu tahil, tega kau tawar serendah ini, jangankan badan kodok yang hijau ini, hanya sepasang mata mutiaranya saja&#8230;hehe, mutiara sebesar ini pun sukar dicari, besarnya sama, bundar lagi, hehehe, kalau kau punya dua butir yang sama kuberani bayar enam ribu tahil.&#8221;</p>
<p>Si Yong-kui menyengir, katanya, &#8220;Aku tahu mestika sebesar ini kalau tiga ribu tahil memang terlalu murah, tapi sebelum kuperiksa barang itu secara teliti, terus terang aku tidak berani memberikan tawaran lebih tinggi.&#8221;</p>
<p>Beringas sorot mata Keh-siangkong, katanya, &#8220;Memangnya sedekat ini tidak kau lihat jelas, barang mestika mana yang boleh sembarang dipegang orang, memangnya kau tidak percaya kepada orang she Keh?&#8221;</p>
<p>Kembali bergoyang kulit muka Si Yong-kui, ia menunduk, suaranya juga gelagapan, &#8220;Wah, ini&#8230;baiklah kutawar enam ribu tahil&#8230;&#8221;</p>
<p>Keh-siangkong terkekeh, katanya, &#8220;Meski enam ribu belum cukup modal, tapi orang she Keh kalau berdagang biasanya &#8216;cincay&#8217;, demi hubungan yang lebih erat selanjutnya, kali ini biar aku jual murah kepadamu, tapi bayar dulu baru barang diserahkan, ini adalah kebiasaan jual-beli, enam ribu tahil perak, sepeser pun tidak boleh kurang.&#8221;</p>
<p>Agaknya Si Yong-kui tidak mengira tawaran semurah ini dapat membeli barang antik yang mahal ini, seketika dia mengunjuk rasa kejut dan girang, orang lain juga mengiri bahwa dia mendapat barang murah, semuanya mengiler.</p>
<p>Jit-jit membatin, &#8220;Orang bilang dia tukang beset kulit, tapi dari jual-beli ini, kenyataan bukan saja adil, malah boleh dikatakan dia agak rugi.&#8221;</p>
<p>Maklum sebagai putri keluarga hartawan, nilai sesuatu permata cukup dikuasainya dengan baik, nilai mutiara sebesar dan sebundar itu harganya memang pantas enam ribu tahil perak.</p>
<p>Sementara itu Si Yong-kui sudah suruh orangnya mengambil uang dan menimbang bobotnya, setelah uang diserahkan, kodok pualam itu pun diambilnya, tapi hanya dua kali dia mengamati barang itu, seketika wajahnya berubah pucat, serunya dengan suara gemetar, &#8220;Kodok pualam ini cacat, demikian pula mutiara ini&#8230;hanya sebutir di&#8230;dibelah dua, Keh-siangkong, ini&#8230;ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Keh-siangkong menyeringai, katanya, &#8220;Apa betul? Aku sendiri juga tidak memerhatikannya waktu membeli, tapi barang sudah dibeli, tidak boleh dikembalikan, kuyakin kau Si Yong-kui juga tahu aturan ini?&#8221;</p>
<p>Si Yong-kui melenggong sesaat lamanya, &#8220;bluk&#8221;, badannya yang gendut duduk lemas di atas kursi, air mukanya sungguh lebih jelek daripada tampang babi.</p>
<p>Keh-siangkong tertawa terkekeh, katanya, &#8220;Dan barang kedua yang kubawa untuk kalian adalah&#8230;merupakan suatu keajaiban, ya, keajaiban yang selalu kalian impikan, keajaiban yang diciptakan Tuhan untuk kalian, keajaiban yang tanggung belum pernah kalian lihat&#8230;Ini, silakan kalian periksa keajaiban itu berada di sini.&#8221;</p>
<p>Meski suaranya tidak enak didengar, tapi dia memang pandai bicara hingga menimbulkan daya pikat yang besar, seluruh hadirin sama menoleh ke arah yang ditudingnya.</p>
<p>Betul juga, hadirin sama menjerit tertahan dan melongo seketika, keajaiban yang dikatakan Keh-siangkong ternyata adalah seorang gadis berbaju putih, berambut panjang hitam legam dan terurai di atas pundak.</p>
<p>Gadis ini berdiri malu-malu, wajahnya putih bersih dan molek, meski pucat karena takut, gayanya ternyata memesona dan menimbulkan rasa belas kasihan. Kedua bola matanya yang bercahaya bening juga memancarkan rasa kaget, takut, dan malu, mirip seekor rusa yang baru tertangkap dari hutan. Tubuhnya semampai, dadanya montok, karena dipandang sekian banyak orang ia kelihatan gemetar.</p>
<p>Melihat hadirin terpesona, tersimpul senyuman licik pada wajah Keh-siangkong, sekali raih dia tarik gadis itu, lalu serunya, &#8220;Inilah bidadari dari kahyangan, permaisuri raja, entah kapan kalian mendapat rezeki, barang siapa dapat memberikan tawaran tertinggi, bidadari ini akan menjadi miliknya, bila hatimu kesal, dia bisa bernyanyi menghiburmu, bila kau kesepian dia akan mendampingimu menikmati surga dunia, badannya yang mulus, hangat dan kenyal ini adalah obat untuk melenyapkan kesepian.&#8221;</p>
<p>Mendengar komentarnya, hadirin berduduk mematung terkesima. Entah berapa lama kemudian tiba-tiba terdengar seorang berseru lantang, &#8220;Kalau dia begitu menggiurkan, kenapa tidak kau pakai sendiri?&#8221;</p>
<p>Hadirin memang takut berhadapan dengan Keh-pak-bwe yang suka menggorok pembelinya ini, khawatir dikibuli.</p>
<p>Keh-siangkong terkekeh, katanya, &#8220;Kenapa tidak kupakai sendiri?&#8230;Hahaha, terus terang saja, soalnya &#8216;harimau betina&#8217; di rumah terlalu lihai, kalau tidak, masa aku mau menjualnya?&#8221;</p>
<p>Hadirin saling pandang, masih curiga, juga kurang percaya.</p>
<p>Keh-siangkong memancing lagi, &#8220;Ayolah, apa lagi yang kalian tunggu?&#8221;</p>
<p>Mendadak dia menarik baju si gadis hingga kelihatan bahunya yang putih melebihi pakaiannya, payudaranya yang mengintip tampak mengilat lagi padat.</p>
<p>Keh-siangkong berteriak-teriak, &#8220;Gadis seperti ini, apa kalian pernah melihatnya? Bila ada orang berani bilang dia kurang cantik, pasti dia lelaki tolol, lelaki buta.&#8221;</p>
<p>Belum habis bicaranya, seorang lelaki bermuka burik segera berdiri, serunya, &#8220;Baik, aku tawar seribu&#8230;seribu lima ratus tahil&#8230;&#8221;</p>
<p>Ternyata tawaran pertama ini mendapat sambutan orang banyak, maka di sana-sini orang lantas berlomba, &#8220;Seribu delapan ratus tahil&#8230;dua ribu tahil&#8230;tiga ribu&#8230;&#8221;</p>
<p>Lelang berjalan terus, badan si gadis makin gemetar, matanya yang sayu mulai berkaca-kaca, makin dipandang Jit-jit makin merasa kasihan, dia membatin, &#8220;Gadis cantik molek ini, mana tega aku melihat dia terjatuh ke tangan lelaki busuk ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Entah mengapa mendadak terasa darahnya mendidih, tanpa pikir ia ikut berteriak, &#8220;Aku tawar delapan ribu tahil.&#8221;</p>
<p>Hadirin melongo, tapi pemuda berbaju sutra di seberang Cu Jit-jit tiba-tiba tersenyum, serunya, &#8220;Selaksa tahil!&#8221;</p>
<p>Berkilat bola mata Keh-siangkong, wajahnya kegirangan, hadirin tersirap kaget oleh tawaran yang teramat tinggi ini. Cu Jit-jit mengertak gigi, mendadak dia berseru pula, &#8220;Dua laksa tahil perak!&#8221;</p>
<p>Harga ini terlebih mengejutkan, keruan hadirin menjadi gempar. Gadis itu angkat kepalanya dan menatap Cu Jit-jit dengan heran dan juga senang.</p>
<p>Dengan tertawa Keh-siangkong menatap pemuda berbaju sutra, tanyanya, &#8220;Bagaimana Ong-kongcu?&#8221;</p>
<p>Pemuda itu tertawa sambil menggeleng kepala.</p>
<p>Keh-siangkong lantas menghadap ke arah Cu Jit-jit, katanya sambil menghormat, &#8220;Selamat nona, gadis secantik bidadari ini kini sudah menjadi milik nona, entah di mana uang nona? Hahaha, dua laksa tahil perak sungguh teramat murah!&#8221;</p>
<p>Jit-jit jadi melenggong, sahutnya dengan gelagapan, &#8220;Uang&#8230;uang tidak kubawa, tapi&#8230;dua hari&#8230;&#8221;</p>
<p>Kontan Keh-siangkong menarik muka, katanya, &#8220;Apa nona berkelakar? Tanpa uang mana bisa bicara jual-beli?&#8221;</p>
<p>Ruang besar ini seketika penuh suara gelak tertawa, ada yang mencemooh, ada yang berolok.</p>
<p>Merah muka Jit-jit, dari malu dia jadi gusar, baru saja dia hendak menyemprot mereka, tiba-tiba sastrawan tua miskin yang sejak tadi duduk dengan mata terpejam itu membuka matanya dan berkata, &#8220;Tidak apa-apa, uang akan kupinjamkan padamu.&#8221;</p>
<p>Hadirin melengak kaget, Jit-jit juga terbeliak, kakek ini kelihatan rudin, mana punya uang untuk dipinjamkan padaku segala.</p>
<p>Keh-siangkong menyengir, katanya, &#8220;Nona ini tidak dikenal engkau orang tua, mana&#8230;&#8221;</p>
<p>Kakek rudin tertawa dingin, &#8220;Kau tidak memercayainya, aku justru percaya padanya, soalnya kalian tiada yang kenal siapa dia, aku orang tua sebaliknya mengenalnya dengan jelas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa nona ini?&#8221; tanya Keh-siangkong heran.</p>
<p>Kakek rudin berkata, &#8220;Kau Keh-pak-bwe hanya mahir menipu uang orang lain, biar kau menipu tiga puluh tahun lagi juga belum dapat membandingi secuil kuku bapaknya. Tidak perlu kubicara banyak, cukup kuberi tahukan padamu, dia she Cu.&#8221;</p>
<p>Keh-siangkong terperanjat, serunya, &#8220;She Cu, apakah&#8230;apakah dia putri mestika keluarga Cu?&#8221;</p>
<p>Kakek rudin mendengus sambil memejamkan mata pula, pandangan hadirin serentak beralih kepada Cu Jit-jit semua memandangnya dengan terbelalak.</p>
<p>Sejak dahulu kala uang memang punya daya pikat luar biasa, manusia mana pun tidak terkecuali. Terutama orang berwatak seperti Keh-siangkong, dia lebih tahu betapa hebat daya tarik uang di dunia ini.</p>
<p>Sikapnya yang meremehkan tadi kini berubah tertawa lebar hingga kedua matanya hampir terpejam, katanya, &#8220;Baiklah, bila engkau orang tua yang menanggung, apa pula yang perlu kukatakan&#8230;Fifi, sejak kini kau menjadi milik nona Cu ini, lekas ke sana!&#8221;</p>
<p>Orang paling terkejut di dalam ruang ini adalah Cu Jit-jit sendiri, sungguh dia tidak mengerti dari mana kakek rudin ini mengenal dirinya. Tidak habis pula herannya manusia semacam Keh-siangkong ternyata menaruh kepercayaan penuh kepada kakek rudin ini. Padahal kakek ini kurus kering, pakaiannya, topinya, harta miliknya dari kepala sampai ke kaki paling-paling cuma berharga satu tahil perak saja.</p>
<p>Gadis baju putih itu lantas menghampiri Jit-jit, sinar matanya tampak terang, lembut dan tetap malu-malu. Segera dia berlutut memberi hormat serta menyapa dengan suara merdu, &#8220;Lanli (perempuan kesusahan) Pek Fifi menyampaikan sembah hormat kepada nona Cu.&#8221;</p>
<p>Lekas Jit-jit menariknya bangun, sebelum dia bicara didengarnya Tiong-goan-beng-siang Auyang Hi berseru lantang, &#8220;Acara baik masih ada pada babak terakhir, kuyakin hadirin sedang menunggu dan ingin lihat barang dagangan Leng-jiya.&#8221;</p>
<p>Hadirin sama mengiakan.</p>
<p>Timbul rasa ingin tahu Cu Jit-jit. &#8220;Orang macam apa pula Leng-jiya itu? Orang-orang ini kelihatan sangat segan kepadanya, tentu dia seorang luar biasa.&#8221;</p>
<p>Waktu matanya mengerling, tampak puluhan pasang mata hadirin sama menatap ke arah kakek rudin kurus itu. Keruan Jit-jit kaget, &#8220;Jadi Leng-jiya adalah kakek ini?&#8221;</p>
<p>Waktu dia menoleh, mendadak dilihatnya di belakang pemuda berbaju sutra tahu-tahu berdiri seorang kacung berwajah bersih, kacung ini tengah menatapnya dengan tajam, Jit-jit merasa pernah melihat wajah si kacung, cuma tidak ingat di mana pernah melihatnya.</p>
<p>Sementara itu si kakek rudin telah membuka mata dan batuk dua kali, lalu katanya, &#8220;Go-ji, sekali ini apa saja yang kita bawa, satu per satu boleh kau sebutkan supaya hadirin tahu, ingin kulihat berapa pula tawaran yang diajukan mereka.&#8221;</p>
<p>Go-ji (anak sengsara), anak yang berperawakan kurus hitam dan berdiri di belakangnya mengiakan dengan suara lemah seperti sudah tidak makan tiga hari, dengan perlahan ia tampil ke depan, lalu serunya, &#8220;Lima puluh kuintal Oh-liong-teh.&#8221;</p>
<p>Setelah terjadi tawar-menawar yang cukup seru terhadap daun teh terkenal itu, seorang pedagang besar penduduk Lokyang menutupnya dengan harga lima ribu tahil perak.</p>
<p>Go-ji berseru pula, &#8220;Tong-hoa-yu lima ratus tong&#8230;Tinta bak seribu potong&#8230;&#8221; beruntun dia sebutkan delapan jenis barang dagangan, setiap jenis adalah barang-barang produksi suatu daerah yang jarang ada di pasaran, dalam sekejap barang-barang itu sudah terjual habis dengan harga tinggi.</p>
<p>Cu Jit-jit menyaksikan perak sebungkus demi sebungkus digaruk seluruhnya oleh Leng-jiya, namun barang-barang yang disebutkan tadi satu pun tidak kelihatan, maka dia membatin, &#8220;Agaknya Leng-jiya memang seorang pedagang besar sehingga dia mendapat kepercayaan orang sebanyak ini, tapi kenapa dia justru berdandan mirip orang rudin? Ah, mungkin kakek ini seorang kikir.&#8221;</p>
<p>Kemudian Go-ji berseru pula, &#8220;Bik-kin-hiang-to tersedia lima ratus kuintal.&#8221;</p>
<p>Sejak tadi Keh-siangkong kelihatan duduk tenang sambil udut tembakau dengan merem melek, begitu mendengar &#8216;Bik-kin-hiang-to-bi&#8217; (beras unggul gagang wangi), matanya mendadak bersinar, serunya segera, &#8220;Partai itu kuborong seluruhnya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Berapa tawaranmu?&#8221; tanya Go-ji.</p>
<p>Keh-siangkong tampak berkerut kening, setelah berpikir dia pura-pura murah hati, katanya, &#8220;Selaksa tahil!&#8221;</p>
<p>Beras unggul gagang wangi memang jarang ada di pasaran, kalau ada, harga pasaran sekuintal juga cuma dua puluhan tahil saja, bahwa Keh-siangkong berani menutup dengan harga setinggi itu memang sudah terhitung berani.</p>
<p>Tak nyana si pemuda berbaju sutra mendadak berseru dengan tertawa, &#8220;Selaksa lima ribu tahil!&#8221;</p>
<p>Keh-siangkong tampak melengak, akhirnya dia mengertak gigi dan berteriak, &#8220;Selaksa enam ribu.&#8221;</p>
<p>Ong-kongcu berseru, &#8220;Dua laksa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, dua laksa?&#8230;Ong-kongcu, apa kau bergurau? Sejak dulu kala beras unggul ini tiada harga setinggi itu.&#8221;</p>
<p>Ong-kongcu tersenyum, katanya, &#8220;Kalau kau tidak berani beli, tiada orang memaksa.&#8221;</p>
<p>Air muka Keh-siangkong berubah pucat, menghijau lalu merah padam, giginya bergemertuk, sesaat dia melenggong, akhirnya berteriak lagi, &#8220;Baik kubayar dua laksa seribu.&#8221;</p>
<p>Harga ini jelas jauh melampaui harga pasaran, bahwa Keh-siangkong yang sering menggaruk uang orang lain secara nakal ini berani membayar setinggi ini, hadirin sama kaget dan heran, di sana-sini mulai terdengar bisik-bisik.</p>
<p>Ong-kongcu mendadak berseru, &#8220;Tiga laksa!&#8221;</p>
<p>Kali ini Keh-siangkong melompat bangun dari tempat duduknya, teriaknya, &#8220;Tiga laksa? Apa kau&#8230;kau gila?&#8221;</p>
<p>Ong-kongcu menarik muka, jengeknya, &#8220;Keh-heng, kalau bicara harap hati-hati.&#8221;</p>
<p>Keh-pak-bwe, si Pembeset Kulit yang terkenal nakal ini ternyata jeri terhadap pemuda lemah lembut yang baru keluar kandang macam Ong-kongcu ini, dia tidak berani lagi berkata kotor, dengan lemas dia duduk pula di kursinya, mukanya pucat dan penuh keringat.</p>
<p>Go-ji lantas berkata, &#8220;Tiada penawaran lagi, baiklah barang itu akan diserahkan kepada Ong-kongcu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Nanti dulu,&#8221; mendadak Keh-siangkong berseru sambil menggebrak meja, teriaknya dengan suara parau, &#8220;Kutambah menjadi tiga laksa seribu&#8230;Nah, Ong-kongcu, harga ini sudah memeras keringatku, kumohon kepadamu, jangan&#8230;jangan berebut lagi denganku.&#8221;</p>
<p>Ong-kongcu tertawa lebar, katanya, &#8220;Baiklah, hari ini aku mengalah kepadamu.&#8221;</p>
<p>Keh-pak-bwe tampak kegirangan, segera dia keluarkan uang dan menghitung, bahwa dia membayar lima ratus kuintal beras dengan harga setinggi itu, ternyata masih kegirangan, tiada hadirin yang tidak heran, siapa pun tidak mengerti mengapa Keh-pak-bwe hari ini mau berdagang rugi.</p>
<p>Setelah menerima uang dan memberikan tanda terima, Go-ji lantas tertawa seperti mengalami sesuatu kejadian yang amat menyenangkan, demikian pula Ong-kongcu juga tertawa lebar.</p>
<p>&#8220;Apa&#8230;apa yang membuatmu tertawa?&#8221; tanya Keh-pak-bwe.</p>
<p>&#8220;Di kota Kayhong ada seorang saudagar yang berani membayar lima laksa tahil untuk lima ratus kuintal beras unggul gagang wangi, maka sekarang kau berani membayar tiga laksa tahil perak untuk jumlah beras yang sama, betul tidak?&#8221;</p>
<p>Berubah air muka Keh-pak-bwe, serunya, &#8220;Dari&#8230;dari mana kau tahu?&#8221;</p>
<p>Go-ji tertawa geli, katanya, &#8220;Pedagang yang menawar lima laksa tahil untuk membeli beras jenis itu di Kayhong itu sengaja diutus oleh Leng-jiya kita, bila kau bawa beras itu ke Kayhong, tentu orang itu juga sudah pergi. Hahaha&#8230;Keh-pak-bwe, siapa nyana sekali tempo kau pun akan mengalami rugi, biasanya kau menipu, hari ini kau tertipu.&#8221;</p>
<p>Pucat pasi muka Keh-pak-bwe, katanya, &#8220;Tapi, Ong&#8230;Ong-kongcu&#8230;&#8221;</p>
<p>Go-ji menjelaskan, &#8220;Ong-kongcu juga sudah dipesan oleh Leng-jiya untuk memerankan sandiwara ini hingga kau tertipu&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara Keh-pak-bwe meraung terus menubruk maju.</p>
<p>Mendadak melotot mata Leng-jiya, jengeknya, &#8220;Kau mau apa?&#8221;</p>
<p>Melihat sorot mata tajam orang, Keh-pak-bwe seperti kena dicambuk, seketika kuncup nyalinya, lekas dia mundur kembali, sesaat dia melongo, lalu mendekap muka dan menangis tergerung-gerung.</p>
<p>Tak tahan Jit-jit, dia tertawa geli, demikian pula hadirin ikut bertepuk, bahwa Keh-pak-bwe juga kena tipu, siapa pun merasa girang.</p>
<p>Leng-jiya tersenyum, katanya, &#8220;Si Yong-kui tadi ditipunya, Go-ji, hitung tiga ribu tahil dan kembalikan kepada juragan Si, bulu kambing tumbuh di atas badan kambing, hendaknya Si-heng jangan sungkan!&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Si Yong-kui kegirangan, berulang dia ucapkan terima kasih.</p>
<p>Dalam hati Cu Jit-jit juga memuji, baru sekarang dia tahu kakek rudin mirip pengemis, Leng-jisiansing, bukan saja seorang lelaki hebat, ternyata juga bukan orang kikir seperti diduganya semula.</p>
<p>Kini mata Leng-jisiansing terpejam pula, sikap Go-ji kembali lesu seperti tidak punya semangat, lalu katanya perlahan, &#8220;Masih ada&#8230;delapan ratus ekor kuda pilihan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Delapan ratus kuda pilihan&#8221;, sungguh menarik perhatian hadirin, terutama dua kelompok orang yang duduk seberang-menyeberang, kedua kelompok itu sama terbelalak dengan bersemangat.</p>
<p>Kedua kelompok orang ini, masing-masing terdiri dari tiga orang dan dua orang.</p>
<p>Kelompok tiga orang itu adalah lelaki yang bertampang jelek, kulit daging pada mukanya benjol-benjol. Sementara kedua orang yang lain, seorang bermuka kuning seperti disepuh emas, mirip orang berpenyakitan, seorang lagi bermata elang berhidung betet, alisnya tebal, wajahnya bengis, gagah dan kasar, sikapnya kelihatan angkuh, seperti tidak pandang sebelah kepada siapa pun.</p>
<p>Sepintas pandang Cu Jit-jit lantas tahu bahwa kelima orang ini pasti orang-orang gagah dari golongan hitam, tenaga mereka pun pasti besar.</p>
<p>Ketiga lelaki itu serempak berdiri, orang pertama berseru, &#8220;Siaute Ciok Bun-hou.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siaute Ciok Bun-pa,&#8221; sambung orang kedua.</p>
<p>Orang ketiga berseru juga, &#8220;Siaute Ciok Bun-piau.&#8221;</p>
<p>Mereka bicara dengan membusung dada, sikapnya garang dan bertolak pinggang, agaknya sengaja mau pamer kekuatan.</p>
<p>Mendengar nama ketiga orang ini, Si Yong-kui dan lain-lain tampak berubah air mukanya.</p>
<p>Auyang Hi lantas bergelak tawa, katanya, &#8220;Kaum persilatan siapa yang tidak tahu nama besar Ciok-si-sam-hiong (tiga jago keluarga Ciok) dari Bing-hou-kang, buat apa pula kalian harus memperkenalkan diri.&#8221;</p>
<p>Ciok Bun-hou bergelak, katanya, &#8220;Betul, mungkin Auyang-heng juga tahu, kehadiran kami ini adalah untuk kedelapan ratus ekor kuda itu, semoga kalian sudi memberi muka kepada kami bersaudara, supaya kami tidak pulang dengan bertangan kosong.&#8221;</p>
<p>Ketiga Ciok bersaudara lantas bergelak tertawa, paduan suara tertawa yang keras ini serasa menggetar atap rumah.</p>
<p>Umpama ada pihak lain bermaksud membeli kuda pasti akan kuncup nyalinya dan mundur teratur.</p>
<p>Ciok Bun-hou bertiga menyapu pandang hadirin, sikapnya takabur dan bangga.</p>
<p>Tak terduga lelaki hidung betet tiba-tiba menjengek, &#8220;Kurasa kalian memang akan pulang dengan tangan kosong.&#8221;</p>
<p>Suaranya tidak keras, tapi setiap hadirin dapat mendengar dengan jelas.</p>
<p>Ciok Bun-hou menarik muka, serunya gusar, &#8220;Apa katamu?&#8221;</p>
<p>Lelaki berhidung betet berkata pula, &#8220;Kedelapan ratus ekor kuda itu, kami bersaudara yang akan membelinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Berdasar apa kau berani bilang demikian?&#8221; teriak Ciok Bun-hou.</p>
<p>Si hidung betet menyeringai, katanya, &#8220;Di hadapan Leng-jisiansing, tentunya harus dengan uang untuk membeli kuda, siapa berani main rebut atau merampok?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bera&#8230;berapa tawaranmu?&#8221; teriak Ciok Bun-hou.</p>
<p>&#8220;Berapa tawaranmu, pasti kutambah di atasmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebun Kau,&#8221; bentak Ciok Bun-hou, &#8220;jangan kira aku tidak mengenalmu. Mengingat kita sesama satu golongan, selalu kami mengalah kepadamu, tapi kau&#8230;kau terlalu menghina orang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya apa kehendakmu?&#8221; tantang Sebun Kau.</p>
<p>Ciok Bun-hou gebrak meja, sebelum dia bicara Ciok Bun-pa lantas menarik tangannya, katanya dengan suara keras dan tegas, &#8220;Bing-hou-kang kami dengan seribuan anggota sedang menunggu kedelapan ratus ekor kuda ini untuk membuka usaha baru, bila Sebun-heng suruh kami pulang dengan bertangan kosong, lalu cara bagaimana kami akan memberi pertanggungan jawab.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kalian sedang menunggu kedelapan ratus ekor kuda ini, memangnya Loh-be-ouw kami tidak memerlukan kuda-kuda ini? Kalau pulang bertangan kosong kalian sukar memberi pertanggungan jawab, memangnya kami tidak harus bertanggung jawab juga.&#8221;</p>
<p>Ciok Bun-piau mendadak menimbrung, &#8220;Jika demikian, biarlah kita mengalah saja.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara segera dia tarik Bun-hou dan Bun-pa keluar.</p>
<p>Selagi hadirin heran kenapa ketiga saudara ini mendadak mau mengalah, tiba-tiba sinar kemilau berkelebat, tiga golok panjang serempak membacok ke arah Sebun Kau, bacokan keras dan keji, jika Sebun Kau terkena bacokan ini, badannya pasti hancur.</p>
<p>Betapa ganas serangan golok ketiga saudara Ciok ini, ternyata Sebun Kau juga sudah waspada dan siaga, dia tertawa dingin, sekali mengegos dapatlah menghindar.</p>
<p>Yang jadi korban adalah kursi tempat duduk Sebun Kau tadi terbacok hancur lebur. Keruan Si Yong-kui dan lain-lain sama berteriak kaget.</p>
<p>Membara mata Ciok Bun-hou, teriaknya serak, &#8220;Bukan kau yang mampus biar aku yang mati, ayo sikat dia.&#8221;</p>
<p>Kembali tiga batang golok mereka berputar pula dan hendak menerjang lagi.</p>
<p>Lelaki muka kuning yang tidak bersuara sejak tadi mendadak berdiri, hanya sekali berkelebat tiba-tiba Sebun Kau ditariknya menyingkir sambil membentak, &#8220;Berhenti sebentar, dengarkan perkataanku.&#8221;</p>
<p>Walau wajahnya kuning seperti orang sakit, tapi gerak-geriknya ternyata gesit dan mengejutkan.</p>
<p>Ciok Bun-hou bertiga terpaksa berhenti, katanya, &#8220;Baik, coba kita dengarkan apa yang hendak dikatakan Liong Siang-peng.&#8221;</p>
<p>Liong Siang-peng lantas berkata, &#8220;Bila kita berkelahi di sini, di samping menimbulkan permusuhan sesama orang Kangouw, rasanya juga tidak enak terhadap Auyang-heng, maka menurut pendapatku, lebih baik&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimanapun juga kedelapan ratus ekor kuda itu adalah bagian kami,&#8221; tukas Ciok Bun-hou lantang.</p>
<p>Liong Siang-peng atau Liong si Sakit Melulu tertawa, katanya, &#8220;Kalian ingin mendapatkannya, orang lain juga tidak mau mengalah, bukankah terpaksa harus diselesaikan dengan pertarungan sengit. Tapi kalau masing-masing pihak mau membagi empat ratus ekor kuda, permusuhan kan tidak perlu terjadi.&#8221;</p>
<p>Ciok bersaudara saling pandang, Ciok Bun-pa lantas berkata, &#8220;Ucapan Liong-lotoa memang beralasan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu marilah kita saling tepuk tangan sebagai tanda perjanjian,&#8221; ucap Liong Siang-peng.</p>
<p>Ciok Bun-hou berpikir sejenak, akhirnya dia menjawab, &#8220;Baiklah, empat ratus ekor kuda sementara juga cukup.&#8221;</p>
<p>Lalu dia mendahului maju ke depan.</p>
<p>Liong Siang-peng juga menyongsong maju dengan tertawa, masing-masing mengulurkan tangan, mendadak dari tangan kiri Liong Siang-peng menyambar dua titik sinar dingin, berbareng tangan kanan juga menghantam, &#8220;blang&#8221;, dengan telak dada Ciok Bun-hou digenjotnya, kedua bintik sinar itu pun tepat mengenai leher Bun-pa dan Bun-piau.</p>
<p>Terdengar ketiga bersaudara itu menjerit ngeri, tubuh sempoyongan, mata melotot gusar, lama mereka menatap Liong Siang-peng, teriaknya dengan suara parau, &#8220;Kau&#8230;kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum lanjut suaranya, Ciok Bun-hou menyemburkan darah hitam, wajah Bun-pa dan Bun-piau juga berubah hitam. Satu per satu mereka roboh tersungkur, tiga orang segar bugar dalam sekejap telah melayang jiwanya menjadi mayat.</p>
<p>Semua hadirin terbelalak kaget, sementara itu dengan tenang Liong Siang-peng berjalan balik ke tempat duduknya, tetap seperti orang penyakitan yang lemah dan acuh tak acuh, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.</p>
<p>Wajah Auyang Hi tampak gusar tapi entah mengapa akhirnya dia menahan rasa gusarnya.</p>
<p>Semula Cu Jit-jit juga gusar, tapi kejap lain dia berpikir, &#8220;Orang lain tidak peduli, buat apa aku usil, memangnya urusanku belum cukup merepotkan?&#8221;</p>
<p>Ternyata Go-ji juga bersikap tak acuh, katanya dingin, &#8220;Setelah terjadi pembunuhan, apakah jual-beli tetap menggunakan uang?&#8221;</p>
<p>Sebun Kau tertawa, serunya, &#8220;Tentu saja pakai uang.&#8221;</p>
<p>Diturunkan ransel yang digendongnya di atas meja, perlahan dia buka buntelan kain kuning itu, ternyata isinya emas murni.</p>
<p>&#8220;Berapa nilainya?&#8221; tanya Go-ji.</p>
<p>Sebun Kau tertawa, katanya, &#8220;Dua ribu tahil, kukira cukup.&#8221;</p>
<p>Tak nyana Ong-kongcu yang pendiam dan pemalu itu mendadak angkat kepala, katanya dengan tersenyum, &#8220;Siaute tawar dua ribu seratus tahil!&#8221;</p>
<p>Mendengar tawarannya, hadirin kaget, Jit-jit juga berubah air mukanya.</p>
<p>Sebun Kau menyeringai, katanya, &#8220;Apakah Siangkong ini tidak berkelakar?&#8221;</p>
<p>Ong-kongcu tertawa, &#8220;Tiga sosok mayat masih ada di sini, apakah tega orang berkelakar di hadapan mayat?&#8221;</p>
<p>Sebun Kau berputar menghadap ke arahnya, selangkah demi selangkah dia menghampirinya, setiap langkahnya makin menimbulkan suasana tegang.</p>
<p>Pandangan semua orang tertuju kepadanya sehingga siapa pun tidak menyadari tahu-tahu Liong Siang-peng sudah melayang ke belakang Ong-kongcu tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, perlahan dia angkat telapak tangannya.</p>
<p>Ong-kongcu masih tetap tidak merasakan ancaman bahaya, Sebun Kau menyeringai, &#8220;Bila kau mampu menghindar tiga kali pukulanku, kedelapan ratus kuda ditambah emas ini akan menjadi milikmu.&#8221;</p>
<p>Pada akhir perkataannya, secepat kilat kedua tangannya menggempur kedua pundak Ong-kongcu.</p>
<p>Pada saat yang sama, dari kedua tangan Liong Siang-peng juga menyambar tujuh bintik sinar dingin, jadi dua orang menggencet dari depan dan belakang, bukan saja jiwa Ong-kongcu terancam, kacung di belakangnya juga sukar terhindar dari malapetaka.</p>
<p>Cu Jit-jit menjerit sambil melompat bangun.</p>
<p>Pada saat itulah mendadak lengan baju Ong-kongcu menggulung ke belakang, di belakang kepalanya seperti bermata, demikian pula lengan bajunya seperti ular sakti, ketujuh bintik sinar dingin itu tergulung semua ke dalam lengan bajunya, sekali kebut lagi ke depan, bintik tajam itu langsung menyambar ke dada Sebun Kau.</p>
<p>Sebun Kau menjerit ngeri, mendekap dada sambil mundur terhuyung. Muka Liong Siang-peng juga berubah pucat, tapi dia tidak gugup, kedua tangan mengkeret ke dalam lengan baju, waktu dikeluarkan lagi setiap tangan sudah memegang sembilan badik, di mana sinar gemerdep segera badik menikam punggung Ong-kongcu.</p>
<p>Betapa keji serangannya, badik itu juga hitam gilap, jelas dilumuri racun jahat, bila Ong-kongcu tergores sedikit saja kulit badannya, jangan harap bisa hidup lagi.</p>
<p>Tapi Ong-kongcu tetap tidak berpaling, hanya sedetik itu, mendadak tubuhnya mengapung ke atas hingga kedua badik menusuk punggung kursi kayu cendana yang berukir. Saking kaget, kuncup nyali Liong Siang-peng, dia tidak berani turun lagi ia putar badan terus kabur.</p>
<p>Ong-kongcu tersenyum, katanya, &#8220;Ini pun bawa pulang saja!&#8221;</p>
<p>Waktu mengucapkan &#8220;ini&#8221; dari lengan bajunya melesat setitik sinar dingin, ketika mengatakan &#8220;pulang&#8221; sinar dingin itu lantas bersarang di punggung Liong Siang-peng. Bila dia selesai berkata, Liong Siang-peng pun menjerit dan terkapar di lantai, kaki tangan berkelojotan, lalu tak bergerak lagi.</p>
<p>Bukan saja tidak pernah menoleh, bahkan Ong-kongcu tetap bersenyum, hanya mulutnya berkata, &#8220;Sungguh Am-gi (senjata rahasia) yang jahat, tapi Am-gi itu milik dia sendiri.&#8221;</p>
<p>Ternyata dalam lengan bajunya masih menyimpan sebuah Am-gi lawan, padahal jari tangannya saja tidak bekerja, tapi kedua begal besar yang beroperasi di Loh-be-ouw telah disikatnya.</p>
<p>Melihat demonstrasi menangkap Am-gi, lalu balas menyerang pula hanya dengan lengan baju saja, seluruh hadirin sama kagum, tapi sikap Ong-kongcu tetap wajar dan tak acuh, seolah-olah membunuh orang bukan perbuatan jahat, keruan hadirin sama melongo dan tiada yang berani menanggapi perkataannya.</p>
<p>Cu Jit-jit juga terkesiap, pikirnya, &#8220;Pemuda yang kelihatan lemah lembut ini ternyata memiliki kungfu yang luar biasa, hatinya kejam dan tindakannya ganas, sungguh mimpi pun orang tidak menyangka&#8230;&#8221;</p>
<p>Waktu ia menoleh, tiba-tiba dilihatnya kacung yang berdiri di belakangnya itu juga tengah mengawasinya dengan tersenyum, matanya yang lincah melirik sana-sini, seperti banyak persoalan hendak diberitahukan kepadanya.</p>
<p>Heran dan gusar hati Jit-jit, pikirnya, &#8220;Kenapa keparat ini menatapku sedemikian rupa? Mungkinkah dia kenal aku? Wajahnya memang seperti pernah kukenal, tapi kenapa aku tidak ingat di mana pernah bertemu dengan dia?&#8221;</p>
<p>Dia duduk termenung, sedang si gadis baju putih, Pek Fifi, dengan lembut berdiri di sampingnya, senyumnya yang menarik sungguh siapa pun akan tergiur.</p>
<p>Tapi bagaimanapun Jit-jit sukar mendapatkan jawaban, pikir punya pikir, akhirnya dia teringat kepada Sim Long. &#8220;Di mana Sim Long? Sedang apa dia sekarang? Apakah dia juga sedang merindukan diriku?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba didengarnya Auyang Hi berkata di sampingnya dengan tertawa, &#8220;Perjamuan makan malam sudah disiapkan, nona Cu ikut hadir?&#8221;</p>
<p>Selama dua hari ini, baru sekarang Jit-jit mendengar perkataan ramah terhadap dirinya. Cepat dia menarik napas, dengan tertawa dia mengangguk serta berdiri.</p>
<p>Baru sekarang didapatinya separuh hadirin sudah meninggalkan tempat ini, mayat juga sudah digotong pergi, tanpa terasa merah mukanya, diam-diam dia tanya diri sendiri, &#8220;Kenapa setiap merindukan Sim Long aku lantas linglung dan lupa daratan?&#8221;</p>
<p>Santapan yang dihidangkan memang hebat, bukan saja banyak jenisnya, juga makanan kelas satu semua. Leng-jisiansing melalap hidangan dengan lahap, apa yang disenangi seperti dituang saja ke dalam perut.</p>
<p>Selama hidup Cu Jit-jit juga belum pernah makan sepuas dan sekenyang ini, entah dari mana datangnya selera, yang terang perutnya memang lapar.</p>
<p>Hanya Ong-kongcu dan dua orang lagi yang jarang menggerakkan sumpitnya, agaknya menonton orang makan saja perut mereka ikut kenyang.</p>
<p>Sambil makan Auyang Hi masih terus mencerocos hingga makanan di mulutnya sering tersembur keluar, di samping minta maaf karena sejak bertemu dia tidak kenal bahwa Cu Jit-jit adalah putri kesayangan keluarga Cu, ia pun sibuk memperkenalkan Cu Jit-jit kepada hadirin lainnya. Jit-jit ogah melayani pembicaraannya, paling hanya mengangguk atau menggeleng dengan tertawa.</p>
<p>Mendadak Auyang Hi berkata, &#8220;Ong-kongcu ini juga putra keluarga terhormat di Lokyang, asal nona Cu melihat perusahaan bermerek Ong-som-ki, semua itu adalah milik keluarga Ong-kongcu, bukan saja dia&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendengar &#8220;Ong-som-ki&#8221;, hati Jit-jit seketika seperti kena cambuk sekali, darah seketika bergolak hingga apa perkataan Auyang Hi selanjutnya tidak diperhatikan lagi. Waktu dia memandang ke sana, Ong-kongcu dan kacungnya yang cakap itu pun sedang mengawasinya dengan tertawa.</p>
<p>Ong-kongcu tertawa sambil memperkenalkan diri, &#8220;Cayhe she Ong, bernama Ling-hoa&#8230;&#8221;</p>
<p>Dengan suara gemetar Jit-jit menukas, &#8220;Kau&#8230;kau&#8230;toko peti mati itu&#8230;&#8221;</p>
<p>Ong-kongcu tertawa, &#8220;Apa maksud nona Cu?&#8221;</p>
<p>Wajah Jit-jit yang sudah merah karena menenggak arak seketika pucat, matanya terbeliak menyorotkan rasa kaget dan ngeri, pikirnya, &#8220;Ong-som-ki&#8230;jangan-jangan Ong Ling-hoa ini pemuda bergajul yang berhati iblis itu&#8230;Ah, betul, kacung itu bukankah gadis berbaju putih itu, pantas aku merasa mengenalnya, dia mengenakan pakaian lelaki hingga aku pangling padanya&#8230;&#8221;</p>
<p>Melihat Jit-jit pucat dan menggigil, Auyang Hi kaget dan heran, tanyanya dengan menyengir, &#8220;Nona Cu, engkau&#8230;&#8221;</p>
<p>Dengan menggigil mendadak Cu Jit-jit melompat berdiri, &#8220;blang&#8221;, kursi yang didudukinya tergetar roboh, Jit-jit menyurut mundur, serunya gemetar, &#8220;Kau&#8230;kau&#8230;&#8221; mendadak dia putar tubuh terus angkat langkah seribu seperti melihat setan.</p>
<p>Terdengar beberapa orang berteriak-teriak di belakang, &#8220;Nona Cu&#8230;tunggu&#8230;nona Cu!&#8221;</p>
<p>Di antaranya terselip juga suara Pek Fifi yang minta dikasihani, &#8220;Nona Cu, bawa serta hamba&#8230;&#8221;</p>
<p>Mana Jit-jit berani berpaling. Entah sejak kapan di luar turun hujan deras, Jit-jit juga tidak menghiraukan lagi, dia terus lari ke depan tanpa membedakan arah, juga tidak peduli jalan apa. Sorot mata Ong Ling-hoa yang mengandung daya iblis itu seperti mengejar di belakangnya.</p>
<p>Memang benar ada orang mengintil di belakangnya, bila dia berhenti, orang itu segera seperti akan menubruknya.</p>
<p>Lari dan lari terus sampai napas Jit-jit sudah ngos-ngosan, kedua matanya juga sukar terpentang lagi karena diguyur air hujan, dia tahu bila dirinya terus berlari di tengah hujan begini, andaikan tidak mati juga pasti akan jatuh sakit.</p>
<p>Lapat-lapat dilihatnya bayangan beberapa rumah di depan, satu di antaranya ada cahaya yang menyorot keluar, pintunya juga seperti terbuka, Jit-jit tidak peduli lagi, langsung dia menerobos ke dalam, begitu berada di dalam rumah dia lantas rebah di lantai.</p>
<p>Setelah mereda napasnya baru dia sempat perhatikan keadaan setempat, rumah ini ternyata sebuah biara bobrok yang sudah lama tidak terawat, galagasi terdapat di mana-mana, patung pemujaan pun sama roboh.</p>
<p>Tepat di tengah ruang pemujaan ada api unggun yang sedang menyala, yang duduk di tepi api unggun memanaskan badan adalah seorang nyonya berbaju hijau dan sedang mengawasinya dengan heran, waktu dia menoleh, hujan masih tertuang dari langit, mana ada bayangan orang mengejarnya.</p>
<p>Setelah tenangkan diri, Jit-jit membetulkan badan dan menyapa dengan tertawa, &#8220;Popo (nenek), bolehkah aku ikut memanaskan badan?&#8221;</p>
<p>Sikap nyonya berbaju hijau kelihatan welas asih, tapi hanya mengangguk tanpa bicara.</p>
<p>Rambut Jit-jit semrawut, pakaian basah kuyup dan lengket di badan hingga potongan badannya yang menggiurkan tampak jelas, diam-diam dia bersyukur, &#8220;Untung seorang perempuan tua, kalau lelaki bukankah amat memalukan.&#8221;</p>
<p>Namun demikian ia pun merasa kupingnya panas, dengan perasaan malu dan tidak tenteram dia membetulkan rambutnya, hingga wajahnya yang molek kelihatan jelas.</p>
<p>Agaknya nyonya berbaju hijau itu pun tidak menyangka gadis yang basah kuyup ini bisa sedemikian cantiknya, sorot matanya yang semula dingin mulai kelihatan ramah, dengan menggeleng kepala dia berkata, &#8220;Kasihan, pakaianmu basah kuyup, apa tidak dingin?&#8221;</p>
<p>Jit-jit menarik napas, tubuhnya memang lagi menggigil, mendengar perkataan orang seketika dia tambah gemetar, meski sudah berada di pinggir api unggun, pakaian basah yang lengket di badannya terasa sedingin es.</p>
<p>Dengan suara lembut nyonya berbaju hijau berkata, &#8220;Di sini tiada orang lelaki, lebih baik kau buka pakaian basahmu, setelah dipanggang kering tentu akan merasa hangat.&#8221;</p>
<p>Walau sungkan dan rikuh, tapi rasa dingin yang merasuk tulang tak tertahan lagi, terpaksa Jit-jit mengangguk, perlahan dia mulai membuka baju. Meski di hadapan sesama perempuan, tak urung merah juga muka Jit-jit, cahaya api menambah merah pipinya, menyinari potongan tubuhnya yang aduhai&#8230;</p>
<p>Tiba-tiba Cu Jit-jit bersuara tertahan, pakaian dalamnya tak berani dilepas lagi, padahal pakaian dalam juga basah kuyup hingga hampir tembus pandang, cepat ia berjongkok, dan berharap pakaiannya lekas kering.</p>
<p>Mendadak di luar seperti ada orang berdehem perlahan.</p>
<p>Keruan Cu Jit-jit kaget, badannya mengkeret, serunya dengan gemetar, &#8220;Sia&#8230;siapa di luar?&#8221;</p>
<p>Suara serak tua berkata di luar tembok, &#8220;Hujan sangat lebat, orang beragama biar berteduh di emper saja.&#8221;</p>
<p>Legalah hati Cu Jit-jit, katanya, &#8220;Orang beragama ini memang orang baik, bukan saja tidak mau masuk, jendela pun tidak dilongoknya&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara, mendadak terdengar terkekeh tawa, katanya, &#8220;Walaupun ada orang baik di luar, tapi ada Siaujin (manusia rendah) di dalam.&#8221;</p>
<p>Sungguh tidak kepalang kejut Cu Jit-jit, cepat dia meraih pakaian untuk menutup dada, lalu mendongak ke arah datangnya suara. Tertampak di atas belandar yang penuh debu dan galagasi menongol sebuah kepala, sepasang matanya yang mirip mata kucing sedang menatap Cu Jit-jit.</p>
<p>Malu, gusar, dan kaget Jit-jit, ia mendamprat, &#8220;Kau&#8230;siapa? Berapa lama kau di&#8230;di situ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah cukup lama untuk menonton seluruhnya,&#8221; ujar orang itu dengan tertawa.</p>
<p>Wajah Jit-jit menjadi merah, repot dia membetulkan pakaiannya, tarik sini, sana terbuka, tarik sana, sini tersingkap, serbarepot, saking malu sungguh kalau bisa ingin sembunyi ke dalam tanah saja.</p>
<p>Orang itu tergelak, katanya, &#8220;Sayang sekali mataku ini masih kurang untung, pakaian nona yang terakhir belum dibuka, wah, sayang&#8230;&#8221;</p>
<p>Malu dan gusar, segera Jit-jit mencaci, &#8220;Keparat, bajingan kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendingan dia tidak memaki, karena caci makinya, orang itu segera melompat turun, Jit-jit menjerit kaget, tambah gencar caci makinya.</p>
<p>Tampak lelaki ini berpakaian jaket kulit yang sudah lusuh, bagian dadanya terbuka, tangan kiri pegang buli-buli arak, di pinggang terselip sebatang golok pendek tanpa sarung, usianya belum tua, tapi wajahnya penuh berewok, alisnya hitam tebal, matanya mirip mata kucing dan sedang mengamati Cu Jit-jit dari kepala sampai kaki.</p>
<p>Makin garang Jit-jit memaki, makin senang lelaki itu.</p>
<p>Begitu Jit-jit bungkam, lelaki itu lantas berkata dengan cengar-cengir, &#8220;Kan tidak kubuka pakaian nona, tapi nona sendiri yang membuka pakaian, tentu juga tidak kurintangi, namun nona justru memakiku begitu rupa, bukankah engkau ini tidak kenal aturan?&#8221;</p>
<p>Malu dan gemas Jit-jit bukan main, ingin rasanya dia gampar muka orang, tapi mana dia berani berdiri, terpaksa dia membentak, &#8220;Kau&#8230;keluar, setelah&#8230;setelah aku mengenakan pakaian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Di luar hujan lebat dan dingin, nona tega suruh aku kehujanan di luar. Daripada nona kesepian, bukankah lebih baik kutemani.&#8221;</p>
<p>Semula Jit-jit kira si nyonya berbaju hijau pasti seorang tokoh dunia Kangouw, melihat kejadian ini pasti akan membelanya. Siapa tahu nyonya itu malah menyingkir ke pinggir dengan muka pucat ketakutan.</p>
<p>Berputar mata Jit-jit, mendadak dia tertawa dingin, &#8220;Tahukah kau siapa aku? Hm, inilah Moli (iblis perempuan) Cu Jit-jit, memangnya boleh dibuat permainan olehmu? Kalau tahu diri lekas kau-lari saja, supaya tidak mati sia-sia di sini.&#8221;</p>
<p>Julukan &#8220;Moli&#8221; sekenanya dia sebut, maksudnya hanya untuk menggertak orang. Semula lelaki itu melenggong, tapi segera tertawa, katanya, &#8220;Sebaliknya apa kau tahu siapa aku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau siapa? Apa bedanya kau dengan babi, anjing, binatang&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ketahuilah,&#8221; ujar lelaki itu sambil tepuk dada, &#8220;Hok-mo-kim-kong (raksasa penakluk iblis) adalah nama besarku, lebih baik kau menurut saja, jangan&#8230;&#8221;</p>
<p>Rasa gusar mendadak merangsang Jit-jit, bila dia sudah nekat, umpama telanjang bulat juga berani berdiri, apalagi sekarang dia masih pakai baju dalam, mendadak dia melompat bangun, jengeknya, &#8220;Baik, kau ingin lihat, ini, silakan lihat, lihatlah yang jelas&#8230;sebentar lagi nona akan mencungkil kedua matamu.&#8221;</p>
<p>Mimpi pun lelaki itu tidak menyangka ada perempuan seberani ini, dia benar-benar terkejut, badan yang montok terpampang di depan matanya, entah kenapa ia malah tidak berani memandangnya.</p>
<p>Jit-jit tambah nekat, dia maju selangkah pula, tanpa terasa orang itu menyurut mundur dengan mata terbelalak.</p>
<p>Mendadak seorang mendengus di luar jendela, &#8220;Hm, maling cabul, keluar!&#8221;</p>
<p>Tampak sesosok bayangan seperti patung berdiri di luar jendela, kepalanya mengenakan caping bambu, dagunya berjenggot, dalam kegelapan tidak terlihat jelas wajahnya, hanya tampak punggungnya menyandang pedang, ronce hiasan pada tangkai pedang tampak bergoyang tertiup angin.</p>
<p>Lelaki tadi kaget, katanya, &#8220;Kau suruh siapa keluar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kecuali kau, siapa lagi?&#8221; jengek orang di luar itu.</p>
<p>Lelaki itu tertawa, katanya, &#8220;Bagus, jadi aku ini maling cabul!&#8221;</p>
<p>Mendadak dia melompat melewati kepala Cu Jit-jit dan melayang keluar pintu.</p>
<p>Jit-jit tidak mengira Ginkang orang ini sedemikian tinggi, terkejut juga hatinya, segera tertampak cahaya pedang berkelebat membendung pintu.</p>
<p>Badan lelaki itu terapung di udara, kedua kakinya menendang beruntun, begitu cahaya pedang terdesak ke samping, lelaki itu melesat keluar di bawah hujan, terdengar gelak tawanya, lalu bentaknya, &#8220;Hidung kerbau keroco, memangnya kau ingin berkelahi?&#8221;</p>
<p>Bayangan di luar jendela memang seorang Tojin kurus kecil, gerak-geriknya lincah, sinar pedangnya berkelebat lagi menusuk dada lelaki itu.</p>
<p>&#8220;Ilmu pedang bagus!&#8221; puji lelaki itu sambil angkat buli-buli araknya untuk menangkis, &#8220;trang&#8221;, buli-buli arak itu ternyata terbuat dari baja, pedang si Tojin tergetar ke samping, hampir terlepas dari cekalannya.</p>
<p>&#8220;Tenaga pergelangan hebat,&#8221; Tojin itu pun memuji. Dalam jangka ucapan tiga patah kata, sekaligus ia pun menyerang tiga jurus, cepat sekali serangan berantai ini sehingga lelaki itu tidak sempat balas menyerang dengan cara semula.</p>
<p>Melihat kungfu kedua orang ternyata merupakan tokoh kosen tingkat tinggi dunia persilatan, kaget dan heran Cu Jit-jit, sesaat dia jadi melongo.</p>
<p>Untung perempuan berbaju hijau di belakangnya lantas bersuara lirih padanya, &#8220;Nona, lekas pakai baju sekarang!&#8221;</p>
<p>Merah muka Jit-jit, katanya dengan menunduk, &#8220;Ya, terima kasih!&#8221;</p>
<p>Cepat dia kenakan bajunya yang masih basah, lalu melongok keluar, tertampak di tengah hujan sinar pedang berkelebat bagai sambaran kilat naik-turun, begitu cepat hingga hujan lebat pun tidak tembus, air muncrat ke mana-mana.</p>
<p>Ilmu pedangnya kelihatan tidak begitu lihai, tapi kecepatannya luar biasa, sinar pedangnya membawa desing angin tajam. Makin dipandang makin heran, ilmu pedang Tojin ini juga tidak di bawah Giok-bin-yau-khim Sin-kiam-jiu Ji Yok-gi yang termasuk salah satu ketujuh jago kosen&#8230;</p>
<p>Agaknya lelaki itu pun mulai gelisah, &#8220;Hidung kerbau, aku tidak ada permusuhan denganmu, apa benar kau ingin mencabut nyawaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Peduli siapa kau dan apa sebabnya, asalkan bentrok denganku, maka dia harus tahu pedangku selamanya tiada ampun bagi lawan.&#8221;</p>
<p>Lelaki itu kaget, katanya, &#8220;Orang yang tidak bermusuhan denganmu juga kau bunuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dapat mati di bawah pedangku sudah terhitung untung baginya,&#8221; Tojin itu menjengek.</p>
<p>Dengan suara keras lelaki itu berteriak, &#8220;Sungguh keji&#8230;&#8221;</p>
<p>Dalam pembicaraan singkat ini si Tojin telah menyerang belasan kali, lelaki itu terdesak, sedikit lena jaket kulitnya tertebas sobek oleh pedang lawan. Bulu domba pada jaketnya bertebaran di bawah hujan lebat.</p>
<p>Lelaki itu menjadi gugup, pedang si Tojin mendadak menyambar lewat buli-bulinya terus menusuk dada kiri, pada urat nadi yang mematikan. Serangan ini sungguh berbahaya, kejam dan telak.</p>
<p>Tak tertahan Cu Jit-jit berteriak, &#8220;Orang ini tidak perlu dihukum mati, ampuni saja jiwanya!&#8221;</p>
<p>Sebetulnya tak perlu Jit-jit bersuara, sebab baru separuh dia bicara, mendadak selarik sinar putih berkelebat dari pinggang lelaki ini menyongsong tusukan pedang &#8220;Cring&#8221;, si Tojin tergetar mundur tiga langkah, mata Cu Jit-jit cukup jeli, dia lihat ujung pedang si Tojin terkutung sebagian.</p>
<p>Lelaki itu tertawa keras, katanya, &#8220;Tojin keparat, kau dapat memaksa aku menggunakan golok pusaka di pinggangku, ilmu pedangmu boleh dipasang dalam deretan lima ahli pedang Bu-lim zaman ini.&#8221;</p>
<p>Si Tojin melintangkan pedang di depan dada, siap menunggu serangan balasan lawan. Tak tahunya lelaki itu tidak balas menyerang, di tengah gelak tertawanya mendadak ia melompat mengapung tinggi ke atas, gelak tawanya berkumandang di udara, serunya, &#8220;Adik manis, lain kali kalau buka baju harus periksa dulu sekitarnya, ingat ya&#8230;&#8221; Suara gelak tertawanya semakin jauh dalam sekejap saja lantas lenyap.</p>
<p>Tojin itu masih berdiri tegak di tengah hujan, air hujan menetes dari pinggir capingnya seperti kerai air.</p>
<p>Jit-jit terkesima, serunya kemudian, &#8220;Toya ini silakan masuk kemari, biar kuaturkan terima kasih.&#8221;</p>
<p>Perlahan Tojin itu membalik badan dan melangkah masuk ke situ. Terasa oleh Jit-jit kehadiran Tojin ini seperti membawa nafsu membunuh. Betapa pun orang adalah penolongnya, meski segan melihat wajah orang, tak dapat dia membuang muka.</p>
<p>Setelah Tojin itu masuk, Jit-jit memberi hormat, &#8220;Atas pertolongan Totiang barusan&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Tojin itu menukas, &#8220;Tahukah kau siapa aku dan kenapa kutolongmu?&#8221;</p>
<p>Jit-jit melenggong, tak tahu bagaimana harus menjawab.</p>
<p>Berkata pula si Tojin dengan dingin, &#8220;Soalnya akan kubawa dirimu, maka tak boleh kau jatuh ke tangan orang lain.&#8221;</p>
<p>Kaget Cu Jit-jit, serunya, &#8220;Kau&#8230;siapa kau?&#8221;</p>
<p>Tojin itu mendorong capingnya ke atas hingga tampak jelas mukanya. Di bawah cahaya api yang bergerak-gerak tertampak mukanya kuning dan kurus, di antara mata alisnya tampak mengandung rasa dingin dan culas, siapa lagi dia kalau bukan Toan-hong-cu, kepala biara Hian-toh-koan dari Ceng-sia, satu di antara ketujuh jago kosen Bu-lim masa kini.</p>
<p>Melihat dia, perasaan Jit-jit lantas tenteram, batinnya, &#8220;Kiranya Toan-hong-cu, lelaki tadi mengatakan dia patut dijajarkan di antara lima ahli pedang zaman ini, ternyata juga tidak salah tebak. Lalu dari mana datangnya lelaki itu? Kungfunya ternyata mampu menandingi salah satu dari ketujuh jago kosen Bu-lim, kenapa belum pernah kudengar tokoh macam itu di Bu-lim?&#8221;</p>
<p>Hati berpikir mulut pun berkata, &#8220;Sungguh beruntung dapat bertemu dengan Toan-hong Totiang di sini, tadi Totiang bilang hendak membawa diriku, entah untuk keperluan apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena Hoa Lui-sian itulah, tentunya kau tahu sendiri.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Jit-jit terkejut, tapi lantas katanya, &#8220;Hoa Lui-sian sudah berada di Jin-gi-ceng, apakah Totiang belum tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau benar, boleh kau antar aku melihatnya ke sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maaf, aku masih ada urusan, mau lihat, boleh kau pergi sendiri.&#8221;</p>
<p>Mencorong gusar sinar mata Toan-hong-cu, katanya bengis, &#8220;Perempuan bernyali besar, berani kau membual di hadapanku, sudah puluhan tahun kumalang melintang di dunia Kangouw, memangnya mudah kau tipu begini saja?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setiap patah kataku benar, jika urusanku tidak penting, tentu boleh kuantarmu ke sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bila berurusan denganku, urusan penting lain harus dikesampingkan dulu.&#8221;</p>
<p>Kecuali Sim Long, terhadap siapa pun Jit-jit berani mengumbar adat, seketika matanya mendelik, adat pemberangnya kambuh, serunya gusar, &#8220;Aku justru tidak mau pergi, kau mau apa, jangan berlagak, betapa kehebatanmu, pedang pun ditebas kutung orang&#8230;&#8221;</p>
<p>Air muka Toan-hong-cu berubah kelam hardiknya beringas, &#8220;Mau tidak mau harus pergi!&#8221;</p>
<p>Sinar pedang berkelebat, kedua pundak Jit-jit segera terancam.</p>
<p>Jit-jit jadi nekat, &#8220;Kau kira aku takut?&#8221;</p>
<p>Jit-jit memang tidak takut kepada siapa pun, walau lawan bersenjata pedang, jago kosen kenamaan pula, bila kemarahannya sudah membara, apa pun tidak dihiraukan lagi. Tahu-tahu dia memapak sambaran pedang malah, dengan gerakan menangkap Kim-na-jiu-hoat dari Hoay-yang-pay yang meliputi 72 jurus, maksudnya hendak merebut pedang Toan-hong-cu.</p>
<p>Toan-hong-cu menyeringai, katanya, &#8220;Sungguh budak yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, biar kubikin cacat lengan kananmu dulu sebagai hajaran.&#8221;</p>
<p>Pengalaman tempur Cu Jit-jit kurang luas, tapi otaknya cerdik, mendengar ancaman orang, dia malah membentak, &#8220;Baik, bila kau melukai tempat lain di badanku berarti kau ini binatang!&#8221;</p>
<p>Tampak dia bermain secara terbuka, kecuali lengan kanan, bagian lain boleh dikatakan tidak terjaga, pertahanan dipusatkan pada lengan kanannya tok, maka daya serangnya cukup hebat hingga Toan-hong-cu ditandingi sama kuat.</p>
<p>Toan-hong-cu menyeringai, katanya, &#8220;Budak busuk dan licin!&#8221;</p>
<p>Pedangnya berkelebat, &#8220;sret&#8221;, ujung pedang menusuk dada kiri Cu Jit-jit.</p>
<p>Dada kiri Cu Jit-jit memang tidak dipertahankan, jika pedang Toan-hong-cu tidak tertebas buntung, tusukan ini tentu sudah melukai kulit dagingnya, namun demikian tetap dia terlambat berkelit, &#8220;bret&#8221;, baju pundaknya tersobek hingga pundaknya terlihat jelas.</p>
<p>Kejut dan gusar Jit-jit, dia memaki, &#8220;Jelek-jelek kau ini seorang tokoh besar, ucapanmu ternyata tidak dapat dipercaya.&#8221;</p>
<p>Jit-jit tidak tahu bahwa di hadapan orang banyak Toan-hong-cu pernah meludahi hidangan di atas meja, lalu perbuatan kotor apa pula yang tidak berani dilakukannya?</p>
<p>Sambil menyeringai pedangnya mendadak menyungkit ke atas, serangan keji dan kotor, yaitu Liau-im-sek, yang ditusuk adalah bagian selangkangan.</p>
<p>Sekuatnya Jit-jit menghindar, sungguh tak terpikir olehnya bahwa tokoh seperti Toan-hong-cu juga dapat menyerang seorang gadis dengan cara yang rendah begini, saking malu dan gusarnya, pipi Jit-jit jadi merah, makinya, &#8220;Binatang, kau&#8230;kau binatang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Biar hari ini kau jatuh di tangan binatang,&#8221; dalam beberapa patah katanya itu, beruntun Toan-hong-cu menyerang enam kali.</p>
<p>Kaget, gusar, dan malu Jit-jit, ia terkurung sinar pedang lawan, terdesak hampir tidak mampu balas menyerang, Toan-hong-cu menyeringai, gerak pedangnya tambah berani lagi, mengusap dada, menyontek perut, menyungkit selangkangan, semua gerakan keji dan kotor.</p>
<p>Jit-jit merasa pedih membayangkan dirinya bakal terjatuh ke tangan orang rendah ini. Sekujur badan sudah berkeringat, kaki tangan lemas, rasa takut merangsang benaknya, tidak kepalang rasa sedih hatinya.</p>
<p>Dalam pada itu si nyonya baju hijau agaknya sangat ketakutan, namun tidak lupa dia menambahi kayu kering ke dalam api unggun, asap putih lantas mengepul dan memenuhi ruangan biara.</p>
<p>Desing angin pedang sementara itu telah mengoyak pakaian di depan dada Jit-jit, demikian pula bagian punggungnya, wajah Jit-jit sudah pucat dan takut.</p>
<p>Toan-hong-cu sebaliknya tambah beringas, gerak pedangnya makin gencar, makin gila. Tampangnya yang semula kelihatan dingin, mungkin karena kehidupan puluhan tahun yang mengharuskan dia mengekang nafsu sehingga menjadikan sifatnya yang nyentrik.</p>
<p>Kini nafsu berahinya yang terpendam sekian tahun telah meledak, membuatnya tersiksa dan hampir gila.</p>
<p>Dengan pedang buntung di tangannya dia berusaha menyalurkan nafsu yang terpendam itu, jadi bukan ingin selekasnya menundukkan Cu Jit-jit melainkan membikin nona itu meronta dan merintih, makin Jit-jit ketakutan dan menderita, makin puas hatinya dan terlampias.</p>
<p>Setiap manusia pasti punya nafsu yang membara, cuma cara melampiaskannya yang berbeda.</p>
<p>Untuk melampiaskan nafsunya, Toan-hong-cu ingin menyiksa orang, sehingga orang itu menderita. Setiap kali bergebrak dengan musuh dan melihat musuh kesakitan, meronta dan meratap minta ampun baru dia merasa puas. Oleh karena itu tak peduli siapa musuhnya, betapa pun tangguh lawannya, serangannya pasti ganas.</p>
<p>Menghadapi sorot matanya yang membara bagai binatang kelaparan, wajahnya yang mirip orang kesetanan, Jit-jit jadi gugup, hingga kaki tangan pun terasa lemas, akhirnya dia jadi nekat dan membatin, &#8220;Begini Yang Kuasa menghukumku, biarlah aku mati saja.&#8221;</p>
<p>Tatkala dia ambil keputusan nekat hendak menerjangkan tubuhnya ke ujung pedang lawan, pada saat itulah dilihatnya air muka Toan-hong-cu mendadak berubah, gerak pedang mendadak mengendur dan berhenti. Hidungnya tampak mengendus-endus seperti mencium sesuatu, lalu menoleh mengawasi si nyonya berbaju hijau, sorot matanya tampak gusar dan ngeri pula, serunya dengan suara serak, &#8220;Kau&#8230;kau&#8230;&#8221; mendadak ia mengentak kaki serta membentak, &#8220;Tak nyana hari ini aku terjungkal di sini.&#8221;</p>
<p>Belum habis bicara mendadak ia melompat ke atas dan jumpalitan di tengah udara terus melesat pergi, tak tersangka tenaganya seperti putus tengah jalan, &#8220;blang&#8221;, ia terbanting jatuh menumbuk kosen jendela, caping di kepalanya terpental jatuh, badan pun terguling ke pecomberan, menggelinding dua kali, dengan pedang buntung dia menopang badan dan merangkak bangun, lalu kabur dengan cepat.</p>
<p>Kejut dan heran Jit-jit, sesaat dia melenggong, &#8220;Jelas dia sudah menang, kenapa melarikan diri malah dengan cara serunyam itu?&#8221;</p>
<p>Waktu dia menoleh, asap putih masih mengepul dari api unggun, nyonya berbaju hijau duduk kaku seperti patung di tengah asap putih yang makin melebar. Wajahnya yang semula kelihatan welas asih kini mengulum senyuman aneh sehingga orang merasa ada semacam kekuatan gaib meliputi dirinya.</p>
<p>Terkesiap hati Jit-jit, ucapnya dengan suara gemetar, &#8220;Mungkinkah&#8230;mungkinkah dia&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis bicara seketika ia pun merasa kaki-tangan lemas lunglai, kepala juga pening dan pandangan gelap.</p>
<p>Kini dia baru sadar kenapa Toan-hong-cu melarikan diri, nyonya berbaju hijau yang kelihatan welas asih ini ternyata seorang iblis jahat, asap putih itu mengandung racun yang membius kesadaran orang. Siapa dia? Untuk apa dia berbuat demikian?</p>
<p>Tapi Jit-jit tidak sempat berpikir lagi, rasa kantuk mendadak menyerang dirinya, kelopak mata terasa berat&#8230;akhirnya dia rebah.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Waktu Jit-jit siuman, bukan saja badan terasa kering dan hangat, malah kini dia tidur di suatu tempat yang empuk, seperti tidur di gumpalan awan. Rasa dingin, lembap, takut, dan panik sudah hilang semua, terbayang kejadian yang lalu, sungguh dia merasa seperti bermimpi buruk.</p>
<p>Waktu dia menoleh, dilihatnya si nyonya baju hijau tetap duduk di sebelahnya, tempat itu ternyata sebuah hotel, Jit-jit tidur di atas ranjang, nyonya berbaju hijau duduk di pinggir ranjang. Wajahnya pulih kembali welas asih, dengan lembut dia mengelus pipi Jit-jit, dengan suara lembut dia berkata, &#8220;Anak baik, sudah bangun, kau sakit, tidurlah lagi.&#8221;</p>
<p>Terasa oleh Jit-jit jari orang seperti ular berbisa, ingin didorongnya, tapi tangan terasa lemas tak bertenaga.</p>
<p>Dia terkejut dan ingin tanya, tapi hanya bibirnya yang bergerak, suara tidak dapat keluar dari mulutnya.</p>
<p>Sekali ini Jit-jit betul-betul melenggong kaget, &#8220;Perempuan siluman ini telah membuatku bisu.&#8221;</p>
<p>Walau banyak pengalaman ngeri yang dialaminya tapi rasa takut dan ngeri sekali ini sungguh jauh lebih besar daripada yang sudah.</p>
<p>Nyonya berbaju hijau berkata pula penuh kasih sayang, &#8220;Coba lihat, begini pucat mukamu, pasti parah penyakitmu, lekas istirahat. Sebentar bibi akan membawamu keluar.&#8221;</p>
<p>Jit-jit hanya bisa mengawasi, dia ingin berteriak, &#8220;Aku tidak sakit, tidak sakit&#8230;kau perempuan siluman ini mencelakai aku.&#8221;</p>
<p>Tapi meski dia mengerahkan segenap tenaga tetap tidak mampu mengeluarkan suara.</p>
<p>Dalam keadaan mengenaskan ini, nasib selanjutnya dan apa pula yang akan menimpa dirinya sungguh tak berani dipikir lagi, dia hanya mengertak gigi supaya air mata tidak menetes. Tapi apa pun, air mata tak tertahan lagi.</p>
<p>Nyonya baju hijau itu keluar sejenak, waktu datang lagi langsung ia menghampiri dan mengangkat Jit-jit, seorang pelayan hotel ikut masuk dan mengawasi Jit-jit dengan pandangan kasihan, katanya dengan menghela napas, &#8220;Lohujin, engkau sungguh sabar dan telaten.&#8221;</p>
<p>Nyonya berbaju hijau tertawa getir, katanya, &#8220;Murid perempuanku ini sejak kecil sebatang kara, seorang cacat lagi, kalau bukan aku yang merawat dia, lalu siapa akan mengasuhnya&#8230;Ai, mungkin sudah nasib, apa boleh buat.&#8221;</p>
<p>Pelayan itu menghela napas berulang kali, katanya, &#8220;Engkau orang tua memang baik hati.&#8221;</p>
<p>Jit-jit tidak tahan dipandang kasihan, tak tahan pula mendengar percakapan itu.</p>
<p>Dadanya hampir meledak, rasanya ingin mengeremus bulat-bulat perempuan siluman ini. Tapi apa boleh buat, lalat pun dia tidak mampu membunuhnya, terpaksa bungkam dan membiarkan apa saja yang dilakukan perempuan siluman atas dirinya.</p>
<p>Perempuan berbaju hijau membopongnya keluar dan dinaikkan ke punggung seekor keledai, tiba-tiba si pelayan hotel menyusul keluar, dia mengeluarkan sekeping perak, dia memburu maju serta menyisipkan uang itu ke tangan si nyonya baju hijau, katanya, &#8220;Uang sewa kamar tak perlu bayarlah, uang ini kau bawa saja buat sangu di jalan.&#8221;</p>
<p>Nyonya berbaju hijau kelihatan seperti terharu, katanya tersendat, &#8220;Kau&#8230;orang baik.&#8221;</p>
<p>Pelayan itu juga hampir menangis, dia kucek mata terus putar kembali ke dalam hotel.</p>
<p>Ingin rasanya Jit-jit menggampar orang baik tapi ceroboh ini, diam-diam dia mengumpat, &#8220;Memangnya matamu buta, perempuan siluman ini kau anggap orang baik, kau&#8230;lekaslah mampus saja biar manusia seluruh dunia ini mampus, mampus seluruhnya.&#8221;</p>
<p>Keledai dituntun ke depan, air mata meleleh membasahi pipi Jit-jit, mau dibawa ke mana dirinya? Apa tujuan orang membawanya pergi?</p>
<p>Orang di jalan banyak yang memerhatikan mereka, biasanya bila Jit-jit berada di jalan raya memang sering menarik perhatian orang banyak, untuk ini dia tidak perlu merasa heran. Anehnya sekarang, sekali melihat dirinya, orang-orang itu lantas melengos dan tidak berani memandangnya pula.</p>
<p>Jit-jit ingin supaya orang memandangnya berulang kali supaya mereka tahu bahwa dirinya sedang menjadi tawanan nyonya berbaju hijau, tapi bukan saja orang-orang itu tidak tahu, malah sama melengos dengan rasa jijik.</p>
<p>Sungguh dongkol, heran, dan marah sekali Jit-jit, ingin dia menjatuhkan diri saja dari punggung keledai supaya mati di jalan raya, tapi nyonya berbaju hijau memapahnya dengan kencang, bergerak pun dia tidak bisa.</p>
<p>Entah berapa lama dari betapa jauh mereka menempuh perjalanan, yang terang matahari makin panas.</p>
<p>Tiba-tiba si nyonya baju hijau berkata dengan suara lembut, &#8220;Apa kau lelah, di depan ada warung teh, nanti kita istirahat dan menangsel perut, ya?&#8221;</p>
<p>Makin lembut sikap nyonya berbaju hijau itu, makin benci Jit-jit, rasanya belum pernah dia membenci perempuan yang satu ini.</p>
<p>Warung teh itu di pinggir jalan, sudah banyak kereta kuda, warung itu penuh tamu.</p>
<p>Ketika melihat si nyonya baju hijau membimbing Jit-jit masuk, pandangan tetamu juga kasihan dan simpati padanya.</p>
<p>Sungguh Jit-jit hampir gila, jika sekarang ada orang mampu membikin dia bicara, bisa mengatakan betapa jahatnya perempuan siluman ini, disuruh berbuat apa pun dia mau.</p>
<p>Semula warung ini sudah tiada tempat kosong, tapi begitu mereka masuk, beberapa orang segera merelakan tempatnya, seakan-akan orang-orang itu merasa kasihan dan simpati terhadap nyonya tua yang welas asih ini.</p>
<p>Dalam hati Jit-jit berharap Sim Long mendadak muncul, tapi manusia sebanyak ini, mana ada bayangan Sim Long, dalam hati dia mengumpat, wahai Sim Long, di manakah kau mampus, memangnya kau sudah minggat dan tidak menghiraukan diriku lagi? Mungkin ada perempuan lain yang memikatmu? Kau bangsat keji, kau tega meninggalkan aku.</p>
<p>Menghadapi keadaan ini, dia lupa bahwa dia sendiri yang meninggalkan Sim Long, bukan Sim Long yang meninggalkan dia.</p>
<p>Bila perempuan gusar pada orang lain, biasanya memang mau menang sendiri, bila orang itu adalah lelaki yang dicintainya, alasan apa pun jangan harap dapat membuatnya mengerti.</p>
<p>Mendadak sebuah kereta besar ditarik dua ekor kuda berlari datang dan berhenti di depan warung, kudanya kuda pilihan, keretanya juga bercat baru hingga mengilap. Sais mengayun cemeti, tangan yang lain menarik tali kendali, lagaknya dibuat-buat. Sikapnya garang. Banyak tamu dalam warung berkerut kening, pikir mereka, &#8220;Yang menumpang kereta ini besar kemungkinan orang kaya mendadak.&#8221;</p>
<p>Tampak sais kereta melompat turun, dengan sikap hormat ia membuka pintu kereta. Dari dalam kereta terdengar orang batuk-batuk beberapa kali, lalu keluar seorang dengan perlahan, tingkahnya memang tidak ubahnya sebangsa orang yang baru kaya. Badannya yang tambun justru mengenakan pakaian ketat warna cokelat, baju yang pantasnya dipakai orang yang tiga puluh kati lebih kurus daripada dia.</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.info">Cerita Silat</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-08/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Baja (07)</title>
		<link>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-07/</link>
		<comments>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-07/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Oct 2009 02:44:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendekar Baja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.info/?p=802</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gu Long
&#8220;Kalau begitu, silakan Kim-heng ikut padaku, apa pun yang akan terjadi tetap harus kuselidiki. Soal kelak engkau akan menjadi kawan atau lawanku tidak perlu dipikirkan sekarang.&#8221;

Jawab Kim Bu-bong, &#8220;Ya, memang demikian seharusnya.&#8221;
Maka mereka terus mengikuti bekas salju yang tersapu, sepanjang jalan memang tidak sedikit penemuan mereka, Kim Bu-bong melepas pandang ke empat penjuru, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Gu Long</strong></p>
<p>&#8220;Kalau begitu, silakan Kim-heng ikut padaku, apa pun yang akan terjadi tetap harus kuselidiki. Soal kelak engkau akan menjadi kawan atau lawanku tidak perlu dipikirkan sekarang.&#8221;<br />
<span id="more-802"></span><br />
Jawab Kim Bu-bong, &#8220;Ya, memang demikian seharusnya.&#8221;</p>
<p>Maka mereka terus mengikuti bekas salju yang tersapu, sepanjang jalan memang tidak sedikit penemuan mereka, Kim Bu-bong melepas pandang ke empat penjuru, katanya dengan menghela napas, &#8220;Melihat gelagatnya, mereka seperti menuju ke barat.&#8221;</p>
<p>Sim Long berkerut kening, katanya, &#8220;Kalau mereka menuju ke tempat yang ramai tentu akan menarik perhatian orang, tapi ke arah barat adalah Thay-hang-san, jalan yang jelas sangat sepi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengan orang sebanyak itu, tentu tak bisa berjalan cepat. Bila kita percepat mungkin dapat menyusul mereka.&#8221;</p>
<p>Tapi meski mereka mengejar hingga mentari sudah doyong ke barat tetap tidak menemukan kereta yang patut dicurigai, bila ketemu orang lewat, Kim Bu-bong lantas menyingkir dan Sim Long cari keterangan, soalnya tampang Kim Bu-bong yang aneh dan jelek itu mungkin menakutkan orang dan pasti tak mau memberi keterangan.</p>
<p>Namun sepanjang jalan usaha Sim Long juga selalu nihil, ada yang menjawab tidak melihat apa-apa, ada yang bilang pernah melihat kereta, ditegaskan kereta macam apa dan ada berapa? Bagaimana pula tampang kusir keretanya? Orang-orang itu hanya melongo saja dan tidak mampu memberi keterangan lagi.</p>
<p>Menjelang magrib hujan salju turun pula, terpaksa mereka mampir di sebuah pondokan di luar Lokyang, pengaruh bius di tubuh Cu Jit-jit sudah lenyap, maka dia rewel lagi kepada Sim Long, setelah Sim Long memberi keterangan betapa ruwet persoalannya, Jit-jit jadi melongo dan ngeri.</p>
<p>Penginapan di dusun kecil ini amat sederhana, setelah Kim Bu-bong menyodorkan sekeping uang perak, pemilik rumah baru mau memberikan dipan batu yang di bawahnya diberi perapian setiap orang menghabiskan beberapa mangkuk bubur daging sapi, Sim Long berbaring terus tidur, A To juga meringkuk di pojokan, tapi Jit-jit duduk di atas dipan yang keras itu, mengawasi selimut kapas yang kasar dan apak, terbayang yang dibakar di bawah dipan adalah tumpukan tahi kuda, nona cantik bertubuh montok dari keluarga hartawan ini mana dapat memejamkan mata.</p>
<p>Tapi kalau dia tidak tidur, tampang Kim Bu-bong sejelek setan itu selalu terbayang di depan matanya.</p>
<p>Melihat Sim Long dapat tidur nyenyak dan mendengkur, sungguh dongkol sekali Jit-jit, diam-diam dia membatin, &#8220;Orang yang tidak punya perasaan, masa tidur sendiri seperti ini?&#8221;</p>
<p>Saking dongkol dia buang selimut terus turun dan mendorong pintu, ia berjalan keluar, meski badan terasa dingin sampai menggigil, tapi melihat taburan bunga salju di udara sungguh pemandangan yang memesona.</p>
<p>Di kejauhan terdengar kentungan peronda, waktu sudah lewat tengah malam. Mendadak terdengar suara ringkik kuda dan kereta sayup-sayup terbawa angin dari kejauhan.</p>
<p>Terbangkit semangat Jit-jit, batinnya, &#8220;Mungkinkah mereka telah tiba, biar aku membangunkan Sim Long.&#8221;</p>
<p>Tapi belum lenyap pikirannya, mendadak sesosok bayangan orang sudah melayang keluar lewat sampingnya, siapa lagi kalau bukan Sim Long.</p>
<p>Orang yang tidur paling nyenyak ternyata keluar paling cepat, entah senang atau gemas, Jit-jit mengomel di dalam hati, &#8220;Bagus, ternyata kau pura-pura tidur&#8230;&#8221;</p>
<p>Baru saja dia hendak memanggil, bayangan seorang berkelebat pula di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Kim Bu-bong.</p>
<p>Betapa pesat gerakan kedua orang ini, hanya sekejap sudah lenyap di balik tembok sana, sama sekali tidak bicara kepada Cu Jit-jit.</p>
<p>Dongkol sekali hati Jit-jit, pikirnya, &#8220;Baik, kalian tidak mengajak diriku, biar kukejar sendiri.&#8221;</p>
<p>Padahal suara roda kereta dan lari kuda kini tidak terdengar lagi, Cu Jit-jit tidak jelas dari arah mana datangnya suara kereta tadi. Keruan ia gelisah. Mendadak dia ambil tusuk kundai dan dilemparkan ke tanah, ujung tusuk kundai mengarah ke timur, segera dia kembangkan Ginkang dan berlari ke timur.</p>
<p>Sepanjang jalan jangankan melihat kereta, bayangan setan pun tidak dilihatnya. Keadaan di sini juga semakin sepi, pohon kering di tengah hujan salju di malam gelap kelihatan mirip bayang-bayang setan yang siap menerkam. Kalau orang yang bernyali kecil pasti akan putar balik, tapi Cu Jit-jit justru gadis binal yang bandel, makin tidak ketemu makin ingin dicarinya.</p>
<p>Namun usaha pencariannya tetap nihil, Jit-jit sendiri sudah hampir beku kedinginan, sejak kecil dia biasa diladeni, hidup mewah dan main perintah, setiap patah katanya harus dipatuhi ratusan orang, kapan dia pernah menderita seperti ini.</p>
<p>Mendadak embusan angin dingin terasa merasuk tulang, ternyata sepatunya telah bolong, salju masuk ke dalam sepatu dan membasahi kaus kaki.</p>
<p>Jit-jit menjadi bingung, makin dipikir makin khawatir, akhirnya dia menggelendot di pohon sambil memegang kaki dan menangis terisak. Omelnya, &#8220;Untuk siapakah aku menderita begini? Orang tidak punya Liang-sim (perasaan), tahukah kau?&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara sendiri, dari luar hutan kering sana terdengar langkah orang yang menyaruk salju, suaranya yang ganjil ini membikin Jit-jit merinding, saking takut air mata pun lupa menetes, dia menyurut ke belakang pohon dan mengintip ke sana.</p>
<p>Derap kaki makin dekat, lalu muncul dua sosok bayangan putih, di bawah pancaran cahaya salju tertampak kedua orang ini mengenakan jubah putih panjang menyentuh tanah, rambut panjang melampaui pundak, tangan masing-masing memegang cambuk panjang hitam, seperti badan halus saja melayang tiba, waktu ditegasi, ternyata dua gadis belia yang berwajah cantik.</p>
<p>Meski wajah mereka kelihatan kaku dingin, betapa pun mereka adalah gadis remaja, maka legalah hati Cu Jit-jit, namun tetap menahan napas dan tetap mengintip tanpa bergerak.</p>
<p>Sambil berjalan kedua gadis berbaju putih itu celingukan kian kemari, lalu berhenti, gadis di sebelah kiri mendadak mendekap bibir dan bersuit.</p>
<p>Suara suitannya terdengar tajam melengking seperti pekikan setan, Cu Jit-jit sampai berjingkat kaget, tapi lantas didengarnya suitan yang sama dalam jarak puluhan tombak sana, kejap lain terdengar derap kaki orang banyak semakin dekat.</p>
<p>Mendadak muncul dua belas laki-laki jalan beriring menjadi dua barisan memasuki hutan.</p>
<p>Kedua belas lelaki ini ada tua-muda, tinggi-pendek, tapi wajah mereka tampak kaku seperti linglung, lebih mirip mayat hidup yang digiring, di belakang mereka ada lagi dua gadis berbaju putih yang memegang cambuk panjang, bila seorang keluar barisan segera cambuk mereka menghajar tubuhnya, cepat orang itu menyelinap pula ke dalam barisan, wajahnya tidak menunjuk sesuatu perasaan, seperti tidak merasakan sakit sama sekali.</p>
<p>Baru saja hati Jit-jit merasa lega dan hilang rasa kaget, melihat keadaan ganjil ini, jantungnya kembali berdebar-debar.</p>
<p>Selama hidupnya dia cuma pernah melihat penggembala menggiring kambing, sapi, kuda, atau bebek, mimpi pun tak terbayang olehnya bakal melihat gadis-gadis remaja menggiring mayat hidup.</p>
<p>&#8220;Mengiring mayat,&#8221; mendadak Jit-jit teringat pada cerita yang biasa terjadi di daerah Siang-say, kembali ia merinding, batinnya, &#8220;Mungkinkah ini menggiring mayat?&#8221;</p>
<p>Tapi di sini bukan di Siang-say, juga orang-orang itu meski kaku dingin, jelas tidak mirip orang mati. Kalau bukan orang mati kenapa menurut saja digiring?</p>
<p>Tampak gadis yang datang duluan tadi mengangkat cambuknya, belasan orang itu pun berhenti, seorang gadis berbaju putih yang berperawakan lebih tinggi berkata sambil menghela napas, &#8220;Ai, letih betul, rasanya mau mati, biarlah kita istirahat di sini!&#8221;</p>
<p>Gadis temannya berwajah bagai bulan, ia pun menghela napas, katanya, &#8220;Tugas menggiring orang seperti ini memang bukan tugas enteng, sudah tidak bisa istirahat, juga khawatir kepergok orang. Kepada kita Toasiauya justru memberi nama julukan yang indah &#8216;Pek-hun-bok-li&#8217;&#8230;&#8221; mendadak ia tertawa cekikik geli, lalu menyambung, &#8220;Bok-li (gadis gembala), bila orang mendengar nama ini pasti kita disangka penggembala kambing atau sapi, siapa tahu yang kita gembala adalah manusia?&#8221;</p>
<p>Gadis berperawakan ramping tertawa, katanya, &#8220;Menggiring orang kan lebih baik daripada digiring orang. Kau tahu di antara orang-orang ini tidak sedikit tokoh-tokoh ternama, umpama dia&#8230;&#8221; cambuknya menuding ke tengah barisan, &#8220;dia ini salah seorang Piauthau terkenal di daerah Ho-say.&#8221;</p>
<p>Jit-jit ikut mengintip ke arah yang ditunjuk, tertampak di tengah barisan itu berdiri seorang lelaki berbadan tinggi besar, tegak kaku dengan selebar muka penuh berewok, siapa lagi kalau bukan Can Ing-siong?</p>
<p>Jika Can Ing-siong berada di sini, maka orang-orang ini pasti juga datang dari kuburan kuno itu. Sungguh Jit-jit tak menyangka tanpa sengaja akan memergoki rahasia ini, sungguh kejut dan girang hatinya, batinnya, &#8220;Walau Sim Long cerdik dan pandai, pasti tidak pernah menyangka di dunia ini ada orang menggembala manusia, dia kira setelah orang-orang ini terpengaruh daya ingatannya pasti akan dinaikkan kereta&#8230;Hah, terpaut serambut selisihnya ternyata sangat jauh, seluruh perhatiannya tertuju untuk menguntit kereta, diam-diam orang lain justru menggiring pergi orang-orang ini di tengah malam dingin.&#8221;</p>
<p>Meski Can Ing-siong musuhnya, tapi melihat keadaannya yang mengenaskan, hati Jit-jit jadi merasa kasihan, pikirnya, &#8220;Bagaimana aku harus memberitahukan kepada Sim Long supaya dia berusaha menolong mereka?&#8221;</p>
<p>Tapi lantas terpikir pula, &#8220;Ah, tidak, Sim Long selalu anggap aku gadis kolokan, aku justru akan melakukan sesuatu yang mengejutkan dia supaya terbuka matanya, dan kesempatan kini berada di depan mata, mana boleh kuabaikan. Setelah aku menyelidiki sampai jelas duduk persoalannya baru pulang memberitahukan kepadanya, akan kulihat bagaimana mimik wajahnya nanti.&#8221;</p>
<p>Lantas terbayang olehnya Sim Long yang menyengir dan kagum serta memuji kepadanya, maka tersimpul senyum manis di wajahnya.</p>
<p>Terdengar salah seorang Pek-hun-bok-li atau Gadis Penggembala Awan Putih yang bertubuh kecil berkata, &#8220;Waktu sudah mendesak, marilah berangkat! Jangan lupa, sebelum terang tanah kita harus menggiring orang-orang ini tiba di tempat tujuan, kalau terlambat kita berempat bakal kena hukuman.&#8221;</p>
<p>Gadis bermuka bulat berkata, &#8220;Kenapa tergesa-gesa, apa gunanya kita sampai di tempat tujuan lebih dini daripada waktu yang ditentukan?&#8221;</p>
<p>Yang berperawakan tinggi menghela napas, katanya, &#8220;Tiba lebih dini kan lebih baik daripada terlambat, marilah berangkat.&#8221;</p>
<p>Cambuk panjang terayun, segera dia membuka jalan di depan. Can Ing-siong dan lain-lain lantas mengintil di belakangnya, persis kawanan bebek yang digiring ke sawah.</p>
<p>Sementara kedua gadis berbaju putih yang lain mengayun cambuk panjang untuk menghapus bekas tapak kaki mereka di atas salju, dengan cepat mereka sudah keluar hutan pula.</p>
<p>Jit-jit berpikir, &#8220;Agaknya mereka membagi diri dalam empat kelompok, asal kukuntit kelompok yang ini ke sarang mereka, tentu tak bisa mereka lolos.&#8221;</p>
<p>Dengan penuh semangat dan tekad akan membongkar peristiwa misterius ini, kaki dingin tidak dirasakan lagi, dengan main sembunyi dan menahan napas, dia terus menguntit rombongan orang-orang ini dari kejauhan. Untung langkah kaki mereka yang menyaruk salju cukup jelas terdengar dari kejauhan, maka Jit-jit tidak perlu khawatir kehilangan jejak buruannya.</p>
<p>Agaknya Pek-hun-bok-li juga tidak mengira di tengah malam dingin hujan salju ini ada orang memergoki rombongan mereka, maka sedikit pun mereka tidak meningkatkan kewaspadaan, hakikatnya mereka tidak pernah menoleh atau memeriksa keadaan di depan dan di belakang.</p>
<p>Kecuali derap kaki lirih, mereka tidak mengeluarkan suara, cara menggiring tawanan puluhan orang dari satu tempat ke tempat lain ini memang akal yang bagus.</p>
<p>Makin dipikir makin kagum Jit-jit akan cara yang ditempuh orang ini, dalam hati dia membatin, &#8220;Cara sebagus ini kenapa sebelum ini tak pernah ada yang memanfaatkannya?&#8230;Tapi orang yang dapat menggunakan akal misterius ini, tentu dia sendiri juga makhluk aneh.&#8221;</p>
<p>Sambil meraba-raba siapa sebetulnya makhluk aneh itu dan bagaimana tampangnya, tanpa terasa dia sudah menguntit satu jam lebih.</p>
<p>Diperkirakan sekarang mungkin sudah mendekati fajar, tapi musim dingin biasanya malam lebih panjang dan siang pendek, maka alam semesta masih gelap gulita, sedikit cahaya pun belum tampak.</p>
<p>Cu Jit-jit menduga rombongan &#8220;penggiring mayat&#8221; ini pasti menuju suatu tempat tersembunyi yang jarang dijelajah manusia, siapa tahu makin maju ke depan, kecuali menyeberangi sungai yang beku permukaannya, jalanan ternyata makin rata, di bawah refleksi cahaya salju dapat Jit-jit melihat bayangan tembok kota besar di kejauhan.</p>
<p>Hal ini kembali di luar dugaannya, pikirnya, &#8220;Apakah nona penggiring mayat ini akan masuk ke kota? Ah, kukira tak mungkin.&#8221;</p>
<p>Tapi kenyataan kawanan mayat hidup itu memang digiring mendekati kota.</p>
<p>Waktu itu pintu kota baru terbuka, dua buah kereta mentereng mendadak dibedal keluar dengan kencang. Empat sisi kereta bergantung empat lampu yang menyala terang, kelihatannya kereta milik keluarga bangsawan atau orang berpangkat, bukan saja keretanya, kudanya pun tinggi besar.</p>
<p>Jit-jit membatin, &#8220;Umpama mereka mau masuk kota tentu juga takkan naik kereta yang mentereng ini, bukankah menarik perhatian orang malah?&#8221;</p>
<p>Tak tahunya kedua kereta itu justru menyongsong ke arah rombongan &#8220;penggiring mayat&#8221; ini, nona bermuka bundar bersuit sekali, kereta segera berhenti, kedua belas lelaki dan empat nona berbaju putih segera naik ke atas kedua kereta itu.</p>
<p>Jit-jit melongo mengawasi kejadian ini, bingung dan kaget, dia tidak tahu bahwa sepak terjang orang-orang ini memang selalu di luar dugaan orang, jika penggunaan kereta kuda ini dapat diraba orang, tentu bukan peristiwa misterius lagi.</p>
<p>Cepat sekali kedua kereta itu bergerak. Jit-jit menjadi nekat, pikirnya, &#8220;Sekali bekerja tidak boleh kepalang tanggung, umpama harus masuk kubangan naga dan gua harimau tetap akan kukuntit mereka sampai ke sarangnya.&#8221;</p>
<p>Mendadak ia melompat ke depan, dengan gesit ia menyusup ke kolong kereta, dengan membonceng di bawah kereta dia ikut masuk ke sarang musuh.</p>
<p>Orang lain mungkin harus berpikir dua kali, tapi Jit-jit memang gadis binal dan bandel, kalau tidak tentu takkan mengalami macam-macam bahaya.</p>
<p>Kereta masuk kota, Jit-jit bergelantung di kolong kereta dan merasa punggung menyentuh salju, rasa dingin merangsang badannya, sukar baginya membedakan ke arah mana kereta dilarikan. Lambat laun sekeliling mulai terdengar suara orang, sayup-sayup dia mendengar orang berkata, &#8220;Bunga anggrek ini bibit istimewa, sukar ditemukan meski sengaja dicari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang kan sedang musim bunga, lewat musimnya tentu sukar dibeli lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Seruni ini terlebih molek lagi, bila ditaruh di meja makan, suasana tentu bertambah indah.&#8221;</p>
<p>Mendengar percakapan itu, hidung Jit-jit lantas membau harum bunga, dapat ditebak tempat ini adalah pasar pagi yang khusus menjual bunga.</p>
<p>Kereta lantas berhenti sejenak, agaknya keempat Pek-hun-bok-li membeli tidak sedikit bunga kesayangan mereka. Jit-jit jadi heran, &#8220;Untuk apa mereka membeli bunga?&#8221;</p>
<p>Terdengar penjual bunga berkata, &#8220;Nona boleh ambil saja, kenapa bayar segala.&#8221;</p>
<p>&#8220;Besok pagi akan datang jenis bunga lain yang lebih bagus mutunya, hendaknya nona datang lebih pagi.&#8221;</p>
<p>Jit-jit tambah heran, &#8220;Agaknya mereka adalah langganan lama, hubungannya dengan para penjual bunga sudah akrab, orang yang tindak tanduknya serbamisterius ternyata sering kemari membeli bunga, sungguh aneh.&#8221;</p>
<p>Kereta mulai bergerak pula ke depan, Jit-jit tidak sempat berpikir lebih banyak.</p>
<p>Setelah keluar dari pasar bunga, jalanan kota yang ditempuh ternyata berbelak-belok ke kiri dan ke kanan, selang sekian lama lagi, terdengar seorang dalam kereta berkata, &#8220;Apakah pintu gerbang terbuka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, terbentang lebar, orang lain mungkin sudah tiba lebih dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, kan sudah kubilang pulang lebih dini, kau justru ingin istirahat segala.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekarang sudah sampai, untuk apa mengomel, lekas masuk!&#8221;</p>
<p>Di tengah percakapan itu, kereta mendadak berjalan menanjak, semula Jit-jit mengira mendaki lereng bukit, akhirnya baru diketahui cuma undakan batu yang lebarnya hanya tiba cukup lewat sebuah kereta, kedua sisi dipagari tembok pendek, undakan batu juga hanya belasan tingkat, di ujung atas terdapat sebuah gerbang yang luas.</p>
<p>Setelah masuk pintu, jalan di situ dilandasi balok batu hijau, salju sudah tersapu bersih, walau tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya, tapi Jit-jit merasakan pekarangannya sangat luas dan bangunannya megah, halaman demi halaman berlaku pula, kemudian baru terdengar seorang berseru, &#8220;Kereta diparkir di barak nomor tujuh, orangnya boleh turun lebih dulu.&#8221;</p>
<p>Jit-jit coba mengintip, dilihatnya kedua sisi kereta ada belasan kaki orang yang mondar-mandir, semua mengenakan sepatu berselongsong tinggi, tapi ada juga yang bersepatu kain bersulam, ada yang pakai celana, ada yang bergaun, langkah mereka ringan, cuma tidak kelihatan wajah mereka, baru sekarang Jit-jit mulai gelisah.</p>
<p>Sekarang dia sudah masuk sarang harimau, ia tak menemukan akal cara meloloskan diri, bila ada orang berjongkok melongok kolong kereta, maka dia akan ketahuan, umpama dirinya punya enam tangan dan tiga kepala juga jangan harap bisa melarikan diri.</p>
<p>Kini selain gugup ia pun agak menyesal, tidak seharusnya seorang diri dia menyerempet bahaya, kini umpama dia mati di sini demi Sim Long juga tak diketahui anak muda itu.</p>
<p>Suara orang banyak ribut seperti di pasar, ringkik kuda terdengar di sana-sini, beberapa orang menarik kereta masuk ke istal, ada yang sibuk menimba air, mengambil sikat, mencuci kuda dan membersihkan kereta, untung tiada yang melongok ke kolong kereta.</p>
<p>Tubuh Jit-jit terasa kaku dingin, lengannya pegal linu, sungguh dia ingin terjang keluar. Tapi dia belum ingin mati, terpaksa bertahan sekuat tenaga, hanya satu yang diharapkan, semoga tukang cuci ini lekas mengakhiri kerjanya dan menyingkir.</p>
<p>Tak tahunya pencuci itu justru tidak mau pergi, sambil mencuci kuda dan membersihkan kereta malahan sambil ngobrol, ada yang bertembang lagi, maklum, laki-laki kasar, yang dibicarakan tentu juga urusan perempuan melulu.</p>
<p>Jit-jit mengertak gigi, dalam hati dia mencaci maki dan mengutuki supaya orang-orang ini lekas mampus.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar bunyi keleningan, seorang berteriak, &#8220;Sarapan pagi sudah tersedia, siapa ingin makan bubur lekas ambil!&#8221;</p>
<p>Pencuci kereta dan kuda itu serempak bersorak gembira, sikat dibuang, sapu dilempar, kain lap juga ditinggalkan begitu saja, hanya sekejap orang-orang kasar itu sudah tidak kelihatan lagi bayangannya.</p>
<p>Lega hati Jit-jit, dia tidak tahan lagi, ia jatuh telentang di atas tanah, seluruh ruas tulang seperti terlepas. Tapi dia sadar dirinya masih dalam bahaya, terpaksa dia mengertak gigi dan menahan sakit, perlahan ia merangkak keluar, sembunyi di belakang kereta dan mengintip keluar.</p>
<p>Di luar istal ada puluhan pohon cemara tua dan rindang penuh salju yang bergantungan di pucuk pohon, ke sana lagi terdapat bangunan yang berderet-deret, entah berapa banyak gedung yang berada di sekitarnya.</p>
<p>Diam-diam Jit-jit berkerut alis, sungguh dia tidak mengerti dirinya berada di tempat apa, dari bangunan gedung yang besar megah berderet ini, ia menduga kalau bukan istana raja tentu gedung menteri, tapi bila direnungkan lagi hal ini pun tidak mungkin.</p>
<p>Selagi sangsi, tiba-tiba terdengar seorang tertawa mengikik, kuduk lantas dicium orang dari belakang.</p>
<p>Keruan kaget dan gusar Jit-jit, cepat ia membalik badan, sayang tubuhnya masih pegal linu dan tak bertenaga, gerak-geriknya tidak setangkas semula, setelah membalik badan, ternyata tidak ada bayangan orang.</p>
<p>Tiba-tiba terasa tengkuk dicium orang pula, lalu suara bernada jahil berkata di belakangnya, &#8220;Wah, alangkah wanginya!&#8221;</p>
<p>Kontan Jit-jit menyikut ke belakang, tapi sodokannya luput.</p>
<p>Waktu dia putar badan lagi orang itu sudah berada di belakangnya dan mencium tengkuknya pula dan katanya dengan tertawa, &#8220;Seorang nona sepantasnya lemah lembut, mana boleh main sikut dan pukul.&#8221;</p>
<p>Suara orang sekali ini kedengaran serak tua, berbeda dengan suara tadi.</p>
<p>Sungguh kaget, takut, dan marah bukan kepalang Jit-jit, cepat dia putar tubuh, bayangan orang tetap tidak kelihatan, malah kuduknya tetap dicium pula sekali. Didengarnya orang di belakang berkata dengan tertawa, &#8220;Meski lebih cepat kau berputar juga tidak akan melihat diriku.&#8221;</p>
<p>Sekarang suaranya berubah lembut seperti suara seorang gadis remaja.</p>
<p>Jit-jit menjadi gemas, beruntun dia berputar lima kali, otot tulangnya sudah bekerja normal maka gerak tubuhnya tambah cepat dan tangkas, tak tahunya gerak-gerik orang seperti bayangan setan saja, betapa pun cepat Jit-jit bergerak, orang terlebih cepat lagi, suara bicaranya juga berubah-ubah, dari tua menjadi muda, lelaki berubah menjadi suara perempuan, seolah-olah ada delapan orang ganti-berganti bicara di belakangnya.</p>
<p>Betapa besar nyali Cu Jit-jit, saking ngeri jantungnya seperti hendak melompat keluar, katanya, dengan gemetar, &#8220;Kau&#8230;sebetulnya orang atau setan?&#8221;</p>
<p>Orang itu tertawa senang, sahutnya, &#8220;Setan&#8230;setan bajul buntung!&#8221; - Lalu ia mencium pula.</p>
<p>Bibir orang terasa dingin seperti es, setiap kali kuduk Jit-jit dicium orang rasanya seperti dipagut ular, menyingkir tidak mungkin, berkelit juga tidak bisa.</p>
<p>Betapa pun Jit-jit memang gadis cerdik yang pandai menggunakan otaknya, setelah bola matanya berputar, mendadak dia tertawa cekikik malah, katanya, &#8220;Kalau betul kau setan bajul, kenapa tidak berani mencium pipiku?&#8221;</p>
<p>Orang itu tertawa, katanya, &#8220;Bila kucium pipimu, bukankah akan terlihat olehmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biar aku memejamkan mata,&#8221; ujar Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Meski ucapan perempuan tak dapat dipercaya, tapi&#8230;Ai, betapa pun aku harus percaya sekali ini.&#8221;</p>
<p>Kedua tangan Jit-jit sudah penuh terisi tenaga, matanya terbelalak, mulut berkata sambil mengikik, &#8220;Sudah, mulai!&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba pandangannya kabur, bayangan seorang berkelebat di depan mata. Dengan sekuat tenaga Jit-jit menghantam dengan kedua tangan, siapa tahu sebelum tinjunya mengenai sasaran, kedua tangannya sudah terpegang orang malah.</p>
<p>Orang itu bergelak tertawa, katanya, &#8220;Omongan perempuan memang tidak boleh dipercaya, untung aku sudah sering tertipu, sekarang tidak mudah ditipu lagi.&#8221;</p>
<p>Tampak jelas orang ini berpakaian warna jambon, bersepatu tebal, dandanannya persis pemuda bergajul yang suka menggoda perempuan, tapi wajahnya jelek, mata kecil, hidung pesek, alis pendek, bibir tebal, tampang yang menjijikkan.</p>
<p>Jit-jit ngeri dan mual, tapi kedua tangannya dipegang orang sehingga tidak mampu meronta, serunya gugup, &#8220;Kau&#8230;bunuhlah diriku, aku ini mata-mata yang menyelundup kemari, lekas kau serahkan diriku kepada majikan gedung ini, biar aku dihukum berat!&#8221;</p>
<p>Ia pikir lebih baik dirinya tertangkap sebagai musuh yang menyelundup kemari dan dihukum berat daripada jatuh ke tangan pemuda bajul yang berwajah jelek ini.</p>
<p>Tak tahunya orang lantas cengar-cengir dan berkata, &#8220;Majikan rumah ini bukan bapakku juga bukan anakku, kau boleh jadi mata-mata, apa sangkut pautnya dengan aku? Kenapa harus kuserahkan dirimu kepadanya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi kau pun menyelundup kemari secara sembunyi-sembunyi?&#8221; tanya Jit-jit kaget.</p>
<p>Pemuda baju jambon tertawa, katanya, &#8220;Kalau tidak masa aku keluar dari istal?&#8221;</p>
<p>Berputar biji mata Cu Jit-jit, harapan hidup timbul dalam benaknya, katanya dalam hati, &#8220;Dinilai dari kungfunya yang tinggi, bila dia mau membantuku, dengan mudah segera aku bisa meninggalkan tempat ini.&#8221;</p>
<p>Tapi berhadapan dengan orang sejelek ini, makin dipandang makin mual, kalau dia harus memohon kepadanya, betapa pun dia tidak sudi. Apalagi mata orang yang kecil itu bersinar cabul, kata-kata minta bantuan yang hampir terlontar dari mulutnya lantas ditelannya kembali.</p>
<p>Sudah sipit matanya, tapi pemuda itu sengaja memicingkan mata, seperti menikmati sebuah karya besar pengukir ternama, ia mengawasi wajahnya, dadanya, pinggulnya, lalu pahanya, semua bagian tubuh Jit-jit dipandangnya seperti juru kir atau wasit dalam pemilihan ratu kecantikan, mendadak dia tertawa lebar, katanya, &#8220;Apa kau mau minta kubantu melarikan diri?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ap&#8230;apa kau bisa?&#8221; Cu Jit-jit gelagapan.</p>
<p>Pemuda baju jambon tertawa, katanya, &#8220;Orang lain anggap tempat ini kubangan naga atau gua harimau, bagiku mau datang boleh datang, mau pergi bisa pergi, mondar-mandir sesuka hatiku seperti keluar-masuk di rumah sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira kau hanya membual saja,&#8221; kata Jit-jit.</p>
<p>Pemuda baju jambon menyengir, katanya, &#8220;Tak perlu kau pancing diriku, kalau kau ingin kubantu keluar dari sini, aku harus dipersen dulu cium pipi.&#8221;</p>
<p>Jit-jit berpikir, &#8220;Biar kupejamkan mata dan dicium sekali daripada mati di sini, kalau mati di sini, Sim Long tak bisa kulihat lagi.&#8221;</p>
<p>Teringat kepada Sim Long, Jit-jit jadi nekat, asal bisa ketemu Sim Long, umpama dia harus dicium babi atau anjing juga rela.</p>
<p>Segera ia pejamkan mata, katanya, &#8220;Baiklah, silakan&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara pipinya sudah di&#8221;ngok&#8221; keras-keras satu kali, didengarnya pemuda baju jambon berkata, &#8220;Seorang lelaki sejati harus bisa pegang janji. Nah, ikut padaku!&#8221;</p>
<p>Tanpa kuasa Cu Jit-jit lantas terseret pergi, waktu dia membuka mata, dilihatnya dia berlari ke arah gedung-gedung megah sana, keruan Jit-jit kaget setengah mati, teriaknya, &#8220;He, mau ke mana kau?&#8221;</p>
<p>Pemuda baju jambon tertawa, katanya, &#8220;Sebetulnya ingin kubantu kau lari, tapi bila kau sudah pergi, selanjutnya tentu takkan menghiraukan aku, setelah kupikir-pikir, lebih baik menahanmu di sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kau&#8230;kau sudah janji&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Pemilik gedung ini bukan bapakku juga bukan anakku, tapi adalah ibuku,&#8221; kata pemuda itu. &#8220;Tadi kau menipuku sekali, giliranku sekarang menipumu sekali, satu lawan satu, sama kuat. Supaya kau maklum saja, meski perempuan pandai menipu, tapi bila lelaki mau berdusta kan tidak kalah bila dibandingkan perempuan.&#8221;</p>
<p>Kejut dan gusar bukan kepalang Cu Jit-jit, ia mencaci maki, &#8220;Kau babi, kau anjing kurap, kau&#8230;kau binatang lebih rendah daripada anjing dan babi, aku benci, ingin kubeset kulitmu.&#8221;</p>
<p>Makin galak dia memaki, senyuman pemuda baju jambon makin lebar, makin senang.</p>
<p>Ketika para lelaki berbaju hitam, gadis-gadis berbaju putih di halaman itu melihat kedatangannya, semua menyingkir dan memberi hormat sambil menyapa, &#8220;Toasiauya pulang.&#8221;</p>
<p>Ada seorang gadis agaknya ada hubungan intim dengan dia lantas berkata, &#8220;Toasiauya semalam tidak pulang lagi, awas bila diketahui Hujin (nyonya), pasti kau dilarang masuk pintu.&#8221;</p>
<p>Pemuda baju jambon berkata dengan tertawa, &#8220;Aku memang tidak masuk pintu, tapi melompat masuk dari tembok dekat istal kuda&#8230;Enci yang baik, jangan kau laporkan kepada ibu, besok pasti kuajak kau main mesra.&#8221;</p>
<p>Gadis itu tertawa malu, serunya, &#8220;Siapa mau main mesra denganmu?&#8230;Domba yang kau bawa pulang ini tampaknya lumayan juga&#8230;&#8221;</p>
<p>Di tengah cekikik para gadis itu, pemuda berbaju jambon terus melangkah pergi sambil menarik Cu Jit-jit menuju ke deretan rumah yang terletak di belakang pepohonan bambu sana.</p>
<p>&#8220;Berhenti!&#8221; mendadak seorang membentak. Suara nyaring berkumandang dari atas loteng di balik pepohonan bambu, meski tinggi loteng ada beberapa tombak, tapi suara bentakan itu seperti mengiang di tepi telinga Jit-jit.</p>
<p>Pemuda baju jambon ternyata tidak berani melangkah lagi, segera berdiri tak bergerak.</p>
<p>Orang di atas loteng lantas menegur, &#8220;Besar benar nyalimu, sesudah pulang lantas mau masuk kamar secara diam-diam?&#8221;</p>
<p>Pemuda baju jambon ternyata tidak berani mendongak, sebaliknya Cu Jit-jit sudah pasrah nasib, segera dia mendongak, dilihatnya di belakang langkan loteng berdiri seorang perempuan setengah baya berdandan seperti seorang ratu.</p>
<p>Tidak sedikit perempuan cantik yang pernah dilihat Cu Jit-jit, tapi bila dibandingkan perempuan cantik setengah baya ini, maka perempuan lain itu menjadi jelek seperti siluman, hanya sekilas Jit-jit memandang ke atas dan lantas berat untuk berpisah, batinnya, &#8220;Aku sendiri perempuan, sekali melihatnya lantas kesengsem, bila lelaki entah bagaimana jadinya, mungkin berjalan pun tidak kuat lagi.&#8221;</p>
<p>Perempuan cantik berdandan seperti ratu itu juga menatap Jit-jit, katanya dengan dingin, &#8220;Dari mana kau peroleh perempuan ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia ini&#8230;&#8221; tutur pemuda baju jambon sambil menyengir, &#8220;dia&#8230;inilah Yan Ping-bun, nona Yan yang sering anak katakan itu, ibu bilang ingin melihatnya, maka anak membawanya pulang supaya ibu dapat melihatnya.&#8221;</p>
<p>Berputar biji mata perempuan setengah baya itu, dengan mengangguk ia berkata, &#8220;Ehm, memang cantik, pantas kau tergila-gila padanya, kalau demikian, silakan dia&#8230;&#8221;</p>
<p>Bahwa pemuda berbaju jambon berusaha melindungi dia, kalau orang lain pasti kegirangan, tapi dasar Jit-jit berwatak keras, terbayang bila dirinya dibawa masuk ke kamarnya, rasanya lebih baik mati, maka dia lantas berteriak, &#8220;Aku bukan Yan Ping-bun. Aku she Cu, juga bukan dia yang mengundangku kemari. Aku menyelundup ke sini dengan membonceng di bawah kereta, maksudku hendak menyelidiki rahasia kalian, tak tersangka tertawan oleh dia, sekarang mau dibunuh atau akan disembelih boleh terserah.&#8221;</p>
<p>Seketika dingin telapak tangan pemuda baju jambon itu, perempuan cantik setengah baya itu pun berubah air mukanya, dengan gusar dia mendelik dan mendesis, &#8220;Bawa dia kemari.&#8221;</p>
<p>Gedung ini dari luar tertampak megah, pajangan di dalam ternyata juga tidak kalah dibandingkan istana, perempuan cantik setengah baya duduk bersandar di atas kursi besar berlapis kulit harimau, duduk santai dengan gaya yang memesona seperti bidadari.</p>
<p>Begitu masuk pemuda berbaju jambon lantas berlutut di depannya. Jit-jit sudah tidak memedulikan mati-hidupnya sendiri, apa pula yang ditakuti? Maka dia berdiri dengan bertolak pinggang sambil mengulum senyum dingin.</p>
<p>&#8220;Kau she Cu, siapa namamu?&#8221; tanya perempuan itu.</p>
<p>&#8220;Mestinya tidak perlu kau urus. Tapi boleh juga kuberi tahukan padamu. Cu Jit-jit adalah diriku, aku adalah Cu Jit-jit. Nah, sudah jelas bukan, jangan dilupakan!&#8221;</p>
<p>&#8220;Cu Jit-jit, besar amat nyalimu,&#8221; desis perempuan itu.</p>
<p>&#8220;Berhadapan dengan perempuan secantik kau, sungguh tidak kepalang senangku, apa pula yang kutakuti? Sayangnya engkau yang cantik ini melahirkan putra yang jelek sekali.&#8221;</p>
<p>Agaknya perempuan cantik setengah baya belum pernah menghadapi gadis seberani ini, wajahnya yang molek menampilkan rasa tercengang, mendadak dia berseru ke luar, &#8220;Bawa kemari!&#8221;</p>
<p>Seorang gadis baju putih mengiakan terus berlari turun ke bawah loteng, kejap lain sudah kembali dengan membawa empat laki-laki kekar dan menggusur dua gadis baju putih, yaitu gadis baju putih yang dilihat Jit-jit menggiring barisan mayat hidup itu.</p>
<p>Melihat nyonya cantik setengah baya, kedua gadis itu ketakutan dan gemetar, cepat mereka berlutut lunglai di lantai.</p>
<p>Perempuan cantik itu lantas tanya kepada Jit-jit, &#8220;Apakah kau membonceng di bawah kereta mereka itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Seperti benar, tapi juga seperti tidak benar,&#8221; sahut Jit-jit.</p>
<p>Ujung bibir si perempuan cantik tiba-tiba mengulum senyum genit, katanya lembut, &#8220;Anak baik, usiamu masih muda, biar bibi mengajar suatu hal kepadamu, bahwa perempuan di dunia ini semakin cantik semakin jahat dan keji hatinya, yang berwajah jelek malah berhati baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa benar?&#8221; ujar Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Jika kau tidak percaya, boleh kau saksikan, setiap gadis anak buahku, bila lalai bekerja, apa hukuman yang harus diterimanya,&#8221; jari tangannya yang lentik lantas menjentik perlahan, kedua Pek-hun-bok-li yang berlutut itu seketika menjerit, menangis takut dan memilukan.</p>
<p>Tapi keempat lelaki itu justru tidak kenal kasihan meski terhadap gadis cantik dengan tubuh montok sekalipun, dengan dua lawan satu, yang belakang menjambak rambut dan yang di depan meraih baju, begitu tangan direntang, pakaian dirobek sehingga telanjang, terlihatlah tubuh yang mulus dengan garis tubuh yang ramping, serempak mereka mengeluarkan cambuk terus menghajarnya, tubuh yang putih mulus dan padat itu seketika babak belur dan berdarah, jerit tangis makin memilukan.</p>
<p>Kedua gadis itu berguling dan menjerit, meratap minta ampun, tapi cambuk kulit tanpa kenal kasihan terus menghajar tubuh mereka. Jalur merah membiru menghiasi tubuh mulus dan montok itu agaknya menambah kebuasan keempat lelaki itu, cambuk bekerja semakin gencar.</p>
<p>Jit-jit tidak tahan lagi, teriaknya, &#8220;Berhenti&#8230;kumohon kepadamu&#8230;suruh berhenti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anak baik,&#8221; ucap si perempuan cantik, &#8220;kutahu kau tidak takut mati, tapi kau pun perlu tahu banyak urusan di dunia ini jauh lebih menderita daripada mati, umpamanya&#8230;&#8221;</p>
<p>Kedua tangan Jit-jit mendekap kuping, teriaknya, &#8220;Aku tak mau dengar&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian, harus kau bicara terus terang kepadaku. Berapa banyak rahasia kami yang kau ketahui? Kecuali dirimu siapa pula yang tahu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak&#8230;tidak tahu&#8230;apa pun aku tidak tahu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa benar kau tidak tahu? Baik&#8230;&#8221;</p>
<p>Serentak delapan lelaki kekar telah mengurung Cu Jit-jit.</p>
<p>Ngeri hati Jit-jit, dengan gemetar ia berteriak, &#8220;Sim Long, di mana kau? Lekas kemari menolongku.&#8221;</p>
<p>Belum lenyap suaranya, tiba-tiba terdengar suara keleningan dari belakang tabir, seketika berkerut alis si perempuan cantik, perlahan ia menjulurkan kakinya yang putih dan mengenakan sepatu bersulam, lalu berdiri, dengan langkah gemulai ia berjalan keluar.</p>
<p>Kaget dan melongo Jit-jit, tapi lega juga hatinya.</p>
<p>Pemuda berbaju jambon menoleh, katanya perlahan, &#8220;Kusuruh jangan banyak omong, kau justru usil, sekarang&#8230;Ai, agaknya nasibmu masih mujur, ada seorang tamu yang harus ditemui itu, kalau tidak&#8230;&#8221;</p>
<p>Kalau tidak bagaimana, tanpa dijelaskan juga Jit-jit dapat membayangkan.</p>
<p>Tampak seorang gadis berbaju putih naik ke atas loteng, lalu bicara dengan kereng, &#8220;Atas perintah Hujin, sementara nona Cu ini supaya disekap di kamar bawah tanah untuk menunggu keputusan lebih lanjut.&#8221;</p>
<p>Segera si pemuda baju jambon bertanya, &#8220;Aku bagaimana?&#8221;</p>
<p>Gadis itu cekikik geli, katanya, &#8220;Kau boleh ikut padaku.&#8221;</p>
<p>Berputar biji mata Jit-jit, mendadak dia bertindak, memukul dan menendang, sekaligus merobohkan keempat lelaki, menyusul segera ia menerobos jendela terus melompat ke bawah loteng.</p>
<p>Gadis baju putih dan pemuda baju jambon diam saja melihat dia melarikan diri. Jit-jit sendiri tidak mengira sedemikian gampang dia bisa meloloskan diri, keruan hatinya sangat girang, ia pikir setelah keluar dari loteng ini, orang belum tentu dapat mencegatnya.</p>
<p>Tak tahunya baru saja kakinya menyentuh tanah, mendadak didengarnya seorang tertawa perlahan di belakang, &#8220;Anak baik, kau menyusul datang, aku memang menunggumu!&#8221;</p>
<p>Suaranya lembut, nadanya genit, siapa lagi kalau bukan si perempuan cantik setengah baya.</p>
<p>Seketika Jit-jit seperti diguyur air dingin, dengan nekat mendadak dia putar tubuh dan menghantam dengan kedua telapak tangan, jurus serangan lihai yang sempat terpikir dilancarkan seluruhnya, dalam sekejap dia menyerang delapan kali.</p>
<p>Ginkangnya memang tidak rendah, serangan juga tidak lamban, sayang ilmu silat yang diyakinkannya terlalu banyak ragamnya sehingga kedelapan jurus serangan itu meski cukup lihai, namun tiada sejurus pun yang diyakinkan dengan sempurna, untuk menghadapi jago silat biasa memang berkelebihan, tapi di hadapan perempuan cantik setengah baya ini ilmu silatnya hanya seperti permainan anak kecil saja.</p>
<p>Didengarnya perempuan cantik itu tertawa dan berkata, &#8220;Anak baik, tidak sedikit juga kungfu yang kau pelajari&#8230;&#8221;</p>
<p>Dengan enteng dia mengebaskan lengan baju, Yu-ti-hiat di siku kanan Cu Jit-jit kena disabetnya, kontan lengan kanan tergantung, namun dia tetap bandel, dengan nekat tetap menyerang pula tiga kali dengan telapak tangan kiri.</p>
<p>&#8220;Kau harus tahu, banyak makan sukar dicerna, demikian pula kungfu, makin banyak ragam yang kau pelajari namun tiada satu pun yang sempurna, lalu apa gunanya&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekali nyonya cantik itu berlenggang, kembali lengan bajunya mengebas.</p>
<p>Yu-ti-hiat di sikut kiri Cu Jit-jit kembali tertutuk, lengan kiri juga lemas tak bisa bergerak, tapi dasar bandel dia tetap tidak mau kalah, kedua kaki beruntun menendang.</p>
<p>Si perempuan cantik tertawa, katanya, &#8220;Dengan kepintaranmu, bila khusus mempelajari satu macam kungfu mungkin kau mampu melawan sepuluh jurus seranganku, tapi sekarang&#8230;lebih baik kau menyerah saja.&#8221;</p>
<p>Habis berkata, serentak Hoan-tiau-hiat di lutut Jit-jit juga tertutuk dengan kebasan lengan bajunya, Jit-jit terkulai lemas dan tak mampu berdiri lagi.</p>
<p>Tiada seujung rambut perempuan itu tampak kusut, biasanya sikapnya memang anggun, pada waktu bergebrak pun gerak-geriknya lemah lembut memesona.</p>
<p>Jit-jit memandangnya sejenak, katanya dengan menghela napas, &#8220;Sungguh tak pernah terpikir olehku bahwa di dunia persilatan ada perempuan seperti dirimu, tak bisa pula kutebak tipu muslihat apa pula yang sedang kau rancang, agaknya&#8230;geger dunia persilatan sudah di ambang pintu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang kulakukan memang tiada seorang pun di dunia ini dapat merabanya, apa kau tunduk sekarang?&#8221;</p>
<p>Walau badan tidak bisa bergerak, tapi mata Jit-jit tetap melotot, teriaknya, &#8220;Kenapa aku harus tunduk padamu? Jika usiaku setua kau, belum tentu dapat kau kalahkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Anak bandel, agaknya sampai mati pun tak mau tunduk, tapi biar kuberi tahukan padamu, waktu usiaku sebaya kau sekarang namaku sudah tersohor di seluruh dunia, tiada lawan yang mampu menandingi aku, jika kau bisa hidup setua aku sekarang, tentu pula kau tahu selama hidupmu jangan harap dapat menandingi aku, hanya sayang&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak dia berhenti bicara dan mengulapkan tangan terus putar tubuh dan tinggal pergi.</p>
<p>Jit-jit membayangkan apa arti &#8220;hanya sayang&#8221; yang dikatakan, bila dia kembali lagi nanti entah cara bagaimana orang akan memperlakukan dirinya, terbayang pula keadaan di sini serbamisterius, umpama jiwanya melayang juga tidak akan diketahui orang luar, maka jangan harap ada orang akan menolongnya keluar dari sini.</p>
<p>Semakin dipikir semakin ngeri perasaan Jit-jit, jika tiada harapan untuk lolos, terpaksa dia hanya menunggu kematian saja.</p>
<p>Dua lelaki besar tampak menghampirinya, mereka menyeringai, jelas mengandung maksud tidak baik.</p>
<p>Jit-jit mengertak gigi, pikirnya, &#8220;Umpama orang luar tidak tahu aku mati di sini, paling sedikit aku harus tahu di mana aku meninggal dunia&#8230;&#8221;</p>
<p>Untung lehernya mampu bergerak, maka dia celingukan ke kanan-kiri, dilihatnya di sebelah kanan adalah jalan kecil berbatu kerikil warna-warni, ada gunung-gunungan dan kolam teratai, di belakang pepohonan sana tampak deretan rumah berloteng, samar-samar kelihatan bayangan beberapa orang berpakaian berwarna-warni mondar-mandir, entah apa yang sedang dikerjakan.</p>
<p>Mestinya dia ingin melihat jelas, tapi tubuhnya sudah diangkat kedua lelaki itu, empat tangan berbulu seperti sengaja dan tidak sengaja meremas-remas tubuhnya.</p>
<p>Segera Cu Jit-jit memaki kalang kabut.</p>
<p>Lelaki sebelah kiri menyeringai, katanya, &#8220;Genduk busuk, pura-pura suci, sebentar lagi baru&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak seorang menukas, &#8220;Sebentar lagi kenapa?&#8221;</p>
<p>Kedua lelaki itu tersentak kaget sambil menoleh, tertampak si pemuda baju jambon tengah menatap mereka dengan dingin, seketika pucat muka mereka, kepala tertunduk dan tidak berani bersuara lagi.</p>
<p>Sambil mengawasi Jit-jit pemuda baju jambon seperti mau bicara lagi, tapi segera ditarik pergi oleh si gadis berbaju putih tadi, kedua lelaki itu pun segera menggusur Jit-jit ke balik pintu, seorang gadis baju putih sudah menunggu di samping meja, dengan jarinya yang lentik sedang memajang bunga anggrek di atas meja.</p>
<p>Melihat Jit-jit, gadis berbaju putih itu geleng kepala, katanya dengan tertawa, &#8220;Setelah berada di sini, masih ingin lari? Membuang-buang tenaga saja&#8230;&#8221;</p>
<p>Lalu dia putar meja persegi di depannya dua kali, papan batu di pinggir meja mendadak menjeplak, muncul sebuah pintu gua yang menjurus ke bawah tanah, di bawah cahaya terang benderang, ternyata sepanjang dinding lorong dihiasi lampu perunggu yang indah.</p>
<p>Gadis berbaju putih lantas berkata, &#8220;Kamar Hoa-san masih kosong, bawa dia ke sana saja.&#8221;</p>
<p>Di hadapan gadis berbaju putih ini, kedua lelaki itu bersikap hormat dan munduk-munduk, dengan langkah lebar mereka lantas masuk ke sana.</p>
<p>Cu Jit-jit menoleh, serunya, &#8220;Cici yang baik, sebetulnya tempat apakah ini, dapatkah kau beri tahukan padaku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ai, merdu juga kau panggil Cici padaku, sayang aku tidak bisa memberi tahu.&#8221;</p>
<p>Kontan Jit-jit memakinya, &#8220;Setan alas, budak busuk, tidak kau katakan padaku, suatu hari aku pasti juga tahu.&#8221;</p>
<p>Gadis itu hanya mengawasinya dengan tertawa, tidak menjawab dan tidak menghiraukan ocehannya.</p>
<p>Lorong bawah tanah ini ternyata berliku-liku dan ruwet, gelagatnya tidak kalah rumit dibandingkan kuburan kuno itu.</p>
<p>Tampak oleh Cu Jit-jit di tepi setiap pintu yang dilewati ada ukiran huruf yang berbunyi Lo-hu, Ceng-seng dan nama gunung ternama lainnya.</p>
<p>Setiba di depan kamar yang terukir huruf Hoa-san, kedua lelaki itu menekan tombol rahasia dan membuka pintu batu.</p>
<p>Lelaki sebelah kiri menyeringai pula, katanya, &#8220;Genduk busuk, justru ingin kuciummu, coba saja kau bisa berbuat apa?&#8221;</p>
<p>Sembari bicara dia lantas menunduk, mulutnya yang penuh berewok dan berbau bawang itu lantas mencium muka Cu Jit-jit.</p>
<p>Jit-jit tidak memaki juga tidak meronta, katanya malah dengan nada genit, &#8220;Asal kau bersikap baik padaku, tidak jadi soal kau menciumku.&#8221;</p>
<p>Lelaki itu tertawa senang, katanya, &#8220;Nah kan begitu, agaknya sudah kau rasakan nikmatnya dicium olehku, baiklah kucium lagi&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak dia menjerit kesakitan, darah berlepotan di mukanya, ternyata bibirnya digigit sobek oleh Cu Jit-jit.</p>
<p>Saking kesakitan dan murka lelaki itu mencengkeram dan hendak merobek pakaian Jit-jit.</p>
<p>Tapi Jit-jit lantas mengancam, &#8220;Berani kau sentuhku lagi, bila nanti Siauya kemari pasti kuadukan padanya&#8230;Hehe, apa kehendakku pasti akan dilakukannya, coba apa hukuman atas dirimu nanti.&#8221;</p>
<p>Sambil mendekap mulut lelaki itu melotot gusar. Lelaki temannya lantas membujuk, &#8220;Ma-losam, sudahlah jangan cari perkara, kau tahu bagaimana watak iblis cilik itu.&#8221;</p>
<p>Dengan gemas lelaki itu mendorong Jit-jit ke dalam kamar, lalu daun pintu pun tertutup.</p>
<p>Lega hati Jit-jit, tapi air mata lantas bercucuran, keadaan sekeliling kamar tidak diperhatikannya lagi, yang terbayang olehnya hanya wajah Sim Long. Sambil menangis Jit-jit mengomel, &#8220;Setan berhati hitam, di&#8230;di mana kau sekarang? Kenapa tidak lekas kemari menolongku?&#8221;</p>
<p>Mengingat diri sendiri yang salah, kenapa minggat tanpa pamit, seketika pecah tangisnya. Dia memang teramat lelah, menangis dan menangis, tanpa terasa dia tertidur.</p>
<p>Entah berapa lama dia pulas, di dalam mimpi terasa Sim Long menghampirinya dengan tersenyum, dengan girang dia memanggilnya, siapa tahu Sim Long tidak menghiraukannya, malah asyik bermain cinta dengan perempuan cantik setengah umur itu, pemuda baju jambon mendadak muncul dan merayunya, tapi mendadak pemuda itu berubah menjadi kucing dan menubruknya&#8230;</p>
<p>Jit-jit menjerit kaget, tiba-tiba dia terjaga dari alam mimpi, entah sejak kapan pemuda berbaju jambon sudah berdiri di depannya dan dengan tersenyum tengah mengawasinya, matanya memang mirip mata kucing, memancarkan sinar hijau kemilau seolah-olah ingin menelan dirinya bulat-bulat.</p>
<p>Cahaya lampu kelap-kelip. Jit-jit ragu entah kejadian sesungguhnya atau dalam mimpi? Yang terang sekujur badannya basah oleh keringat dingin, dengan suara serak dia mendesis, &#8220;Sim Long&#8230;di mana Sim Long?&#8221;</p>
<p>Pemuda berbaju jambon tertawa, tanyanya, &#8220;Siapa itu Sim Long?&#8221;</p>
<p>Jit-jit menenangkan hati, baru diketahuinya tadi dirinya memang bermimpi, tapi keadaan di depan mata sekarang rasanya tidak lebih baik daripada mimpi buruk tadi.</p>
<p>Segera bentaknya, &#8220;Kau&#8230;untuk apa kau kemari?&#8221;</p>
<p>Terpicing mata si pemuda baju jambon, katanya dengan tersenyum, &#8220;Apa yang hendak kulakukan? Masa kau tidak tahu?&#8221;</p>
<p>Tangannya lantas mengelus wajah Jit-jit yang pucat.</p>
<p>&#8220;Kau&#8230;kau&#8230;enyah dari sini!&#8221; teriak Jit-jit.</p>
<p>Pemuda baju jambon cengar-cengir, katanya, &#8220;Kalau aku tidak enyah memangnya kau bisa apa?&#8221;</p>
<p>Muka Jit-jit yang pucat bersemu merah, serunya gemetar, &#8220;Kau&#8230;kau berani?&#8221;</p>
<p>Padahal dia maklum pemuda ini pasti berani melakukan apa pun, membayangkan apa yang hendak dilakukan orang atas tubuhnya, sungguh dia merinding.</p>
<p>Tak tersangka pemuda itu lantas menghentikan aksinya, katanya dengan tertawa, &#8220;Walau aku ini pemuda bangor, tapi selamanya tak pernah main paksa, asal kau mau menuruti kehendakku, bagaimana kalau kutolong kau keluar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak. Mati pun aku tidak&#8230;tidak mau!&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku ini kurang apa sehingga mati pun kau tidak mau tunduk padaku? Ah, aku tahu sekarang, mungkin kau anggap mukaku terlalu jelek?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang pemuda bertampang sejelek setan seperti dirimu, hanya babi betina yang suka padamu.&#8221;</p>
<p>Pemuda itu menepuk paha, katanya, &#8220;Hah, ternyata benar karena mukaku jelek. Baik!&#8221;</p>
<p>Mendadak dia putar badan membelakangi Cu Jit-jit, sesaat lagi lantas membalik pula, katanya dengan tertawa, &#8220;Sekarang pandanglah diriku.&#8221;</p>
<p>Jit-jit tidak mau memandangnya, tapi rasa ingin tahu memaksa dia angkat kepala, seketika dia melongo&#8230;pemuda yang barusan bertampang jelek mendadak telah berubah menjadi pemuda bertampang cakap.</p>
<p>Di bawah sinar lampu tertampak bibirnya merah tipis, alis lentik mata jeli, kulit mukanya yang putih bersemu merah, biarpun Giok-bin-yau-khim Sin-kiam-jiu Ji Yok-gi yang terkenal sebagai pemuda tampan di Bu-lim juga bukan tandingannya.</p>
<p>Keruan Jit-jit terkesima, katanya kemudian, &#8220;Kau&#8230;kau&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana tampangku sekarang? Apa kau mau&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Siluman, iblis, jangan harap!&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih tidak mau?&#8230;kutahu, mungkin kau anggap wajah secakap ini kurang jantan, bukan lelaki sejati&#8230;&#8221; lalu dia berputar tubuh, setelah membalik kemari pula, kini wajahnya bersemu hijau perunggu, alis tebal, mata besar, sikapnya gagah perkasa, memang berbeda dibandingkan pemuda lembut berpupur tadi, suaranya pun berubah kereng. &#8220;Bagaimana?&#8221;</p>
<p>Jit-jit menarik napas dingin, katanya, &#8220;Kau&#8230;jangan harap.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih belum mau?&#8221; ucap pemuda baju jambon. &#8220;Ehm, mungkin kau suka pada laki-laki yang sudah matang, kau anggap aku masih hijau. Baiklah, boleh kau lihat.&#8221;</p>
<p>Dia lantas membalik badan pula, mukanya sekarang bertambah jenggot, alisnya gompiok, kumisnya melintang. Kini tampangnya memang kelihatan lebih tua sebagai lelaki yang pandai mengayomi kaum perempuan. Lelaki seperti ini memang punya daya tariknya tersendiri.</p>
<p>Meski tercengang, tapi Jit-jit tetap mencaci maki.</p>
<p>Lalu pemuda baju jambon lantas berubah menjadi laki-laki kasar dan bengis, katanya dengan bertolak pinggang, &#8220;Kau perempuan rewel, jika tetap tidak tunduk, rasakan kalau kulahap kau.&#8221;</p>
<p>Bukan saja tampangnya berubah, suaranya juga berubah persis sesuai orangnya.</p>
<p>Sungguh tak pernah terpikir oleh Jit-jit bahwa di dunia ini ada ilmu merias seaneh ini, keruan dia terkesima.</p>
<p>Melihat Jit-jit terbeliak, pemuda itu tertawa, katanya, &#8220;Orang macam apa pun yang kau sukai, baik tua atau muda, aku bisa berubah sesuai kehendakmu, bila kau menjadi biniku serupa sekaligus punya sepuluh suami, betapa senang dan bahagia hidupmu nanti? Perempuan lain sekalipun menyembah kepadaku takkan kulayani, masa kau masih tetap tidak mau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau&#8230;peduli kau berubah menjadi apa, jangan harap akan diriku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, tetap tidak mau? Kenapa? Memangnya kenapa?&#8230;Ah, aku tahu, mungkin kau mengutamakan ilmu dan tidak menilai tampang, biarlah kuberi tahukan padamu, meski aku bukan orang pandai, tapi baik main musik dan tulis-menulis, atau mengadu kungfu, semuanya mahir, selain ilmu sastra dan ilmu silat, segala macam ilmu pengetahuan juga kukuasai dengan baik. Bila kau punya suami seperti diriku, tanggung selama hidupmu tidak akan kesepian. Kalau tidak percaya, boleh buktikan.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara dia terus menggerakkan kaki dan tangan, sekaligus dia mempertunjukkan sembilan gerak perubahan, semuanya ilmu silat Siau-lim, Bu-tong dan perguruan besar lain yang tidak sembarangan diajarkan kepada orang.</p>
<p>Lalu dia menepuk ke dinding, dinding batu seketika melekuk sebuah cap tangan, lima jari kelihatan nyata seperti ukiran saja.</p>
<p>Ilmu silat Cu Jit-jit sendiri memang tiada satu pun yang sempurna, tapi kungfu yang pernah dilihatnya sangat banyak, selintas pandang saja dia kenal pukulan lihai orang berasal dari sembilan perguruan besar, sementara tepukan ke dinding itu adalah Toa-jiu-in kaum Lama Tibet. Pemuda ini masih muda, ternyata mahir menguasai berbagai ilmu pukulan perguruan besar, sungguh hal ini amat mengejutkan dan sukar dibayangkan.</p>
<p>Jit-jit lantas bertanya, &#8220;Dari&#8230;dari mana kau pelajari kungfu itu?&#8221;</p>
<p>Pemuda itu tersenyum, katanya, &#8220;Apa susahnya? Bila senggang aku malah memperdalam kungfu dengan perpaduan syair-syair ciptaan pujangga kuno, harap nona suka mengoreksi.&#8221; Lalu kedua lengan bajunya berkibar, dia memainkan ilmu silatnya sambil membaca syair.</p>
<p>Beruntun si pemuda mempertunjukkan puluhan jurus kungfu yang dipadukan dengan makna syair yang disenandungkan, tak kepalang heran dan kagum Cu Jit-jit, akhirnya dia berseru memuji.</p>
<p>&#8220;Terima kasih atas pujian nona, dan sekarang tentu nona maklum, di kolong langit ini memang banyak orang pandai, tapi untuk mencari pemuda seperti diriku pasti tidak ada keduanya.&#8221;</p>
<p>Mendadak Jit-jit mendengus, &#8220;Huh, juga belum tentu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah nona kenal lelaki bertampang dan berkepandaian melebihi diriku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukenal seorang, baik ilmu sastra atau ilmu silat, jelas seratus kali lebih unggul daripadamu, orang macam dirimu hanya setimpal menjadi kacungnya.&#8221;</p>
<p>Mendelik si pemuda, tapi segera dia tertawa, katanya, &#8220;Ah, nona sengaja hendak memancing kemarahanku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tidak percaya, apa boleh buat. Sayang dia tidak berada di sini&#8230;Hm, kalau dia berada di sini, siapa yang mampu mengurungku?&#8221;</p>
<p>Lama pemuda itu melongo, mendadak matanya memancarkan sinar terang, serunya, &#8220;Hah, aku tahu, dia&#8230;dia pasti Sim Long!&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul&#8230;Sim Long, wahai Sim Long, di mana kau sekarang? Betapa kurindukan dikau?&#8221; bila mengucap nama Sim Long, sorot mata Jit-jit lantas berubah lembut, manis dan mesra.</p>
<p>Merah mata si pemuda, mukanya dingin, dengan sendirinya ia juga mempunyai daya tarik tersendiri.</p>
<p>Tergerak hati Jit-jit, katanya tak tertahan, &#8220;Kecuali Sim Long, kau pun terhitung pemuda pilihan satu di antara seribu, jika di dunia ini tiada manusia bernama Sim Long itu, kemungkinan aku akan jatuh hati padamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi selama Sim Long ada di dunia ini, selama itu pula kau tidak tertarik padaku, begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pertanyaan ini tidak perlu kujawab, kuyakin kau sendiri maklum.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika Sim-Long mampus, lalu bagaimana?&#8221;</p>
<p>Berubah air muka Cu Jit-jit, tapi lantas tersenyum, katanya, &#8220;Manusia seperti Sim Long kuyakin tidak akan mati muda, untuk ini tidak perlu kau khawatir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sim Long&#8230;Sim Long&#8230;&#8221; si pemuda mendesis benci. Mendadak dia mengentak kaki, &#8220;Baik, ingin kubuktikan orang macam apakah dia, suatu ketika akan kubunuh dia di hadapanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau berani kau lepaskan diriku, akan kubawa kau menemui dia, siapa lebih jantan dan siapa lebih unggul antara kalian, setelah berhadapan tentu dapat kau buktikan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Pandai juga kau memancingku, tapi aku justru terperangkap olehmu&#8230;Baik, akan kubebaskan kau, hendaknya kau bawa dia menemuiku.&#8221;</p>
<p>Dalam hati Jit-jit bersorak girang, tapi lahirnya tetap dingin, katanya, &#8220;Apa kau berani? Tidak takut Sim Long membunuhmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku justru khawatir Sim Long tidak berani menemuiku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sekalipun di sini ada gunung golok dan lautan minyak mendidih juga dia berani datang, mungkin kau sendiri yang akan ngacir.&#8221;</p>
<p>Sekarang pemuda ini tidak perlu dibakar lagi, sebelum Jit-jit habis bicara dia lantas membuka Hiat-to pada kedua tangan dan lutut Jit-jit.</p>
<p>Cepat Jit-jit melompat bangun, hatinya girang, tapi kaki tangan masih lemas, darah belum lancar, baru berdiri hampir ambruk lagi. Lekas pemuda baju jambon memapahnya, katanya dingin, &#8220;Apa kau dapat berjalan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tak bisa berjalan juga aku akan merangkak keluar, tak perlu kau papah diriku.&#8221;</p>
<p>Pemuda itu menjengek, tanpa bicara kedua tangan segera mengurut sendi tulang lutut Jit-jit dan dibetotnya dua kali, mata Jit-jit sudah mendelik dan hendak mendorongnya, tapi kedua tangan orang rasanya seperti mengandung kekuatan gaib, terasa oleh Jit-jit ke mana tangan orang meraba dan memijat segera terasa linu, geli dan lemas, tapi rasanya juga nyaman dan nikmat, selama hidup belum pernah dia rasakan seperti ini, umpama sekiranya dia mampu mendorongnya juga tidak rela lagi mendorongnya.</p>
<p>Tanpa terasa badannya malah merapat, di bawah cahaya lampu mukanya yang pucat sudah bersemu merah, sorot mata si pemuda juga memancarkan cahaya yang aneh, gerak-gerik jarinya juga mulai gemetar.</p>
<p>&#8220;Berhenti&#8230;berhenti&#8230;lepaskan aku&#8230;&#8221; gemetar suara Jit-jit.</p>
<p>Bibir si pemuda berada di tepi telinganya, desisnya perlahan, &#8220;Apa betul kau ingin kulepaskan dirimu?&#8221;</p>
<p>Gemetar sekujur badan Cu Jit-jit, tiba-tiba air matanya bercucuran, katanya, &#8220;Aku&#8230;aku tidak tahu&#8230;tolong&#8230;kau&#8230;kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak terdengar suara tertawa merdu di luar pintu, seorang mengomel, &#8220;Bagus, memang sudah kuduga kau pasti mengeluyur ke sini. Eh, kalian sedang main apa?&#8221;</p>
<p>Nadanya mengandung rasa cemburu, ternyata si gadis berbaju putih tadi.</p>
<p>Keruan kaget dan malu Cu Jit-jit, sekuatnya dia dorong si pemuda.</p>
<p>Gadis berbaju putih meliriknya sekejap, katanya dengan tersenyum, &#8220;Bukankah kau benci padanya, kenapa sekarang tak mau lepas dalam pelukannya?&#8221;</p>
<p>Tambah merah muka Cu Jit-jit, biasanya mulutnya usil, tapi sekali ini dia mati kutu dan tidak mampu bersuara. Sebab dia sendiri tidak tahu kenapa dirinya bisa terbuai oleh rasa nikmat tadi. Selama hidup baru kali ini dia merasakan rangsangan nafsu berahi, nafsu berahi yang menakutkan dan mudah menjerumuskan.</p>
<p>Lalu gadis baju putih melirik pemuda baju jambon, katanya tetap dengan tertawa, &#8220;Tentunya kau gunakan rabaan maut padanya bukan? Kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Ketika melihat sorot mata si pemuda memancarkan nafsu yang menyala, segera dia berhenti bicara, tubuh pun bergetar.</p>
<p>Selangkah demi selangkah pemuda baju jambon menghampirinya, sorot matanya seperti tertawa tapi tidak tertawa, katanya, &#8220;Aku kenapa?&#8221;</p>
<p>Merah muka si gadis baju putih, mendadak dia menjerit, baru saja memutar badan hendak lari, tapi lengannya sudah ditarik si pemuda dan dipeluknya kencang. Badannya menjadi lunglai, tenaga untuk meronta pun tiada lagi.</p>
<p>Perlahan si pemuda berkata, &#8220;Kau sendiri yang kemari, jangan salahkan aku!&#8221;</p>
<p>Sorot matanya makin mencorong, mukanya juga makin merah, mendadak dia menarik jubah putih si gadis&#8230;</p>
<p>Jit-jit menjerit tertahan, lekas dia melengos ke arah lain.</p>
<p>Didengarnya angin berkesiur, jubah putih itu melayang tiba dan jatuh di depannya, didengarnya dengus napas si gadis semakin memburu, makin keras dan setengah merintih. Badan Jit-jit ikut menggigil, dia ingin lari keluar, sayang kaki tak kuat bergerak, segera didengarnya pemuda itu berkata, &#8220;Telah kulepaskan dirimu, tidak lekas pergi?&#8221;</p>
<p>Jit-jit menggigit bibir, sekuatnya dia berdiri, lalu lari ke pintu dengan sempoyongan.</p>
<p>Mendadak pemuda itu membentak, &#8220;Ambil baju itu dan pakailah, setelah keluar pintu, terus belok kiri, tidak boleh berhenti dan jangan menoleh, tiba saatnya ada orang akan menyambutmu&#8230;jangan menunggu sampai aku berubah pikiran.&#8221;</p>
<p>Bibir Jit-jit berdarah karena tergigit kencang, entah bagaimana perasaannya, dia lari balik menjemput baju putih itu, tak berani melirik si pemuda yang telah menindih si gadis, segera dia berlari.</p>
<p>Dengan langkah terhuyung sambil mengenakan jubah putih itu, setelah membelok dua kali, jantungnya masih berdegup keras. Baru sekarang teringat ingin melihat keadaan di bawah tanah tadi, tapi apa pun dia tidak berani menoleh lagi, dirasakan pemuda tadi sungguh iblis jahat, bahkan lebih menakutkan daripada iblis, selama hidup belum pernah dia merasa takut seperti sekarang, juga belum pernah merasa benci seperti sekarang.</p>
<p>Dari samping dinding di kejauhan seperti terdengar gemerencing suara logam, serupa suara rantai. Jit-jit tidak berani berhenti, setiap menemukan belokan ke kiri dia lantas masuk, kembali dia berputar dua kali, baru sekarang ia heran akan bangunan di bawah tanah ini. Waktu dia angkat kepala, dilihatnya dua lelaki mengadang di depan, jantung Jit-jit berdegup pula, namun untuk mundur tidak mungkin, terpaksa harus menerjang ke depan, biarpun kedua orang ini lawan tangguh juga tidak lebih menakutkan daripada pemuda tadi.</p>
<p>Di luar dugaan, begitu melihat dia, kedua lelaki itu tidak menampilkan sikap bermusuhan, hanya seorang di antaranya seperti berkata, &#8220;Wajah nona ini kok belum pernah kenal.&#8221;</p>
<p>Temannya menjawab, &#8220;Mungkin baru masuk.&#8221;</p>
<p>Lega hati Jit-jit, baru sekarang dia mengerti sebab apa pemuda tadi menyuruh dia mengenakan jubah putih ini, dengan tabah segera dia maju lagi dengan langkah lebar.</p>
<p>Bukan saja tidak merintanginya, kedua lelaki itu malah menjura, sapanya, &#8220;Apa nona hendak keluar?&#8221;</p>
<p>Sudah tentu Jit-jit tidak berani bicara, dia hanya mendengus, lalu melangkah lewat, didengarnya kedua lelaki itu menggerutu.</p>
<p>Banyak pintu di antara dinding kanan-kiri yang dilewatinya, ia pikir Can Ing-siong, Pui Jian-li dan orang-orang yang lenyap itu mungkin dikurung di balik pintu-pintu itu. Sementara perempuan cantik setengah baya di atas loteng itu pasti pemilik dan perencana semua perangkap keji ini. Kalau dia bukan Hun-bong-siancu pasti juga ada hubungan erat dengan Hun-bong-siancu. Semua ini adalah rahasia yang sedang diselidiki Sim Long, kini-Jit-jit sudah tahu semuanya.</p>
<p>Terbayang bahwa akhirnya dirinya berhasil membantu kekasih pujaannya menyelidiki peristiwa misterius ini, terasa derita yang baru dialaminya bukan apa-apa lagi.</p>
<p>Dia mempercepat langkahnya sambil berpikir, &#8220;Menderita bagi orang yang dicintai ternyata juga satu kenikmatan, namun siapa pula di dunia ini yang bisa menikmati kesenangan seperti diriku sekarang&#8230;bukankah aku lebih gembira dan bahagia daripada orang lain&#8230;&#8221;</p>
<p>Sementara itu dia sudah sampai di ujung lorong, di sini tidak kelihatan ada pintu keluar.</p>
<p>Pada saat itulah dari tempat gelap sana muncul sesosok bayangan orang, begitu menoleh ke sana, semula Jit-jit berjingkat kaget, tertampak orang yang muncul ini berperawakan tinggi besar, perawakan Jit-jit tidak terhitung pendek, tapi berdiri di depan orang ini tingginya hanya sebatas dadanya, badan Jit-jit juga tidak terhitung kurus, tapi pinggangnya tidak sebesar lengan orang ini.</p>
<p>Badan besar kekar, gerak-gerik orang ini juga tangkas dan lincah, Jit-jit tidak mendengar langkahnya, tahu-tahu tubuh besar seperti raksasa ini sudah berdiri di depannya, dadanya telanjang, kulit badannya berminyak mengilat, kepalanya juga besar, dicukur gundul kelimis, lelaki raksasa bermuka sadis ini ternyata memancarkan sorot mata lembut selembut seorang ibu yang sayang kepada anaknya, demikian dia pandang Jit-jit dengan lembut.</p>
<p>Jit-jit tenangkan hati dan membesarkan nyali, sapanya, &#8220;Apakah kau&#8230;diutus Kongcu menyambutku?&#8221;</p>
<p>Raksasa itu mengangguk, ia menuding kuping sendiri lalu menuding mulut.</p>
<p>Jit-jit melengak, batinnya, &#8220;Kiranya dia bisu-tuli.&#8221;</p>
<p>Dilihatnya lelaki raksasa itu mengangkat kedua tangannya yang panjang besar, langit-langit lorong ini sedikitnya setinggi dua orang, tapi dapat dicapai oleh tangannya.</p>
<p>Samar-samar kelihatan tubuhnya yang berminyak itu penuh otot, sepotong papan batu besar dan berat di atas langit-langit telah diangkatnya.</p>
<p>Jit-jit kaget, pikirnya, &#8220;Hebat benar tenaganya, kecuali dia, mungkin tiada orang yang mampu menggeser papan batu di atas itu.&#8221;</p>
<p>Tapi dia tidak sempat menoleh lagi, dia melompat ke atas dan menerobos celah-celah papan batu yang tergeser ke pinggir itu.</p>
<p>Semula dia kira di bagian luar kalau bukan hutan tentu adalah tanah pekuburan, ternyata dugaannya keliru pula. Mulut lorong ternyata berada di sebuah kamar belakang toko peti mati.</p>
<p>Dalam rumah yang besar dan luas di sana-sini bertumpuk peti mati, ada yang sudah jadi, ada yang belum rampung dikerjakan, tukang kayu kekar dengan telanjang dada sedang sibuk bekerja, jelas toko peti mati ini cukup laris sehingga pekerja sebanyak ini tiada satu pun yang menganggur.</p>
<p>Sudah tentu Jit-jit berdiri melongo, tapi papan batu sudah tertutup pula, terpaksa dia harus mengeraskan kepala dan berjalan keluar.</p>
<p>Di luar dugaan, tukang-tukang kayu itu semua tekun pada pekerjaan masing-masing, tiada satu pun yang menoleh memerhatikan kehadirannya.</p>
<p>Di luar sana kereta berlalu-lalang, manusia pun hilir mudik, suara ramai sebuah jalan raya. Dua orang sedang memilih dan menawar peti mati, di sana suara gergaji, di sini suara palu memukul paku, di depan lagi tukang sedang memasah kayu, suasana kerja keras benar-benar terasa.</p>
<p>Berada dalam toko peti mati ini, hati Cu Jit-jit merasa ngeri dan takut, kenapa bisa berada di toko peti mati? Mungkinkah dari lorong bawah tanah itu sering digotong keluar orang mati? Begitu digotong keluar lantas dimasukkan ke dalam peti mati, setan pun tidak tahu perbuatan mereka, adalah jamak kalau penjual peti mati mengirim barang dagangannya, siapa pun takkan menaruh curiga, umpama sehari ada dua-tiga puluh orang mati juga orang luar tidak akan curiga&#8230;pembunuhan terencana ini sungguh suatu muslihat yang aman dan misterius.</p>
<p>Makin dipikir makin aneh dan ganjil, makin mengerikan, tanpa terasa mengirik bulu kuduknya, lekas dia lari keluar.</p>
<p>Di bagian depan toko dua pegawai sedang melayani pembeli, seorang bermuka burik, seorang lagi bibirnya sumbing, kalau bicara suaranya sumbang. Di pojok sana terdapat meja kasir yang tinggi, di sebelah kiri tertaruh sebuah timbangan emas.</p>
<p>Jit-jit ingat semua yang dilihatnya ini, batinnya, &#8220;Asal aku ingat baik-baik toko peti mati ini, Sim Long akan kubawa kemari&#8230;&#8221;</p>
<p>Tamu itu mengawasinya dengan heran, kedua pegawai itu malah tak mengacuhkannya.</p>
<p>Jit-jit merasa heran, tapi juga tenang, cepat ia melangkah keluar, begitu menginjak jalan raya yang ramai, melihat orang ramai berlalu-lalang, sungguh senang sekali hatinya.</p>
<p>Sambil menunduk dia mencampurkan dirinya di tengah orang lalu di seberang sana, kemudian baru berani menoleh, dilihatnya toko peti mati itu pakai merek &#8220;Ong-som-ki&#8221; yang diukir di atas pigura.</p>
<p>Jit-jit ingat baik semua yang dilihatnya, batinnya, &#8220;Hwesionya bisa kabur, kelentengnya masa bisa lari? Asal aku ingat tempat ini, memangnya kutakut mereka lari? Seorang diri aku berhasil membongkar muslihat besar yang menggemparkan dunia ini, Sim Long pasti takkan bilang aku tak becus lagi.&#8221;</p>
<p>Hatinya menjadi riang kembali, beberapa langkah kemudian dia berpikir pula, &#8220;Anehnya, mereka tahu aku bakal membongkar muslihat mereka, kenapa aku dibebaskan? Mungkinkah pemuda baju jambon itu sudah gila? Bukankah perbuatannya secara tidak langsung telah mempertaruhkan usaha ibunya yang besar itu? Jelas tidak mungkin&#8230;&#8221;</p>
<p>Teringat hal &#8220;tidak mungkin&#8221;, tanpa terasa ia mengulum senyum pula, dia kira hal yang &#8220;tidak mungkin&#8221; itu telah didapatkan jawabnya, &#8220;Aku dapat berkorban demi Sim Long, maka pemuda itu tentu juga dapat berkorban demi diriku, cinta memang sesuatu yang agung dan hebat.&#8221;</p>
<p>Berpikir demikian, hatinya merasakan manis madu, rasa ragunya lenyap.</p>
<p>Waktu itu sudah menjelang magrib, cahaya mentari keemasan menyinari wajah orang yang berjalan hingga tampak cerah dan segar.</p>
<p>Cu Jit-jit merasa belum pernah mengalami cuaca secerah ini, badan terasa ringan, langkah pun cepat bagai mau terbang.</p>
<p>Tapi tabir malam segera tiba, Jit-jit lantas menyadari dirinya tidak seriang seperti apa yang dibayangkan semula, hakikatnya masih banyak urusan yang merisaukannya.</p>
<p>Sekarang dia tidak membawa sangu sepeser pun, padahal perut lapar dan badan kedinginan, di kota seramai ini, di mana dia bisa menemukan Sim Long? Dia tidak tahu bagaimana dan ke mana dia harus mencari.</p>
<p>Pada waktu menghadapi mati-hidup tadi, tidak pernah dia pikirkan urusan ini, kini baru dirasakan soal kecil ini sangat realistis dan sukar diatasi.</p>
<p>Di sini memang kota Lokyang.</p>
<p>Lama Jit-jit mondar-mandir di depan pintu, sukar mengambil keputusan apakah harus keluar kota atau tetap tinggal di sini.</p>
<p>Ia yakin Sim Long takkan menunggunya di hotel semula, ketika mengetahui dia menghilang, pemuda itu pasti gugup dan gelisah, dan pasti sibuk mencarinya. Tapi ke mana dia mencarinya? Sekarang bukan lagi Sim Long yang mencarinya, tapi dia yang mencari Sim Long.</p>
<p>Perubahan ini sangat aneh dan lucu, pikir punya pikir Cu Jit-jit jadi geli sendiri, namun dalam keadaan kantong kempis dan perut lapar, bagaimana dia bisa tertawa?</p>
<p>Sambil berkerut alis, dengan bersedekap dia berjalan menyusuri kaki tembok kota, tiba-tiba dilihatnya seorang bertopi miring sambil bernyanyi kecil dan berjalan sempoyongan ke arahnya, dari tampang dan dandanannya orang ini kalau bukan pencoleng tentu juga kaum gelandangan.</p>
<p>Kebetulan jalan sepi dan tidak kelihatan orang lain, mendadak Jit-jit melompat maju mengadang di depannya, tegurnya, &#8220;He, kau tahu siapa Enghiong (kesatria) terbesar dan ternama di kota Lokyang ini?&#8221;</p>
<p>Semula orang itu kaget, dia mengamati Jit-jit sejenak, segera ia cengar-cengir, katanya sambil memicingkan mata, &#8220;Aha, adikku manis, tepat kau tanya kepada orangnya, Enghiong terbesar di kota Lokyang ini siapa lagi kalau bukan aku Hoa-hoa-thay-swe Tio-lotoa&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara mendadak mukanya kena gampar empat kali pulang-pergi, kontan dia roboh terjungkal. Sebelum tahu apa yang menimpa dirinya, lengan kanannya sudah ditelikung orang, saking sakitnya sampai dia mencucurkan air mata. Baru sekarang dia tahu nona cilik ini tidak boleh dibuat main-main, lekas dia minta ampun.</p>
<p>&#8220;Lekas katakan,&#8221; bentak Jit-jit, &#8220;siapa Enghiong ternama di kota Lokyang?&#8221;</p>
<p>Gemetar suara Tio-lotoa, &#8220;Yang tinggal di kota barat bergelar Thi-bin-un-hou Lu Hong-sian. Di kota timur juga ada Tiong-goan-beng-siang Auyang Hi, kedua orang ini adalah Enghiong ternama di kota Lokyang.&#8221;</p>
<p>Jit-jit pikir, &#8220;Sesuai julukannya, tentu Auyang Hi lebih luas pergaulannya dan royal duitnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Lalu dia membentak, &#8220;Auyang Hi tinggal di mana? Lekas bawa nona ke rumahnya.&#8221;</p>
<p>Terkilas senyum licik pada sinar mata Tio-lotoa, serunya, &#8220;Baik, baik, sudilah nona lepaskan dulu tanganku, pasti hamba antar ke sana.&#8221;</p>
<p>Tiong-goan-beng-siang Auyang Hi memang tokoh terkenal di kota Lokyang, rumahnya terletak di kota timur, gedungnya besar dan angker, loteng bersusun dengan pekarangan yang luas.</p>
<p>Dari jauh Jit-jit sudah melihat sinar lampu yang terpancar dari kediaman Auyang Hi, suara hiruk-pikuk orang bicara dan bersenda gurau pun berkumandang dari sana.</p>
<p>Setelah dekat jadi lebih jelas, orang keluar-masuk dan kereta berseliweran, semua adalah orang-orang Bu-lim yang dada busung dan perut buncit.</p>
<p>Jit-jit membatin, &#8220;Melihat keadaannya memang tidak malu dia dijuluki Tiong-goan-beng-siang (Sosiawan Tionggoan). Tampaknya cukup aku membocorkan sedikit rahasia kepadanya, kuminta dia mencari jejak Sim Long, sekaligus supaya menghubungi orang gagah daerah Tionggoan&#8230;&#8221;</p>
<p>Sementara dia berpikir, tiba dia di depan gedung, Jit-jit lantas membebaskan Tio-lotoa.</p>
<p>Mendadak Tio-lotoa berteriak sekeras-kerasnya, &#8220;Hai, saudara-saudara, lekas kemari, perempuan celaka ini hendak mencari perkara pada kita.&#8221;</p>
<p>Orang-orang yang berkumpul dan mengobrol iseng di depan rumah segera merubung maju setelah mendengar teriakan Tio-lotoa, ada yang berteriak dan ada pula yang memaki, &#8220;Tio-lotoa makin tua makin tak berguna, seorang nona cilik saja tidak mampu kau atasi?&#8221; </p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.info">Cerita Silat</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-07/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Baja (06)</title>
		<link>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-06/</link>
		<comments>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-06/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 02:42:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendekar Baja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.info/?p=800</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gu Long
&#8220;Salah atau tidak dapat kau nilai sendiri,&#8221; jengek Kim Bu-bong.

&#8220;Bagus,&#8221; ucap Sim Long, mendadak ujung jarinya bergetar, sekaligus dia tutuk tiga Hiat-to tidur Kim Bu-bong, cepat sekali tangannya membalik menutuk tiga Hiat-to di tubuh A To pula. Gerakannya cepat dan ketepatan tutukannya sungguh menakjubkan, kontan Kim Bu-bong dan A To jatuh terkulai bersama.
Jit-jit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Gu Long</strong></p>
<p>&#8220;Salah atau tidak dapat kau nilai sendiri,&#8221; jengek Kim Bu-bong.<br />
<span id="more-800"></span><br />
&#8220;Bagus,&#8221; ucap Sim Long, mendadak ujung jarinya bergetar, sekaligus dia tutuk tiga Hiat-to tidur Kim Bu-bong, cepat sekali tangannya membalik menutuk tiga Hiat-to di tubuh A To pula. Gerakannya cepat dan ketepatan tutukannya sungguh menakjubkan, kontan Kim Bu-bong dan A To jatuh terkulai bersama.</p>
<p>Jit-jit heran, katanya, &#8220;Apa yang kau lakukan?&#8221;</p>
<p>Sim Long menurunkan nona itu, katanya lembut, &#8220;Kau tunggu saja di sini, dalam kuburan ini tiada musuh lain, tidak perlu kau khawatir.&#8221;</p>
<p>Terbelalak mata Cu Jit-jit, katanya, &#8220;Kau&#8230;kau mau lepaskan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, akan kubebaskan dulu mereka berempat dan suruh mereka segera keluar. Kurasa tidak memakan waktu banyak, sebentar juga aku kembali.&#8221;</p>
<p>Semula Jit-jit kelihatan takut, tapi akhirnya dia menghela napas, katanya, &#8220;Aku tahu akan kau bebaskan mereka, seperti dicocoki jarum, sedetik saja hatimu tak bisa tenteram bila mereka tidak dilepaskan.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa dan melangkah ke sana, katanya, &#8220;Aku akan segera kembali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tunggu sebentar,&#8221; seru Cu Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Ada apa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau&#8230;kau&#8230;&#8221; sorot mata Jit-jit menampilkan rasa takut dan minta belas kasihan, suaranya gemetar, &#8220;Entah kenapa, aku&#8230;aku takut, seperti&#8230;seperti ada setan mengintip di tempat gelap dan akan&#8230;akan mencelakai aku.&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya lembut, &#8220;Anak bodoh, Kim Bu-bong dan A To sudah kututuk Hiat-tonya, apa lagi yang kau takutkan&#8230;Sudahlah, jangan manja, tunggu saja, segera kukembali.&#8221;</p>
<p>Setelah mengulapkan tangan bergegas dia pergi.</p>
<p>Jit-jit mengawasi bayangan punggungnya lenyap ditelan kegelapan, entah kenapa, tiba-tiba timbul rasa takutnya, tanpa terasa dia duduk menggigil.</p>
<p>*****</p>
<p>Tombol pada pintu batu itu setelah diputar ke kiri tiga kali, ke kanan satu kali terus didorong ke atas oleh Sim Long, betul juga pintu lantas terbuka, di dalam terdapat sebuah lentera yang masih menyala tapi minyaknya sudah hampir habis, lidah api dan asap tipis bergoyang lembut seperti tarian hantu di udara.</p>
<p>Keadaan sepi, kamar kosong, mana ada bayangan Pui Jian-li dan lain-lain.</p>
<p>Sim Long melongo kaget, dengan cermat dia perhatikan sekelilingnya, debu di lantai memang ada bekas tapak kaki, jelas tadi ada orang berjalan dan duduk di sini, tapi sekarang entah ke mana? Mungkinkah mereka meloloskan diri? Atau ditolong orang? Lalu siapa yang menolong mereka? Sekarang berada di mana?</p>
<p>Semua ini berkelebat dalam benak Sim Long, hatinya terasa dingin, cepat dia lari ke arah datangnya tadi, dalam hati ia berteriak, &#8220;Cu Jit-jit, semoga kau tidak kurang suatu apa pun&#8230;&#8221; tiba di belokan, dia berhenti, darah juga seperti membeku seketika, Cu Jit-jit yang duduk membelakangi dinding tadi, demikian pula Kim Bu-bong dan A To, ternyata telah lenyap, semua hilang dalam sekejap ini.</p>
<p>Lama Sim Long melenggong di tempatnya, keringat dingin memenuhi jidatnya, mendadak ada suara serak berkumandang di belakangnya, &#8220;Lama tak bertemu, Sim-siangkong.&#8221;</p>
<p>Begitu mendengar suara itu, seketika timbul rasa muak dan bencinya, sedapatnya Sim Long tahan perasaannya, katanya kemudian dengan tertawa, &#8220;Dua hari tidak bertemu, kenapa Kim-heng sudah merasa lama, apa betul Kim-heng begitu rindu kepadaku?&#8221;</p>
<p>Suara serak itu berkata dengan tertawa, &#8220;Aku memang rindu, kenapa Sim-siangkong tidak membalik badan, supaya dapat kulihat selama dua hari ini, apakah engkau lebih kurus atau tambah gemuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terima kasih akan perhatianmu&#8230;&#8221; mendadak Sim Long putar tubuh, gerakannya cepat tahu-tahu sudah menubruk ke arah suara itu, sekilas tampak bayangan hitam berkelebat, segera ia mencengkeram ke sana, dengan tepat bayangan itu tertangkap olehnya.</p>
<p>Segera terdengar gelak tertawa dari tempat gelap, kejap lain menyala sebatang obor, tertampak Kian-gi-yong-wi Kim Put-hoan berdiri bersandar dinding dengan santai, tangan kiri memegang obor yang baru saja disulut, tangan kanan memegang tongkat pendek, pada ujung tongkat tergantung sehelai mantel kulit, dan yang terpegang oleh tangan Sim Long adalah mantel kulit itu.</p>
<p>Tampak bangga dan senang Kim Put-hoan, katanya dengan tertawa lebar, &#8220;Mantel kulit ini pemberian Siangkong kepadaku tempo hari, apakah sekarang hendak kau minta kembali&#8230;&#8221;</p>
<p>Tadi Sim Long mengira aksinya berhasil, baru sekarang dia menyadari Kim Put-hoan adalah manusia licik dan licin, agaknya dia memang sudah mengatur rencananya dengan baik, segera Sim Long berkata dengan tertawa, &#8220;Semula kukira Kim-heng, maka kutubruk kemari untuk bermesraan sekejap, tak kira hanyalah mantel kulit saja.&#8221;</p>
<p>Lalu dia mengelus mantel kulit kesayangannya dulu, katanya pula dengan tertawa, &#8220;Syukur tidak rusak bulu kulitmu, silakan Kim-heng ambil kembali, selanjutnya jangan sampai direbut orang lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sim-siangkong memang pandai bicara,&#8221; kata Kim Put-hoan dengan tertawa, &#8220;mana ada bulu pada kulitku, kulit rase ini justru berasal dari badanmu malah.&#8221;</p>
<p>Lalu dia sampirkan mantel itu di atas badan sendiri dan menambahkan, &#8220;Namun kulit rase Sim-siangkong ini memang bisa menghangatkan badan.&#8221;</p>
<p>Sim Long mengumpat dalam hati, &#8220;Keparat ini tidak mau kalah adu mulut.&#8221;</p>
<p>Ia tetap tertawa, katanya, &#8220;Pepatah bilang, pedang pusaka dihadiahkan kepada pendekar, pupur wangi diberikan kepada perempuan jelita. Dan kulit rase ini memang setimpal diberikan kepada Kim-heng.&#8221;</p>
<p>Gayung bersambut, kata berjawab, kedua saling sindir secara tajam dengan sikap ramah dan tertawa. Namun Sim Long tidak menyinggung hilangnya Cu Jit-jit, Kim Put-hoan menjadi kelabakan sendiri, akhirnya dia tidak tahan, katanya, &#8220;Nona Cu mendadak lenyap, apakah Sim-siangkong tidak merasa heran?&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Bila nona Cu sudah dijaga oleh Ji Yok-gi, Ji-siauhiap, kenapa aku harus gelisah&#8230;&#8221;</p>
<p>Kim Put-hoan tergelak, &#8220;Sim-siangkong memang cerdik, ternyata sudah kau duga Ji-lote juga ikut datang. Ji-lote memang pemuda romantis, dia suka kepada nona Cu, maka keselamatannya tak perlu dikhawatirkan, sekarang keduanya sedang&#8230;&#8221; perkataannya diputus oleh gelak tertawanya, diam-diam ia memerhatikan reaksi Sim Long apakah berhasil memancing kemarahannya.</p>
<p>Ternyata Sim Long tetap tersenyum saja, katanya, &#8220;Entah bagaimana Kim-heng juga datang kemari, bagaimana dia kenal segala peralatan rahasia dalam kuburan ini? Sungguh aku amat heran.&#8221;</p>
<p>Biji mati Kim Put-hoan berputar, katanya dengan tertawa, &#8220;Sim-siangkong boleh ikut padaku&#8230;&#8221;</p>
<p>Segera ia berjalan di depan dan Sim Long mengikut di belakangnya, cahaya obor menyinari mantel kulit di tubuh Kim Put-hoan.</p>
<p>Sim Long menghela napas, batinnya, &#8220;Keparat ini memakai mantelku, uang dalam kantongnya juga milikku, tapi masih berusaha mencelakai aku dengan berbagai akal keji, sungguh jarang ada orang seperti ini.&#8221;</p>
<p>Akhirnya mereka masuk ke sebuah kamar batu, pintu memang terbuka, cahaya lampu terang benderang di dalam kamar, Cu Jit-jit, Hoa Lui-sian, Ji Yok-gi, Kim Bu-bong dan A To semua berada di situ.</p>
<p>Hiat-to Kim Bu-bong belum terbuka, Cu Jit-jit sedang mencaci maki, saking malu Ji Yok-gi menyingkir jauh ke samping sana, begitu melihat kedatangan Sim Long cepat dia memburu ke samping Cu Jit-jit, pedang di tangannya lantas mengancam tenggorokan Cu Jit-jit.</p>
<p>Melihat Sim Long, Cu Jit-jit tak berani memaki lagi, wajahnya tampak memelas, sekian lama dia memonyongkan mulut, katanya kemudian, &#8220;Aku&#8230;kusuruh jangan pergi, sekarang&#8230;sekarang&#8230;&#8221; segera bercucuran air matanya.</p>
<p>Ji Yok-gi berpaling, agaknya tidak tega melihat si nona menangis.</p>
<p>Kim Put-hoan berdiri di tengah antara Cu Jit-jit dengan Sim Long, katanya sambil menuding sebuah kursi batu di pojok kamar, &#8220;Silakan duduk!&#8221;</p>
<p>Dengan tersenyum Sim Long melangkah ke sana dan berduduk dengan tenang.</p>
<p>Kim Put-hoan menepuk pundak Ji Yok-gi, katanya, &#8220;Saudaraku, bila Sim-siangkong bergerak, kau pun boleh menggerakkan pedangmu, jangan pikir kasihan terhadap paras ayu, kelak masih banyak waktu bagimu untuk bersuka ria&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tahu bagaimana harus bertindak,&#8221; ucap Ji Yok-gi.</p>
<p>&#8220;Ada beberapa persoalan yang tidak dimengerti oleh Sim-siangkong, kita perlu memberi penjelasan kepadanya, maklum, hatinya lagi penasaran&#8230;Sim-siangkong, biar kumain sandiwara di hadapanmu, perhatikan ya?&#8221;</p>
<p>Mendadak dia membuka Hiat-to penidur di tubuh Kim Bu-bong, lalu menutuk pula bagian pinggangnya.</p>
<p>Sim Long tidak tahu apa yang hendak dilakukan Kim Put-hoan, dilihatnya Kim Bu-bong batuk sekali lalu melompat bangun, sorot matanya menyapu pandang sekitarnya.</p>
<p>Lalu ia melototi Sim Long, ketika melihat Kim Put-hoan, seketika wajahnya memperlihatkan rasa kaget, segera dia membentak dan hendak menubruk, tapi lantas roboh terjungkal.</p>
<p>Ternyata tutukan Kim Put-hoan tadi menutup Ciang-bun-hiat, Hiat-to besar bagian pinggang. Ciang-bun-hiat merupakan penyalur darah ke seluruh badan. Bila Hiat-to ini tertutuk, badan bagian bawah akan mati rasa dan tidak mampu bergerak, sakitnya bagai digigiti ribuan semut. Meski Kim Bu-bong adalah laki-laki tabah, begitu dia bergerak seketika dia rasakan kesakitan yang luar biasa sehingga air mata pun meleleh.</p>
<p>Sim Long menyaksikan keadaan Kim Bu-bong, dia membatin, &#8220;Kelihatannya kedua orang ini musuh bebuyutan, bahwa Kim Put-hoan menggunakan cara sekeji ini menyiksa lawannya, sungguh tindakan jahat.&#8221;</p>
<p>Dari kejauhan Kim Put-hoan gunakan tongkat pendek untuk mengangkat tubuh Kim Bu-bong, katanya tertawa, &#8220;Toako bertemu dengan Siaute di sini, apakah kau tidak merasa heran?&#8221;</p>
<p>Panggilan &#8216;Toako&#8217; sungguh membuat Sim Long kaget, sungguh tak terpikir olehnya bahwa kedua orang ini ternyata adalah saudara, pikirnya, &#8220;Tindakan Kim Put-hoan menyiksa musuh sudah cukup keji, dengan cara ini dia siksa saudaranya, sungguh lebih rendah daripada binatang.&#8221;</p>
<p>Dengan tertawa Kim Put-hoan berkata, &#8220;Toakoku ini mengira rahasia jebakan dalam kuburan ini tiada orang mampu memecahkannya kecuali dia sendiri, dia lupa masih punya seorang saudara seperti diriku yang juga ahli dalam bidang ini.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menggereget, desisnya, &#8220;Binatang&#8230;binatang, kenapa kau belum mampus?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang sebaik Siaute, mana tega Thian merenggut jiwaku. Tapi baru berhadapan Toako lantas mengutuk Siaute, bukankah terlalu?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong berkata dengan mendelik, &#8220;Ayah menerima kau sebagai anak pungut, diasuh, dididik dan dibesarkan, memberi ajaran kungfu lagi, tak nyana hanya karena ingin merebut warisan ayah sampai hati kau mengatur muslihat mencelakaiku hingga aku tidak punya tempat berpijak dan terpaksa lari ke luar perbatasan, di sana aku pun hampir mati&#8230;&#8221; suaranya makin serak dan lirih, saking gemas dia kehabisan tenaga dan tak sanggup melanjutkan perkataannya.</p>
<p>Kim Put-hoan tersenyum, katanya, &#8220;Tahukah kau sekarang aku sudah menjadi pendekar besar yang arif bijaksana, dijuluki Kian-gi-yong-wi segala, kau sebaliknya hanya antek Koay-lok-ong yang bangsat itu, demi mengeruk harta, kau sengaja menyiarkan kabar buruk tentang diriku, memangnya siapa yang mau percaya pada obrolanmu? Umpama aku membinasakan kau, orang Kangouw juga pasti memujiku demi menegakkan keadilan tidak pandang bulu, meski saudara sendiri juga tidak segan dihukum&#8230;Hahaha, waktu itu nama julukan Kim Put-hoan tentu akan tambah cemerlang.&#8221;</p>
<p>Makin bicara makin senang, akhirnya ia tertawa latah sambil mendongak.</p>
<p>Kim Bu-bong mencaci maki kalang kabut, ternyata Cu Jit-jit juga ikut memaki.</p>
<p>Tiba-tiba Sim Long berkata, &#8220;Pui Jian-li, Can Ing-siong dan lain-lain apakah telah Kim-heng bebaskan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, bagaimana Sim-heng bisa tahu?&#8221; tanya Kim Put-hoan.</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Setelah membebaskan mereka Kim-heng suruh mereka lekas keluar, bukan saja mereka berterima kasih kepada pertolongan Kim-heng, mereka pun akan pandang Kim-heng sebagai kesatria besar zaman ini, selanjutnya di mana mereka berada pasti akan menyiarkan kebesaran nama Kim-heng, kelak bila Kim-heng mencari mereka, mau uang ada uang, mau pelesir boleh sesuka hati, bukankah caramu ini lebih baik daripada memeras uang mereka&#8230;Ai sayang sekali saudara Kim yang satu ini justru bekerja sebagai pembantu Koay-lok-ong, meski ia juga mengerti akan hal ini, tapi tak mampu berbuat apa-apa, celakanya dia malah diperalat olehmu.&#8221;</p>
<p>Kim Put-hoan tertawa, serunya, &#8220;Ayah bunda melahirkan aku, dan Sim-heng saja yang dapat menyelami jiwaku.&#8221;</p>
<p>Sim Long berkeplok, katanya, &#8220;Sungguh hebat peran yang kau mainkan dalam sandiwara ini, kutahu, tidak boleh menonton gratis sandiwara ini, apa kehendak Kim-heng, boleh katakan saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sim-siangkong memang pintar, cuma&#8230;&#8221; Kim Put-hoan tertawa, lalu meneruskan, &#8220;agak terlalu pintar sedikit, maka begitu berhadapan dengan Sim-heng, Cayhe lantas memperingatkan diriku sendiri, &#8216;Kalau Kim Put-hoan dilahirkan kenapa lahir pula seorang Sim-siangkong? Bila di kalangan Kangouw ada tokoh macam Sim-siangkong, apakah Kim Put-hoan bisa hidup aman dan tenteram?&#8217;&#8221;</p>
<p>&#8220;Banyak terima kasih akan pujianmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Meski Cayhe bukan orang jahat, tapi demi kehidupan selanjutnya, mau tidak mau timbul pikiran untuk mencelakai jiwa Sim-siangkong, namun dengan kepandaianku sekarang jelas tak mampu mencelakai Sim-siangkong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kim-heng memang suka bicara blakblakan, sungguh harus dipuji,&#8221; kata Sim Long.</p>
<p>&#8220;Dan hari ini, kesempatan baik ternyata berada di tanganku,&#8221; ujar Kim Put-hoan, mendadak dia melejit ke samping Cu Jit-jit, katanya dengan tersenyum, &#8220;Silakan Sim-heng perhatikan, nona Cu ini dari keluarga kaya raya, cantik dan menggiurkan, dia kesengsem padamu, sungguh mujur sekali Sim-siangkong, jika sekarang nona Cu mengalami apa-apa, bukankah patut disayangkan.&#8221;</p>
<p>Sengaja Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Nona Cu baik-baik saja duduk di situ, di bawah perlindungan Ji-siauhiap yang gagah perkasa, masa bisa terjadi sesuatu, apakah Kim-heng bukan lagi berkelakar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, aku memang cuma bergurau,&#8221; Kim Put-hoan. Mendadak dia menjatuhkan diri dan menumbuk badan Cu Jit-jit, jidat Cu Jit-jit membentur pedang Ji Yok-gi, kulit badannya yang putih seketika tergores luka dan mengeluarkan darah, Jit-jit mengertak gigi tanpa bersuara, Ji Yok-gi juga kaget.</p>
<p>Kim Put-hoan malah tertawa, katanya, &#8220;Jelas aku tidak lagi bergurau, tentu sudah kau saksikan? Cuaca sukar diramal, nasib manusia sulit diduga, bila jatuhku lebih keras, nona Cu secantik bidadari ini mungkin sudah berubah bentuk.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, sungguh berbahaya, untung&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak Kim Put-hoan menyeringai, &#8220;Urusan sudah begini, kau tidak perlu berlagak-pilon lagi, jika ingin Cu Jit-jit selamat, kau harus menerima tiga syaratku.&#8221;</p>
<p>Sim Long tetap kalem, katanya dengan tertawa, &#8220;Baru saja Kim-heng bersikap ramah dan sopan terhadapku, kenapa mendadak berubah kasar dan beringas begini, sungguh sedih hatiku.&#8221;</p>
<p>Kim Put-hoan tertawa dingin, ia tidak mengacuh lagi, mendadak tangannya melayang ke belakang, &#8220;plak&#8221;, kontan dia tampar muka Cu Jit-jit.</p>
<p>Berubah air muka Sim Long, tapi segera dia berkata dengan tertawa, &#8220;Sebetulnya apa kehendak Kim-heng, tanpa kehadiran nona Cu sekarang juga pasti kuturut saja, kenapa Kim-heng harus bertindak sekasar ini terhadap nona cilik yang lemah ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, dengarkan, pertama, kau harus bersumpah tidak menyiarkan apa yang kau lihat dan dengar di sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu gampang, aku memang bukan perempuan bawel yang panjang lidah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kedua, selama hidupmu ini kularang mencari perkara kepadaku&#8230;apa kau terima?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah.&#8221;</p>
<p>Timbul senyuman misterius dan licik pada wajah Kim Put-hoan, katanya pula, &#8220;Kurasa terlalu mudah kau terima syaratku ini, sekarang aku jadi sangsi, orang she Kim biasa hidup prihatin, sesuatu yang tidak aman tidak nanti kukerjakan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cara bagaimana baru Kim-heng merasa aman?&#8221;</p>
<p>Mendadak Kim Put-hoan mengeluarkan sebilah badik dan dilempar ke hadapan Sim Long, katanya dingin, &#8220;Jika kau mati, tentu aku merasa aman, tapi kau tidak pernah bermusuhan denganku mana tega aku menghabisi jiwamu, biarlah hari ini aku berlaku bijaksana, aku hanya menuntut sebelah tanganmu yang biasa memegang pedang, bila kau tebas putus tanganmu sebatas sikut, Cu Jit-jit tanpa kurang suatu apa akan kukembalikan dan segera kuantar kalian keluar dari kuburan kuno ini.&#8221;</p>
<p>Darah berlepotan di muka Cu Jit-jit, pipinya juga sembap, namun dia tetap melotot, kini pun berteriak, &#8220;Kau&#8230;jangan kau terima syaratnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara, &#8220;plak&#8221;, kembali Kim Put-hoan menggamparnya.</p>
<p>Jit-jit berteriak serak, &#8220;Pukul&#8230;biarkan aku dipukul mampus&#8230;jangan kau pedulikan diriku, lekas&#8230;lekas kau pergi saja, kawanan binatang ini takkan kuasa mengalangi dirimu.&#8221;</p>
<p>Kulit muka Sim Long berkerut menahan emosi, namun tetap berkata dengan kalem, &#8220;Anggota badan ini pemberian ayah bunda, mana boleh sembarang kurusak sendiri, apalagi bila lengan kananku ini buntung, bukankah dengan mudah Kim-heng akan menamatkan jiwaku? Kukira aku masih harus&#8230;&#8221; mendadak dia melompat bangun.</p>
<p>Tapi baru tubuhnya bergerak, tangan Kim Put-hoan lantas menjambak rambut Cu Jit-jit, tangan kanan mengeluarkan lagi sebilah badik dan mengancam tenggorokan Jit-jit, desisnya, &#8220;Ji-lote mungkin seorang penyayang si cantik, tapi aku ini laki-laki kasar, berani kau bergerak, nona cantik ini segera akan menjadi mayat.&#8221;</p>
<p>Terkepal tinju Sim Long, tapi tidak berani bertindak maju.</p>
<p>Dilihatnya Jit-jit telah diseret jatuh, dadanya naik turun, air mata berlinang di pelupuk matanya, tapi mulutnya berpekik serak, &#8220;Jangan hiraukan diriku&#8230;lekas&#8230;lekas pergi&#8230;&#8221;</p>
<p>Seperti ditusuk jarum pedih hati Sim Long, tanpa kuasa dia menyurut balik dan duduk kembali di kursinya dengan lesu.</p>
<p>&#8220;Kalau tidak kau terima syaratku, apa boleh buat, terpaksa biar kau duduk di situ dan saksikan permainan sandiwara babak selanjutnya&#8230;&#8221; di mana badik di tangannya bergerak, kain baju depan dada Jit-jit seketika sobek dan terbuka, maka tertampaklah dada yang montok tepat di sela buah dada tergores sejalur garis merah, darah mengalir turun ke perut.</p>
<p>Cu Jit-jit menjerit kalap, suaranya berubah rintihan.</p>
<p>Ujung badik Kim Put-hoan masih bergerak turun, jengeknya, &#8220;Setuju tidak&#8230;&#8221;</p>
<p>Di tengah rintihan Cu Jit-jit berteriak pula, &#8220;Kau&#8230;jangan kau terima&#8230;jika lenganmu buntung&#8230;mereka pasti membunuhmu&#8230;lekas pergi&#8230;&#8221;</p>
<p>Kim Put-hoan menyeringai, katanya, &#8220;Kau tega melihat penolong jiwamu dahulu dan juga kekasihmu ini tersiksa?&#8230;&#8221; kembali badiknya diturunkan lebih ke bawah hingga mencapai pusar, darah sudah membasahi badannya yang putih halus dan menimbulkan perpaduan warna yang kontras, lukisan yang keji dan siksa yang keterlaluan.</p>
<p>Mendadak Sim Long mengertak gigi, dia jemput badik tadi seraya berseru, &#8220;Baik, kuterima!&#8221;</p>
<p>&#8220;Akhirnya kau menyerah juga,&#8221; seru Kim Put-hoan bergelak tertawa.</p>
<p>&#8220;Jangan&#8230;jangan&#8230;jiwamu&#8230;&#8221; Jit-jit menjerit-jerit.</p>
<p>Sampai Kim Bu-bong juga memejamkan mata karena tidak tega menyaksikannya.</p>
<p>Begitu memegang badik, kelima jari Sim Long sampai memutih, ototnya merongkol, tangan gemetar, keringat memenuhi dahi.</p>
<p>Mendadak sinar putih berkelebat, &#8220;trang&#8221;, Jit-jit menjerit&#8230;di tengah jeritan itulah badik di tangan Kim Put-hoan ternyata terpukul jatuh oleh pedang panjang Ji Yok-gi.</p>
<p>Keruan Kim Put-hoan berjingkrak gusar, &#8220;Kau&#8230;gila!&#8221;</p>
<p>Kelam wajah Ji Yok-gi, dampratnya bengis, &#8220;Semula kukira kau ini manusia, tak tahunya lebih rendah daripada babi dan anjing. Ji Yok-gi adalah laki-laki sejati, mana sudi berbuat sejahat ini.&#8221;</p>
<p>Mulut bicara, sinar pedang pun berkelebat, dalam sekejap Ji Yok-gi menyerang tujuh kali.</p>
<p>Kejut dan girang sekali Sim Long, dilihatnya Kim Put-hoan dikurung sinar pedang dan mundur kerepotan, lekas ia melompat ke samping Jit-jit dan merapatkan pakaiannya. Rasa takut dan panik Jit-jit belum hilang, berada dalam pelukan sang kekasih, tak tertahan lagi dia melepaskan tangisnya.</p>
<p>Gusar Kim Put-hoan makinya, &#8220;Binatang, makan dalam bela luar. Memangnya kau lupa betapa besar rencana kita bila berhasil, masa kau lupa bila Sim Long mampus, Cu Jit-jit bakal jatuh ke tanganmu?&#8230;Berhenti, lekas berhenti!&#8221;</p>
<p>Ji Yok-gi mengertak gigi tanpa bicara, bukan berhenti, serangannya malah tambah gencar, dia berjuluk Sin-kiam-jiu (si Pedang Sakti), ilmu pedangnya memang hebat, dibakar marah lagi, maka dia mainkan jurus Siu-hun-toh-bing-kiam (pedang perampas nyawa) yang jarang dia keluarkan, sesuai namanya ilmu pedangnya memang ganas dan keras.</p>
<p>Jiwa Kim Put-hoan memang jahat, tapi kungfunya juga tidak rendah, walau dalam keadaan tidak siaga dan dicecar lebih dulu, setelah agak tenang, segera dia kembangkan Khong-jiu-jip-pek-to dan Cip-pwe-loh-te-jiat-jiu (berkelahi dengan tangan kosong) dari Kay-pang, dengan tangkas dia bergerak di tengah sambaran sinar pedang Ji Yok-gi, dan ternyata masih mampu balas menyerang juga.</p>
<p>Jit-jit menahan tangisnya, katanya, &#8220;Jang&#8230;jangan kau urus diriku, lekas bekuk bangsat Kim Put-hoan itu, akan&#8230;akan kubeset kulitnya baru terlampias dendamku.&#8221;</p>
<p>Sim Long menyahut lembut, &#8220;Baik, kau tunggu&#8230;&#8221; baru dia berdiri, dilihatnya Kim Put-hoan balas menyerang tiga kali lalu menyurut mundur tiga langkah, bentaknya, &#8220;Berhenti, dengarkan perkataanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau sekarang ibarat ikan dalam jaring atau kura dalam kuali, apa pula yang ingin kau katakan?&#8221; jengek Ji Yok-gi.</p>
<p>Kim Put-hoan tertawa, katanya, &#8220;Perlu kuberi tahu padamu, akan datang satu hari kau akan menyesal&#8230;&#8221; mendadak badannya menempel dinding di belakangnya terdengar &#8220;krak&#8221; sekali, dinding batu di belakangnya mendadak terbuka, kontan Kim Put-hoan menyelinap ke belakang.</p>
<p>Waktu Ji Yok-gi memburu maju dengan tebasan pedang, dinding batu itu segera merapat hingga pedangnya mengenai dinding.</p>
<p>Sim Long mengentak kaki, katanya dengan gegetun, &#8220;Celaka, kenapa aku melupakan hal ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita kejar&#8230;&#8221; teriak Ji Yok-gi.</p>
<p>Tiba-tiba Kim Bu-bong berkata, &#8220;Jalan rahasia dalam kuburan ini banyak ragamnya, mana bisa kalian mengejarnya?&#8221;</p>
<p>Ji Yok-gi gusar, semprotnya, &#8220;Kau tahu hal ini, kenapa tidak sejak tadi kau katakan?&#8221;</p>
<p>Dingin suara Kim Bu-bong, &#8220;Yang menjadi saudaraku dia atau kau?&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa getir, ujarnya, &#8220;Betul, dalam hal ini Ji-heng tidak boleh menyalahkan dia&#8230;&#8221;</p>
<p>Ji Yok-gi menghela napas, &#8220;trang&#8221;, pedang panjang mengetuk lantai.</p>
<p>Jit-jit mengomel, &#8220;Kaulah yang salah, jika kau tidak urus diriku, mana dia mampu melarikan diri?&#8221;</p>
<p>Sambil tertawa getir, Sim Long memeluk pundaknya, katanya lembut, &#8220;Jangan khawatir, suatu hari aku pasti dapat membekuk orang ini, akan kutaruh dia di bawah kakimu, terserah bagaimana akan kau hukum dia, supaya rasa dendam dan penasaranmu terlampias.&#8221;</p>
<p>Jit-jit mendekap dalam pelukannya, katanya tiba-tiba, &#8220;Sekarang aku malah tidak lagi membencinya&#8230;Bukan saja tidak benci, malah aku harus berterima kasih kepadanya.&#8221;</p>
<p>Sim Long heran, katanya, &#8220;Lho, kenapa begitu, sungguh aku tidak mengerti.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau dia tidak berbuat sekeji itu padaku, mana kutahu betapa baiknya kau terhadapku? Biasanya kau dingin dan kaku, tapi hari ini kau rela mati demi diriku&#8230;Setelah tahu hal ini, meski lebih menderita lagi juga tidak menjadi soal.&#8221;</p>
<p>Perlahan dia memejamkan mata, bulu matanya yang panjang masih dibasahi air mata, pipinya yang sembap bersemu merah dengan senyuman manis.</p>
<p>Menyaksikan si nona menderita tadi, keadaannya mengenaskan, tapi sekarang semua itu telah dilupakannya, dari sini terbukti betapa besar cintanya kepada Sim Long, asal Sim Long baik terhadapnya, maka dia puas melebihi apa pun. Tentang bagaimana sikap orang lain terhadapnya, baik atau jahat, hakikatnya tidak dipikir lagi. Hal ini mau tak mau membuat patah semangat Ji Yok-gi, dengan wajah guram dia mendekati Sim Long, katanya sambil menghela napas, &#8220;Karena pikiran sesat, Siaute telah diperalat oleh manusia jahat, sungguh aku sangat menyesal.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa lantang, katanya, &#8220;Ji-heng tahu salah dan segera bertobat, keberanianmu ini patut dipuji, selanjutnya hendaknya kau pandai menempatkan diri, kelak pasti menjadi pendekar ternama, aku bersyukur hari ini dapat berkenalan dengan Ji-heng.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian, aku&#8230;&#8221; mendadak dia melirik ke arah Cu Jit-jit, mulutnya lantas terkancing, lekas dia putar badan dan melangkah keluar.</p>
<p>&#8220;Ji-heng, tunggu sebentar&#8230;&#8221; teriak Sim Long.</p>
<p>&#8220;Gunung tinggi air mengalir, kelak masih sempat bertemu, semoga Sim-heng hidup rukun sampai tua dengan nona Cu&#8230;&#8221; belum habis ucapannya bayangannya sudah tidak kelihatan.</p>
<p>Cu Jit-jit tertawa manis, katanya, &#8220;Sebetulnya dia juga orang baik, kelak kita harus membuatnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa getir, katanya, &#8220;Sudah untung bila kita tidak minta bantuan orang.&#8221;</p>
<p>Mendadak Kim Bu-bong menimbrung dengan suara dingin, &#8220;Orang lain sudah pergi, sekarang apa yang akan kau perlakukan kepadaku, boleh lekas turun tangan saja&#8230;&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, ia lantas membuka Hiat-to orang malah.</p>
<p>Keruan Kim Bu-bong melenggong.</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Selamanya aku tidak mau kurang adat kepada kaum pendekar di jagat ini, Kim-heng adalah seorang Enghiong, sepatutnya aku menghormati dirimu.&#8221;</p>
<p>Terbayang rasa terima kasih di mata Kim Bu-bong, namun sikapnya tetap dingin, katanya, &#8220;Aku sudah menjadi tawananmu, terhitung Enghiong macam apa?&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum tanpa bicara, tangan orang juga dilepaskan.</p>
<p>Jit-jit kaget, serunya, &#8220;Hah, kau tidak khawatir dia lari?&#8221;</p>
<p>Tapi Kim Bu-bong tetap berdiri dan tiada maksud melarikan diri, air mukanya tampak berubah hijau, akhirnya berkata, &#8220;Aku tahu sikapmu terhadapku ini pasti mengandung maksud tertentu, tapi secara jantan kau perlakukan diriku, memangnya aku harus memperlakukan dirimu sebagai manusia rendah? Apa kehendakmu, silakan bicara saja.&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Tolong tunjukkan jalan keluar kuburan kuno ini.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong juga tidak bicara lagi, dia membuka Hiat-to A To, mengambil lentera dari dinding terus melangkah keluar.</p>
<p>Sim Long menggendong Jit-jit, akhirnya Cu Jit-jit tak tahan dan berbisik di pinggir telinganya, &#8220;Kau tidak khawatir dia lari?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dalam keadaan seperti ini, dia pasti tidak lari,&#8221; ujar Sim Long.</p>
<p>Jit-jit menghela napas, katanya, &#8220;Perbuatan kaum lelaki memang membingungkan, aku pun menjadi rada&#8230;rada pusing.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya berapa banyak pula lelaki di dunia ini yang dapat menyelami hati perempuan?!&#8221; sahut Sim Long.</p>
<p>&#8220;Satu pun tidak ada, termasuk kau, tapi&#8230;hatiku terhadapmu, masa kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?&#8221;</p>
<p>Sim Long seperti tidak mendengar, Jit-jit buka mulut hendak menggigit kupingnya, tapi begitu bibirnya menyentuh kuping orang, dia malah menciumnya, katanya mesra, &#8220;Lekas jalan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih ada seorang di sini, masa kau lupa?&#8221;</p>
<p>Melotot mata Cu Jit-jit mengawasi Hoa Lui-sian yang pingsan karena ditutuk Kim Bu-bong tadi, katanya benci, &#8220;Manusia tidak kenal budi, biarkan mati di sini&#8230;&#8221;</p>
<p>Sim Long tidak lantas bergerak, segera Jit-jit mendorongnya, &#8220;Kenapa melamun, lekas bawa dia?&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa geli, katanya, &#8220;Katamu tidak, kenapa menolongnya pula. Adakalanya mencintainya setengah mati, mendadak membencinya pula supaya dia lekas mampus&#8230;itulah hati perempuan yang sukar diraba?&#8221;</p>
<p>Segera dia kempit Hoa Lui-sian dan melangkah pergi. Dengan memegang lentera Kim Bu-bong menunggunya di luar pintu.</p>
<p>Jit-jit tidak melihat A To, dia berkerut kening dan bertanya, &#8220;Mana setan cilik itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setan cilik ada di sini!&#8221; seorang segera menjawab dengan tertawa di belakang.</p>
<p>Tampak A To berlari keluar dari pojok sana dengan membawa bungkusan besar kain hijau yang berat, memanggul sebuah gendewa berbentuk aneh, panjang gendewa lebih tinggi daripada perawakannya, demikian pula buntelan berat itu lebih besar daripada perutnya, tapi gerak-gerik A To tetap enteng dan cekatan, jelas Ginkangnya sudah punya dasar yang kuat.</p>
<p>Jit-jit membatin, &#8220;Anak ini pintar dan lincah, Lo-pat tentu senang padanya&#8230;&#8221;</p>
<p>Teringat kepada adiknya, ia menjadi khawatir dan marah, katanya, &#8220;Bila Lo-pat mengalami sesuatu, coba saja kalau aku tidak membeset kulit Hoa Lui-sian.&#8221;</p>
<p>Setiap timbul kemarahannya selalu dia menyumpah ruah mau menguliti orang, padahal bila ada orang dikuliti, mungkin dia akan lari lebih dulu daripada orang lain.</p>
<p>Dengan membawa lentera Kim Bu-bong jalan di depan, agaknya dia amat hafal segenap pelosok kuburan kuno ini, di bawah cahaya lampu baru sekarang Sim Long sempat memerhatikan bangunan ini ternyata teramat megah dan tidak kalah dibandingkan makam raja di zaman dahulu, alat rahasia yang dipasang di sini justru lebih lihai dan rumit. Mengagumi betapa besar proyek kuburan ini, Sim Long berkata dengan gegetun, &#8220;Entah karya raja dinasti manakah kuburan sebesar ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari mana kau tahu ini kuburan raja?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Untuk membangun proyek sebesar ini, bukan saja memerlukan tenaga dan keuangan yang besar, jiwa manusia pasti juga tidak sedikit dikorbankan di sini, coba lihat saka dan pilar ini, demikian pula lampu minyak itu, setiap karya di sini adalah hasil seni yang luar biasa, kecuali keluarga raja, siapa pula yang mampu mengerahkan tenaga manusia dan mengeluarkan biaya sebesar ini&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau keliru,&#8221; tiba-tiba Kim Bu-bong menukas.</p>
<p>Sim Long melengak, &#8220;Masa bukan kuburan raja?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan kuburan raja tapi kuburan Bu-lim-ci-cun&#8230;&#8221; sejenak dia merandek, lalu menyambung dengan lebih kereng, &#8220;Apakah kau pernah dengar nama kebesaran Kiu-ciu-ong Sim Thian-kun?&#8221;</p>
<p>&#8220;Per&#8230;pernah dengar,&#8221; Sim Long tergegap.</p>
<p>&#8220;Kaum persilatan hanya tahu keluarga Sim adalah keluarga besar paling tua dalam sejarah dunia persilatan. Anak murid keluarga Sim selama dua ratusan tahun pernah mengalami tujuh kali petaka besar, tapi tujuh kali pula dapat menanggulangi bencana yang menimpanya, cerita ini cukup diketahui umum. Di luar tahu orang banyak bahwa di kalangan Kangouw juga terdapat sebuah keluarga turun-temurun, bukan saja wibawa, kekayaan dan kungfunya tidak lebih asor daripada keluarga Sim, malah sejarah keluarga besar ini dimulai dari dinasti Han atau Tong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksudmu apakah keluarga besar Ko dari Tionggoan?&#8221; tanya Sim Long.</p>
<p>&#8220;Betul, kuburan raksasa ini memang betul dibangun oleh keturunan terakhir keluarga besar Ko untuk tempat semayam jenazahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Keturunan terakhir?&#8230;Apakah Ko San-ceng?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang dia, orang ini berbakat besar, kungfunya menggetar dunia, pada waktu keluarga Ko berada di zamannya, kebesaran nama keluarga mereka menjulang tinggi, tak nyana pada masa tuanya, entah kenapa sifatnya berubah suka menyendiri dan nyentrik, percaya kepada takhayul, menyembah setan dan jin, hingga lupa makan dan tidur, seluruh harta bendanya dipergunakan untuk membangun kuburan ini, malah anak keturunannya pun tiada yang tahu akan letak kuburan misterius ini.&#8221;</p>
<p>Jit-jit menimbrung, &#8220;Kenapa begitu? Memangnya dia tidak ingin keturunannya menyembah dan berbakti kepadanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Soalnya dia terlalu takhayul, dia percaya manusia mati jika harta benda juga dibawa ke liang kubur, kelak bila menitis kembali dia tetap akan dapat memanfaatkan harta peninggalannya itu, maka dia tidak ingin keturunannya tahu tempat penyimpanan hartanya, dia khawatir anak cucunya mencuri harta yang dibawanya ke liang kubur ini.&#8221;</p>
<p>Jit-jit tertarik, tanyanya pula, &#8220;Tapi orang yang menguburnya tentu juga tahu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebelum dia mati, seluruh harta kekayaan dan pelajaran ilmu silat warisan keluarganya telah dipindah ke dalam kuburan ini, lalu dia tutup kuburan dari dalam, di sini dia menunggu ajalnya sendiri&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Gila,&#8221; seru Jit-jit, &#8220;orang itu benar-benar orang gila.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menghela napas, katanya, &#8220;Benar, keluarga besar yang turun-temurun selama ratusan tahun tetap jaya tiada bandingan, akhirnya habis di tangan si gila ini, untuk mencari kuburan besar ini, keturunan keluarga Ko entah keluarkan berapa besar tenaga dan pikiran, ilmu silat warisan keluarga mereka pun diabaikan, di antara dua generasi mereka ada sebelas orang menjadi gila, waktu cucu Ko San-ceng masih hidup, keluarga besar Ko sudah merosot pamornya, tempat tinggal terakhir milik mereka pun sudah dijual untuk membayar utang, keluarga besar yang semula jaya dan kaya telah ludes benar, tidak sedikit keturunannya yang menjadi pengemis, kebesaran nama keluarga mereka sebagai kaum persilatan ternama juga putus turunan.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini cerita Kim Bu-bong, waktu Cu Jit-jit angkat kepala, cahaya terang di mulut kuburan sudah kelihatan, dia menarik napas panjang, hatinya tidak merasa lega, tapi malah merasa kesal.</p>
<p>&#8220;Keturunan keluarga Ko sendiri harus disalahkan, mereka tidak berusaha membangun kembali kejayaan keluarga, malah rela menjalani kemiskinan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau aku jadi keturunannya, bila tahu kakek moyang menyimpan harta kekayaan sebesar itu, tentu apa pun aku tidak mau bekerja, ini sudah menjadi sifat manusia, mana boleh kau salahkan mereka,&#8221; demikian debat Jit-jit.</p>
<p>Sim Long menghela napas sambil menggeleng kepala, dua langkah berjalan mendadak dia berhenti, katanya, &#8220;Selama seratus tahun ini, kan tiada orang masuk kuburan ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Waktu kusuruh orang membuka kuburan ini, secara cermat telah kuselidiki, kuyakin kuburan ini tidak pernah diinjak manusia. Peti jenazah Ko San-ceng tidak tertutup rapat, ini membuktikan sebelum sempat dia tutup rapat peti mati sendiri, napas sudah putus lebih dulu. Jenazah Ko San-ceng tinggal tulang belulangnya saja, di pinggir peti kutemukan sebuah cangkir batu kemala yang pecah karena jatuh waktu jiwanya melayang. Lebih penting lagi alat rahasia di sini tiada tanda-tanda pernah digerakkan&#8230;Dari berbagai bukti ini berani kupastikan bahwa selama ratusan tahun kuburan ini belum pernah dijelajahi manusia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, lalu di mana harta kekayaan dan Bu-kang-pit-kip (kitab ilmu silat) itu? Pasti masih tersimpan dalam kuburan ini, cuma Kim-heng belum menemukannya,&#8221; demikian kata Sim Long dengan berkerut kening.</p>
<p>Kim Bu-bong tertawa dingin, katanya, &#8220;Untuk ini tidak perlu khawatir, kalau benar dalam kuburan ini menyimpan harta karun, aku pasti dapat menemukan, jika sekarang aku tak menemukan apa-apa, ini membuktikan kuburan ini memang kosong melompong.&#8221;</p>
<p>Lama Sim Long termenung, katanya kemudian, &#8220;Kalau orang lain bilang demikian tentu aku tidak percaya. Tapi apa yang Kim-heng katakan kuyakin tidak salah, cuma, lantas di mana harta karun itu? Mungkin tidak dibawa masuk kuburan? Atau harta kekayaannya habis untuk membangun kuburan ini?&#8221;</p>
<p>Mendadak dia menghela napas, lalu berkata pula, &#8220;Ai, harta benda orang lain buat apa aku memikirkannya?&#8221;</p>
<p>Mengikuti langkah Kim Bu-bong, dia melompat keluar kuburan kuno itu.</p>
<p>Hujan salju sudah berhenti, mentari memancarkan cahayanya yang benderang.</p>
<p>Jit-jit tertawa senang, katanya, &#8220;Sifatmu inilah yang menarik hatiku, persoalan apa pun dapat kau angkat dan rela meletakkan pula, urusan yang mungkin dipikir orang hingga belasan tahun, tapi dalam sekejap dapat kau lepaskan begitu saja&#8230;&#8221; sampai di sini suaranya berubah khawatir, &#8220;Tapi jangan kau lupakan Lo-pat, adikku. Lekas, lekas buka Hiat-to Hoa Lui-sian, tanya padanya, di mana dia menyembunyikan Lo-pat?&#8221;</p>
<p>Setelah Hiat-to terbuka, keadaan Hoa Lui-sian masih lemah, berdiri pun tidak tegak. Jit-jit lantas membentak, &#8220;Di mana Lo-pat, lekas katakan!&#8221;</p>
<p>Hujan salju meski sudah berhenti, namun hawa tetap amat dingin, walau kedinginan, tapi Jit-jit tidak pikir lagi, dia khawatirkan keselamatan Hwe-hay-ji, si anak merah.</p>
<p>Dia sangat gelisah, Hoa Lui-sian justru malas-malasan, katanya dingin, &#8220;Kepalaku pening, mana bisa ingat di mana kusembunyikan dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau&#8230;kau&#8230;biar kubunuh kau,&#8221; desis Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Apa gunanya kau bunuh aku? Nanti bila pengaruh obat bius hilang, otakku jadi terang, kalau tidak&#8230;&#8221;</p>
<p>Sim Long menukas, &#8220;Katakan di mana kau sembunyikan Lo-pat, sebelum pengaruh obat bius hilang, aku bertanggung jawab atas keselamatanmu.&#8221;</p>
<p>Dia tahu Hoa Lui-sian licik dan banyak perhitungan, tentu dia khawatir setelah menyerahkan Hwe-hay-ji, umpama Jit-jit tidak mencelakainya, pada saat tenaga belum pulih, bisa celaka juga bila kebentur musuh. Sebaliknya bila Hwe-hay-ji masih berada di tangannya, betapa pun Cu Jit-jit dan Sim Long pasti akan melindungi dia.</p>
<p>Rupanya ucapan Sim Long telah membongkar isi hatinya, mau tak mau berubah juga air mukanya, bola matanya berputar, sesaat dia berpikir, akhirnya berkata, &#8220;Bagaimana pula bila Lwekangku pulih?&#8221;</p>
<p>Jit-jit berkata, &#8220;Setelah Lwekangmu pulih, aku menuju ke arahku dan kau boleh pergi sesukamu, buat apa aku menahanmu?&#8221;</p>
<p>Hoa Lui-sian berpikir pula sejenak, katanya kemudian, &#8220;Baiklah, mari ikut padaku!&#8221;</p>
<p>Setelah setengah hari, pengaruh obat bius mulai lemah, walau sekarang dia belum bebas bergerak, tapi untuk berjalan sendiri sudah mampu. Demikian pula Cu Jit-jit, sebetulnya sudah bisa jalan, tapi dia justru masih ngendon di punggung Sim Long dan tidak mau turun, tangannya malah memeluk leher orang dengan lebih kencang.</p>
<p>Kim Bu-bong ikut di belakang mereka, air mukanya kaku, tampaknya tidak berniat lari, A To juga mengintil di belakangnya, berulang ia menggerundel, &#8220;Kalau aku tentu sudah tinggal pergi, untuk apa ikut orang? Memangnya menunggu digorok lehernya?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong diam saja, anggap tidak mendengar ocehannya.</p>
<p>Hoa Lui-sian menyusuri lereng gunung menuju ke bawah tebing yang tingginya puluhan tombak, setiba di depan sebuah batu besar persegi baru berhenti, katanya, &#8220;Pindahkan batu ini, di bawahnya ada lubang, adik mestikamu itu berada di dalam&#8230;Hm, lucunya, aku membungkus tubuhnya dengan mantel kulit itu, sekarang aku sendiri kedinginan, bukankah penasaran?&#8221;</p>
<p>Melihat lubang di bawah batu masih utuh dan rapat, lega hati Cu Jit-jit, jengeknya, &#8220;Hm, penasaran apa? Jangan lupa siapa yang memberi mantel itu&#8230;Sim Long, ayo geser batu itu.&#8221;</p>
<p>Sim Long menoleh ke arah Kim Bu-bong dengan tertawa, sebelum dia bicara, Kim Bu-bong sudah menghampirinya, sekenanya tangannya menepuk batu besar itu, kelihatannya dia tidak mengeluarkan tenaga, tapi batu seberat tiga ratusan kati itu tertolak dan menggelinding ke samping.</p>
<p>Sim Long berseru memuji, &#8220;Pukulan hebat&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum lenyap suaranya mendadak Jit-jit menjerit, Hoa Lui-sian terbeliak kaget, berubah air mukanya. Lubang itu ternyata kosong, Hwe-hay-ji entah hilang ke mana?</p>
<p>&#8220;Nenek setan, nenek bejat, kau&#8230;kau berani menipuku!&#8221; damprat Jit-jit.</p>
<p>Hoa Lui-sian juga kebingungan, katanya, &#8220;Aku&#8230;jelas kusembunyikan dia&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Sembunyikan apa?&#8221; damprat Cu Jit-jit, &#8220;buktinya adikku tidak terdapat di sini&#8230;Di mana kau sembunyikan Lo-pat? Lekas&#8230;lekas cari! Lekas kembalikan dia!&#8221;</p>
<p>Hoa Lui-sian jadi gugup, katanya, &#8220;Buat apa kudusta, memangnya aku tidak ingin hidup&#8230;mungkin dia membuka Hiat-to sendiri dan&#8230;dan mendorong batu besar ini terus melarikan diri.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menjengek, &#8220;Kalau dia mampu lari sendiri, buat apa menutup pula batu ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, apalagi usianya sekecil itu, mana mampu membebaskan Hiat-to sendiri, Sim Long, bunuh dia, lekas bunuh nenek setan ini!&#8221;</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Sekarang biar dibunuh juga percuma. Menurut hematku, Hoa Lui-sian tidak berbohong, adikmu mungkin&#8230;mungkin jatuh ke tangan orang lain.&#8221;</p>
<p>Hoa Lui-sian menghela napas lega, katanya, &#8220;Sim-siangkong memang adil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu bagaimana&#8230;lekas cari akal!&#8221; seru Jit-jit gelisah.</p>
<p>&#8220;Tergesa-gesa juga tidak berguna, carilah akal perlahan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Cari akal masa harus perlahan? Jiwa Lo-pat mungkin tidak tertolong lagi&#8230;Kau tega&#8230;tega berkata demikian&#8230;&#8221; akhirnya pecah tangis Jit-jit.</p>
<p>Kim Bu-bong berkerut kening, katanya, &#8220;Biarkan dia tidur saja!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, itulah cara terbaik,&#8221; ujar Sim Long.</p>
<p>Kim Bu-bong segera mengebaskan lengan bajunya menutuk Hiat-to penidur Cu Jit-jit, tangis Cu Jit-jit akhirnya berhenti, kelopak mata pun terpejam, sekejap saja sudah pulas dalam gendongan. Air matanya yang tersisa menetes di pundak Sim Long dan beku menjadi butiran es.</p>
<p>Kim Bu-bong mengawasi Hoa Lui-sian, katanya perlahan, &#8220;Cara bagaimana Sim-heng akan bereskan dia?&#8221;</p>
<p>Melihat sorot mata orang yang tajam dingin tanpa terasa Hoa Lui-sian menggigil, di bawah cahaya matahari baru dia melihat jelas tampang Kim Bu-bong ternyata aneh, ganjil dan menakutkan.</p>
<p>Jika kuping, hidung, mata dan mulutnya dipandang satu per satu, kelihatannya memang tiada beda dengan indra orang lain. Tapi kenyataan kedua daun kupingnya besar-kecil, demikian pula biji matanya satu besar mendelik dan yang lain kecil sipit, hidungnya menonjol besar seperti terung, bibirnya justru tipis seperti pisau, letak kedua mata pun kalau diukur ada sebesar telapak tangan jauhnya, bola mata kiri bundar mendelik seperti kelintingan, sementara mata kanan sipit segitiga. Mungkin tatkala Thian mencipta umatnya yang satu ini, karena kurang hati-hati hingga pancaindra lima-enam orang yang berbeda keliru diterapkan padanya, perempuan siapa saja atau anak kecil bila melihat wajahnya di tengah malam gelap pasti akan menjerit ketakutan seperti melihat setan.</p>
<p>Makin tidak ingin melihat wajah orang, Hoa Lui-sian jadi makin tertarik untuk memandangnya, makin mengirik, semula dia siap melontarkan caci makinya kepada Kim Bu-bong yang mencampuri urusan orang lain, tapi entah kenapa tiba-tiba terasa kelu, sepatah kata pun tak mampu diucapkan.</p>
<p>A To juga menatap majikan atau gurunya ini dengan terbelalak kaget, seperti heran kenapa Kim-loya (juragan Kim) yang biasanya tinggi hati, tidak pernah tunduk kepada orang lain sekarang sedemikian penurut pada Sim Long.</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Kalau Kim-heng menjadi diriku entah cara bagaimana akan kau bereskan dia?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bunuh saja habis perkara daripada menjadi beban, atau tinggalkan saja di sini,&#8221; sahut Kim Bu-bong.</p>
<p>Keruan Hoa Lui-sian ketakutan, teriaknya, &#8220;Dar&#8230;daripada aku ditinggalkan di sini, lebih baik kau bunuh aku saja?&#8221;</p>
<p>Maklum, sekarang tubuhnya lemas lunglai, berbaju tipis, umpama tiada ditemukan musuh, ia pun tak kuat menahan hawa dingin dan bakal mati kedinginan tertimbun salju.</p>
<p>Kim Bu-bong menjengek, &#8220;Huh, Ciang-tiong-thian-mo ternyata juga takut mati&#8230;sambutlah!&#8221;</p>
<p>Dia lepaskan ikat pinggang, seperti cambuk saja dia lempar ke sana, cepat Hoa Lui-sian menyambutnya, tapi tidak tahu apa maksud orang.</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Kim-heng sudah mengampuni jiwamu, lekas ikat tali pinggang itu di tanganmu, tentu Kim-heng akan membantumu.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong berkata, &#8220;Kalau Sim-heng tidak bermaksud membunuhnya, terpaksa aku membawanya saja.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Siapa nyana Kim-heng dapat menyelami perasaanku, sungguh seorang sahabat baik.&#8221;</p>
<p>Apa boleh buat terpaksa Hoa Lui-sian mengikat tali pinggang itu pada tangannya, selama hidupnya tak terhitung jiwa manusia direnggut atau dilukainya, dia anggap selama ini dirinya tak takut mati, sekarang menghadapi saat mati hidup baru dia sadar &#8220;tidak takut mati&#8221; hanya omong kosong belaka.</p>
<p>Kim Bu-bong berkata pula, &#8220;Sejak dahulu manusia mana yang tidak mati, kalau Hoa Lui-sian takut mati, memangnya aku tidak takut? Sim-heng telah membebaskan jiwaku, mana boleh kulupakan budimu, ke mana Sim-heng hendak pergi akan kuturut untuk mengabdi.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Kalau aku tidak percaya Kim-heng adalah seorang lelaki yang tegas membedakan budi dan dendam, mana aku bersikap sebebas ini terhadap Kim-heng?&#8230;Marilah kita tinggalkan dulu tempat ini.&#8221;</p>
<p>Segera ia berjalan cepat, Kim Bu-bong menarik Hoa Lui-sian ikut di belakang.</p>
<p>Alam sekitarnya sunyi, tapi tanah bersalju penuh tapak kaki yang semrawut, jelas Pui Jian-li, Can Ing-siong dan lain-lain pergi dalam keadaan runyam.</p>
<p>Selepas mata memandang Sim Long mendapatkan perbedaan tapak kaki yang mencolok antara yang datang dan pergi, waktu datang tapak kaki tampak ringan dan bekasnya cetek, jarak kaki yang satu dengan yang lain kira-kira ada lima-enam kaki, tapi tapak kaki waktu pergi ternyata ambles lebih dalam, jarak satu dengan yang lain juga lebih pendek, ini menandakan tapak kaki Pui Jian-li dan lain-lain waktu pulangnya sudah terluka sehingga langkah kakinya tampak berat.</p>
<p>Sedikit merenung, Sim Long tertawa sambil menoleh, katanya, &#8220;Hebat benar tindakanmu, Kim-heng.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong melengak, katanya, &#8220;Apakah maksud perkataan Sim-heng?&#8221;</p>
<p>&#8220;Semula kukhawatir Pui Jian-li akan putar balik mencari perkara kepada nona Cu, kini setelah mereka terluka oleh Kim-heng, maka legalah hatiku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe tidak pernah turun tangan, apalagi melukai mereka?&#8221; jawab Kim Bu-bong.</p>
<p>Sim Long terperanjat, pikirnya, &#8220;Kalau dia bilang tidak, kupercaya bukan dia yang melukai Pui Jian-li dan lain-lain, lalu siapa yang melukai mereka? Kim Put-hoan jelas tidak mampu melukai orang sebanyak itu?&#8221; - merasa aneh, tanpa terasa dia mengendurkan langkah.</p>
<p>Selama itu mereka sudah menempuh perjalanan cukup jauh. Mendadak tampak sesosok bayangan meluncur datang. Semula hanya kelihatan setitik kecil dan samar-samar, tapi cepat sekali bayangan itu sudah tiba di depan mata, ternyata putri Loan-si-sin-liong, atau istri Thi Hoat-ho, nyonya cantik yang mukanya ada bekas luka, dia menggendong putrinya, Ting-ting, wajahnya kelihatan gelisah dan bingung, melihat Sim Long seperti melihat sanak kadang, segera ia berhenti dan tanya dengan napas memburu, &#8220;Siangkong, apa kau lihat suamiku?&#8221;</p>
<p>Berubah air muka Sim Long, katanya, &#8220;Apakah Thi-heng belum pulang?&#8221;</p>
<p>Nyonya itu tampak lebih gelisah, sahutnya, &#8220;Sampai sekarang belum ada kabar beritanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pui Jian-li, Seng Ing dan It-siau-hud&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukankah mereka ikut Siangkong menyelidiki rahasia kuburan kuno.&#8221;</p>
<p>Terkejut Sim Long, &#8220;Jadi orang-orang ini juga belum pulang.&#8221;</p>
<p>Dia tahu betapa besar kasih sayang Thi Hoat-ho terhadap istri dan putrinya, bila sudah bebas keluar kuburan, pasti selekasnya dia pulang berkumpul dengan anak bininya, kalau sekarang belum pulang pasti terjadi perubahan, apa lagi jejak Pui Jian-li dan lain-lain juga belum jelas, kalau tidak pulang ke kota, lalu ke mana?</p>
<p>Melihat sikap bimbang Sim Long, nyonya cantik itu makin gugup, tanpa sadar dia tarik lengan baju Sim Long, tanyanya dengan suara gemetar, &#8220;Hoat-ho&#8230;apakah dia&#8230;&#8221;</p>
<p>Sim Long berkata lembut, &#8220;Hujin jangan khawatir, soal ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekilas ia memandang ke sana, seketika juga ia berhenti berucap.</p>
<p>Mendadak diketahuinya bekas telapak kaki kiri hanya tersisa yang menuju ke kuburan kuno saja, sedangkan tapak kaki yang meninggalkan kuburan itu ternyata telah putus sampai di sini.</p>
<p>Diam-diam Sim Long mengeluh. Tak sempat ia memberi penjelasan kepada si nyonya segera dia putar balik ke sana. Wajah Kim Bu-bong tampak prihatin, sementara air mata tampak berlinang di pelupuk mata si nyonya, Ting-ting, putrinya menyikap kencang lehernya dan menangis.</p>
<p>Mereka ikut lagi di belakang Sim Long, kira-kira sepemanah jaraknya, mendadak Sim Long berseru, &#8220;Nah, di sini.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong memandang ke sana, tapak kaki orang banyak yang menuju ke kota ternyata putus sampai di sini, belasan orang tua-muda itu mendadak lenyap setelah sampai di sini.</p>
<p>Gemetar suara nyonya cantik, &#8220;Ini&#8230;apa yang terjadi?&#8221;</p>
<p>Berat suara Sim Long, &#8220;Thi-heng, Pui Jian-li, It-siau-hud dan lain-lain telah lolos dari bahaya di dalam kuburan, rombongan mereka buru-buru ingin pulang ke kota, tapi sampai di sini&#8230;sampai di sini&#8230;&#8221;</p>
<p>Mana mungkin setiba di sini rombongan orang itu mendadak lenyap? Sebetulnya terjadi apa yang menakutkan? Sim Long sendiri bingung dan tidak mengerti, dia hanya geleng kepala sambil menghela napas.</p>
<p>Betapa pun nyonya cantik ini bukan nyonya rumah umumnya, walau dalam keadaan gugup dan khawatir, dia masih cukup tabah menghadapi kenyataan, ia pun perhatikan bekas kaki di permukaan salju, tiada yang putar balik atau membelok, lenyap seperti mendadak terbang ke langit.</p>
<p>Meski hatinya cukup tabah, tapi semakin dipandang semakin aneh dan makin mencemaskan, tanpa terasa kaki dan tangan menjadi gemetar, saking bingung sepatah kata pun tak terucapkan lagi dari mulutnya.</p>
<p>Sekilas Sim Long adu pandang dengan Kim Bu-bong, kedua orang ini biasanya cukup tajam penglihatan dan otaknya dalam menghadapi sesuatu peristiwa, namun meski sekarang sudah memeras otak tetap tidak mengerti apa sebetulnya terjadi.</p>
<p>Kalau mereka takhayul pasti mengira orang sebanyak itu telah ditelan setan, bila kedua orang ini bodoh dan kurang pengalaman, paling-paling mereka akan menarik kesimpulan, pasti ada sesuatu yang aneh, cuma seketika tidak bisa merabanya.</p>
<p>Tapi kedua orang ini justru berotak dingin, tabah, dan cermat, dalam sekejap ini mereka sudah memikirkan berbagai kemungkinan, namun tiada satu pun dari kemungkinan yang terpikir oleh mereka sesuai untuk memberi jawaban secara meyakinkan. Bahwa mereka tidak percaya takhayul, mereka yakin kalau peristiwa ini tak dapat dipercaya mereka, orang lain jelas lebih tak bisa memecahkan persoalan ini, maka semakin dipikir terasa peristiwa ini amat ganjil dan misterius.</p>
<p>Tak tertahan lagi si nyonya cantik meneteskan air mata, katanya dengan menunduk, &#8220;Aku bingung setengah mati, bagaimana peristiwa ini harus diselidiki, seluruhnya kuserahkan kepada Siangkong.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Dalam persoalan ini pasti tersembunyi suatu muslihat yang mengejutkan, dalam waktu singkat ini belum dapat kutentukan langkah apa yang harus kita lakukan, semoga Hujin tidak terlalu bersedih, marilah kita&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak seorang bersuara serak berteriak, &#8220;Thi-toaso, jangan percaya obrolan orang ini, orang di sebelahnya itu adalah anak buah Koay-lok-ong yaitu biang keladi yang merencanakan jebakan dalam kuburan kuno itu, ia bersekongkol dengan orang she Sim. Thi-toako, Pui-tayhiap dan belasan tokoh Bu-lim yang lain sudah terbunuh oleh mereka, aku Kian-gi-yong-wi Kim Put-hoan berani dijadikan saksi.&#8221;</p>
<p>Suara serak itu memang diucapkan Kim Put-hoan, dia sembunyi di belakang pohon di pinggir jalan sana. Di sampingnya ada empat orang lagi, yaitu Put-pay-sin-kiam Li Tiang-ceng, Khi-tun-to-gu Lian Thian-hun dan kedua saudara Leng yang jarang bicara itu.</p>
<p>Ternyata Li Tiang-ceng juga mendengar keributan yang terjadi di kota Pok-yang, maka malam itu juga mereka menyusul kemari, kebetulan bersua dengan Kim Put-hoan yang lagi ingin cari perkara.</p>
<p>Kalau Li Tiang-ceng masih tetap tenang, tapi Lian Thian-hun menjadi gusar, bentaknya, &#8220;Pantas kami tidak tahu asal usul orang she Sim, kiranya dia antek Koay-lok-ong. Nah, Leng Toa dan Leng Sam, sekali ini jangan kalian lepaskan dia!&#8221;</p>
<p>Nyonya cantik itu merasa sangsi apakah tuduhan Kim Put-hoan dapat dipercaya, setelah mendengar salah satu majikan Jin-gi-ceng juga bilang demikian, ia tidak ragu lagi, sambil mengertak gigi sebelah tangannya mendadak menepuk ke dada Sim Long, gerakannya aneh, pukulannya keras, jauh lebih hebat dibandingkan Thi-sah-ciang yang pernah didemonstrasikan Hongbu Siong.</p>
<p>Walau menggendong satu orang, tapi sekali berkelebat, dengan mudah Sim Long dapat berkelit, dia tahu dalam keadaan seperti sekarang ini tak berguna memberi penjelasan.</p>
<p>Kim Put-hoan tambah senang, makinya, &#8220;Nah, bukankah keparat itu diam-diam sudah mengaku. Thi-toaso, seranganmu tak perlu kenal kasihan&#8230;Lian-locianpwe, kau pun lekas turun tangan!&#8221;</p>
<p>Lian Thian-hun berteriak murka, &#8220;Memangnya aku tukang main keroyok.&#8221;</p>
<p>Kim Put-hoan menjengek, &#8220;Menghadapi orang seperti dia, kenapa harus bicara aturan Bu-lim segala? Coba Lian-locianpwe lihat, siapa yang duduk di tanah bersalju sana itu?&#8221;</p>
<p>Begitu melihat Hoa Lui-sian, bola mata Lian Thian-hun seketika merah membara, sambil menggerung segera dia menubruk ke sana, mendadak dilihatnya seorang berjubah kelabu bertampang sadis mengadang di depannya. Lian Thian-hun membentak gusar, &#8220;Siapa kau, berani merintangiku?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong mengawasinya dengan dingin dan tidak bersuara.</p>
<p>Kontan Lian Thian-hun menggenjotnya. Kim Bu-bong sempat mematahkan jotosannya. Beruntun Lian Thian-hun memukul lima kali, kedua tangan Kim Bu-bong bekerja cepat memotong urat nadi tangan lawan, kakinya tidak bergeser sedikit pun, keruan Lian Thian-hun semakin murka, bentaknya, &#8220;Ada hubungan apa kau dengan Hoa Lui-sian?&#8221;</p>
<p>Dingin suara Kim Bu-bong, &#8220;Hoa Lui-sian bukan sanak kadangku, tapi Sim-siangkong sudah menyerahkan dia kepadaku, siapa pun dilarang melukainya.&#8221;</p>
<p>Hoa-Lui-sian yang duduk di sana tampak mengunjuk rasa haru dan terima kasih meski dirinya tadi diseret dan kesakitan setengah mati. Dilihatnya jenggot rambut Lian Thian-hun seakan-akan menegak, dalam sekejap dia telah menyerang sembilan kali pula.</p>
<p>Khi-tun-to-gu Lian Thian-hun meski kungfunya tinggal separuh sejak peristiwa Heng-san dulu, tapi pukulannya tetap dahsyat.</p>
<p>Namun Kim Bu-bong tetap berdiri sekukuh gunung tanpa bergeser selangkah pun.</p>
<p>Li Tiang-ceng menonton dengan heran, kaget dan kagum atas kungfu Kim Bu-bong yang hebat, namun ia pun kagum dan takjub menyaksikan kegesitan Sim Long, betapa tinggi Ginkangnya, meski menggendong satu orang, ternyata gerak-geriknya masih begitu enteng, kakinya tidak meninggalkan bekas sedikit pun di tanah bersalju, serangan si nyonya cantik cukup gencar, tapi tak dapat menyentuh ujung bajunya sekali pun.</p>
<p>Kim Put-hoan tampak sangat senang, semakin seru orang berkelahi semakin gembira hatinya, tak tahan dia mengoceh lagi, &#8220;Leng Toa, Leng Sam, sudah saatnya kalian pun turun tangan, apakah&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis bicara, angin keras mendadak menerjang mukanya, ternyata tangan Leng Sam yang dipasangi kaitan besi mengilap itu sudah menyambar tiba.</p>
<p>Saking kagetnya Kim Put-hoan melompat ke belakang, teriaknya gusar, &#8220;Apa yang kau lakukan?&#8221;</p>
<p>Leng Sam menjengek, &#8220;Tampangmu setimpal memerintah diriku?&#8221;</p>
<p>Hanya bicara empat patah kata, rasanya sudah terlalu banyak, lalu dia berludah ke tanah.</p>
<p>Gusar Kim Put-hoan, ia mendelik, tapi apa boleh buat.</p>
<p>Sementara itu kedua orang yang bertempur di tanah bersalju sudah berlangsung belasan jurus. Sim Long dan Kim Bu-bong tetap mengelakkan serangan lawan. Walau dibebani satu orang, nyonya itu juga membawa putrinya, maka gerak-geriknya juga terhalang.</p>
<p>Sebaliknya Kim Bu-bong yang harus melayani Lian Thian-hun kelihatan kerepotan, karena hanya bertahan dan tidak balas menyerang, keadaannya cukup gawat, sebentar lagi mungkin dia bakal dikalahkan.</p>
<p>Li Tiang-ceng berpengetahuan luas, dengan prihatin ia bergumam, &#8220;Nyonya ini pasti putri tunggal Say-gwa-sin-liong, Liu Poan-hong, kungfunya ternyata tidak lebih rendah dibandingkan Hoa-san-giok-li. Suaminya Thi Hoat-ho pasti juga memiliki kungfu yang lebih tinggi, dari sini dapat disimpulkan dalam dunia Kangouw masih banyak lagi Enghiong yang tidak ternama&#8230;Jika suami-istri ini keturunan tokoh kosen ternama, lalu siapa pula pemuda ini? Sungguh sukar diraba.&#8221;</p>
<p>Maklum, sejauh ini Sim Long belum memainkan sejurus pukulan pun, orang lain sudah tentu sukar meraba asal usul ilmu silatnya.</p>
<p>Li Tiang-ceng memerhatikan pula Kim Bu-bong, kerut alisnya tambah rapat.</p>
<p>Mendadak dilihatnya Liu Poan-hong, yaitu si nyonya cantik mundur beberapa langkah dengan mandi keringat, napas pun tersengal-sengal, bertempur sekian lama dia tetap tidak mampu menyentuh ujung baju Sim Long, dia menuding sambil membentak, &#8220;Kau&#8230;kenapa kau tidak balas menyerang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe tidak bermusuhan dengan Hujin, kenapa harus balas menyerang?&#8221; ujar Sim Long.</p>
<p>&#8220;Omong kosong, kalau bukan kau lalu ke mana orang-orang itu, bila tidak kau jelaskan&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe sendiri juga heran dan tidak mengerti menghadapi persoalan ini, bagaimana aku bisa memberi penjelasan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik,&#8221; seru Liu Poan-hong sambil mengentak kaki. &#8220;Kau&#8230;kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak dia turunkan putrinya, Ting-ting, yang ketakutan hingga tak berani menangis lagi, tapi begitu kaki menyentuh tanah seketika dia menangis pula. Liu Poan-hong berdiri bingung mengawasi putrinya, lalu mendelik kepada Sim Long, matanya berkaca-kaca, mendadak dia memeluk putrinya dan menangis tersedu sedan.</p>
<p>Sim Long menghela napas, ujarnya, &#8220;Duduk perkara sebetulnya belum diketahui, siapa salah dan siapa yang menjadi biang keladi sukar ditentukan, kalau Hujin sudi memberi tempo setengah bulan aku pasti dapat menemukan jejak Thi-tayhiap.&#8221;</p>
<p>Liu Poan-hong mendadak mendongak dan menatapnya lekat-lekat.</p>
<p>Kim Put-hoan mau bicara lagi, tapi sorot mata dingin Leng Toa dan Leng Sam telah menghentikan kata-katanya yang hampir terlontar dari mulutnya.</p>
<p>Pandangan Liu Poan-hong makin sayu, mendadak ia berkata, &#8220;Baik, aku menunggu beritamu di Pok-yang.&#8221;</p>
<p>Sim Long berpaling ke arah Li Tiang-ceng, katanya, &#8220;Bagaimana pendapat Cianpwe?&#8221;</p>
<p>Li Tiang-ceng masih bimbang, katanya dengan tersenyum, &#8220;Kurasa Leng bersaudara bersimpati kepadamu, tentu mereka juga tidak ingin melabrakmu, cuma Samteku ini&#8230;Ai, kecuali kau mau menyerahkan Hoa Lui-sian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Cayhe berani tanggung dia pasti tiada sangkut paut dengan pembunuhan segenap keluarga Kim Tin-ih,&#8221; kata Sim Long.</p>
<p>Walau sedang bertempur, tapi kuping Lian Thian-hun tidak menganggur, serunya gusar, &#8220;Kentut, kulihat dengan mata kepalaku sendiri&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah Cianpwe tahu, sekarang bermunculan berbagai kungfu yang sudah lama putus turunan di dunia Kangouw? Apakah Cianpwe tahu bahwa kematian An-yang-ngo-gi dikarenakan pukulan Jik-sat-jiu? Padahal Thi Hoat-ho tidak pernah turun tangan, boleh kuserahkan Hoa Lui-sian kepada kalian, tapi sebelum duduk persoalannya diselidiki dengan terang, Cianpwe harus bertanggung jawab akan keselamatannya.&#8221;</p>
<p>Li Tiang-ceng berpikir sambil mengelus jenggot, katanya kemudian, &#8220;Baik, kuberi waktu setengah bulan, setelah setengah bulan, datanglah ke Jin-gi-ceng, Thi-hujin juga boleh menunggu di perkampungan kami.&#8221;</p>
<p>Liu Poan-hong mengusap air mata sambil mengangguk.</p>
<p>Li Tiang-ceng lantas membentak, &#8220;Samte, lekas berhenti!&#8221;</p>
<p>Beruntun Lian Thian-hun menjotos pula tiga kali baru melompat mundur, sorot matanya menatap Kim Bu-bong dengan gemas.</p>
<p>Kim Bu-bong menengadah mengawasi langit tanpa menggubrisnya lagi.</p>
<p>Segera Kim Put-hoan berseru, &#8220;Sim Long boleh pergi, tapi keparat ini anak buah Koay-lok-ong, betapa pun tidak boleh dilepaskan pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau mampu menahan dia?&#8221; tanya Sim Long.</p>
<p>Kim Put-hoan melengak, katanya, &#8220;Aku&#8230;aku&#8230;&#8221;</p>
<p>Lalu berkata pula Sim Long, &#8220;Apakah betul dia anak buah Koay-lok-ong atau bukan, kalau kalian sudah membebaskan dia, maka siapa pun tidak boleh mencari perkara lagi padanya, tanpa bantuannya terus terang aku pun sukar menyelidiki persoalan ini.&#8221;</p>
<p>Li Tiang-ceng menghela napas, katanya, &#8220;Kalau saudara ini mau pergi, memang tiada orang yang dapat merintanginya&#8230;&#8221; mendadak dia mengebas lengan baju, katanya pula dengan tegas, &#8220;Keputusan sudah diambil, siapa pun tak boleh banyak bicara lagi, harap Thi-hujin suka bantu memapah Hoa-hujin pulang bersama kita.&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum dan menjura kepada kedua Leng bersaudara. Wajah Leng Toa dan Leng Sam yang kaku sekilas seperti tersembul senyuman tipis, tapi waktu sorot mata mereka beralih ke arah Kim Put-hoan, senyum mereka seketika sirna.</p>
<p>Kim Put-hoan berdehem dan menyingkir cukup jauh dan tidak berani lagi beradu pandang dengan orang lain.</p>
<p>Sekilas Li Tiang-ceng melirik ke arahnya, lalu menggeleng kepala dan menghela napas.</p>
<p>Setelah rombongan orang banyak pergi baru A To mengacungkan ibu jari dan memuji dengan tertawa, &#8220;Sim-siangkong memang seorang kawan sejati, meski dalam keadaan bahaya tetap tidak melupakan keselamatan Suhuku, pantas Suhu rela menjual jiwanya kepada Sim-siangkong.&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Anak baik, ingat, hanya dalam kesulitan baru kelihatan sahabat sejati.&#8221;</p>
<p>A To berkata, &#8220;Tapi tetap tidak kumengerti kenapa Siangkong melepas&#8230;melepaskan orang she Kim itu?&#8221;</p>
<p>Sim Long menghela napas katanya, &#8220;Umpama aku bertindak kepadanya, Li-jihiap tentu melindunginya.&#8221;</p>
<p>A To manggut-manggut.</p>
<p>Mendadak Sim Long berkata pula, &#8220;Ada satu hal ingin kutanyakan kepada Kim-heng, entah&#8230;&#8221;</p>
<p>Sebelum lanjut ucapan orang segera Kim Bu-bong berkata, &#8220;Di antara empat duta Koay-lok-ong hanya diriku yang diutus lebih dulu ke Tionggoan, tapi tidak pernah kugunakan nama Hoa Lui-sian untuk mencelakai orang, siapa yang membunuh Kim Tin-ih, terus terang aku tidak tahu.&#8221;</p>
<p>Bahwa dia dapat meraba pertanyaan apa yang akan diajukan, Sim Long tidak merasa heran, tapi apa yang dikatakan itu benar-benar membuatnya terkejut, sesaat dia melenggong, gumamnya, &#8220;Kalau begitu, lalu siapa yang membunuh keluarga Kim Tin-ih? Kecuali anak buah Koay-lok-ong, adakah aliran lain dalam dunia Kangouw yang juga meyakinkan kungfu andalan perguruan orang lain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kurasa demikian,&#8221; ujar Kim Bu-bong, &#8220;dan lagi&#8230;Jik-sat-jiu adalah kungfu andalan Say-gwa-sin-liong yang tidak diajarkan kepada pihak luar, kecuali seorang murid Koay-lok-ong tiada lain yang pernah meyakinkannya, padahal orang ini sekarang jauh berada di luar perbatasan sana, bila An-yang-ngo-gi mati karena Jik-sat-jiu, sungguh aku pun tidak habis mengerti.&#8221;</p>
<p>Sim Long kaget, katanya, &#8220;Kuyakin biasanya dugaanku jarang meleset, siapa nyana hari ini segala rekaanku tiada satu pun yang tepat, tapi&#8230;tapi An-yang-ngo-gi jelas keluar dari kuburan kuno itu dalam keadaan terluka, jika bukan Kim-heng yang turun tangan, apakah dalam kuburan itu ada orang lain? Lalu siapa dia? Dari mana pula dia bisa mempelajari kungfu andalan orang lain?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menghela napas, katanya, &#8220;Keadaan semakin ruwet, agaknya geger dunia persilatan sudah di depan mata&#8230;&#8221;</p>
<p>Guram air muka Sim Long, katanya dengan prihatin, &#8220;Hwe-hay-ji tidak jelas parannya, Thi Hoat-ho dan belasan jago lain lenyap secara misterius? Pembunuh keluarga Kim Tin-ih sukar ditemukan, kecuali anak murid Koay-lok-ong ternyata masih ada orang lain dalam dunia Kangouw yang mahir kungfu maut itu? Di balik persoalan ini pasti ada muslihat keji, peristiwa ini masih terselubung, tiada titik terang untuk bahan penyelidikan, tapi dalam jangka waktu setengah bulan harus kupecahkan persoalannya.&#8221;</p>
<p>Kalau orang lain menghadapi persoalan serumit ini mungkin akan putus asa dan menangis, tapi setelah menghela napas, alis Sim Long lantas terbuka lebar, katanya dengan tertawa, &#8220;Padahal waktu masih ada lima belas hari, tapi aku sekarang gelisah setengah mati, tentu bikin Kim-heng geli.&#8221;</p>
<p>Di tengah gelak tertawa dia lantas berjalan cepat beberapa langkah, melihat Kim Bu-bong masih berdiri terlongong, mendadak dia berhenti, katanya, &#8220;Kenapa Kim-heng&#8230;&#8221; belum habis dia bicara, mendadak suatu ilham terkilas dalam benaknya, cepat dia mundur pula beberapa langkah dan mengawasi Kim Bu-bong.</p>
<p>Mereka saling pandang, wajah mereka seketika mengunjuk rasa girang, tanpa bicara lagi langsung mereka melangkah ke kuburan kuno, A To kaget dan heran, tak tahan dia bertanya, &#8220;Apa yang hendak kalian lakukan?&#8221;</p>
<p>Sim Long berkata, &#8220;Jika orang itu tidak ambles ke dalam bumi atau terbang ke langit, tapi tapak kaki mereka justru terputus di tengah jalan, kecuali orang-orang itu menyurut mundur pula, jawaban apa lagi yang bisa kita dapatkan?&#8221;</p>
<p>A To memang cerdik, katanya, &#8220;Betul, bila mereka mundur kembali dengan menginjak tapak kakinya sendiri, orang lain dengan sendirinya tidak akan tahu&#8230;Pantas semua tapak kaki itu kelihatan berat dan ambles dalam serta agak kacau, ternyata setiap tapak kaki itu diinjak dua kali.&#8221;</p>
<p>Maklum, tapak kaki siapa pun bila diinjak dua kali pasti akan lebih dalam dan kacau keadaannya.</p>
<p>Kim Bu-bong berkata, &#8220;Sekarang masih ada satu hal yang belum kumengerti. Tujuan mereka berbuat demikian jelas untuk mengelabui orang lain, lalu siapa yang ingin mereka tipu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang hendak ditipu jelas kau dan aku, yang tidak kupahami adalah kenapa Thi Hoat-ho tidak mau menemui anak bininya, kecuali&#8230;&#8221;</p>
<p>Gemerdep sinar mata Kim Bu-bong, tukasnya, &#8220;Kecuali orang-orang itu sudah menjadi tawanan, dan di bawah pengaruhnya, demi menculik belasan tokoh itu, maka mereka dipaksa berbuat demikian untuk mengelabui mata orang sehingga sukar menemukan jejak mereka. Tapi&#8230;tapi orang sebanyak itu, bukan saja tunduk pada perintahnya dan pergi bersamanya dengan menyurut mundur ke sana, bukankah hal ini terlalu luar biasa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau orang lain tidak perlu dibuat heran, bahwa Thi Hoat-ho juga rela meninggalkan anak bininya, itulah yang luar biasa, kecuali&#8230;kecuali dia kehilangan kesadarannya atau terpengaruh oleh kekuatan gaib.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, pasti demikian,&#8221; seru Kim Bu-bong, &#8220;kalau tidak, biarpun orang itu memiliki kungfu setinggi langit dan mampu menguasai mati-hidup orang, tapi jago-jago Bu-lim yang gagah dan keras hati itu belum tentu mau tunduk pada perintahnya.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara mereka terus menyusuri bekas tapak kaki hingga sampai di depan kuburan kuno, mereka saling pandang sekali, lalu berhenti. Tampak salju di sebelah kiri semrawut dengan tapak kaki acak-acakan, lebih ke depan lagi bekas tapak kaki kelihatan lebih cetek dan lebih rata.</p>
<p>Kim Bu-bong berkata, &#8220;Orang-orang itu pasti mundur sampai di sini, lalu naik kereta di tepi jalan, di belakang kereta menyeret ranting pohon sehingga bila kereta berjalan bekas roda pun tersapu bersih.&#8221;</p>
<p>Bahwa persoalan ruwet yang tak terpecahkan akhirnya bisa dibikin jelas, sungguh lega perasaan mereka, tapi hanya sekejap Kim Bu-bong lantas berkerut kening pula, katanya, &#8220;Cara kerja orang itu begini teliti, dia dapat memikat puluhan orang hingga rela mengekor dia, sungguh aku tidak habis pikir tokoh macam apa ini?&#8221;</p>
<p>Sim Long termenung, katanya kemudian, &#8220;Tahukah Kim-heng dalam dunia ini siapa yang mahir menggunakan Bi-hun-sip-sim-tay-hoat (semacam ilmu sihir)?&#8221;</p>
<p>Tanpa pikir Kim Bu-bong menjawab, &#8220;Hun-bong-siancu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, Hun-bong-siancu dulu pernah menggunakan Am-gi (senjata rahasia) paling jahat Thian-hun-ngo-han-bian (kapas pancawarna) dan Bi-hun-sip-sim-tay-hoat hingga namanya menggetarkan Bu-lim. Jago silat kelas wahid sekalipun bila berhadapan dengan Hun-bong-siancu juga bertekuk lutut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230;bukankah Hun-bong-siancu sudah mati sekian tahun lamanya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau Ca Giok-koan bisa pura-pura mati, padahal masih hidup, kenapa Hun-bong-siancu tidak bisa berbuat demikian pula?&#8221; sembari bicara Sim Long mengeluarkan sebuah pelat besi, katanya, &#8220;Apakah Kim-heng tahu besi apa ini?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong hanya melirik saja, air mukanya seketika berubah, serunya, &#8220;Thian-hun-ling.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul, inilah Thian-hun-ling yang digunakan Hun-bong-siancu untuk memerintah kawanan iblis.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dari mana Sim-heng memperoleh pelat ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Di atas meja batu yang terletak di mulut gua kuburan kuno itu, semula kukira pelat ini milik Kim-heng, kini dapatlah kutarik kesimpulan bahwa yang menaruh pelat ini di atas meja pasti orang yang membunuh An-yang-ngo-gi dengan Jik-sat-jiu, yang membawa Pui Jian-li dan lain-lain pasti perbuatannya pula.&#8221;</p>
<p>Pucat muka Kim Bu-bong, &#8220;Orang ini berada dalam kuburan, aku ternyata tidak tahu, malah segala gerak-gerikku di bawah pengawasannya&#8230;Siapa dia, betulkah Hun-bong-siancu sendiri?&#8221;</p>
<p>Membayangkan musuh yang tidak kelihatan selalu mengintip gerak-geriknya di dalam kuburan kuno itu, Kim Bu-bong jadi bergidik sendiri.</p>
<p>&#8220;Apakah betul dia Hun-bong-siancu? Apa betul Hun-bong-siancu muncul dalam percaturan Kangouw pula? Muslihat apa pula yang dirancangnya dengan menculik Thi Hoat-ho dan lain-lain? Ke mana pula Thi Hoat-ho dan belasan orang itu dibawa pergi? Pembunuhan keluarga Kim Tin-ih apakah juga perbuatannya?&#8230;Ai, dalam setengah bulan aku harus memecahkan semua persoalan ini, entah sudikah Kim-heng membantuku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Semua persoalan ini ada sangkut pautnya dengan diriku, bila persoalan itu tidak terpecahkan, sehari pun aku tidak bisa tenang,&#8221; ujar Kim Bu-bong.</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.ceritasilat.info">Cerita Silat</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-06/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pendekar Baja (05)</title>
		<link>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-05/</link>
		<comments>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-05/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2009 02:38:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pendekar Baja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritasilat.info/?p=798</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Gu Long
&#8220;Betul,&#8221; sambut It-siau-hud, &#8220;syukurlah saudara Thi bernyali besar, kalau tidak masuk sarang harimau, mana bisa mendapat anak harimau?&#8221;

Bersama Thi Hoat-ho segera mereka memasuki pintu pertama di sebelah kanan, sempat It-siau-hud menoleh, &#8220;Mo Si, Seng Ing, kalian berani ikut?&#8221;
Mo Si dan Seng Ing saling pandang, terpaksa mereka mengeraskan kepala dan buru-buru ikut masuk ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Oleh Gu Long</strong></p>
<p>&#8220;Betul,&#8221; sambut It-siau-hud, &#8220;syukurlah saudara Thi bernyali besar, kalau tidak masuk sarang harimau, mana bisa mendapat anak harimau?&#8221;<br />
<span id="more-798"></span><br />
Bersama Thi Hoat-ho segera mereka memasuki pintu pertama di sebelah kanan, sempat It-siau-hud menoleh, &#8220;Mo Si, Seng Ing, kalian berani ikut?&#8221;</p>
<p>Mo Si dan Seng Ing saling pandang, terpaksa mereka mengeraskan kepala dan buru-buru ikut masuk ke sana.</p>
<p>Cu Jit-jit mengawasi Sim Long, tanyanya, &#8220;Bagaimana kita?&#8221;</p>
<p>Sim Long mengawasi Thi Hoat-ho berempat lenyap di balik pintu, cahaya api makin jauh, tiba-tiba mulutnya menyungging senyum aneh, katanya sambil mengawasi si anak merah, &#8220;Bagaimana pendapatmu?&#8221;</p>
<p>Dengan gemetar si anak merah menjawab, &#8220;Kita pulang saja, di sini pasti ada&#8230;&#8221; sebelum mengucapkan &#8220;setan&#8221;, mendadak Sim Long bergerak secepat kilat mencengkeram tangan dan menutuk Hiat-to lengan si anak merah.</p>
<p>Keruan Cu Jit-jit kaget, teriaknya, &#8220;Apa yang kau lakukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau kira dia ini adikmu?&#8221; Sim Long menyerahkan obor kepada Jit-jit, lalu membentak, &#8220;Coba lihat siapa dia.&#8221;</p>
<p>Sekali raih dia copot kedok muka si anak merah, maka tertampaklah seraut wajah yang penuh keriput.</p>
<p>Ternyata waktu si anak merah berlari masuk ke dalam gua tadi, sebetulnya dia sudah berubah jadi Hoa Lui-sian.</p>
<p>Keruan tambah kaget Cu Jit-jit serunya, &#8220;Mana Pat-te? Kau&#8230;kau apakan dia?&#8221;</p>
<p>Karena Hiat-to tertutuk dan tertawan, Hoa Lui-sian tampak gugup dan takut, sahutnya dengan menunduk, &#8220;Lo-pat kena kututuk dan kubungkus dengan kantong kulit serta kusembunyikan, dalam waktu dekat jelas tidak akan apa-apa.&#8221;</p>
<p>Baru sekarang Jit-jit ingat waktu berlari masuk gua tadi, untuk sesaat lamanya baru si anak merah menyusul masuk, di luar gua dia menjerit sekali, tentu saat itulah dia ditutuk dan dibelenggu oleh Hoa Lui-sian, setiba di dalam gua meski dia merasakan suara adiknya agak berubah, tapi dia kira adiknya ketakutan hingga suaranya sumbang, maka ia pun tidak memerhatikan lebih lanjut.</p>
<p>Kini baru dia sadar bahwa Hoa Lui-sian telah menipu dirinya, ia menjadi gemas, serunya dengan mengentak kaki, &#8220;Kau&#8230;kenapa kau sekeji ini terhadapnya?&#8221;</p>
<p>Makin rendah Hoa Lui-sian menundukkan kepala, Cu Jit-jit tambah beringas, &#8220;Ayo bicara, katakan&#8230;aku ingin tahu, sebab apa kau sampai hati melakukan semua ini terhadapku.&#8221;</p>
<p>Sim Long berkata, &#8220;Bukan kau saja yang dipermainkan, tadi sinar api berkelebat di luar pintu juga permainannya, ketika pandangan orang banyak tertuju ke sana, secepat kilat dia sambar lencana besi di atas meja itu dan disembunyikan, diam-diam dia pukul pula punggung Mo Si, orang lain anggap dia anak kecil, sudah tentu takkan curiga padanya, tentang jeritannya tadi ia bilang ada orang mencubitnya, sudah tentu karena disengaja&#8230;&#8221;</p>
<p>Berhenti sejenak, lalu Sim Long menambahkan dengan tertawa, &#8220;Karena yang terakhir itulah, maka dapat kuketahui permainannya, coba kau pikir, dia memakai topeng, lalu siapa bisa mencubit mukanya?&#8221;</p>
<p>Dengan melongo Cu Jit-jit mendengarkan penjelasan Sim Long, kini baru dia menghela napas lega, katanya, &#8220;Ternyata betul dia, semua adalah perbuatannya, hampir saja aku mati ketakutan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang hampir mati ketakutan bukan kau seorang saja,&#8221; ujar Sim Long dengan tersenyum.</p>
<p>&#8220;Kita sekeluarga baik-baik padanya, menganggapnya sebagai orang sendiri, kenapa dia tega melakukan semua ini untuk menakuti kami dan membekuk adik Pat lagi&#8230;&#8221; makin bicara makan gusar Jit-jit, mendadak dia menampar muka Hoa Lui-sian, &#8220;Katakan, kenapa, kenapa?&#8221;</p>
<p>Mendadak Hoa Lui-sian angkat kepala, dia awasi Cu Jit-jit, sorot matanya memancarkan rasa benci, tapi mulutnya tetap terkancing, satu kata pun tak mau bicara. Sudah sekian tahun Cu Jit-jit berkumpul dengan dia, belum pernah dia dipandang sebengis dan sebuas ini, ia merasa ngeri.</p>
<p>Mendadak Hoa Lui-sian berteriak kalap, sekuat tenaga kedua kaki menendang selangkangan Sim Long.</p>
<p>Dengan sedikit mengegos, dengan enteng Sim Long menghindarkan diri. Agaknya karena tamparan Cu Jit-jit hingga sifat buas Hoa Lui-sian kumat, seperti binatang liar kelaparan, kaki tangannya bekerja, menyerang serabutan dengan kalap, namun urat nadinya terpegang, ujung baju Sim Long saja tak mampu disentuhnya.</p>
<p>Tiba-tiba Hoa Lui-sian menyeringai hingga giginya yang putih tertampak, mendadak dia menunduk terus menggigit punggung tangan Sim Long, tapi sekali tarik dan angkat tangannya, Sim Long berbalik menelikung tangan Hoa Lui-sian.</p>
<p>Dalam keadaan ditelikung, meski Hoa Lui-sian punya kepandaian setinggi langit juga mati kutu dan tak mampu melawan lagi, tapi rasa gusar yang terbayang di mukanya sungguh membuat orang ngeri.</p>
<p>Sim Long berkata lembut, &#8220;Kutahu kau sengaja melakukan berbagai adegan menakutkan itu supaya kami mengundurkan diri dari kuburan kuno ini, tapi apa maksud tujuanmu? Mungkinkah dalam kuburan ini ada rahasianya? Kau tidak suka kami tahu rahasia itu? Atau mungkin pribadimu sendiri ada sangkut pautnya dengan kuburan ini? Asal kau mau bicara secara blakblakan, aku pasti tidak akan menyakiti kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lepaskan tanganmu, nanti aku bicara,&#8221; serak suara Hoa Lui-sian.</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Kalau aku membebaskan kau, sukar lagi menangkapmu.&#8221;</p>
<p>Hoa Lui-sian menggerung geram, tiba-tiba ia jumpalitan ke belakang, kedua kakinya terus menendang, sasarannya adalah dada Sim Long. Tapi sekali mengentak tangannya, Sim Long sampuk kedua kaki orang.</p>
<p>Hoa Lui-sian mengertak gigi, desisnya, &#8220;Baik, kau menyiksa diriku, nanti akan kubikin kau mati tanpa terkubur, lidahmu akan kupotong, biji matamu kukorek, gigimu kupreteli satu per satu, rambutmu kucabuti sebatang demi sebatang&#8230;&#8221;</p>
<p>Cu Jit-jit mengirik, katanya dengan suara gemetar, &#8220;Tutup mulut&#8230;jangan kau katakan lagi.&#8221;</p>
<p>Hoa Lui-sian menyeringai, &#8220;Baru kujelaskan dan kau sudah ketakutan, bila kupraktikkan, apa pula yang bakal terjadi atas dirimu? Lekas suruh dia lepaskan aku, kalau tidak&#8230;&#8221;</p>
<p>Cu Jit-jit membanting kaki, katanya, &#8220;Kau terluka parah dan hampir mati, keluargaku menolongmu dan merawat dan memberikan segala keperluanmu, kau difitnah orang, aku berusaha membantumu, dulu perbuatan kejammu memang kelewat batas, tengah malam kau sering mengigau, sering aku tidur mendampingimu, siapa tahu&#8230;siapa tahu beginilah imbalan yang kuterima darimu&#8230;&#8221; sampai di sini, saking sedih tak tertahan lagi bercucuran air matanya.</p>
<p>Hoa Lui-sian tertegun, perlahan dia menunduk, air mukanya yang masih beringas menampilkan rasa menyesal juga, mulut terbuka hendak bicara, tapi urung.</p>
<p>Sim Long berkata pula, &#8220;Kenapa kau berbuat demikian? Kenapa sejauh ini kau masih tetap bungkam? Mungkinkah ada orang di dalam kuburan kuno ini yang harus kau lindungi, mungkinkah orang itu sanak saudaramu&#8230;&#8221;</p>
<p>Hoa Lui-sian membentak dengan beringas, &#8220;Dari mana kau bisa tahu?&#8221; cepat sekali dia menyadari telah kelepasan omong, dampratnya gusar, &#8220;Binatang cilik, kau&#8230;jangan harap kau bisa memancing sepatah kata pun dari mulutku.&#8221;</p>
<p>Berubah air muka Sim Long, tapi tetap tenang dan sabar, katanya perlahan, &#8220;Siapa nyana Hoa-hujin masih punya sanak kadang yang masih hidup di dunia ini, demi mereka kau perlu bicara terus terang, setelah kau jelaskan kesulitanmu, mungkin kami dapat berusaha membantumu, kalau tidak, umpama kami berhasil kau kelabui, tapi rahasia kuburan kuno ini juga akan tersiar luas, cepat atau lambat seluk-beluk di sini pasti ketahuan orang banyak, bila urusan sudah telanjur begitu, menyesal pun sudah terlambat.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba tampak Hoa Lui-sian melelehkan air mata, ucapnya dengan suara gemetar, &#8220;Kalau kuterangkan, apa benar akan kau bantu aku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau aku tidak mau membantu, kenapa tidak kubongkar saja rahasiamu di depan mereka, kau orang pandai, masa hal demikian tidak bisa kau pikirkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah,&#8221; akhirnya Hoa Lui-sian mengertak gigi. &#8220;Dua puluh tahun yang lalu, kami sudah tahu di tempat ini terdapat kuburan kuno yang menyimpan harta karun, waktu itu meski Cap-sa-thian-mo sedang jaya-jayanya dan malang melintang di Bu-lim, tapi setiap saat kami harus hati-hati menghadapi musuh yang selalu akan menyergap, maka tak sempat kami kemari mengeduk harta karun ini. Kemudian setelah tragedi di Heng-san, Cap-sa-thian-mo gugur seluruhnya, terpaksa rahasia kuburan kuno ini kusimpan dalam hati, tak tersangka rahasia ini akhirnya terbongkar juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi demi mempertahankan rahasia kuburan kuno ini, supaya harta itu tidak dikeruk orang lain, maka sengaja kau lakukan semua ini?&#8221;</p>
<p>Muka Hoa Lui-sian tampak berkerut-kerut. &#8220;Bukan,&#8221; sahutnya singkat.</p>
<p>Cu Jit-jit melengak, &#8220;Lalu karena apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena&#8230;karena orang yang jadi korban di dalam kuburan ini, semua terkena Lip-te-siu-hun-san (bubuk beracun). Padahal Lip-te-siu-hun-san adalah resep terahasia keluarga Hoa kami, di kolong langit ini kecuali Toakoku, Siau-hun-thian-mo Hoa Kin-sian, siapa pun tak mampu meraciknya.&#8221;</p>
<p>Sim Long dan Jit-jit sama berubah air mukanya, kata Jit-jit, &#8220;Siau-hun-thian-mo Hoa Kin-sian, bukankah dia sudah mati dalam tragedi Heng-san dulu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lima hari setelah tragedi Heng-san itu, dunia persilatan kacau-balau, banyak tersiar kabar angin yang bersimpang-siur, tapi siapa pun tiada yang tahu duduk perkara yang sebenarnya. Kala itu hati setiap orang bingung dan gelisah, banyak pula yang hampir gila, Cap-sa-thian-mo waktu itu dipecah menjadi dua rombongan dan naik ke atas gunung, akhirnya semua tercerai-berai, aku hanya mendengar bahwa Toako Hoa Kin-sian mati di parit Loan-hun-kian, tapi tak kutemukan mayatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi kabar kematian Engkohmu itu harus diragukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira demikian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika demikian&#8230;bukan mustahil Toakomu itu sekarang berada di dalam kuburan ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kukira begitu,&#8221; kata Hoa Lui-sian, &#8220;bahwa Lip-te-siu-hun-san muncul dalam kuburan ini, kuyakin Siau-hun-thian-mo pasti berada di sini juga.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Lip-te-siu-hun-san itu kemungkinan diracik oleh sukma Toakomu di dalam kuburan kuno ini.&#8221;</p>
<p>Hoa Lui-sian tergetar, tapi segera dia menyeringai, katanya, &#8220;Umpama benar yang menghuni kuburan ini adalah sukma Toakoku, aku pun akan membantunya, orang luar dilarang mengganggu tempat ini.&#8221;</p>
<p>Mendadak dengan tangan kiri dia merogoh keluar lencana basi dari kantongnya, katanya pula, &#8220;Kau tahu apa ini?&#8221;</p>
<p>Di bawah sinar obor yang dipegang Cu Jit-jit, Sim Long mengawasinya dengan tajam, tampak di dalam lencana yang legam itu, seperti ada bayangan yang bergerak, lencana besi sekecil ini ternyata mengandung sesuatu kekuatan yang gaib.</p>
<p>Mau tak mau berubah air muka Sim Long, katanya, &#8220;Bukankah ini Thian-hun-ling milik Hun-bong-siancu, senjata rahasia beracun nomor satu pada masa lampau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pandanganmu memang tajam,&#8221; puji Hoa Lui-sian.</p>
<p>Cu Jit-jit terkesiap, serunya, &#8220;Thian-hun-ling yang pernah menggetarkan dunia kini muncul kembali, jadi Hun-bong-siancu, si perempuan iblis itu juga belum mati?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mati-hidup orang lain tidak berani kupastikan, tapi dulu waktu Hun-bong-siancu mati di bawah ilmu jari Kian-kun-te-it-ci yang dilancarkan Kiu-ciu-ong Sim Thian-kun, aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri.&#8221;</p>
<p>Berubah air muka Cu Jit-jit, katanya, &#8220;Barang milik orang mati, bagaimana bisa&#8230;bisa berada di sini?&#8221;</p>
<p>Hoa Lui-sian tertawa dingin, &#8220;Jik-sat-jiu-sin-kang, Lip-te-siu-hun-san, Thian-hun-ling, semua ini milik orang yang sudah mati, tapi kenyataan sekarang muncul bersama di dalam kuburan kuno ini, hal ini menandakan sukma yang menghuni kuburan ini tidak hanya satu. Waktu hidup mereka aku adalah saudaranya, sesudah mereka mati aku tetap menjadi sahabat setannya, tempat suci mereka ini siapa pun dilarang mengganggunya, maka kuanjurkan lekas kalian keluar saja, kalau tetap bandel, kalian akan menerima nasib seperti It-siau-hud, Thi Hoat-ho dan lain-lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana nasib mereka?&#8221; tanya Sim Long. Tiba-tiba didapatinya pintu ke mana tadi It-siau-hud, Thi Hoat-ho berempat pergi kini telah tertutup tanpa mengeluarkan suara.</p>
<p>Sim Long memusatkan perhatiannya kepada Hoa Lui-sian, maka tidak tahu kapan pintu itu tertutup.</p>
<p>&#8220;Hah&#8230;pintu&#8230;pintu itu&#8230;&#8221; Jit-jit terbeliak.</p>
<p>Hoa Lui-sian tertawa terkial-kial, katanya, &#8220;Baru sekarang kalian sadar?&#8230;Dalam kuburan ini akan bertambah beberapa setan baru lagi, kalau aku tinggal di sini juga tidak akan kesepian. Mengingat hubungan masa lalu, baiklah kuanjurkan kalian lekas pergi saja&#8230;&#8221;</p>
<p>Sim Long melirik ke sana, dia yakin delapan pintu ini dibangun dengan perhitungan Pat-kwa, katanya sambil berkerut alis, &#8220;Mereka pergi lewat pintu hidup, mana mungkin mengalami nasib jelek?&#8221;</p>
<p>Sambil menarik Hoa Lui-sian dia melompat ke sana, dengan sepenuh tenaga dia memukul pintu, &#8220;blang&#8221;, pintu itu kukuh kuat bergeming, jelas daun pintunya berat dan tebal, kekuatan tangan siapa pun takkan mampu menjebolnya.</p>
<p>Getaran keras berpadu dengan suara gelak tertawa sehingga menimbulkan gema yang lebih keras.</p>
<p>Mendadak belasan lelaki yang membawa obor berbondong masuk, karena gema pukulan dan suara tertawa tadi hingga langkah orang banyak ini tidak terdengar. Setelah mereka tiba di ambang pintu baru Sim Long menoleh, tampak yang berdiri paling depan adalah Beng Lip-jin dan Ban-su-thong.</p>
<p>Sim Long segera menyapa, &#8220;Beng-heng juga datang, sungguh aku&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis bicara, beberapa orang di belakang Beng Lip-jin tiba-tiba meraung, &#8220;Budak jalang, ternyata kau berada di sini, kami susah payah mencarimu ke mana-mana.&#8221;</p>
<p>Mereka ternyata adalah Joan-hun-yan Ih Ji-hong, Pok-thian-tiau Li Ting, Sin-gan-eng Pui Jian-li dan Congpiauthau Can Ing-siong dari Wi-bu-piaukiok.</p>
<p>Beberapa orang ini telah mengejar sampai Pit-yang, meski tidak menemukan Cu Jit-jit, tapi bersua dengan Beng Lip-jin. Karena Beng Lip-jin memang kenalan lama mereka, dalam omong-omong dia menuturkan rahasia kuburan kuno ini, malah mendesak mereka untuk ikut ke sini.</p>
<p>Pui Jian-li dan Can Ing-siong memang manusia tamak, setelah dibujuk oleh Beng Lip-jin dan Ban-su-thong, akhirnya mereka ikut kemari.</p>
<p>Cu Jit-jit melirik sekejap, bisiknya, &#8220;Wah, celaka, beberapa musuh ini datang&#8230;&#8221; tiba-tiba dia melejit ke sana dan menyelinap masuk pintu lain, sengaja dia berhenti dan menoleh, &#8220;Di dalam banyak setan pencabut nyawa, apa kalian berani masuk kemari?&#8221;</p>
<p>Ia melirik ke arah Sim Long, apa boleh buat sambil menyeret Hoa Lui-sian Sim Long ikut masuk ke sana.</p>
<p>Bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Cu Jit-jit sudah lenyap di tengah kegelapan. Sim Long menyusulnya, katanya, &#8220;Besar amat nyalimu, berani sembarangan main terobos.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bekerja jangan kepalang tanggung, makin menakutkan cerita Hoa Lui-sian, makin kuingin tahu, toh dia ikut pula, peduli Engkohnya masih hidup atau sudah mati, sedikit banyak pasti akan memberi kelonggaran kepada kita. Apalagi daripada aku dikerubuti oleh Pui Jian-li dan begundalnya, lebih baik aku mati diterkam setan.&#8221;</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Setan juga pasti pusing menghadapi kebinalanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Blang&#8221;, tiba-tiba daun pintu di belakang tertutup sendiri, maka cahaya api dan orang-orang di luar terputus hubungan. Padahal obor di tangan Cu Jit-jit sudah padam, keadaan menjadi gelap gulita.</p>
<p>*****</p>
<p>Sementara itu Pok-thian-tiau Li Thing sedang marah-marah kepada Pui Jian-li, &#8220;Toako, kenapa kau larang aku mengejar, kenapa membiarkan musuh melarikan diri?&#8221;</p>
<p>Pui Jian-li menyeringai, katanya, &#8220;Mereka masuk lewat Si-bun (pintu mati), jelas mereka tidak bisa hidup lagi, buat apa kita susah-susah mengejarnya?&#8221;</p>
<p>Betul juga, daun pintu dimaksud tiba-tiba anjlok dan menutup lorong itu.</p>
<p>Li Ting mengelus dada, katanya, &#8220;Sungguh berbahaya, syukur Toako paham Kim-bun-pat-kwa, kalau tidak mungkin Siaute ikut terkurung di sana.&#8221;</p>
<p>Pui Jian-li mendelik, katanya, &#8220;Tapi sebaliknya, bila yang sembunyi di dalam kuburan ini orang hidup, Kim-bun-pat-kwa dengan sendiri berguna, jika dihuni oleh hantu&#8230;hehehe meski Khong Beng menjelma kembali juga takkan lolos dari kematian.&#8221;</p>
<p>Joan-hun-yan Ih Ji-hong berkata, &#8220;Budak itu kepepet dan masuk ke jalan buntu, anggaplah penasaran sudah terlampias, kini lebih baik kita keluar saja, supaya tidak mengalami kesulitan.&#8221;</p>
<p>Can Ing-siong dan lain-lain diam saja, agaknya mereka terbujuk, maklum meski mereka punya nyali besar, setelah masuk ke sarang hantu ini ciut juga nyali mereka.</p>
<p>Diam-diam Ban-su-thong memberi kedipan mata kepada Beng Lip-jin, orang yang belakangan ini segera berseru lantang, &#8220;Harta karun yang terpendam di dalam kuburan kuno ini mungkin tiada bandingan di kolong langit, setelah berada di sini, kenapa pulang dengan tangan kosong? Peduli ada setan atau hantu, kita sebanyak ini masa takut?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika kalian takut, silakan mundur saja,&#8221; demikian kata Ban-su-thong, &#8220;Cuma aku dan Beng-heng&#8230;hehe, betapa pun harus masuk ke sana.&#8221;</p>
<p>Can Ing-siong berkata dengan gusar, &#8220;Siapa yang takut? Wi-bu-piaukiok tiada orang yang pernah mundur di medan laga. Ayo kita terjang masuk bersama.&#8221;</p>
<p>Serentak mereka terus menerobos masuk ke sana.</p>
<p>Sin-gan-eng Pui Jian-li mendengus, &#8220;Kami Hong-lin-sam-ciau juga bukan orang yang takut urusan, tapi juga bukan orang bodoh yang ceroboh dan sok berani, umpama kita ingin terjang juga harus dirundingkan bersama, Can-congpiauthau, coba katakan, apakah kau ada pendapat?&#8221;</p>
<p>Can Ing-siong balas bertanya, &#8220;Lalu bagaimana menurut pendapat saudara Pui?&#8221;</p>
<p>Pui Jian-li berkata, &#8220;Jumlah kita kebetulan dapat dibagi menjadi dua rombongan untuk mencari jalan dan rombongan lain tetap tinggal di sini, kita ikat dengan tali panjang supaya yang masuk tidak kesasar dan bisa kembali.&#8221;</p>
<p>Beng Lip-jin berkeplok, katanya, &#8220;Pui-heng memang teliti, lalu siapa yang akan mencari jalan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biar kubicarakan dulu dengan Can-congpiauthau untuk menentukan siapa yang akan bertanggung jawab,&#8221; kata Pui Jian-li.</p>
<p>Can Ing-siong juga setuju menggunakan cara yang diusulkan Pui Jian-li.</p>
<p>Pui Jian-li lantas sembunyikan sebelah tangannya ke belakang punggung, katanya, &#8220;Congpiauthau boleh tebak jariku ganjil atau genap?&#8221;</p>
<p>Can Ing-siong termenung sejenak, lalu berkata, &#8220;Ganjil.&#8221;</p>
<p>Pui Jian-li tersenyum dan acungkan dua jarinya, katanya, &#8220;Genap!&#8221;</p>
<p>Can Ing-siong berteriak, &#8220;Baik, kami akan membuka jalan, semua anak murid Wi-bu ikut aku.&#8221;</p>
<p>Diam-diam Beng Lip-jin membatin, &#8220;Pui Jian-li memang licin, jari tangan sendiri disembunyikan di punggung, kalau Can Ing-siong menebak ganjil dia ulurkan dua jari, sebaliknya kalau Can Ing-siong menebak genap, dia lantas acungkan tiga jari, undian cara begini biarpun sampai dunia kiamat juga Can Ing-siong jangan harap bisa menang&#8230;Namun semua orang sudah berada dalam kuburan kuno ini, siapa pun jangan harap bisa lolos sendirian, apa pula bedanya kalah atau menang?&#8221;</p>
<p>Maka dia lantas berseru, &#8220;Mari, kutemani Can-heng membuka jalan.&#8221;</p>
<p>Pui Jian-li segera mengeluarkan tali panjang, ujung tali yang lain dia serahkan kepada Can Ing-siong, katanya, &#8220;Congpiauthau, ikat ujung tali ini pada pinggangmu, bila tali ini habis rentang, di mana pun kau berada harus segera kembali, sepanjang jalan harus meninggalkan tanda. Bila di tengah jalan mengalami sesuatu, cukup kau tarik tali ini dan kami akan segera memberi pertolongan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, kutahu,&#8221; ujar Can Ing-siong. Lalu dia ikat ujung tali di pinggangnya, lalu berseru, &#8220;Ikut aku!&#8221;</p>
<p>Ia angkat obor ke atas dan melangkah lebih dulu memasuki pintu tebal itu, di antara Piauthau yang mengintil di belakangnya seorang berkata dengan gemetar, &#8220;Kalau pintu ini jatuh, bukankah kita akan tertutup di dalam?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan khawatir,&#8221; ujar Li Thing, &#8220;kalau pintu ini anjlok ke bawah, aku bersama Ih-samte masih kuat menyangganya beberapa saat, bila Can-toako menarik tambang, kalian masih sempat lari balik.&#8221;</p>
<p>Can Ing-siong bergelak tertawa, katanya, &#8220;Orang bilang Pok-thian-tiau selain Ginkangnya tinggi juga memiliki tenaga raksasa, agaknya memang bukan julukan kosong. Baiklah, kami mohon bantuan dan perhatian Li-heng saja.&#8221;</p>
<p>Habis bicara bersama Beng Lip-jin dan sembilan orang lain beruntun mereka berjalan masuk, sembilan obor cukup menerangi lorong panjang di balik pintu besar itu.</p>
<p>Setelah kesembilan orang itu pergi jauh, Li Thing berteriak, &#8220;Can Ing-siong memang seorang lelaki sejati, gagah dan berani.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sayangnya terlalu bodoh,&#8221; jengek Pui Jian-li.</p>
<p>*****</p>
<p>Can Ing-siong jalan paling depan, langkahnya tegap dan mantap. Lorong rahasia ini tingginya antara dua tombak, berliku-liku, panjang seperti tidak berujung. Banyak pintunya pada kedua sisi, semua tertutup, didorong juga tak terbuka.</p>
<p>Beng Lip-jin berjalan paling belakang, membawa golok dengan wajah mengulum senyum, sikapnya tenang dan seolah-olah percaya umpama kedelapan orang lain mati semua juga dirinya takkan mengalami bahaya apa pun.</p>
<p>Setelah menempuh perjalanan beberapa kejap, mendadak Beng Lip-jin menggunakan goloknya memotong tali panjang itu, orang yang berjalan di depan sudah tentu tiada yang tahu, cepat Beng Lip-jin menyusul ke depan dan berkata, &#8220;Can-heng, sudah ada yang kau temukan?&#8221;</p>
<p>Can Ing-siong menggeleng, katanya sambil menghela napas, &#8220;Kuburan kuno ini ternyata sangat besar&#8230;&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba dilihatnya daun pintu di depan seperti setengah terbuka, di balik pintu kelihatan ada sinar api yang bergerak, tersirap darah Can Ing-siong, katanya gemetar, &#8220;Mungkinkah di sini dihuni orang?&#8221;</p>
<p>Cepat dia melompat maju seraya melongok ke dalam.</p>
<p>Tampak di balik pintu adalah sebuah kamar batu segienam, setiap sudut ditaruh sebuah peti mati, paling tengah terdapat sebuah lampu tembaga yang memancarkan sinar yang redup, tiada bayangan manusia, entah siapa yang menyalakan dan menaruh lampu tembaga itu di situ, suasana terasa dingin mencekam, mendirikan bulu roma.</p>
<p>Can Ing-siong menarik napas, katanya, &#8220;Masuk tidak?&#8221;</p>
<p>Beng Lip-jin berkata setelah berpikir sejenak, &#8220;Lebih baik kita tarik tali, supaya Pui-heng dan lain-lain menyusul kemari baru kita bicarakan bersama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik,&#8221; kata Can Ing-siong, segera dia hendak menarik tali, makin tarik makin cepat dan terasa enteng, tiba-tiba air muka Can Ing-siong berubah, tarikannya dipercepat, mendadak dilihatnya tambang itu putus seperti bekas ditebas senjata tajam, seorang lantas menjerit, &#8220;Lekas kita mundur.&#8221;</p>
<p>Beng Lip-jin membanting kaki, katanya gemas, &#8220;Ini&#8230;siapa yang melakukan? Urusan sudah telanjur, mundur juga sudah terlambat, lebih baik kita terjang saja ke depan, apa pun kita harus lihat apa yang berada di depan.&#8221;</p>
<p>Can Ing-siong bimbang sekian lamanya, katanya kemudian, &#8220;Mati-hidup ditentukan takdir, bila Can Ing-siong hari ini mati di sini&#8230;ai, biarlah, ayo terjang.&#8221;</p>
<p>Segera dia menyelinap masuk ke dalam kamar batu lebih dulu.</p>
<p>Beng Lip-jin berkata, &#8220;Biar aku jaga pintu, lekas kalian masuk!&#8221;</p>
<p>Wajah orang banyak kelihatan pucat, langkah pun merandek bimbang.</p>
<p>Beng Lip-jin melirik dan berkata pula, &#8220;Peti mati tembaga itu bukan mustahil berisi harta karun&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis ucapannya, orang banyak lantas berdesakan berebut masuk. Ujung mulut Beng Lip-jin mengulum senyum sinis, ia malah menyurut mundur dan mendorong pintu, pintu ini pakai pegas, &#8220;blang&#8221;, daun pintu lantas tertutup rapat.</p>
<p>Waktu orang-orang di dalam menoleh, daun pintu sudah tertutup, maka terdengarlah teriakan kaget dan panik orang-orang di dalam.</p>
<p>Pada saat itu satu bayangan kelabu berkelebat di ujung lorong, gerak-geriknya tidak menimbulkan suara, Lip-jin tidak menyadari akan kedatangan orang ini, dengan menyeringai dia bergumam, &#8220;Can Ing-siong, jangan kau salahkan aku, soalnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba ada suara dingin menukas perkataannya, &#8220;Kau telah menjalankan tugas dengan baik, sekarang lekas kau putar balik dan tarik tambang itu dan memancing Pui Jian-li dan lainnya masuk kemari untuk mengantar kematian mereka.&#8221;</p>
<p>Beng Lip-jin tahu suara ini diucapkan orang berjubah kelabu itu, saking ketakutan lututnya sampai gemetar, namun sekuatnya dia melangkah ke depan, didengarnya suara seperti hantu itu berkata, &#8220;Jalan terus, jangan berpaling, perhatikan keselamatan jiwamu sendiri, bila menoleh nasibmu akan serupa mereka.&#8221;</p>
<p>*****</p>
<p>Di sebelah luar, perhatian Pui Jian-li tertuju pada tambang. Li Thing dan Ih Ji-hong berdiri di kanan-kiri pintu di mana tadi Can Ing-siong dan rombongannya masuk. Setelah tambang tertarik makin kencang, mendadak tidak ada gerakan apa-apa lagi. Pui Jian-li tidak tahu kalau tambang sudah putus, maka dia berkerut kening, katanya, &#8220;Kenapa Can Ing-siong tidak maju lebih jauh, mungkin sudah menemukan sesuatu&#8230;&#8221;</p>
<p>Mereka menunggu dalam keheningan, menunggu reaksi, terasa sang waktu berjalan teramat lambat, kaki-tangan terasa dingin, deru napas mereka pun bertambah berat, entah berapa lama kemudian mendadak tambang ditarik dan disendal tiga kali, Li Thing segera berteriak, &#8220;Agaknya terjadi sesuatu di dalam, lekas kita beri bantuan!&#8221;</p>
<p>Pui Jian-li tertawa dingin, katanya, &#8220;Apa betul kau mau memberi bantuan, atau mau mengantar kematian?&#8221;</p>
<p>Li Thing melenggong, katanya tergegap, &#8220;He, ini&#8230;&#8221;</p>
<p>Berputar biji mata Ban-su-thong, katanya mendadak, &#8220;Bukan mustahil Can Ing-siong telah menemukan harta karun, kalau kalian tidak mau masuk, biar aku pergi dahulu.&#8221;</p>
<p>Segera dia menyelinap masuk lebih dulu.</p>
<p>Berubah air muka Pui Jian-li, ia diam sebentar, mendadak dia berkata, &#8220;Dengan orang she Can kita tidak ada hubungan, tapi peraturan Kangouw patut dijunjung tinggi, marilah kita masuk membantu mereka.&#8221;</p>
<p>Lalu dia pimpin orang banyak berbondong masuk ke dalam, Li Thing dan Ih Ji-hong berada paling belakang.</p>
<p>Diam-diam Ban-su-thong membatin, &#8220;Rase tua ini banyak muslihatnya, mulutnya manis hatinya jahat, jelas dia mengincar harta karun, namun mulutnya bicara gagah, kali ini biar kau tahu rasa.&#8221;</p>
<p>Baru beberapa langkah orang banyak masuk, daun pintu tiba-tiba menutup sendiri.</p>
<p>Ih Ji-hong tahu lebih dulu, teriaknya panik, &#8220;Celaka, kita masuk perangkap.&#8221;</p>
<p>Pui Jian-li juga tersirap kaget, waktu dia berlari balik memeriksa, meski dengan gabungan seluruh kekuatan mereka juga jangan harap bisa membuka daun pintu berat ini, baru sekarang dia berkata dengan ngeri, &#8220;Kita terpaksa maju, ayolah terjang saja.&#8221;</p>
<p>Tapi beberapa langkah kemudian baru dia sadar bahwa tambang panjang itu ternyata putus.</p>
<p>Orang banyak sama pucat, suara Li Thing gemetar, &#8220;Can Ing-siong dan&#8230;dan yang lain entah ke mana? Mungkin sudah celaka?&#8221;</p>
<p>Dingin muka Pui Jian-li, bibirnya tertutup rapat, matanya menatap tajam ke depan, langkahnya perlahan, walau hati orang banyak sama kebat-kebit, tapi urusan sudah telanjur sejauh ini, terpaksa orang banyak mengintil di belakangnya.</p>
<p>Mendadak ditemukan sebuah obor yang telah padam di depan sebuah pintu yang tertutup, walau apinya padam, rasanya masih hangat, jelas obor ini padam belum lama ini. Lekas Pui Jian-li jemput obor itu, katanya perlahan, &#8220;Obor ini memang milik mereka, agaknya&#8230;&#8221; mendadak ia tutup mulut terus melangkah ke depan.</p>
<p>Walau dia tidak melanjutkan perkataannya, semua orang maklum ke arah mana maksud perkataannya, yaitu Can Ing-siong dan lain-lain mungkin sudah mengalami nasib jelek. Kecuali diliputi rasa takut dan ngeri, orang-orang itu pun merasa sedih. Tapi dalam keadaan seperti ini mereka segan bicara, sambil mengeraskan kepala terpaksa maju ke depan.</p>
<p>Di depan mendadak ditemukan simpang jalan tiga. Di simpang tiga ini mereka menemukan lengan manusia yang berlepotan darah yang belum kering, jari tangan mengepal kencang, hanya jari telunjuk yang menuding ke depan, menuding jalan sebelah kiri.</p>
<p>Sejauh cahaya obor menerangi jalan tembus ke kanan, tulang tengkorak manusia tampak berserakan, ada yang masih utuh, ada yang sudah kocar-kacir, ada yang memegang tombak, golok atau pedang yang setengah berkarat, tapi masih memancarkan cahaya gemerdep ditimpa cahaya obor, suasana hening seram.</p>
<p>Li Thing bergidik, katanya gemetar, &#8220;Apakah perlu&#8230;maju terus?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau tidak, mau ke mana?&#8221; jengek Pui Jian-li.</p>
<p>&#8220;Tapi di depan&#8230;akhirnya juga&#8230;juga mati,&#8221; kata Li Thing khawatir.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa kalau mati?&#8221; jengek Pui Jian-li pula.</p>
<p>Serak suara Li Thing, &#8220;Apakah penghuni kuburan kuno ini hendak membunuh kita semua?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang yang terpancing masuk kuburan ini asal usulnya berbeda dan tiada sangkut pautnya satu dengan yang lain, tapi penghuni kuburan ini justru menghendaki kematian mereka, ini jelas bukan lantaran dendam atau sakit hati&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya lantaran apa?&#8221; sela Ih Ji-hong.</p>
<p>&#8220;Menurut hematku,&#8221; kata Pui Jian-li, &#8220;kuburan kuno besar ini pasti menyembunyikan suatu muslihat keji yang akan menimbulkan kegemparan dan keributan di kalangan Bu-lim, kita akan menjadi tumbal muslihatnya.&#8221;</p>
<p>Ban-su-thong bertanya, &#8220;Jadi Pui-heng yakin penghuni kuburan ini manusia dan bukan setan?&#8221;</p>
<p>Pui Jian-li menyeringai, katanya, &#8220;Di dunia mana ada setan, kecuali&#8230;&#8221; mendadak di belakangnya terdengar suara orang menjengek, seketika bulu kuduk Pui Jian-li berdiri, serempak orang banyak berpaling.</p>
<p>Tapi di belakang kosong melompong, jangankan manusia, bayangan pun tidak kelihatan, ketika mereka menoleh lagi ke arah tudingan tangan kutung tadi, tudingan itu sudah berubah arah, kini menuding ke jalan yang tengah.</p>
<p>Semua orang sama merasa ngeri, entah siapa berkata dengan gigi gemertuk, &#8220;Ini&#8230;ini&#8230;apa lagi kalau bukan setan?&#8221;</p>
<p>Pui Jian-li menendang tangan kutung itu, bentaknya, &#8220;Umpama setan juga aku akan melabraknya.&#8221;</p>
<p>Segera ia mendahului menerobos ke jalan tengah.</p>
<p>Wajah Ban-su-thong menampilkan senyuman misterius, diam-diam dia berjongkok mengusap noda darah pada ujung kakinya, noda darah waktu dia mendepak dan mengubah arah lengan buntung itu. Cepat Hong-lin-sam-ciau membawa murid-muridnya menerobos ke jalan yang tengah.</p>
<p>Baru saja Ban-su-thong melangkah mendadak sebuah tangan menarik lengan bajunya, seorang berpakaian kelabu mendadak keluar dari balik dinding dan berdiri di belakangnya, katanya sambil menyeringai, &#8220;Apa kau juga ingin ikut mati bersama mereka?&#8221;</p>
<p>Bergetar sekujur badan Ban-su-thong, sahutnya gelagapan, &#8220;O, ham&#8230;hamba&#8230;&#8221;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8220;Kau masih berguna, tidak kubiarkan kau mati. Ingat, arahkan langkahmu ke lorong yang penuh tengkorak itu, temanmu Beng Lip-jin akan menyambut kedatanganmu di ujung sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik&#8230;kutahu&#8230;&#8221; sahut Ban-su-thong.</p>
<p>Mendadak didengarnya suara jeritan Hong-lin-sam-ciau yang menerobos ke lorong tengah itu, segera jeritan mereka terputus seperti leher mereka mendadak tercekik. Cukup lama tubuh Ban-su-thong menggigil, setelah agak tenang, suasana hening lelap, di bawah penerangan obor tampak tulang belulang yang mengerikan, sekilas Ban-su-thong melirik ke belakang, orang kelabu ternyata sudah lenyap. Munculnya laksana setan gentayangan, perginya tanpa meninggalkan bekas.</p>
<p>*****</p>
<p>Tadi Hong-lin-sam-ciau bersama muridnya menerobos ke depan, tiba di ujung sebuah kamar batu yang pintunya terbuka, cahaya gemerdep tampak menyilaukan mata di dalam.</p>
<p>Pui Jian-li berteriak girang, &#8220;Agaknya arah yang kita tempuh tidak salah.&#8221;</p>
<p>Segera dia mendahului menerobos masuk. Dalam kamar batu ini berjajar empat peti mati, tutup peti tersingkap ke pinggir, di dalam peti penuh berisi berbagai batu menikam yang tak ternilai.</p>
<p>Hong-lin-sam-ciau termasuk keluarga persilatan yang kaya raya, namun selama hidup kapan pernah menyaksikan harta pusaka sebanyak ini. Apalagi murid-muridnya, semua terbeliak kaget, cukup lama mereka berdiri terpesona, entah siapa yang mendahului berteriak, segera mereka memburu maju sambil ulur tangan untuk meraup mutiara, zamrud, mata kucing dan permata lainnya.</p>
<p>Siapa tahu begitu tersentuh tangan, batu permata itu sama pecah dan menyemprotkan air yang berwarna-warni dan muncrat mengenai muka, kepala, lengan, dan badan murid-murid Hong-lin-sam-ciau.</p>
<p>Terasa batu permata itu dingin, tapi begitu pecah dan air berwarna-warni itu muncrat mengenai badan, rasanya ternyata panas membakar, kontan mulut mereka meraung kesakitan, satu per satu jatuh bergulingan saling tindih.</p>
<p>Tampak di mana air berwarna-warni itu mengenai badan, tidak terkecuali apa kain baju, rambut atau kulit badan seketika hancur dan membusuk hingga kelihatan tulangnya. Makin meronta dan kelejatan makin hebat rasa sakit, dan bagian yang membusuk itu pun makin melebar dengan cepat, dalam sekejap mereka yang menjerit-jerit itu makin lemah dan akhirnya melayang jiwanya.</p>
<p>Beberapa lelaki segar dengan perawakan gagah dan kuat, dalam beberapa kejap telah berubah menjadi seonggok tulang.</p>
<p>Sungguh kaget Pui Jian-li menyaksikan kejadian mengerikan ini, katanya dengan serak, &#8220;Racun&#8230;sungguh keji&#8230;&#8221; mendadak terdengar suara keresekan perlahan, serempak mereka berpaling, daun pintu di belakang mereka tahu-tahu sudah menutup sendiri.</p>
<p>*****</p>
<p>Sementara itu di tempat lain, sejak daun pintu anjlok ke bawah, Sim Long, Cu Jit-jit, dan Hoa Lui-sian berada dalam kegelapan, dari dekat saja sukar melihat wajah masing-masing.</p>
<p>Cu Jit-jit lalu menjinjit hingga muka beradu muka, perlahan dia menggosok pipi sendiri dengan pipi Sim Long, ucapnya setengah berbisik, &#8220;Sungguh baik&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah hampir mati, apanya yang baik?&#8221; jengek Hoa Lui-sian tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Dalam kegelapan yang memabukkan seperti impian ini, bila aku dapat berpelukan mesra begini, meski harus segera mati juga rela aku,&#8221; demikian kata Cu Jit-jit, lalu dia jewer kuping Sim Long, katanya, &#8220;Aku tak mau ada orang ketiga berada di sini, boleh kau lepaskan dia pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Walau kau ingin mati, Siociaku, aku sebaliknya belum hidup cukup. Apa pun tidak akan kulepaskan dia,&#8221; demikian jawab Sim Long tegas.</p>
<p>Kontan Cu Jit-jit menggigitnya dengan gemas katanya, &#8220;Kau lelaki patung yang tidak kenal budi kebaikan, aku benci padamu, aku&#8230;aku ingin menggigitmu sampai mati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lekas gigit, lekas,&#8221; Hoa Lui-sian bersorak, &#8220;lebih cepat lebih baik!&#8221;</p>
<p>Sim Long melepaskan pegangan Cu Jit-jit, katanya, &#8220;Serahkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Serahkan apa?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Ketikan api.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak ada.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tahu kau membungkusnya dengan sapu tangan putih dan kau simpan di kantong sebelah kiri, betul tidak?&#8221;</p>
<p>Jit-jit membanting kaki, &#8220;Setan alas, setan mampus&#8230;ini, ambil!&#8221; langsung dia lemparkan ketikan api yang dimaksud.</p>
<p>Walau dalam kegelapan sekali meraih Sim Long dapat menangkap ketikan api itu, segera dia menyalakan sebatang obor. Dilihatnya pipi Cu Jit-jit bersemu merah, sorot matanya berkilau entah merasa benci, haus cinta atau entah apa lagi&#8230;</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Ada sinar api jadi lebih mudah terjang ke depan, ayolah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Huh, siapa yang ingin ikut kau?&#8221; jengek Cu Jit-jit sambil melengos ke arah lain, sesaat kemudian tak urung dia melirik juga, dilihatnya Sim Long telah melangkah pergi sambil menggandeng Hoa Lui-sian.</p>
<p>Jit-jit menggereget, serunya, &#8220;Baik, kau tidak urus diriku, boleh kau pergi, biar&#8230;biar aku mampus di sini, coba kau mau apa!&#8221;</p>
<p>Tanpa berpaling Sim Long malah tertawa, katanya, &#8220;Coba lihat siapa di belakangmu? Jangan sampai kau&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara, Cu Jit-jit lantas menjerit sambil memburu maju dan memukul pundak Sim Long belasan kali, mulut juga menggerutu, &#8220;Setan, biar kupukul kau sampai mampus.&#8221;</p>
<p>Tapi tenaga pukulannya ternyata ringan saja, tidak urung dia lantas ikut pergi.</p>
<p>Sesaat lamanya mereka menyusuri lorong panjang, akhirnya tiba di depan sebuah pintu setengah terbuka, di balik pintu ada peti, di atas peti ada lentera. Cu Jit-jit berkata, &#8220;Mungkin di sini ada orang, coba aku masuk melihatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jangan masuk,&#8221; mendadak Sim Long membentak dengan suara tertahan.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221; Jit-jit membandel, &#8220;aku justru mau masuk.&#8221;</p>
<p>Sim Long menghela napas, katanya, &#8220;Nona manis, masa kau tidak tahu di sana dipasang perangkap? Bila kau masuk daun pintu akan segera tertutup.&#8221;</p>
<p>Berputar bola mata Cu Jit-jit, mendadak dia tertawa cekikikan, katanya, &#8220;Ya, memang kau lebih pintar.&#8221;</p>
<p>Bertiga mereka maju lebih lanjut, mendadak jalan simpang tiga mengadang di depan, pada jalan yang belok ke kiri menggeletak sebuah lengan kutung berlumuran darah dengan jari telunjuk menuding ke depan sana. Sementara jalan ke arah kanan tampak tumpukan tulang manusia.</p>
<p>Cu Jit-jit berkedip, katanya, &#8220;Mari kita tempuh jalan tengah ini.&#8221;</p>
<p>Sim Long berkata setelah termenung sejenak, &#8220;Pepatah bilang, dalam isi ada kosong, yang kosong ada isi. Jalan ke kanan ini kelihatannya berbahaya, tapi jalan tengah yang kelihatannya menuju ke pusat kuburan ini merupakan kunci dari seluruh rahasia di sini, maka jalan tengah ini tidak boleh ditempuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa di luar terdapat delapan pintu?&#8221; tanya Cu Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Kini baru kusadari, kedelapan pintu di luar tadi hanyalah pancingan belaka supaya orang menaruh curiga, bukan saja kedelapan jalan itu sama, pasti juga menembus ke satu tujuan, tapi pada setiap lorong pasti ada perangkap, asal kita dapat menghindarkan diri dari jebakan itu dan menuju ke arah yang tepat, akhirnya pasti dapat menemukan rahasia utama yang menyelubungi tempat yang menakutkan ini.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara mereka sudah sampai di ujung jalan kanan.</p>
<p>Tiba-tiba Hoa Lui-sian menjengek, &#8220;Hoa Kin-sian biasanya bekerja teliti dan hati-hati, sekali-kali kalian takkan bisa meraba rahasianya, kuanjurkan lekas kembali saja, kenapa harus mengantar kematian?&#8221;</p>
<p>Bukan saja tidak menghiraukan ocehannya, Sim Long juga tidak meliriknya, mendadak didengarnya Cu Jit-jit melonjak girang, &#8220;Betul, betul, arah yang kita tempuh ini pasti betul.&#8221;</p>
<p>Dia menuding ke sebuah kamar, di sana cahaya gemerlapan menyilaukan mata, sebuah kamar yang penuh bertaburan batu permata dan harta benda beraneka ragam.</p>
<p>Berubah hebat air muka Hoa Lui-sian. Cu Jit-jit dilahirkan dalam keluarga kaya raya, perhiasan atau permata apa yang tidak pernah dilihatnya, tapi sudah bagi sifat seorang gadis remaja, melihat permata sebanyak itu, betapa rasa ketariknya dan menimbulkan rasa ingin memilikinya, tanpa sadar dia ulur tangan, ingin memegang dan mengelus, tak tahunya baru tangannya terulur, mendadak Sim Long menariknya mundur.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau tarik aku?&#8221; Jit-jit muring-muring.</p>
<p>&#8220;Kau hidup dalam keluarga kaya, memangnya tidak pernah melihat permata yang cemerlang? Terutama cahaya gemerdep dalam ruang yang terasa ganjil ini, kalau kau ingin memecahkan rahasia di sini, maka jangan kau menyentuhnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, aku menurut petunjukmu sekali lagi,&#8221; ucap Cu Jit-jit dengan menggigit bibir.</p>
<p>Hoa Lui-sian tertawa dingin, &#8220;Anggap kau pintar, ini memang permainan Hoa Kin-sian, bagian luar permata ini memang khusus dia ciptakan secara istimewa, di dalamnya mengandung cairan racun jahat, siapa pun bila menyentuhnya pasti mampus&#8230;Hehehe, tapi kau pun jangan bangga, biasanya Hoa Kin-sian sangat cerdik merancang, umpama sekarang kau dapat memecahkan perangkapnya, tapi masih banyak perangkap lain yang menunggumu. Maka kuanjurkan lebih baik kau lepaskan diriku, karena ada aku, mungkin kalian akan diampuni dia.&#8221;</p>
<p>Panjang lebar dia mengoceh, hakikatnya Sim Long tidak memerhatikan, maju lagi beberapa kejap, lorong tidak lurus lagi, kiri putar kanan, sekonyong-konyong bayangan seorang tampak berkelebat dari kiri dan lenyap ke arah kanan. Hanya dalam gerakan sekelebat itu, tangannya sudah terayun menimpukkan tiga larik sinar yang mengincar Sim Long, Cu Jit-jit, dan Hoa Lui-sian.</p>
<p>Jarak kedua pihak sangat dekat, serangan mendadak dan tidak terduga lagi, lorong panjang dan remang-remang. Tiga larik senjata rahasia itu jelas tak bisa dilawan oleh sembarang orang. Siapa tahu mendadak Sim Long memutar lengan bajunya, seperti mengandung daya sedot yang kuat, semua senjata rahasia itu tersedot ke dalam lengan baju Sim Long.</p>
<p>Kaget, girang, dan kagum sekali Cu Jit-jit, sekilas dia melirik, dilihatnya ketiga senjata rahasia itu adalah tiga batang anak panah pendek yang dibuat secara aneh. Cu Jit-jit bersuara gemetar, &#8220;Panah&#8230;panah ini mungkin dibidikkan oleh malaikat elmaut?&#8221;</p>
<p>Sim Long menyobek lengan baju, dengan hati-hati dia cabut ketiga batang panah itu, walau teraling selembar kain, tapi Sim Long rasakan tangan yang memegang panah kecil itu dingin luar biasa.</p>
<p>Diam-diam dia kaget dan heran, di bawah sinar obor dia perhatikan panah itu sesaat lamanya, alisnya berkerut, lalu tertawa, ujarnya, &#8220;O, kiranya begitu.&#8221;</p>
<p>Wajah Cu Jit-jit juga kelihatan senang, katanya sambil berkeplok, &#8220;Kiranya demikian&#8230;panah setan yang dibidikkan malaikat elmaut itu kelihatannya memang menakutkan, ternyata juga hanya begini saja.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba di antara lorong gelap yang berliku-liku tak berujung itu sayup-sayup terdengar nyanyian sedih yang menggetar sukma. Di dalam kuburan luas ini mendadak terdengar nyanyian sedih, sungguh menambah rasa ngeri dan seram. Tapi Sim Long malah bergelak tertawa, katanya, &#8220;Panah setan apa, tidak lebih hanya beberapa panah es belaka.&#8221;</p>
<p>Rahasia yang sukar ditebak dan membingungkan orang ini ternyata hanya sepele saja setelah terbongkar. Panah setan yang dibidikkan malaikat kematian itu ternyata tidak lebih adalah gumpalan salju yang mengeras dan dikikis berbentuk panah, dengan dilandasi Lwekang yang kuat, maka panah es itu dapat menembus kulit manusia dan menamatkan jiwanya, begitu terkena badan manusia yang bersuhu panas, es itu akan mencair menjadi air, oleh karena itu bila orang mencarinya tentu saja sudah lenyap.</p>
<p>Sambil menghela napas, Cu Jit-jit berkata dengan tertawa, &#8220;Hihi, ada-ada saja akal setan yang dipikirkannya, kalau akal bulusnya tidak terbongkar, orang sungguh bisa dibikin kaget setengah mati, tapi kalau bukan musim salju sedingin ini, akal liciknya ini juga tidak akan terlaksana.&#8221;</p>
<p>Sim Long berkata, &#8220;Tapi kau pun jangan meremehkan urusan sepele ini, air yang membeku jadi es dan dibikin panah ini pasti mengandung racun jahat, sehingga begitu es mencair racun pun bekerja di dalam badan sehingga jiwa direnggutnya.&#8221;</p>
<p>Sembari bicara sekenanya dia membuang &#8220;panah setan&#8221; yang terbuat dari es itu.</p>
<p>Cu Jit-jit mencibir, katanya, &#8220;Betapa pun kita telah berhasil membongkar muslihat keji dalam kuburan kuno ini. Aku jadi ingin melihat masih ada rencana apa pula mereka&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara, sebuah dinding di belakangnya mendadak bergerak hingga terbuka sedikit celah-celah, segulung asap tebal segera menyembur. Sebelum Cu Jit-jit sempat tahan napas, kepala sudah terasa pusing, kontan dia jatuh tak sadarkan diri.</p>
<p>Setelah Cu Jit-jit siuman, kepala masih terasa pening, seperti orang mabuk yang baru sadar, tapi dapat memandang jelas, dirinya berada di pojok sebuah kamar batu yang lembap dan berbau apak, kaki dan tangan tidak terbelenggu, tapi sekujur badan terasa lemas lunglai.</p>
<p>Waktu ia mengerling, dilihatnya Sim Long, Hoa Lui-sian juga rebah di sampingnya, badan mereka pun tidak mampu bergerak, kaget Cu Jit-jit, teriaknya, &#8220;Sim Long, ken&#8230;kenapa kau pun begini.&#8221;</p>
<p>Dia tidak perhatikan nasibnya sendiri, tapi melihat Sim Long juga tak berdaya, sungguh rasa sedihnya seperti disayat-sayat.</p>
<p>Sim Long hanya tersenyum, menggeleng tanpa bersuara, kelihatan tenang dan wajar.</p>
<p>Hoa Lui-sian sebaliknya mengunjuk rasa puas, katanya perlahan, &#8220;Asap bius itu juga buatan khusus Hoa Kin-sian, aku sendiri pun belum pernah tahu, tapi namanya Sin-sian-it-jit-cui (malaikat dewata mabuk sehari), biarpun dewa bila mencium asap itu juga akan mabuk sehari semalam lamanya, sesudah sadar juga kaki dan tangan akan lemas lunglai, sekarang bila kalian mau berjanji tidak akan membocorkan rahasia di sini kepada orang lain, nanti bila bertemu dengan Hoa Kin-sian akan kubantu bicara bagi kalian supaya jiwa kalian diampuni.&#8221;</p>
<p>Dengan sekuat tenaga Jit-jit berteriak, &#8220;Kentut, kau nenek peyot yang tidak tahu budi, sungguh berengsek kau, pantas setiap insan persilatan ingin mengganyang kau.&#8221;</p>
<p>&#8220;Budak liar yang galak,&#8221; damprat Hoa Lui-sian, &#8220;dalam keadaan sekarang kau masih berani memaki orang&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak dilihatnya daun pintu batu tebal itu terbuka sedikit, selarik sinar lampu menyeret masuk dari luar. Hoa Lui-sian lantas berteriak, &#8220;Nah, itu dia, Toakoku sudah datang. Coba tunjukkan lagi kebinalanmu!&#8221;</p>
<p>Sorot lampu bergerak langsung menyinari muka Sim Long, Hoa Lui-sian, dan Cu Jit-jit, sinar yang menyilaukan mata entah dipancarkan dari lampu apa, cahayanya benderang dan keras, sekian lama Sim Long bertiga tidak mampu membuka mata karena silau sehingga tak tahu apa yang terjadi di depan mata.</p>
<p>Tapi terasa sebuah bayangan kelabu telah menyelinap masuk terus berduduk di belakang lampu, lalu katanya perlahan, &#8220;Dari jauh kalian datang kemari, Cayhe tidak menyambut semestinya, harap dimaafkan.&#8221;</p>
<p>Bicaranya sungkan, tapi nadanya kaku dingin, seperti bukan diucapkan dari mulut manusia.</p>
<p>Hoa Lui-sian memicingkan mata, lapat-lapat dapat dilihatnya bayangan orang di belakang lampu, tadinya dia kira yang datang adalah Toakonya, baru saja ia bergirang, namun demi mendengar suara orang, seketika berubah pula air mukanya, tanyanya gemetar, &#8220;Siapa kau? Apakah kau murid Toakoku Hoa Kin-sian? Ayo lekas berikan obat penawarnya kepadaku?&#8221;</p>
<p>Si baju kelabu seperti tidak mendengar perkataannya, jengeknya pula, &#8220;Kalian menempuh perjalanan jauh, setiba di sini selayaknya istirahat dengan tenang. Bila kalian memerlukan apa-apa silakan katakan saja, akan kusuruh orang mengantar kemari.&#8221;</p>
<p>Merah padam muka Cu Jit-jit, ia tak tahan lagi dan menjerit, &#8220;Siapa kau sebetulnya? Apa tujuanmu menipu kami kemari? Kau sebetulnya apa keinginanmu?&#8221;</p>
<p>Suara orang itu berkumandang dari belakang lampu, &#8220;Kabarnya putri kesayangan juragan Cu di Kanglam tanpa menghiraukan harga diri sudi berkunjung di tempat ini, tentulah kau nona yang dimaksud itu. Selamat bertemu nona!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau benar kau mau apa?&#8221; jengek Jit-jit gusar.</p>
<p>&#8220;Banyak Enghiong ternama dalam Bu-lim yang berhasil kuundang kemari, apa maksud tujuanku, sebetulnya akan kujelaskan setelah kalian cukup beristirahat, tapi nona Cu keburu bertanya, aku jadi rikuh kalau tidak menjelaskan. Apalagi hari-hari mendatang tidak sedikit tenaga nona Cu perlu kuminta bantuannya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Lekas katakan, jangan mengoceh meluku,&#8221; teriak Jit-jit tidak sabar.</p>
<p>Kalau sekarang dia mampu bergerak, tak peduli siapa orang ini, tentu akan dilabraknya mati-matian. Tapi orang berbaju kelabu itu tetap tenang saja, katanya dingin, &#8220;Tiada maksud jahatku mengundang kalian kemari, jika kalian ingin pulang sembarang waktu boleh berangkat, tidak akan kuhalangi, malah akan kusiapkan pesta untuk menjamu kalian.&#8221;</p>
<p>Jit-jit bingung, pikirnya, &#8220;Aneh juga&#8230;&#8221;</p>
<p>Si baju kelabu melanjutkan pula, &#8220;Tapi sebelum kalian pulang, aku mohon kalian sudi menulis sepucuk surat pendek.&#8221;</p>
<p>&#8220;Surat pendek apa?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Surat selamat yang ditujukan kepada keluarga kalian masing-masing, katakan bahwa kalian sekarang dalam keadaan segar bugar dan selamat. Untuk menjaga keselamatan kalian tentunya harus ada sekadar imbalan, oleh karena itu bila kalian tahu berterima kasih, maka dalam surat kepada keluarga itu tolong dimintakan kepada ayah bunda, kakak atau adik di rumah untuk mengantar biaya yang diperlukan sebagai imbalanku untuk menjaga keselamatan kalian.&#8221;</p>
<p>Gemetar suara Jit-jit, katanya, &#8220;Jadi kau&#8230;kau memeras?&#8221;</p>
<p>Orang itu tertawa aneh, seperti suara raung serigala. Tapi sikapnya tetap tenang, &#8220;Bagi seorang ahli, orang seperti nona sudah tentu tidak boleh dipandang sebagai barang yang tak berharga. Aku adalah pengumpul emas perak, tidak pantas nona menggunakan istilah &#8216;pemeras&#8217; kepadaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pengumpul emas perak? Kentut busuk,&#8221; damprat Cu Jit-jit.</p>
<p>Ternyata si baju kelabu juga tidak marah, suaranya tetap kalem, &#8220;Telah kuatur tipu daya dan memeras keringat baru berhasil memancing kalian kemari, lalu menaruh kalian di tempat aman di sini. Kuyakin tuntutanku untuk penggantian jerih payahku dengan harta yang tak berarti itu, sudah merendahkan derajatku, kalau kalian masih juga kikir apakah hatiku tidak akan sedih?&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Ucapanmu memang benar, entah berapa yang kau tuntut?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setiap benda ada harganya, bergantung baik buruk barang-itu dan penilaian orang tepat atau tidak. Harga badan kalian jelas tak dapat dinilai dengan harga biasa. Dibandingkan Pui Jian-li, Can Ing-siong dan lain-lain, jelas harga kalian berlipat ganda, jika aku menaikkan tarif bagi mereka, berarti aku meninggikan harga mereka malah, betapa pun hal ini takkan kulakukan.&#8221;</p>
<p>Jelas dia hendak mengeduk uang orang, tapi cara bicaranya justru memutar balik kenyataan sehingga orang akan mengira dia telah memberi kelonggaran kepada tawanannya malah. Jit-jit merasa keki dan geli, tanyanya, &#8220;Berapa sih yang kau inginkan?&#8221;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8220;Kepada Can Ing-siong aku hanya menuntut lima belas laksa tahil, tapi terhadap nona, seratus lima puluh laksa tahil&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah, seratus lima puluh laksa tahil?&#8221; pekik Jit-jit kaget.</p>
<p>&#8220;Betul, nona secantik ini, pintar lagi, tentu nona tidak sudi bila kunilai dirimu terlalu rendah, betul tidak?&#8221;</p>
<p>Cu Jit-jit melenggong sekian saat, akhirnya dengan mendelik dia berkata, &#8220;Betul kentut! Kau&#8230;kau gila, binatang keji&#8230;&#8221;</p>
<p>Kini perhatian orang berbaju kelabu tertuju kepada Sim Long, ocehan Cu Jit-jit dianggap tidak mendengar, katanya, &#8220;Tentang Kongcu yang gagah perkasa ini, cakap dan ganteng, cerdik pandai lagi, kalau kunilai seratus lima puluh laksa tahil perak kurasa juga tidak terlalu rendah&#8230;&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Banyak terima kasih, tak kusangka Anda sudi menilaiku setinggi itu, sungguh aku merasa gembira dan bangga, nilai seratus lima puluh laksa tahil perak kurasa belum apa-apa.&#8221;</p>
<p>Melengking tawa orang berbaju kelabu, katanya, &#8220;Kongcu ternyata orang bijaksana dan bisa menyelami perasaan orang, tentang Hoa&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hoa apa?&#8221; bentak Hoa Lui-sian, &#8220;memangnya kau juga mau menuntut uangku?&#8221;</p>
<p>Orang itu berkata, &#8220;Bentukmu seperti labu, kecil buntak dan jelek, tapi jelek-jelek juga malah ada harganya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kentut, binatang, kau&#8230;kau&#8230;&#8221; saking marah suara Hoa Lui-sian sampai gemetar.</p>
<p>Tapi si baja kelabu tetap kalem, &#8220;Kau terlalu merendahkan diri sendiri, tapi aku justru tidak memandang rendah kau, paling sedikit aku akan menuntut dua atau tiga puluh laksa tahil kepadamu sebagai tanda penghormatanku.&#8221;</p>
<p>Walau hati merasa gusar, demi mendengar omongan orang ini, geli dan keki juga Cu Jit-jit, sementara otot hijau di jidat Hoa Lui-sian tampak merongkol, bentaknya, &#8220;Binatang, bila sebentar Toakoku tiba, rasakan nanti betapa nikmatnya bila kubetot ototmu, mengiris kulitmu serta mencacah tubuhmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Toakomu? Siapa itu Toakomu?&#8221; tanya orang itu.</p>
<p>&#8220;Hoa Kin-sian!&#8221; sahut Hoa Lui-sian dengan suara keras. &#8220;Masa kau tidak tahu? Atau pura-pura bodoh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hoa Kin-sian?&#8221; orang itu mengulangnya dengan tawar. &#8220;Ya, orang ini memang memiliki sedikit kepandaian, sayang sekali jiwanya sudah tamat sejak peristiwa di Heng-san dulu, aku takut terhadap apa pun, terhadap setan aku tidak pernah takut.&#8221;</p>
<p>Hoa Lui-sian tambah gusar, serunya, &#8220;Hoa Kin-sian, Toakoku itu adalah pemilik kuburan kuno ini, berani kau&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang berkuasa dan mengatur segala muslihat di kuburan ini adalah diriku,&#8221; tukas orang itu. Meski suaranya tenang dan perlahan, tapi betapa keras suara bicara orang lain pasti lenyap tenggelam oleh suaranya yang perlahan itu.</p>
<p>Gemetar badan Hoa Lui-sian, makinya, &#8220;Kentut, kau binatang ini mengira dapat menipuku, jika Hoa Kin-sian sudah mati, permata palsu, Sin-sian-it-jit-cui dan lain-lain itu dari mana munculnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Semua itu adalah buah karyaku, hasil kerajinan kedua tanganku sendiri,&#8221; tandas dan tegas jawaban orang itu.</p>
<p>Berubah air muka Hoa Lui-sian, katanya serak, &#8220;Kau dusta, kau bohong&#8230;kecuali Toakoku, tiada orang lain di dunia ini yang tahu resep racun itu&#8230;Hoa Kin-sian, Toako di mana kau?!&#8230;&#8221;</p>
<p>Mendadak ada angin keras menyambar Hiat-to bisu di lehernya, kontan suaranya terputus dan tak mampu bicara lagi. Tutukan Hiat-to jarak jauh si baju kelabu ternyata sangat lihai, tepat dan keji, jelas bukan sembarang jago silat dunia Kangouw.</p>
<p>Si baju kelabu berkata pula, &#8220;Bukan aku sengaja kurang ajar, soalnya Hoa-hujin ini terlalu sok, terpaksa kubantu dia supaya istirahat saja.&#8221;</p>
<p>Cu Jit-jit menjengek, &#8220;Baik juga hatimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku bertanggung jawab sebagai pelindung keselamatan kalian, maka tindak tanduk kalian harus selalu kuperhatikan.&#8221;</p>
<p>Saking gemas Cu Jit-jit hampir gila rasanya, tiba-tiba dia tertawa keras malah.</p>
<p>Sejak tadi Sim Long memejamkan mata seperti sedang menghimpun tenaga, sekarang baru dia buka suara, &#8220;Tuan ternyata anak buah Giok-koan Koay-lok-ong, dilihat dari kungfu dan sepak terjang perbuatanmu ini, kuyakin kau pasti salah satu duta kepercayaannya, yaitu Duta Harta dari keempat Duta Arak, Duta Warna, Duta Harta dan Duta Hawa.&#8221;</p>
<p>Ucapan Sim Long yang tidak terduga ini entah bagaimana reaksi si baju kelabu, tapi Cu Jit-jit jadi kaget setengah mati, teriaknya, &#8220;Dari mana kau tahu?&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Resep rahasia milik Hoa Kin-sian jelas tidak mungkin dimiliki orang lain di dunia ini, tapi tuan ini telah membuktikan kemampuannya, jelas hanya ada satu dalih saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi setengah dalih saja aku tidak mengerti,&#8221; ujar Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Urusan cukup gamblang, sebelum ajal Hoa Kin-sian, tentunya dia menitipkan resepnya kepada Giok-koan Siansing, kalau tuan ini mengaku ahli mengumpulkan harta, maka jelas dia salah satu dari Duta Harta Giok-koan Koay-lok-ong.&#8221;</p>
<p>Cu Jit-jit melongo hingga tak mampu bicara lagi.</p>
<p>Dengan kalem Sim Long berkata pula, &#8220;Selain itu, Hoa Kin-sian memang sudah tahu akan rahasia kuburan ini, maka dia juga meninggalkan rahasia kuburan ini beserta rahasianya resep itu. Sekarang Giok-koan Siansing mengutus Duta Hartanya ini ke sini untuk mengeduk harta karun. Siapa tahu berita tentang harta karun dalam kuburan hanyalah muslihat belaka, padahal kuburan kuno ini kosong melompong. Dasar cerdik, Duta Harta ini lantas mengatur tipu daya, yaitu sasaran dia alihkan kepada kaum persilatan umumnya, kuburan kuno ini dia gunakan untuk merancang muslihat dan menjebak orang yang datang ke sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230;jika benar dia sengaja memancing orang kemari, kenapa pula dia membuat adegan yang mengerikan dan menakuti orang agar tidak berani masuk ke sini?&#8221; tanya Jit-jit.</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Manusia memang aneh, makin dilarang makin besar hasratnya. Justru karena Duta Harta yang pintar ini dapat memanfaatkan kelemahan manusia ini, semakin mengerikan semakin misterius tempat ini makin banyak pula gembong-gembong persilatan yang akan datang kemari. Bila tempat ini tidak menakutkan, yang datang tentu juga cuma kaum keroco. Dari orang-orang rendahan itu dia tidak akan mengeduk keuntungan, lalu cara bagaimana Duta Harta ini akan memberikan pertanggungjawaban kepada majikannya?&#8221;</p>
<p>Jit-jit manggut-manggut dan menghela napas, &#8220;Betul, betul&#8230;Ai, kenapa kau selalu dapat memecahkan persoalan, sebaliknya aku justru tidak tahu?&#8221;</p>
<p>Lama si baju kelabu terdiam, akhirnya dia bersuara perlahan, &#8220;Apakah namamu Sim Long? Eh ya&#8230;Sim-heng kau memang seorang cerdik, kepintaranmu sungguh jauh di luar dugaanku.&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa, katanya, &#8220;Jadi uraianku tadi tidak meleset bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Orang kuno bilang diberi tahu satu dipahami tiga, tapi Sim-heng diberi tahu satu lantas tahu tujuh, kau hanya mendengar beberapa patah kata Hoa Lui-sian lantas dapat membongkar seluruh rahasia serta menganalisisnya satu per satu. Kecuali nama julukanku Duta Harta Kim Bu-bong dan muridku A To yang belum Sim-heng tebak, semua urusan kira-kira sudah kau sebut dengan tepat, seperti kau sendiri yang merancang urusan ini.&#8221;</p>
<p>Ternyata di belakangnya masih berdiri seorang anak kecil.</p>
<p>&#8220;Kim-heng ternyata juga suka berterus terang,&#8221; ujar Sim Long.</p>
<p>Duta Harta Kim Bu-bong berkata, &#8220;Di hadapan orang sepintar Sim-heng, mana kuberani membual, tapi apakah Sim-heng tidak pernah mendengar orang bilang, orang pintar sering mengalami nasib jelek, seorang genius sering pendek usia.&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Tapi aku tidak merasa khawatir apa pun, bila Kim-heng sudah memberi tarif, kukira jiwaku tidak perlu dikhawatirkan lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi aku pun tidak suka ada manusia pintar yang berani memusuhiku, terutama lawan seperti Sim-heng,&#8221; demikian jengek Kim Bu-bong.</p>
<p>Gemetar suara Cu Jit-jit, katanya, &#8220;Kau&#8230;apa yang akan kau lakukan terhadapnya?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong menyeringai hingga kelihatan giginya seperti taring binatang buas, katanya, &#8220;Umpama tidak kurenggut jiwanya, sedikitnya juga akan kupotong sebelah kaki atau tangannya, bila musuh setangguh Sim-heng kurang satu lagi di dunia ini, dapatlah aku makan dan tidur dengan tenteram.&#8221;</p>
<p>Kalau Cu Jit-jit ketakutan, sebaliknya Sim Long masih tetap tersenyum, katanya, &#8220;Masa Kim-heng setega ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya Sim-heng kira aku ini orang yang suka menaruh belas kasihan terhadap orang lain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi biarpun Kim-heng hendak mengambil seujung rambut orang she Sim mungkin juga tidak mudah.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong tertawa dingin, &#8220;Baik, aku akan mencobanya.&#8221;</p>
<p>Perlahan dia berdiri dan maju selangkah.</p>
<p>Mendadak Sim Long tergelak sambil menengadah, katanya, &#8220;Kukira Kim-heng seorang cerdik pandai, kenyataannya Kim-heng bukanlah orang pintar yang kuduga.&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba sirna gelak tertawanya, matanya menatap Kim Bu-bong dengan tajam, lalu sambungnya, &#8220;Kim-heng kira aku telah terbius oleh Sin-sian-it-jit-cui?&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong tersentak kaget dan menarik kakinya.</p>
<p>Sim Long berkata pula, &#8220;Begitu asap tebal menyembur masuk, segera aku menahan napas, meski Sin-sian-it-jit-cui amat keras daya kerjanya, namun sedikit pun aku tidak menyerap.&#8221;</p>
<p>Sesaat Kim Bu-bong berdiri diam, ia menyeringai pula, katanya, &#8220;Dalam hal ini Sim-heng mungkin bisa menipu orang lain, tapi jangan harap bisa menipu diriku. Kalau Sim-heng tidak terpengaruh oleh asap bius itu, kenapa kau rela menjadi tawanan Kim Bu-bong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, masa soal sepele ini Kim-heng juga tidak paham?&#8221; ujar Sim Long, senyum pada wajahnya makin cerah. &#8220;Coba pikir, kuburan ini penuh lorong yang menyesatkan, tiga hari juga belum tentu dapat menemukan rahasianya. Dengan pura-pura terbius, aku dapat istirahat di kamar ini, adakah cara lain yang lebih enak daripada cara ini?&#8221;</p>
<p>Berubah air muka Kim Bu-bong, katanya sambil menyeringai, &#8220;Sim-heng ternyata juga pandai putar lidah, tapi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi apa, Kim-heng?&#8221; tukas Sim Long, mendadak dia berbangkit.</p>
<p>Wajah Kim Bu-bong yang semula pucat kini kelihatan lebih mengerikan lagi, tenggorokannya berbunyi, tanpa terasa kaki pun menyurut mundur.</p>
<p>Mencorong sinar mata Sim Long menatap wajah orang, katanya kelam, &#8220;Hari ini dapat perang tanding dengan Kim-heng, sungguh merupakan peristiwa besar yang menggembirakan, siapa yang bakal mampus di sini, tentu tidak usah dikubur lagi.&#8221;</p>
<p>Kim Bu-bong diam saja, sorot matanya dingin mantap Sim Long, keduanya beradu pandang, tiada yang berkedip, sorot mata Sim Long begitu dingin, tenang dan mantap.</p>
<p>Cu Jit-jit juga mengunjuk rasa senang, katanya, &#8220;Sim Long, boleh kau beri tiga jurus padanya, kalau tidak mana dia berani melawan kau?&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Kalau hanya tiga jurus kan sama seperti tidak memberi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jika begitu boleh kau beri tujuh jurus.&#8221;</p>
<p>&#8220;Begini baru pantas, baiklah aku mengalah tujuh jurus, silakan Kim-heng!&#8221; kata Sim Long.</p>
<p>Wajah Kim Bu-bong sebentar hijau sebentar putih, agaknya sekuatnya dia mengendalikan emosi menghadapi cemooh Sim Long dan Cu Jit-jit.</p>
<p>&#8220;Lho, bagaimana, dia mengalah tujuh jurus, kenapa kau malah tidak berani?&#8221;</p>
<p>Mendadak Kim Bu-bong melompat mundur, &#8220;blang&#8221;, pintu kamar tertutup rapat, cepat sekali Kim Bu-bong lenyap di balik pintu.</p>
<p>Jit-jit menghela napas, katanya dengan geregetan, &#8220;Wah, dia melarikan diri.&#8221;</p>
<p>Sim Long tersenyum, katanya, &#8220;Lebih baik dia melarikan diri&#8230;&#8221; mendadak dia terkulai lemas.</p>
<p>Jit-jit terkesiap, pekiknya, &#8220;He, ken&#8230;kenapa kau?&#8221;</p>
<p>Sim Long tertawa getir, katanya, &#8220;Betapa lihai Sin-sian-it-jit-cui, mana bisa aku tidak terbius, tadi aku mengerahkan sisa tenagaku yang masih ada dan berdiri sekuatnya sehingga berhasil menggertaknya lari.&#8221;</p>
<p>Sekian lama Jit-jit melenggong, katanya dengan gemetar, &#8220;Untung tadi dia tidak terpancing, kalau&#8230;kalau&#8230;&#8221;</p>
<p>Sim Long menghela napas, &#8220;Tapi aku tahu, manusia seperti Kim Bu-bong bagaimanapun tidak mudah terpancing&#8230;&#8221;</p>
<p>Belum habis dia bicara, mendadak berkumandang gelak tertawa orang, perlahan pintu batu terbentang, Kim Bu-bong muncul kembali.</p>
<p>Pucat muka Cu Jit-jit, didengarnya Kim Bu-bong berkata, &#8220;Sim-heng memang pandai, tapi sepintar tupai melompat akhirnya terjatuh juga. Mungkin Sim-heng tidak </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritasilat.info/pendekar-baja/pendekar-baja-05/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
