Hina Kelana Bab 144
Oleh Jin Yong
Segera Tiong-hi Tojin mengirim orang untuk memberitahukan kepada Jing-hi dan Seng-ko agar kursi wasiat serta sumbu-sumbu dinamit yang telah dipasang itu segera dihapus.
Read the rest of this entry »
October 3rd, 2009 | Posted in Hina Kelana | No Comments
Hina Kelana Bab 143
Oleh Jin Yong
Maka tertampaklah sebuah tandu besar beratapkan kain beledu biru digotong ke atas Kian-seng-hong. Tandu besar itu digotong oleh 16 orang, bergeraknya tampak sangat cepat lagi anteng. Suatu tanda ke-16 pemikul tandu itu adalah jago-jago silat pilihan semua.
Read the rest of this entry »
October 2nd, 2009 | Posted in Hina Kelana | 1 Comment
Hina Kelana Bab 142
Oleh Jin Yong
Mendengar keterangan itu, serentak air muka Lenghou Tiong dan para padri Siau-lim-si berubah. Hong-ting Taysu lantas menyebut, “Omitohud!”
Read the rest of this entry »
October 1st, 2009 | Posted in Hina Kelana | No Comments
Hina Kelana Bab 141
Oleh Jin Yong
Ketika para anggota Tiau-yang-sin-kau mendengar ucapan sang kaucu mendadak berhenti setengah-setengah, suaranya juga kedengaran serak, semua orang menjadi kaget dan sama mendongak, maka terlihatlah kulit muka sang kaucu berkerut-kerut, tampaknya sangat kesakitan, menyusul tubuh sang kaucu menggeliat terus roboh terjungkal.
Read the rest of this entry »
September 30th, 2009 | Posted in Hina Kelana | No Comments
Hina Kelana Bab 140
Oleh Jin Yong
Tidak lama kemudian, terdengarlah suara bentakan dan makian, dua-tiga tianglo tampak memimpin anak buahnya menggiring beberapa puluh anak murid Ko-san, Hoa-san, Heng-san, dan Thay-san-pay naik ke atas situ.
Read the rest of this entry »
September 29th, 2009 | Posted in Hina Kelana | No Comments
Hina Kelana Bab 139
Oleh Jin Yong
Habis berkata, segera ia gandeng tangan Lenghou Tiong dan diajak menuju ke suatu panggung batu yang menjulang tinggi di atas puncak itu. Di sebelah timur panggung batu itu terdapat lima tiang batu yang berjajar dalam bentuk seperti telapak tangan, tinggi seluruhnya beberapa puluh meter tingginya, pada jari tengah yang paling tinggi itu, di pucuk jari batu itu tertaruh sebuah kursi besar, seorang duduk di atas kursi itu, dia Yim Ngo-heng adanya.
Read the rest of this entry »
September 28th, 2009 | Posted in Hina Kelana | No Comments
Hina Kelana Bab 138
Oleh Jin Yong
“Tidak boleh juga, tidak apa-apa, di dalam jala ikan ada duniaku sendiri. Biarlah aku tidur nyenyak di sini. Seorang laki-laki sejati sanggup mengkeret dan dapat menonjol, kalau mengkeret masuk jala, bila menonjol akan keluar jala. Apa artinya bagiku soal-soal begini, aku Lenghou….” baru Lenghou Tiong mau mengoceh lagi sekilas dilihatnya mayat Gak Put-kun menggeletak di situ. Meski bekas gurunya itu berkali-kali hendak mencelakainya, tapi mengingat selama likuran tahun dirinya dibesarkan olehnya, betapa pun budi kebaikan itu sukar dinilai. Coba kalau tidak disebabkan kitab Pi-sia-kiam-hoat, mungkin di antara guru dan murid tak sampai terjadi permusuhan begini. Teringat sampai di sini, wajahnya yang tertawa tadi seketika berubah, hatinya tertekan, sekonyong-konyong air mata berlinang-linang dan mengucur tak tertahan lagi.
Read the rest of this entry »
September 27th, 2009 | Posted in Hina Kelana | No Comments
Hina Kelana Bab 137
Oleh Jin Yong
Khawatir kalau Lim Peng-ci melakukan serangan kalap lagi, segera Lenghou Tiong menendang sekali di pinggangnya dan menutuk hiat-to bagian itu, kemudian barulah ia menggeledahi badan orang mati untuk mencari batu api. Berturut-turut tiga orang telah digerayanginya, tapi semuanya bersaku kosong. Tiba-tiba teringat olehnya, kontan ia memaki, “Keparat, orang buta sudah tentu takkan membawa batu ketikan api segala.”
Read the rest of this entry »
September 26th, 2009 | Posted in Hina Kelana | No Comments
Hina Kelana Bab 136
Oleh Jin Yong
Menyusul pula beberapa orang berteriak, “He, itu suara Co Leng-tan! Ya, dia Co Leng-tan!”
Read the rest of this entry »
September 25th, 2009 | Posted in Hina Kelana | No Comments
Hina Kelana Bab 135
Oleh Jin Yong
Waktu Lenghou Tiong berpaling, dilihatnya seorang tua berbaju kuning sedang melotot kepada seorang laki-laki jangkung pertengahan umur, bahkan sambil mengacungkan ujung pedangnya ke dada si jangkung.
Read the rest of this entry »
September 24th, 2009 | Posted in Hina Kelana | 1 Comment